Selasa, 13 Oktober 2009

Ketika Cinta berbuah neraka

Duh, lagi-lagi bicara tentang cinta. Sepertinya tidak ada habis-habisnya, seolah tidak bosan-bosannya untuk membaca, menulis dan mendengarkannya. Begitu indahnya cinta sehingga kita lupa akan semua nikmat yang ada disekeliling kita. Tapi yang menjadi masalahnya sekarang, adalah bagaimana jika cinta itu menjadi tuhan yang selalu diagung-agungkan. Seperti Kahlil Gibran yang menjadikan cinta sebagai Tuhannya. Dan bagaimana jika cinta yang katanya suci dan bersih itu menjadi haram dan tak layak untuk disentuh serta dirasakan? Bukankah ini juga bisa terjadi kepada siapa saja termasuk kepada kita yang mengaku paling mengerti tentang hati dan cinta.

Banyak diantara kita yang tahu arti cinta, paling mengerti tentang cinta dan bisa merasakan cinta. Serta terkadang tidak segan-segan kita mengklaim bahwa hati ini jatuh cinta kepada Allah dan Rasulnya melebihi segalanya. Apa yang menjadi ukuran ketika kita berani bicara seperti itu. Sudahkah kita bertanya kepada “LUBB” kita sendiri. Karena Lubb (Inti Hati) adalah gunung yang paling agung dan lapisan yang paling selamat di segala marabahaya Nafs yang datang menyerang. Ataukah kita sendiri malah tidak bisa merasakan lubb kita sendiri karena cinta buta yang kita alami kepada yang belum berhak dicintai.Lubb hanya bisa dirasakan oleh mereka yang bisa menghambakan diri kepada Sang Khalik. Jadi jangan mengaku memiliki cinta yang murni dan suci jika tempat bersemayamnya saja kita tidak tahu dan tidak bisa dijaga kebersihannya.

Jika diijinkan mengutip salah satu ayat Al Qur’an Nul karim surah At Taubah ayat 24, dimana Allah berfirman “Katakannlah jika bapak-bapak kamu, anak-anak kamu, istri-istri kamu, keluargamu, harta-harta yang kamu usahakan dan perdagangan yang kamu takutkan kerugiannya, serta rumah-rumah kediaman yang kamu cintai daripada Allah dan rasulNYA serta berjihad dijalanNYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan, sesungguhnya Allah itu tidak akan memberi petunjuk kaum yang Fasik.”

Mari kita ukur takaran cinta kita terhadap Allah dengan delapan perkara yang halal diatas. Siapakah yang lebih besar, antara delapan hal diatas ataukah seruan Allah. Silahkan jawab dengan inti hati yang terdalam dengan kejujuran yang islami dan benar.

Jika ternyata kita masih lebih cenderung mengkhawatirkan kehilangan delapan hal itu dari pada Iman kepada Allah dan RasulNYA serta keislaman kita. Maka khawatirlah hati kecil ini karena kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang fasik. Na‘udzubillah. Betapa meruginya kita yang sedang jatuh cinta tapi mendapat kecaman. Walaupun petunjuk telah datang, tetapi kita tetap diam seribu bahasa tanpa menggubrisnya sedikitpun. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh mencintai semua hal yang diatas tadi akan tetapi ingatlah jika Keikhlasan itu hanya bisa timbul tatkala cinta dan hati hanya jatuh cinta pada cinta yang hakiki.

Check Your Heart!!! Siapa dan apa yang paling kita cintai, Allah ataukah kekasih yang lainnya? Atau malah lebih parah lagi, seperti bermesra-mesraan, bersayang-sayangan, berindu-rinduan layaknya suami istri yang telah halal padahal masih dalam tahap penjajakan saja. Apakah ini yang kita sebut dengan kebaikan dalam cinta? Baik tidaknya tindakan seperti ini mari kita tanyakan lagi kepada lubb dan hati nurani, tentunya jika kita punya.

Apakah cinta seperti ini halal ataukah malah haram dan tidak pantas disebut cinta melainkan budak kebodohan dalam ruang kesesatan yang nyata. Semuanya silahkan kita jawab sendiri dengan kejujuran yang sungguh-sungguh kepada Allah. Karena yang paling tahu dan mengerti tentang diri dan hati kita adalah diri kita sendiri.


Nb. Catatan kecil untuk diri sendiri agar selalu menjadi lebih baik. dan catatan ini adalah renungan yang panjang dalam diri.. :-)


SALAM CINTA

0 komentar:

Followers

Mbh