Kamis, 15 Oktober 2009

KETIKA MAS GAGAH PERGI

Mas Gagah berubah! Ya,beberapa bulan belakangan ini Masku sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu, benar-benar berubah! Mas Gagah Perwira Pratama. Masih kuliah di Tekhnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas periang, dan tentu saja ganteng. Bayangkan, ia bahkan mampu membayar kuliah sendiri dari uang hasil kerjanya mengajar anak-anak SMA les privat.
Sejak kecil aku sangat dekat dengannya.Tak ada rahasia di antara kami.Ia selalu mengajakku kemana ia pergi bermain. Ia yang menolongku disaat aku membutuhkan pertolongan. Ia yang menghiburku dan membujukku disaat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah, dan mengajariku mengaji. Pendek kata ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak untukku.
Ketika kami memasuki usia dewasa ini, kami makin dekat, kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskan waktu itu bersama. Jalan-jalan menonton film atau konser musik atau sekedar bercanda bersama teman-teman Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelucon santai sehingga aku dan temanku tertawa terbahak-bahak.
Dengan mobil forsa putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan dulu di MC Donald’s atau bergembira ria di DUPAN Ancol. Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan orang sekitar keluarga, bahkan Nenek Kakek, orang tua dan adik-adik temanku menyukai sosoknya. ”Kakak kamu itu keren banget Git! baik, kyut, macho dan humoris, masih kosong nggak?” “Git gara-gara kamu membawa Mas Gagah kerumahku, sekarang setiap ada teman cowok yang datang kerumah, orang rumah selalu membandingkannya dengan Mas Gagah. Berabe. kan? ”Gimana sih Git, agar Mas Gagah senang padaku?”, dan banyak lagi lontaran-lontaran yang senada dari pada wanita yang singgah di kupingku. Masem-masem saja. Bangga. Pernah kutanyakan pada Mas Gagah, mengapa dia tak punya pacar. Apa jawabnya? Mas belum minat tuh! lagian mas kan lagi konsentrasi kuliah, ng,….takut ada pengeluaran-pengluaran yang diperlukan… he…he…selain…takut nanti banyak yang patah hati!”kata Mas Gagah pura-pura seruis.
Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati kehidupan. Ia moderat tapi tak pernah meninggalkan sholat. Itulah Mas Gagah.
Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa berapa bulan belakangan ini berubah! Ia bahkan berubah drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih, aku kehilangan Mas Gagah yang ku bangggakan kini entah kemana. ”Mas Gagah! Mas! Mas gagaaaaaaaaaah!” teriakku kesal sambil mengetuk pintu Mas Gagah dengan keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisannya berbahasa arab gundul, tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya; JANGAN MASUK SEBELUM MEMBERI SALAM. ”Assalamu ‘alaikum”seruku, pitu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah. ”Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” Ada apa Gita, kok teriak-teriak seperti itu?” tanyanya sewot. ”Lho memangnya kenapa?” Gita kesal bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang arab…, masangnya kok lagu-lagu arab gitu!”aku cemberut.” Ini nasyid bukan sekedar nyanyian arab, tapi dzikir Gita. ”Bodo!” “Lho kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas.Boleh dong Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri.”kata Mas Gagah sabar.”kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu,Gita ngambek…,Mama bingung.Jadinya ya di pasang di kamar.” “Tapi kuping Gita terganggu,Mas.Lagi asik dengarin kaset Air suply yang baru…eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar ini!’”Mas kan pasangnya pelan-pelan….””Pokoknya kedengaran!” “ya sudah.kalau begitu…Mas ganti aja deh dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa inggiris.Bagus lho!”ndak!pokoknya Gita nggak mau denger!”Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah .Heran aku benar-benar tak habis fikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu.Kemana kaset-kaset Elthon Jhon,Air suply,Wham atau Eric Clapton-nya?!”Wah ini nggak bisa di bandingkan dengan kaset-kaset seperti itu Gita!Dengan Elthon Jhon atau si Eric Clapton itu nggak mendatangkan manfaat apalagai pahala.Lainlah ya dengan kaset-kaset Mas yang sekarang Gita mau dengar,Nasyid?Ambil aja mas punya banyak kok”begitu kata mas Gagah.oala!
Sebenarnya perubahan Mas Gagah bukan Cuma itu banyak lagi yang lain,aku Cuma adeknya yang duduk di bangku SMA kelas dua,aku cukup jeli untuk mengamati perubahan-perubahan itu.Meski bingung untuk mencernanya.Di satu sisi aku akui mas Gagah tambah ‘alim.Shalat tepat waktu berjmaah di masjid,ngomongnya soal agama terus.Kalau aku iseng ngintip dari lobang kunci,ia pasti lagi ngaji atau baca buku-buku Islam. Dan kalau aku mampir kekamarnya,ia dengan senag hati menguraikan isi buku yang baru dibacanya,atau malah menceramahiku.Ujung-ujungnya’ “Ayo dong Gita….Gita lebih peminim.Kalau kamu pakai rok,atau baju panjang.Muslimah kan harus anggun.Coba dik manis,ngapain sih rambut kamu di trondolin gitu!”Uh padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy.Dia tahu aku Cuma punya rok dua Rok seragam SMA itu saja.Mas Gagah juga nggak keberatan kalau aku minjam baju kaos atau kemejanya.Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito,bukan Gita!Eh sekarang pakai manggil adek manis segala!Hal lain yang nyebelin,penampilan Mas Gagah jadi aneh.Culun.Sering juga mama menegur Mas Gagah.”Kamu kok akhir-akhir ini penampilanya jadi lain, Gah?””lain gimana, ma?”ya nggak se modis dulu,ngggak se keren dulu….”Mas Gagah Cuma senyum-senyum.”suka begini ma…! “biasanya kan kamu paling sibuk dengan penampilanmu yang kaya cover boy,ujar mama lagi.”Sekarang lebih senang yang seperti ini biar sederhana yang penting lebih rapi dan lebih sopan kelihatannnya” Ya cara berpakaian Mas Gagah akhir-akhir ini memang total berubah.Dia jadi kelihatan lebih kuno dengan kemeja lengan panjangnya yang selalu di keluarin dan celana panjangnya yang longgar-longgar itu.”Mas Gagah jadi mirip pak Gino,”komentarku,menyamakannya dengan sopir kami, “untung aja masih lebih ganteng!” Tapi Mas Gagah Cuma tertawa-tawa mengacak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? juga sangat ku rasakan.Sekarang Mas gagah tidak sekonyol dulu,sesekali masih tapi jarang sekali.Mas Gagah sekarang nggak pernah lagi menyempatkan diri ngobrol-ngobrol dengan teman-teman arisan Mama.Mas Gagah ngggak pernah lagi bercanda dengan Thera,peragawati yang tinggal di rumah sebelah.Juga dengan santi ,Nia,Ayu, Titi,Indah dan teman-temanku yang lain.Dan yang paling gawat mas Gagah nggak mau salaman dengan makhluk yang namanya wanita!Kupikir apa sih maunya Mas Gagah ?”Mas,kok kece banget! Kenapa nggak mau salaman sama Tresye!”tegurku satu hari.”dia itu cewek paling beken di sanggar Gita!jangan gitu dong!itu kan namanya nggak menghargai orang lain!’

“Gita justru Mas karna menghargai dia,makanya Mas berbuat begitu”ujar Masku itu lagi dengan nada yang sangat sabar.Nggak mau salaman,diajak ngomong nunduk melulu,itu namanya nggak menghargai”Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya padaku.Aku membacanya”dari ‘Aisyah ra. Demi Allah,demi Allah,demi Allah,Rasulullah tidak pernah berjabat tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya…,HR,Bukhori muslim,”bacaku dengan keras.Mas Gagah tersenyum”tapi pak kiay Anwar mau salaman sama Mama.Pak haji Kari,H.Toto,Ustadz Ali…,”Kataku.”Mas Cuma mau mencontoh rasulullah. Beliau saja teladan yang paling baik,”kata Mas Gagah sambil membelai rambutku.”Coba untuk mengerti ya,dik manis!”.Dik manis?coba untuk mengerti?Huh!Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik.Aku malah khawatir ia telah menuntut ilmu lain.Entah apa.Aku khawatir ia terbawa oleh orang yang sok agamais tetapi ngaur.Tapi…ah,pada akhirnya aku nggak berani menduga demikian.Masku itu orangnya cerdas sekali!Jenius malah!Umurnya baru duapuluh tahun tetapi sudah tingkat empat di FTUI?Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam.Hanya yaaa,akhir-akhir ini ia berobah.itu saja.Kutarik nafas dalam-dalam.”Gita,mau kemana?” “nonton aladin sama teman-teman,”kataku sambil mengenakan sepatu.”Habis Mas Gagah kalau di ajak nonton sekarang ada saja alasannya!” “Ikut mas Gagah aja yuk!” “Kemana?Ketempat yang itu lagi? Ogah!Gita kayak orang bego disana!”aku masih ingat jelas beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajakku ke rumah temannya ada pengajian.Terus pernah aku menghadiri tablig akbar di satu tempat.Bayangin,berapa kali aku dilihatin sama cewek-cewek yang hadir yang kebanyakannya berjilbab itu.Pasalnya aku bersama dengan mas Gagah,dan aku kesana hanya dengan rambut trondolku!Mas Gagah sudah nyuruh pakai baju panjang dan kerudung aku nggak mau.Aku ngancam nggak mau ikut.Tapi akhirnya aku sedikit mengalah dengan memakai selendang Pink nya Mama untuk kerudung. Sesampai di sana selendang pink itu Cuma kusandarkan begitu saja di pundak.”Assalamu ‘alaikum!”terdengar suara salam beberapa laki-laki.Mas Gagah menjawab salam itu.Tak lama kulihat mas Gagah kembali keruang tamu dengan teman-temannya.Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah itu. Masuk,lewat,nunduk-nunduk,nggak negur aku… persis kelakuan Mas Gagah terhadap teman-temanku! Tapi sama Mama mereka masih mau berbaik dan menegur.”Lewat aja nih,Mas?Gita nggak di kenalin”Tanyaku iseng.Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang nggak akrab denganku,tapi sekarang…Mas Gagah bahkan nggak mau memperkenalkan teman-temannya padaku.Pada hal teman-temannya itu manis-mans”.Mas Gagah menempelkan satu jari kanannya di bibir,”ssst!”dan ia berlalu bersama teman-temannya itu ke kamarnya.Seperti biasa,aku bisa menebak kegiatan mereka…pasti ngomongin soal-soal keislaman,diskusi,belajar baca Al-quran atau bahasa ara!begitu saja.”Ih,subahanalloh berarti kaka kamu Ikhwan dong!”kata Tika teman akrabku yang tiba-tiba sebulan ini rapi berjilbab memusingkan Jeans belel dan ransel kumalnya.”Ikhwan?apaan tuh?”tanyaku.sebenarnya akhir-akhir iniTika berjilbab,aku entah kenapa sudah hampir tak kenal denagnnya,tapi terkadang aku kangen padanya.Dan merasa nggak adil kalau menjauhinya begitu saja.Jadi aku mulai mendekatinya kembali dan mengajaknya berdiskusi soal Mas Gagah.Kami bicara di kantin sekolah.”Untuk laki-laki di sebut Ikhwan,perempuannya di sebut Akhwat,artinya saudara.Dalam hal ini,biasa di pakai untuk mengatakan bahwa dia saudara se iman.”Kata Tika sambil menghirup es kelapa mudanya.Aku manggut-manggut lagi.”kamu tahu Hendra atau Isa kan?ktifis ROHIS kita itu adala contoh paling nyata sosok Ikhwan di sekolah ini,”kata Tika lagi.Aku manggut-manggut lagi,lagak-lagak Hendra dan Isa memang mirip Mas Gagah juga.”Coba deh kamu lebih banyak baca buku-buku Islam.Datanglah ke pengajian-pengajian…,Insya Allah kamu akan tahu betapa hebat dan sempurnanya agama kita. Dan bahwa orang-orang seperti Hendra, Isa, Mas Gagah atau semacamnya tersebut, bukanlah orang-orang yang aneh. Mereka orang-orang yang mendapat cahaya kebenaran dan berusaha mengamalkan Islam secara lebih utuh dan benar pula….”Aku diam . kulihat kesungguhan di wahah bening Tika, sobat dekatku yang dulu paling senang ngocol ini. Dia tampak begitu dewasa.”Kamu tahu Gita…, Aku ingin kamu mersakan apa yang saat ini tengah kurasakan. Ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, kebanggaan menjadi seorang muslimah..” Entah mengapa,aku biasanya suka berdebat dan gemar menghamburkan kata”tetapi”,saat ini Cuma terdiam.Cuma mampu memperhatikan kata demi kata yang meluncur dari bibir mungil Tika.”Kapan lagi main kerumahku?Mamaku sudah kangen!”kata Tika.”Tik,aku kehilangan kamu….,”Kataku jujur.”Aku juga kehilngan Mas Gagah.Selama ini aku pura-pura cuek dan menunjukkan bahwa aku tak perduli. Tapi aku kehilangan!”Tika menumpuk pundakku.Jilbabku putihnya bergerak di tiup angin.”Aku senang kamu mau membicarakan hal ini padaku.Menginaplah di rumah.Biar kita bisa cerita banyak.Sekalian ku kenalkan dengan Mbak ana!”Mbak ana?” “Kakakku yang kuliah di Amerika!lucu,Git!pulang dari Amerika malah dia jilbab!Ajaib!itulah hidayah!”ujar Gita tertawa.”hidayah ?”menginaplah …,kita akan ngobrol sampai malam sama Mbak ana!”Assalamu ‘alaikum,Mas Ikhwan…. eh,Mas Gagah!”tegurku ramah.”Eh,adik Mas Gagah dari mana aja,pulang sekolah bukannya langsung ulang kata Mas Gagah pura-pura marah.”dari rumah Tika.teman sekolah,’ ujarku pendek”lagi ngapain,Mas?”tanyaku sambil berjalan mengitari kawannya,kuamati beberapa poster kaligrafi,gambar-gambar perjuangan Afganistan,Palestina,Kashmir,dan Bosnia.serta puisi-puisi sufistik yang tertempel di dinding Mas Gagah.”Cuma lagi baca.,buku apa?” “tumben kamu pingin tahu” “Tunjukin dong,Mas…,buku apa?!”desakku”Eit….,eit!”Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.Kugelitik kakinya,dia tertawa dan menyerah,”nih!”serunya memperlihatkan buku yang tengah di bacanya,dengan wahah setengah menyerah.”Nah ya,aku tertawa Mas Gagah juga.Akhirnya kami bersama- sama mambaca buku “konsep pernikahan dalam Islam”itu!”Mas,” “apa dik manis?”,”Gita.Akhwat bukan sih?,memangnya kenapa?” “Gita akhwat apa bukan”ayo jawab!”Mas Gagah tertawa .Sore itu dengan sabar dan panjang lebar ia berbicara padaku.Tentang Allah.tentang Rasul.Tentang ajaran Islam yang di abaikan dan tidak difahami umatnya.Tentang kaum muslimin di dunia yang selalu di fitnah,diburu dan di bantai dengan keji.Dan tentang berbagai hal.Dan untuk pertama kali setelah kurasakan perobahannya,aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.Yang baik dan lembut hati,yang cerdas,gagah.Yang sangat alim!”Kok tumben,Gita mau mendengarkan Mas berbicara Tanya Mas Gagah.”Gita capek marahan sama Mas Gagah,”ujarku sekenanya.Mas Gagah dengan semangat terus melanjutkan pembicaraannya.Lama-lama aku sangat tertarik juga.Terkadang Mas Gagah berbicara sambil tersenyum. Sebentar kemudian sambil menitikkan air mata!Mas Gagah nangis!ya ampun!Mas Gagah nangis?hal yang belum pernah kulihat sebelumnya!Mas gagah kok nangis?”Gita dan semua orang yang akan menangis kalau bisa merasakan apa yang tengah Mas Gagah rasakan.

“Gita justru Mas karna menghargai dia,makanya Mas berbuat begitu”ujar Masku itu lagi dengan nada yang sangat sabar.Nggak mau salaman,diajak ngomong nunduk melulu,itu namanya nggak menghargai”Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya padaku.Aku membacanya”dari ‘Aisyah ra. Demi Allah,demi Allah,demi Allah,Rasulullah tidak pernah berjabat tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya…,HR,Bukhori muslim,”bacaku dengan keras.Mas Gagah tersenyum”tapi pak kiay Anwar mau salaman sama Mama.Pak haji Kari,H.Toto,Ustadz Ali…,”Kataku.”Mas Cuma mau mencontoh rasulullah. Beliau saja teladan yang paling baik,”kata Mas Gagah sambil membelai rambutku.”Coba untuk mengerti ya,dik manis!”.Dik manis?coba untuk mengerti?Huh!Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik.Aku malah khawatir ia telah menuntut ilmu lain.Entah apa.Aku khawatir ia terbawa oleh orang yang sok agamais tetapi ngaur.Tapi…ah,pada akhirnya aku nggak berani menduga demikian.Masku itu orangnya cerdas sekali!Jenius malah!Umurnya baru duapuluh tahun tetapi sudah tingkat empat di FTUI?Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam.Hanya yaaa,akhir-akhir ini ia berobah.itu saja.Kutarik nafas dalam-dalam.”Gita,mau kemana?” “nonton aladin sama teman-teman,”kataku sambil mengenakan sepatu.”Habis Mas Gagah kalau di ajak nonton sekarang ada saja alasannya!” “Ikut mas Gagah aja yuk!” “Kemana?Ketempat yang itu lagi? Ogah!Gita kayak orang bego disana!”aku masih ingat jelas beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajakku ke rumah temannya ada pengajian.Terus pernah aku menghadiri tablig akbar di satu tempat.Bayangin,berapa kali aku dilihatin sama cewek-cewek yang hadir yang kebanyakannya berjilbab itu.Pasalnya aku bersama dengan mas Gagah,dan aku kesana hanya dengan rambut trondolku!Mas Gagah sudah nyuruh pakai baju panjang dan kerudung aku nggak mau.Aku ngancam nggak mau ikut.Tapi akhirnya aku sedikit mengalah dengan memakai selendang Pink nya Mama untuk kerudung. Sesampai di sana selendang pink itu Cuma kusandarkan begitu saja di pundak.”Assalamu ‘alaikum!”terdengar suara salam beberapa laki-laki.Mas Gagah menjawab salam itu.Tak lama kulihat mas Gagah kembali keruang tamu dengan teman-temannya.Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah itu. Masuk,lewat,nunduk-nunduk,nggak negur aku… persis kelakuan Mas Gagah terhadap teman-temanku! Tapi sama Mama mereka masih mau berbaik dan menegur.”Lewat aja nih,Mas?Gita nggak di kenalin”Tanyaku iseng.Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang nggak akrab denganku,tapi sekarang…Mas Gagah bahkan nggak mau memperkenalkan teman-temannya padaku.Pada hal teman-temannya itu manis-mans”.Mas Gagah menempelkan satu jari kanannya di bibir,”ssst!”dan ia berlalu bersama teman-temannya itu ke kamarnya.Seperti biasa,aku bisa menebak kegiatan mereka…pasti ngomongin soal-soal keislaman,diskusi,belajar baca Al-quran atau bahasa ara!begitu saja.”Ih,subahanalloh berarti kaka kamu Ikhwan dong!”kata Tika teman akrabku yang tiba-tiba sebulan ini rapi berjilbab memusingkan Jeans belel dan ransel kumalnya.”Ikhwan?apaan tuh?”tanyaku.sebenarnya akhir-akhir iniTika berjilbab,aku entah kenapa sudah hampir tak kenal denagnnya,tapi terkadang aku kangen padanya.Dan merasa nggak adil kalau menjauhinya begitu saja.Jadi aku mulai mendekatinya kembali dan mengajaknya berdiskusi soal Mas Gagah.Kami bicara di kantin sekolah.”Untuk laki-laki di sebut Ikhwan,perempuannya di sebut Akhwat,artinya saudara.Dalam hal ini,biasa di pakai untuk mengatakan bahwa dia saudara se iman.”Kata Tika sambil menghirup es kelapa mudanya.Aku manggut-manggut lagi.”kamu tahu Hendra atau Isa kan?ktifis ROHIS kita itu adala contoh paling nyata sosok Ikhwan di sekolah ini,”kata Tika lagi.Aku manggut-manggut lagi,lagak-lagak Hendra dan Isa memang mirip Mas Gagah juga.”Coba deh kamu lebih banyak baca buku-buku Islam.Datanglah ke pengajian-pengajian…,Insya Allah kamu akan tahu betapa hebat dan sempurnanya agama kita. Dan bahwa orang-orang seperti Hendra, Isa, Mas Gagah atau semacamnya tersebut, bukanlah orang-orang yang aneh. Mereka orang-orang yang mendapat cahaya kebenaran dan berusaha mengamalkan Islam secara lebih utuh dan benar pula….”Aku diam . kulihat kesungguhan di wahah bening Tika, sobat dekatku yang dulu paling senang ngocol ini. Dia tampak begitu dewasa.”Kamu tahu Gita…, Aku ingin kamu mersakan apa yang saat ini tengah kurasakan. Ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, kebanggaan menjadi seorang muslimah..” Entah mengapa,aku biasanya suka berdebat dan gemar menghamburkan kata”tetapi”,saat ini Cuma terdiam.Cuma mampu memperhatikan kata demi kata yang meluncur dari bibir mungil Tika.”Kapan lagi main kerumahku?Mamaku sudah kangen!”kata Tika.”Tik,aku kehilangan kamu….,”Kataku jujur.”Aku juga kehilngan Mas Gagah.Selama ini aku pura-pura cuek dan menunjukkan bahwa aku tak perduli. Tapi aku kehilangan!”Tika menumpuk pundakku.Jilbabku putihnya bergerak di tiup angin.”Aku senang kamu mau membicarakan hal ini padaku.Menginaplah di rumah.Biar kita bisa cerita banyak.Sekalian ku kenalkan dengan Mbak ana!”Mbak ana?” “Kakakku yang kuliah di Amerika!lucu,Git!pulang dari Amerika malah dia jilbab!Ajaib!itulah hidayah!”ujar Gita tertawa.”hidayah ?”menginaplah …,kita akan ngobrol sampai malam sama Mbak ana!”Assalamu ‘alaikum,Mas Ikhwan…. eh,Mas Gagah!”tegurku ramah.”Eh,adik Mas Gagah dari mana aja,pulang sekolah bukannya langsung ulang kata Mas Gagah pura-pura marah.”dari rumah Tika.teman sekolah,’ ujarku pendek”lagi ngapain,Mas?”tanyaku sambil berjalan mengitari kawannya,kuamati beberapa poster kaligrafi,gambar-gambar perjuangan Afganistan,Palestina,Kashmir,dan Bosnia.serta puisi-puisi sufistik yang tertempel di dinding Mas Gagah.”Cuma lagi baca.,buku apa?” “tumben kamu pingin tahu” “Tunjukin dong,Mas…,buku apa?!”desakku”Eit….,eit!”Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.Kugelitik kakinya,dia tertawa dan menyerah,”nih!”serunya memperlihatkan buku yang tengah di bacanya,dengan wahah setengah menyerah.”Nah ya,aku tertawa Mas Gagah juga.Akhirnya kami bersama- sama mambaca buku “konsep pernikahan dalam Islam”itu!”Mas,” “apa dik manis?”,”Gita.Akhwat bukan sih?,memangnya kenapa?” “Gita akhwat apa bukan”ayo jawab!”Mas Gagah tertawa .Sore itu dengan sabar dan panjang lebar ia berbicara padaku.Tentang Allah.tentang Rasul.Tentang ajaran Islam yang di abaikan dan tidak difahami umatnya.Tentang kaum muslimin di dunia yang selalu di fitnah,diburu dan di bantai dengan keji.Dan tentang berbagai hal.Dan untuk pertama kali setelah kurasakan perobahannya,aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.Yang baik dan lembut hati,yang cerdas,gagah.Yang sangat alim!”Kok tumben,Gita mau mendengarkan Mas berbicara Tanya Mas Gagah.”Gita capek marahan sama Mas Gagah,”ujarku sekenanya.Mas Gagah dengan semangat terus melanjutkan pembicaraannya.Lama-lama aku sangat tertarik juga.Terkadang Mas Gagah berbicara sambil tersenyum. Sebentar kemudian sambil menitikkan air mata!Mas Gagah nangis!ya ampun!Mas Gagah nangis?hal yang belum pernah kulihat sebelumnya!Mas gagah kok nangis?”Gita dan semua orang yang akan menangis kalau bisa merasakan apa yang tengah Mas Gagah rasakan.

Dari luar kamar, kulihat lagi tubuh Mas Gagah yang biasa enerjik dan gagah itu bahkan tak bergerak .“ Mas Gagah….., sembuh ya, Mas. Gita sudah jadi adik manis Mas Gagah yang manis….., Mas Gagah………….,”bisikku. Tiga jam kemudian kami masih rumah sakit. Ruang ICU kini telah sepi, tinggal aku, Mama, Papa, dan sebuah keluarga lagi yang menunggui anak mereka yang juga dalam keadaan kritis. Aku berdo’a dan terus berdo’a. Ya Allah selamatkan Mas Gagah…., Gita, Mama, Papa masih butuh Mas Gagah. Umat juga……….tak lama, Dokter Joko, yang menangani Mas Gagah, menghampiri kami, “…… Subhanallah, luar biasa, dia sadar. Dia memanggil nama ibu, bapak, juga….Gita….” “Gita….,”suaraku serak menahan tangis. Dokter Joko memanggil Papa, “Dia kuat sekali, mampu sadar kembali secepat ini tapi dia tak akan bertahan. Pergunakan waktu yang ada dengan berada disisinya seperti permintaanya. Maafkan, saya, lukanya terlalu parah.” Perkataan dokter Joko yang sempat kudengar itu, mengguncang perasaanku ! “Mas Gagah……., ini….. Gita, Mas,” sapaku berbisik. Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit bibirnya ingin mengucapkan sesuatu ! kudekatkan wajahku padanya. “Gita sudah pakai Jilbab,” bisikku. Ujung jilbabku yang basah, kusentuhkan pada tangannya. Tubuh Mas Gagah bergerak lagi. “ Dzikir…Mas,” suaraku bergetar , kupandang lekat-lekat wajah Mas Gagah yang seperempatnya tertutup perban itu. Wajah itu begitu tenang “Gi..ta”. kudengar suara Mas Gagah pelan sekali. “Gita disini Mas” perlahan-lahan kelopak mata itu terbuka. Aku tersenyum, “ Gita sudah pakai jilbab,” kutahan air mataku. Memandangku lembut, Mas Gagah tersenyum. Bibirnya mengucapkan sesuatu seperti Hamdalah. “ Jangan ngomong-apa-apa dulu Mas,” ujarku pelan, ketika kulihat ia berusaha untuk mengatakan sesuatu. Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tak bisa dimasukki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Tapi ya Allah…, kulihat Mas Gagah tersenyum ….Ikhlas sekali! Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Mas Gagah rupanya memberi isyarat supaya kami semua berkumpul. Dokter mengatakan demikian. Tubuh Mas Gagah kurasakan makin lama makin pucat. Tapi sebentar-sebentar tubuhnya masih bergerak. Ia juga bisa mendengarkan apa yang kami katakana, meski ia hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh, “Mas… sebut nama Allah banyak-banyak….”kataku. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup…, tapi sebagai insan yang beriman, seperti juga yang selalu Mas Gagah ajarkan, aku pasrah pada ketetntuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah. “Al…lah…Ra…sul…lul…lah,” suara Mas Gagah pelan. Tapi tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar. Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulur senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh kaku Mas Gagah kuat-kuat, Mama dan Papa juga, isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah !
Buat Ukhti manis Gita Ayu Pratiwi,
Jadilah Muslimah sejati,
Semoga Allah selalu bersamamu…,
Sun sayang,
Mas Ikhwan…, eh, Mas Gagah !
Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau yang manis…, akh, ternyata Mas Gagah masih sempat mempersiapkan kado pada hari ulang tahunku. Aku tersenyum. Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Tak ada lgia panggilan “dik manis”, tak ada lagi diskusi-diskusi di kamar ini, tak terdengar lagi suara merdu Mas Gagah yang melantunkan ayat-ayat Allah. Tak ada lagi….. Setitik air mataku jatuh. “Mas, Gita akhwat, bukan sih ? Ya, Insya Allah akhwat!” Yang bener?” “Iya, dik manis!” “Kalau Ikhwan itu harus ada janggutnya, yah?” “Kok nanya gitu ?” “Lha, Mas Gagah ada janggutnya!” “Ganteng, kan ?” “Uuuu, eh, Mas, kita harus jihad ya ? Jihad itu apa sih ?” Ya always dong, Jihad itu….” Setitik air mataku jatuh lagi, kumatikan lampu, kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan…., Selamat jalan, Mas Gagah.

semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah ini...Aamiin

Tidak ada komentar:

Followers