Selasa, 13 Oktober 2009

ayahku tukang sampah??

Sebuah catatan perenungan ketika memperhatikan seseorang yang rapuh..yang mengais "kotoran" dalam menikmati indahnya dan luar biasanya rejeki.... Agar menjadi sebuah renungan bagi kita semua.. :-)




Kini, umurnya sudah hampir setengah abad. Jika di lihat dari raut wajahnya, ayah terlihat lebih muda. Dia yang selalu tersenyum. Dia yang sebenarnya jarang sakit. Mungkin karena ia lahir sungsang. Begitu kata nenekku. Tapi, setiap kali ia sakit, aku akan menjadi panik. Entahlah, mungkin karena setiap kali demamnya kambuh. Ayah akan terlihat begitu kepayahan. Tak jarang aku dan ibu lah yang mengurusnya.


Aku masih begitu ingat bagaimana cerita perjalanan hidupnya. Terlahir dengan orang tua yang begitu bijak. Kakekku. Begitu lembut hatinya. Bertubuh tinggi dan berperawakan seperti orang arab. Kata ayah, kakek memang ada keturunan dari arab. Mungkin sebagian orang aceh juga demikian. Tapi ada sebuah cerita yang ia utarakan tatkala malam menjelang keberangkatanku. Kembali untuk menuntut ilmu di kota.

Malam, langit begitu tenang. Sesekali aku dan ayah tertawa. Memecah kesunyian malam desa. Rumahku yang berada di tengah persawahan memberikan suasana yang tenang. Tidak sibuk dengan suara-suara kenderaan. Atau orang yang berlalu lalang. Malam itu, didepan rumah. Hanya ada aku dan ayah. Dia bertanya bagaimana kuliahku. Berapa sudah umurku. Dan, bagaimana keseharianku di kota. Aku hanya menjawab apa adanya. Susah senang aku ungkapkan. Lalu ia pun tersenyum.

Dia mengatakan, bila tidak pernah susah mana mungkin kita bisa mengerti senang. Bila kita tidak pernah mengerti bagaimana menikmati kesusahan dan kesempitan, bagaimana bisa memahami bagaimana rasanya ikhlas berbagi. Tak perlu menunjukkan apa yang bukan milik sendiri. Jadilah apa adanya. Malu memang, tatkala setiap kali berkumpul dengan teman-teman harus di cap sebagai “anak makan gratis”. Tapi begitulah hidup. Tak ada yang perlu disesali. Muka sudah tebal. Mau bagaimana lagi? Dari pada tidak bisa melanjutkan kuliah dan meneruskan perjuangan yang sudah dijalani.

Hingga akhirnya, dia bercerita sebuah kisah yang tidak pernah diceritakan kepadaku sebelumnya. Bahkan kakek dan nenekku pun tidak tahu. Kalau dulu, sehabis pulang sekolah SMU, ayah bekerja paruh waktu sebagai tukang pungut sampah di pasar. Aku terkejut. Bagaimana mungkin? Ayahku yang berkulit putih bersih itu menjadi tukang sampah. Orang yang bekerja dengan penuh lalat. Penuh bau. Penuh dengan kerendahan dimata sebagian orang. Tapi itulah yang dilakukannya.

Dia, termasuk anak yang beruntung dikampungnya. Bisa bersekolah di smu tergengsi di kota kala itu. Walaupun akhirnya harus di “tendang” dari smu tersebut karena tidak naik kelas. Sehari-hari, setiap kali ia pulang sekolah, dia akan keluar rumah. Jika ditanya oleh orang tuanya, dia hanya menjawab, mau ke warung, atau kerumah teman. Hebatnya, teman-teman ayahku adalah anak-anak pejabat pemerintahan kota. Mulai dari anak panglima, anak kapolres, sampai keponakan gubernur. Dia, ah aku harus mengakui bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tidak pernah malu dengan teman-temannya. Justru, teman-temannya bangga bisa berteman dengan ayahku. Sesekali dia dihadiahi sepatu oleh temannya. Hanya karena dia bersekolah tidak punya sepatu yang layak lagi. Sesekali ia pun di ajak bermain bilyard. Katanya, biar dianggap anak gaul.

Setiap kali harus membayar uang sekolah, ayah memang tidak pernah menipu orang tuanya mengenai uang sekolah. Bila ada dia akan ambil. Bila tidak ada, maka diapun akan beralih profesi. Menjadi tukang sampah. Mengangkat sampah. Lalu ikut dengan truk sampah sampai ke TPA (tempat pembuangan Akhir). Begitu selalu saban malam. Sampai tubuhnya mulai berkurap terkena air limbah. Tangan-tangannya mulai terkelupas. Tapi, dia tidak pernah mengeluhkan kepada kedua orang tuanya. Tak baik. Begitu alasannya.

Dia hanya berpesan kepadaku, lalukanlah bila itu halal. Dan tidak perlu malu akannya. Sekarang, ketika semua itu berlalu. Ia menikah. Tapi kali ini, ia katakan bahwa ketika menikahpun kehidupannya masih berputar sama. Belum ada yang berubah. Belum diterima di pegawai negeri daerah. Membuat dirinya kembali harus menjadi tukang gali sumur. Perlu di ingat, sampai sekarang di aceh, sumur tanah masih menjadi andalan masyarakat. Tak jarang kupingnya kemasukan air. Tak jarang, matanya perih karena terkena pasir. Ah ayah…

Aku belum ada apa-apanya dibandingkan dengannya. Aku masih terus belajar dengannya. Duduk bersamanya. Meneguk kopi bersama. Bercerita dan berbagi pengalaman masing-masing. Lalu aku katakan, bahwa aku tak malu jadi anakmu. Aku tak malu kalau ayahku adalah tukang sampah! Kelak, ketika ada anak. Akan aku katakan bahwa kakeknya dahulu adalah tukang sampah. Seperti kakekku sekarang, yang hanya bekerja sebagai pengawai negeri biasa. Semoga…..


SALAM CINTA

0 komentar:

Followers

Mbh