Selasa, 08 Januari 2013

LEMBARAN HITAM DI BALIK PENAMPILAN KEREN KAUM WAHABI

Ke mana-mana selalu menyebarkan salam. Selalu memakai baju bercorak gamis
dan celana putih panjang ke bawah lutut, ciri-khas orang Arab. Jenggotnya
dibiarkannya lebat dan terkesan menyeramkan. Slogannya pemberlakuan syariat
Islam. Perjuangannya memberantas syirik, bid'ah, dan khurafat.
Referensinya, al-Kitab dan Sunah yang sahih. Semuanya serba keren, valid,
islami. Begitulah kira-kira penampilan kaum Wahabi. Sepintas dan secara
lahiriah meyakinkan, mengagumkan.



Tapi jangan tertipu dulu dengan setiap penampilan keren. Kata pepatah
jalanan, tidak sedikit di antara mereka yang memakai baju TNI, ternyata
penipu, bukan tentara. Pada masa Rasulullah saw, di antara tipologi kaum
Khawarij yang benih-benihnya mulai muncul pada masa beliau, adalah
ketekunan mereka dalam melakukan ibadah melebihi ibadah kebanyakan orang,
sehingga beliau perlu memperingatkan para Sahabat ra dengan bersabda,
"Kalian akan merasa kecil, apabila membandingkan ibadah kalian dengan
ibadah mereka."



Demikian pula halnya dengan kaum Wahabi, yang terkadang memakai nama keren
"kaum Salafi". Apabila diamati, sekte yang didirikan oleh Muhammad bin
Abdul Wahhab an-Najdi (1115-1206 H/1703-1791 M), sebagai kepanjangan dari
pemikiran dan ideologi Ibnu Taimiyah al-Harrani (661-728 H/1263-1328 M),
akan didapati sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek keagamaan.



*A. Sejarah Hitam*



Sekte Wahabi, seperti biasanya sekte-sekte yang menyimpang dari manhaj
Islam Ahlusunah wal Jamaah memiliki lembaran-lembaran hitam dalam sejarah.
Kerapuhan sejarah ini setidaknya dapat dilihat dengan memperhatikan sepak
terjang Wahabi pada awal kemunculannya. Di mana agresi dan aneksasi
(pencaplokan) terhadap kota-kota Islam seperti Mekah, Madinah, Thaif,
Riyadh, Jeddah, dan lain-lain, yang dilakukan Wahabi bersama bala tentara
Amir Muhammad bin Saud, mereka anggap sebagai jihad fi sabilillah seperti
halnya para Sahabat ra menaklukkan Persia dan Romawi atau Sultan Muhammad
al-Fatih menaklukkan Konstantinopel.



*Selain menghalalkan darah kaum Muslimin yang tinggal di kota-kota Hijaz
dan sekitarnya, kaum Wahabi juga menjarah harta benda mereka dan
menganggapnya sebagai ghanîmah (hasil jarahan perang) yang posisinya sama
dengan jarahan perang dari kaum kafir. Hal ini berangkat dari paradigma
Wahabi yang mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta
benda kaum Muslimin Ahlusunah wal Jamaah pengikut mazhab Hanafi, Maliki,
Syafi'i, dan Hanbali yang tinggal di kota-kota itu.* Lembaran hitam sejarah
ini telah diabadikan dalam kitab asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdul
Wahhâb;*'Aqîdatuhus-Salafiyyah wa Da'watuhul-Ishlâhiyyah karya Ahmad
bin Hajar
Al-Buthami (bukan Al-Haitami dan Al-'Asqalani)–ulama Wahabi kontemporer
dari Qatar–, dan dipengantari oleh Abdul Aziz bin Baz.*



*B. Kerapuhan Ideologi*



Dalam akidah Ahlusunah wal Jamaah, berdasarkan firman Allah, "Tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)" (QS asy-Syura [42]: 11), dan
dalil 'aqli yang definitif, di antara sifat wajib bagi Allah adalah
mukhâlafah lil-hawâdits, yaitu Allah berbeda dengan segala sesuatu yang
baru (alam). Karenanya, Allah itu ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dan
Allah itu tidak duduk, tidak bersemayam di 'Arasy, tidak memiliki organ
tubuh dan sifat seperti manusia. Dan menurut ijmak ulama salaf Ahlusunah
wal Jamaah, sebagaimana dikemukakan oleh al-Imam Abu Ja'far ath-Thahawi
(227-321 H/767-933 M), *dalam al-'Aqîdah ath-Thahâwiyyah, orang yang
menyifati Allah dengan sifat dan ciri khas manusia (seperti sifat duduk,
bersemayam, bertempat, berarah, dan memiliki organ tubuh), adalah kafir*.
Hal ini berangkat dari sifat wajib Allah, mukhâlafah lil-hawâdits.



Sementara Wahabi mengalami kerapuhan fatal dalam hal ideologi. Mereka
terjerumus dalam faham tajsîm (menganggap Allah memiliki anggota tubuh dan
sifat seperti manusia) dan tasybîh (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).
Padahal menurut al-Imam asy-Syafi'i (150-204 H/767-819 M) seperti
diriwayatkan olah as-Suyuthi (849-910 H/1445-1505 M) dalam al-Asybâh
wan-Nazhâ'ir, *orang yang berfaham tajsîm, adalah kafir. Karena berarti
penolakan dan pengingkaran terhadap firman Allah, "Tidak ada sesuatu pun
yang serupa dengan Dia (Allah)." (QS asy-Syura [42]: 11) *

* *

Walaupun mereka berkata Tangan Allah tidak seperti tangan manusia, Kaki
Allah tidak seperti kaki manusia, maka ini termasuk *Mujassimah. Karena
menganggap Allah itu adalah Jisim (mempunyai anggota badan) sebagaimana
makhluk.*

**

* *

*C. Kerapuhan Tradisi*



Di antara ciri khas Ahlusunah wal Jamaah adalah mencintai, menghormati, dan
mengagungkan Rasulullah saw, para Sahabat ra, ulama salaf yang saleh, dan
generasi penerus mereka yang saleh seperti para habaib dan kiai yang
diekspresikan dalam bentuk tradisi semisal tawasul, tabarruk, perayaan
maulid, haul, dan lain-lain.



Sementara kaum Wahabi mengalami kerapuhan tradisi dalam beragama, *dengan
tidak mengagungkan Nabi saw, yang diekspresikan dalam pengafiran tawasul
dengan para nabi dan para wali.* Padahal tawasul ini, sebagaimana terdapat
dalam Hadis-Hadis sahih dan data-data kesejarahan yang mutawâtir, telah
dilakukan oleh Nabi Adam as., para Sahabat ra, dan ulama salaf yang
saleh. *Sehingga
dengan pandangannya ini, Wahabi berarti telah mengafirkan Nabi Adam as.,
para Sahabat ra, ahli Hadis, dan ulama salaf yang saleh yang menganjurkan
tawasul.*



Bahkan lebih jauh lagi, *Nashiruddin al-Albani–ulama Wahabi
kontemporer–sejak lama telah menyerukan pembongkaran al-qubbah al-khadhrâ'
(kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah saw) dan menyerukan pengeluaran
jasad Nabi saw dari dalam Masjid Nabawi, karena dianggapnya sebagai sumber
kesyirikan.* Al-Albani juga telah mengeluarkan fatwa yang mengafirkan
al-Imam al-Bukhari, karena telah melakukan takwil dalam ash-Shahih-nya.



*Demikian sekelumit dari ratusan kerapuhan ideologis Wahabi. Dari sini,
kita perlu berhati-hati dengan karya-karya kaum Wahabi, sekte radikal yang
lahir di Najd. Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi
saw bersabda, "Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan". Menurut para
ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi.
Wallâhul-hâdî.* [BS]

0 komentar:

Followers

Mbh