Kamis, 15 Oktober 2009

Pelajaran Sang Kodok

Sekelompok kodok sedang berjalan-jalan melintasi hutan. Dua di antara kodok tersebut jatuh ke dalam sebuah lubang. Kodok-kodok yang lain segera mengelilingi lubang tersebut. Ketika melihat betapa dalamnya lubang itu, mereka berkata pada kedua kodok agar pasrah dan mati saja dalam lubang. Karena dalamnya lubang membuat kata-kata itu tidak terdengar. Kedua kodok tersebut mengacuhkan komentar-komentar itu dan mencoba melompat keluar dari lubang dengan segala kemampuan yang ada. Sementara kodok-kodok di atas tetap bersikeras berteriak agar mereka berhenti melompat dan mati saja.

Akhirnya, salah satu dari kodok yang ada di lubang itu mendengar kata-kata kodok di atas dan menyerah, ia pun terjatuh dan mati. Sementara kodok yang satunya lagi tetap melanjutkan lompatannya semampu mungkin. Sekali lagi kerumunan kodok-kodok tersebut berteriak kepadanya agar berhenti mencoba hal yang sia-sia dan mati saja. Tetapi ternyata ia bahkan berusaha lebih kencang lagi dan akhirnya berhasil.

Ketika sampai di atas, seekor kodok bertanya kepadanya, “Apa kau tidak mendengar teriakan kami?” Lalu kodok itu pun (sembari membaca gerakan bibir kodok yang lain) menjelaskan bahwa ia sebenarnya tuli. Akhirnya kerumunan kodok itu pun sadar bahwa selama di bawah tadi mereka dianggap telah memberi semangat kepada sang kodok yang tuli tadi.

Sesungguhnya kekuatan hidup dan mati ada di lidah. Kekuatan kata-kata yang diberikan pada seseorang yang sedang “jatuh” justru dapat membuat orang tersebut bangkit dan membantunya menjalani hari-hari yang tersisa. Kata-kata buruk yang diberikan pada mereka yang sedang jatuh, bisa membunuh mereka.

Hati-hatilah dengan apa yang diucapkan. Suarakan kata kehidupan, kepada mereka yang sedang menjauh dari jalur hidupnya yang benar.

Dikirim oleh Ibu Murdiana Bakti

0 komentar:

Followers

Mbh