Selasa, 13 Oktober 2009

Menulislah………! Anda Akan Menemukan Keindahan

Halimi Zuhdy

Menulis bukanlah untuk mencari uang; menjadi terkenal, mendapat teman kencan, menjadi mapan atau banyak teman. Pada akhirnya menulis adalah untuk memperkaya hidup orang-orang yang membaca karyamu dan memperkaya hidupmu sendiri pula….Menulis itu mu’jizat, seperti air kehidupan…air itu gratis. Jadi, minumlah..”

Menulis memang indah, seindah kata-kata yang tersusun rapi, berjejer bagai gunung yang pijakannya mampu menahan gempa, bersolek bagai perawan dalam pingitan, berdansa bagai penari-penari di atas latar. Sungguh indah, ketika kata dapat menggugah, menghipnotis, merangsang dan membuat pembaca sedih. Sungguh hanya deretan kata yang dapat membuat semaunya sendiri, tanpa ada yang menggerakkan untuk menangis, tanpa ada yang memaksa untuk bergembira , tanpa ada larangan untuk bersedih. Semuanya bangkit dari diri pembaca lantaran kata-kata yang indah, daya hipnotisnya yang kuat, daya rangsangnya yang menggugah. ketika itulah penulis menemukan makna yang sebenarnya, makna bagi dirinya dan bagi orang lain.

Jangan heran jika Fatimah Mernissi mengatakan “Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaat yang luar biasa.”. hanya orang yang sering menulis yang mampu merasakannya. Ketika dalam kondisi, stress berat, kemudian ia menuangkan kekesalannya pada kertas niscaya seluruh gejolak yang ia hadapi akan terdampar dalam keranjang-kerang sampah. Ia akan mersakan ketenangan, kedamaian dan kesejukan karena ia mampu bercurhat dengan sebebas mungkin tanpa takut dan gelisah.

Menulis memang indah. Stephen King penulis handal yang novelnya banyak berkeliaran di toko-toko buku, yang tidak hanya di tingkatan lokal namun mampu menggebrak dunia. Ia sangat menikmati dunia yang ia jalani, dunia merangkai kata, melukis kata dan bermain-main dengan kata. 35 novelnya yang ia tulis, membuktikan ia pecandu kata, yang tidak pernah bosan-bosannya untuk duduk lama hanya kerinduannya pada kata, kata ia rangkai dengan sabar, ia letakkan koma, tanda Tanya, tanda seru, ia perindah dengan kalimat-kalimat yang dapat membangkitkan emosi pembaca. Ia luar biasa. Tulisan-tulisannya mampu menggetarkan pembaca , membuat pembaca bercucuran air mata, kata-katanya memang indah dan mempesona.

Mengapa tulisannya mampu menggerakkan pembaca? Dalam bukunya yang berjudul Sthephen King On Writing, ia mengungkapkan bahwa, “menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya.”. Selanjutnya ia mengatakan, “dalam proses menulis yang sejati, seorang penulis menjauh dan berpisah dengan dunia yang ada disekitarnya untuk selanjutnya ia menciptakan dunianya sendiri. Untuk mencapainya seorang penulis harus terlebih dahulu menjadi dirinya sendiri dengan memegang teguh disiplin, kerja keras, kejujuran dan ketulusan.

Dengan semangat menulis yang luar biasa itulah, King dapat menciptakan kata-kata tidak kaku dan membosankan, karena seluruh potensi ia kerahkan untuk mengolahnya. Dia menjadi dirinya sendiri, mempercayai didirnya sendiri, ia libatkan seluruh perasaan dan emosinya dalam menulis. Tulisan-tulisannya tidaklah kering, ia seluruh nafas dan jiwanya ia kerahkan pula untuk merangkai kata seindah mungkin.

Ia menulis tidak pernah kenal mood, dia tidak menunggu kapan datangnya ide karena hidupnya adalah ide, ia tidak menunggu setelah selesai merenung, karena hidupnya adalah renungan-renungan yang selalu menjadi inspirasi. Baginya, kita tidak harus menunggu datangnya inspirasi itu kita sendirilah yang menciptakannya. Katanya, “ketika seorang penulis hanya menunggu, maka sebenarnya ia belum menjadi dirinya sendiri,”. Yang diungkapkan itu, bukanlah tidak beralasan, karena ia sendiri yang menjalaninya. Dia menulis pukul 08.00-14.00 setiap hari sepanjang tahun tanpa ada hari libur, bahkan dihari Natal, kemerdekaan, dan ulang tahunnya sendiri. Sebelum menulis ia mengunci pintu kamarnya, menutup korden jendela, mematika telepon, dan melarang siapapun menemuianya, bahkan instri dan anak-anaknya sekalipun. Seandainya ia menunggu dalam keadaan mood dan datangnya inspirasi mungkin ia tidak akan menulis secara terus menerus setiap hari dengan waktu dan jam yang sama. “kita tidak harus menunggu datangnya inspirasi itu kita sendirilah yang menciptakannya,” katanya.

Dari mana King mendapatkan inspirasi dalam penulisannya, Sehingga mampu menulis secara terus-menerus? selain dari pengalamannya yang penuh dengan lika- liku itu, ia banyak membaca dan menulis, dan itu yang ditekankan oleh King, mengapa ia mampu menulis, karena ia banyak membaca, menurutnya membaca merupakan proses belajar dalam dua hal : pertama, menyerap pengetahuan yang terkandung dalam buku-buku yang kita baca untuk dijadikan perbendaharaan sumber tulisan itu sendiri. Kedua, melakukan penilaian terhadap sebuah bacaan itu baik, maka ada dorongan membuat karya sebaik itu atau yang lebih baik lagi. Ketika kita berhadapan dengan bacaan yang jelek, kita juga terdorong untuk menghindari apa yang telah dilakukan oleh penulisnya dan mendapatkan semacam sugesti bahwa kita bisa melakukan yang lebih baik darinya. Ia menamai proses membaca ini sebagai pusat kreatif kehidupan penulis.

King tidak serta-merta menjadi penulis handal seperti sekarang, ia juga melalui proses yang panjang, ia tidak pernah lelah untuk menyerap kehidupannya itu menjadi kalimat-kalimat dalam tulisannya, ia gambarkan kehidupannya itu dalam rangkaian kata-kata, kemudian ia perkaya dengan membaca, karena membaca menurutnya adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh seorang penulis. kata hernowo “Penulis yang baik, karena ia menjadi pembaca yang baik,”. Ia membaca dengan kreatif dan aktif sehingga ia mampu menulis juga dengan kreatif dan progresif. Menurutnya orang yang tidak kreatif dalam membaca dan tidak mampu menangkap maknanya dengan baik, maka tulisannya juga tidak akan baik.

Untuk menjadi penulis, tidaklah sulit, kata King. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktekkannya, orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis namun tidak pernah melakukannya maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya. King tidak percaya bahwa penulis bisa dibuat, baik oleh keadaan atau oleh keinginannya sendiri. Ia menjadi penulis, karena ada keinginan untuk menulis, dan ia lakukan setiap ada kesempatan untuk menulis, menulis apa saja, saat tangannya gatal dan inspirasinya mau tumpah. Hentakkan Diri Anda!

0 komentar:

Followers

Mbh