Selasa, 13 Oktober 2009

TAFSIR QS. AN-NAJM AYAT 39

Bismillahirrohmaanirrohiim

Seorang mukmin seharusnya tidak perlu ragu terhadap kasih sayang dan kekuasaan Allah SWT. kalau hanya untuk menyampaikan pahala kpd org yg telah meninggal dunia,tentu saja hal itu sangat mudah bagi Allah SWT. Nabi sendiri sudah bersabda yg artinya “Bacalah surat Yasin untuk orang2 yg telah meninggal diantara kamu”dan ada juga hadits2 lainnya bila ingin tahu buka postingannya Imam Nawawi di discussion board
"Dasar tahlilan di makam dan sampainya bacaan ayat2 Qur’an untuk mayit menurut Muhammad bin Abdul Wahab"

Bila ada pertanyaan apakah hadits tsb tidak bertentangan dg firman Allah QS. An-Najm ayat 39 yg terjemahnya:

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”

Persoalan ini sebenarnya sudah dijawab 600 tahun lalu oleh Ibnu Qoyyim al-Jauzi dlm kitabnya ar-Ruh hal. 13 yg isinya:

“pendapat yg mengatakan bhw hadits (yg menyatakan sampainya hadiah pahala kpd org mati) itu bertentangan dg firman Allah QS. An-Najm ayat 39 adl cerminan sikap yg kurang sopan di dlm ungkapannya dan salah besar dlm mengartikannya. Allah telah menjaga agar tdk terjadi kontradiksi antara Hadits dg al-Qur’an. Bahkan Hadits Nabi saw. Merupakan penguat al-Qur’an. Kalau ada pendapat yg menyatakan bahwa hadits tsb. bertentangan dg al-Qur’an,maka itu berasal dari buruknya pemahaman. Dan hal itu adl cara yg tidak baik,yakni menolak hadits yg sudah jelas dg zhahir ayat al-Qur’an (yg disalahpahami)”

Dan bila ada yg bertanya,jadi siapa yg sesungguhnya bahwa hadiah pahala itu tdk sampai kpd org yg meninggal dunia?

Jawabnya adalah ahli bid’ah dari kaum Mu’tazilah sebagaimana pendapat Ibnu Qoyyim al-Jauzi di kitabnya ar-Ruh hal. 117 yg isinya:

“Para ahli bid’ah dari kalangan ahli Kalam (Mu’tazilah) berpendapat bahwa menghadiahkan pahala baik berupa do’a atau lainnya sama sekali tdk sampai kpd orang yg telah meninggal dunia”

Pertanyaanku pd semua member grup “ISLAM DG SUNNAH DAN BID’AH HASANAH”

Apakah kalian lebih mengikuti ulama’ salaf Ibnu Qoyyim al-Jauzi yg mengatakan sampainya pahala pd org yg telah meninggal dunia atau mengikuti ahli bid’ah dlolalah dari kaum Mu’tazilah yg tidak mengakui sampainya pahala pd org yg telah meninggal dunia? Pilihan ada di hati anda dan bila aku ku jawab dg yakin ku ikuti ulama’ salaf Ibnu Qoyyim al-Jauzi

Sekarang masuk pembahasan tafsir QS. An-Najm ayat 39

Syekh Sulaiman bin Umar Al-‘Ajilli menjelaskan:

“Ibnu Abbas berkata bahwa hukum ayat tsb (QS. An-Najm:39) telah di mansukh atau diganti dlm syari’at Nabi Muhammad saw. Hukumnya hanya berlaku dlm syari’at Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa as, kemudian utk umat Nabi Muhammad kandungan QS. An-Najm:39 tersebut dihapus (berlakunya) dan di nasakh/diganti dg firman Allah “وألحقنا بهم ذريتهم” Ayat ini menyatakan bahwa seorang anak dpt masuk surga krn amal baik ayahnya. Ikrimah mengatakan bahwa tidak sampainya pahala (yg dihadiahkan) hanya berlaku dlm syari’at Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa as. Sedang utk umat Nabi Muhammad saw mereka dpt menerima pahala amal kebaikannya sendiri atau amal kebaikan orang lain (Al-Futuhat Al-Ilahiyyah, juz 4 hal. 236).

Jadi QS. An-Najm ayat 39 itu merupakan syari’at di zaman Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa as. Sedang syari’at kita yaitu syari’at Nabi Muhammad saw sbgmn ditunjukkan oleh ahli tafsir Syekh Sulaiman yaitu QS. Ath-Thuur ayat 21 yg artinya: “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

tafsir jalalain QS. Ath-Thuur ayat 21:
(Dan orang-orang yang beriman) berkedudukan menjadi Mubtada (dan mereka diikuti) menurut suatu qiraat dibaca Wa-atba'naahum yakni, Kami ikutkan kepada mereka, Di'athafkan kepada lafal Amanuu (oleh anak cucu mereka) menurut suatu qiraat dibaca Dzurriyyatahum, dalam bentuk Mufrad; artinya oleh keturunan mereka, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa (dalam keimanan) maksudnya, diikuti oleh anak cucu mereka keimanannya. Dan yang menjadi Khabarnya ialah (Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka) ke dalam surga, dengan demikian maka anak cucu mereka memiliki kedudukan yang sama dengan mereka, sekalipun anak cucu mereka tidak mempunyai amalan sebagaimana mereka. Hal ini dimaksudkan sebagai kehormatan buat bapak-bapak mereka, yang karenanya lalu anak cucu mereka dikumpulkan dengan mereka (dan Kami tidak mengurangi) dapat dibaca Alatnaahum atau Alitnaahum, artinya Kami tidak mengurangi (dari pahala amal mereka) huruf Min di sini adalah Zaidah (barang sedikit pun) yang ditambahkan kepada amal perbuatan anak-cucu mereka. (Tiap-tiap orang dengan apa yang dikerjakannya) yakni amal baik atau amal buruknya (terikat) yakni, ia dalam keadaan terikat, bila ia mengerjakan kejahatan diazab dan bila ia mengerjakan kebaikan diberi pahala.

semoga kita selalu dlm pemahaman yg benar dan jalan yg benar yaitu jalan yg diridloi Allah SWT. Aaamiiiiin

Alhamdulillaahirobbil'aalamiin

0 komentar:

Followers

Mbh