Selasa, 13 Oktober 2009

Sastra bukanlah sekedar dunia simbol

Sastra bukanlah sekedar dunia simbol yang penghuninya semuanya hanya kata-kata, tapi juga bukan dunia pergerakan, yang penuh dengan segenap tindakan seperti dalam kerusuhan, dalam revolusi yang bergejolak, atau dalam suatu perhelatan, sastra itu cermin hidup manusia, dan dunianya, dan di sana manusia berkata-kata, dan kata-katanya juga meninggalkan jejak, kata-kata –selemah dan sehalus apapun- bisa mengaruhi dan memberi inspirasi bagi tumbuhnya sesuatu bagi tumbuhnya suatu ideologi sosial. Dan sastra dengan begitu secara tak langsung bisa memeberi manusia gagasan membikin dunianya lebih baik (M. Sobary, Kompas, 3/6/06)
Sejatinya sastra merupakan unsur yang amat penting yang mampu memberikan wajah manusiawi, unsur-unsur keindahan, keselarasan, keseimbangan, perspektif, harmoni, irama, proporsi, dan sublimasi dalam setiap gerak kehidupan manusia dalam menciptakan kebudayaan. Dan apabila hal tersebut tercerabut dari akar kehidupan manusia, manusia tak lebih dari sekadar hewan berakal. Untuk itulah sastra harus ada dan selalu harus diberadakan.
Sastra adalah vitamin batin, kerja otak kanan yang membuat halus sikap hidup insani yang jika benar-benar dimatangkan, akan mampu menumbuhkan sikap yang lebih santun dan beradab.
Seni sastra, dilihat dari kenalaran sistematis pada instansi rasional yang terakhir, adalah ‘primer’ : mengungkapkan ada (das Sein) manusiawi kita dan melekat dalam kehidupan manusia. Secara potensial, setiap orang pada setiap jaman pada setiap tempat dapat bersastra, entah secara aktif entah secara pasif (Mangunwijaya, 1986:3-7). Oleh karena itu, seni sastra merupakan sebuah bidang kebudayaan manusia yang paling tua, yang mendahului cabang-cabang kebudayaan lainya. Sebelum adanya ilmu pengetahuan dan teknik, kesenian sudah hadir sebagai media ekspresi pengalaman estetik manusia berhadapan dengan alam sebagai penjelmaan keindahan (Drikarya, 1980: 7-12).

Tidak ada komentar:

Followers