Minggu, 30 Desember 2012

PEMBERIAN STATUS MURTAD KEPADA SESAMA MUSLIM

Oleh: Ustadz Ishak



Baru-baru ini, saya masih dapat membaca hadirnya *fenomena memberikan
status murtad kepada sesama umat islam.* Sejujurnya saya terkejut, karena
pengafiran ini justru muncul di grup diskusi dunia maya yang mengusung nama
"tasawuf". Biasanya para ahli tasawuf adalah ahli-ahli yang mampu menyelami
seluk beluk hati sehingga dapat lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru
dalam menghakimi. Saya pikir kekeruhan hati seperti ini sudah musnah dari
dunia tasawuf. Ternyata saya salah....



*Keterkejutan itu tak bertahan lama*, akhirnya tak lama kemudian saya
tersenyum, saya lupa bahwa ini adalah grup diskusi dunia maya, *yang
penulisnya bisa siapa saja. Bukan tak mungkin dari golongan non-muslim,
atau bahkan dari musuh-musuh islam yang menyusup.*



Jika pelakunya adalah musuh islam yang disusupkan seperti pada kasus SHR,
maka saya tidak usah berkomentar banyak. *Mereka memang diperintahkan
untuk mempelajari islam. Tidak untuk mengimaninya, melainkan untuk mencari
kelemahannya kemudian menghancurkannya.*



Biasanya taktik kotor ini mudah dideteksi. *Mereka biasanya melakukan
agitasi, kampanye (propaganda) pada mas media dan elektronik dengan gencar
dan memiliki frekuensi tinggi, sehingga orang-orang yang masih sederhana
pola pikirnya, mudah terhasut dan akhirnya membenarkan. *



*Propaganda pikiran jahat itu dimulai dari penterjemahan, interpretasi dan
penyajian serta pengacauan fakta-fakta yang menyimpang, kasar, halus dan
disengaja.*



Distorsi dan mis-interprestasi ini betul-betul dikemas dengan kepiawaian
bahasa mereka dan logika yang menipu sehingga "para pencari" kesulitan atau
benar-benar tidak memahami aspek islam yang sebenarnya. *Mereka
terperangkap kebohongan yang berhias kefasihan*, dan akhirnya menelan
pil-racun yang berlapis gula kebohongan dan mengikuti tulisan tersebut.



Tetapi jika hal itu dilakukan oleh sesama umat islam,* maka diamnya saya
hanya menghasilkan dosa.* Maka izinkan saya berbicara. *Maaf jika ada yang
tersindir / tersinggung. Dan inilah tausyiah / nasihat bagi mereka :*



*1. JANGAN KAU GELAPKAN AKHIRATMU DENGAN MENDZHALIMI MEREKA*



Saudaraku, ketika engkau mengutuk, memberikan status murtad atau kafir,
atau mendoakan saudaramu agar celaka, maka setan berkata dengan suara
merdu, "Aku sangat berterimakasih kepadamu lebih dari semua makhluk yang
ada di muka bumi. Karena permohonanmu agar saudaramu sesama islam
dicelakakan, telah dikabulkan oleh Allah. Dengan cara itu, engkau telah
meringankan bebanku.



*2. JANGAN KAU SAKITI MEREKA DENGAN KEBODOHANMU DALAM BERMUAMALAH*



Saudaraku, mungkin cerita ini bisa memberimu pencerahan :



Umar ra. Bertanya kepada Khudzaifah bin yaman : "Bagaimana keadaanmu pagi
ini, wahai khudzaifah ?" Khudzaifah menjawab: "Pagi ini aku menyukai
fitnah, membenci kebenaran (haq), shalat tanpa berwudhu dan aku memiliki
sesuatu di muka bumi, apa yang tidak dimiliki oleh Allah di langit."



Mendengar jawaban itu maka Umar marah. Ali karramallahu wajhah datang
menemuinya dan berkata kepadanya : "Di wajahmu terlihat tanda kemarahan,
wahai amirul mukminin." Kemudian Umar menceritakan kepada Ali tentang apa
yang menyebabkannya marah kepada Khudzaifah.





Kemudian Ali berkata : "Sungguh benar Khudzaifah. Adapun kecintaan kepada
fitnah berarti kecintaan kepada harta dan anak-nak, sebagaimana Allah
berfirman dalam Al Quran "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah
cobaan (fitnah) (bagimu) (QS At Taghaabun (64):15). Adapun dia membenci
kebenaran (haq) berarti dia membenci kematian, karena kedatangan kematian
adalah benar (haq). Dan shalat tanpa berwudhu berarti shalawatnya atas Nabi
saw. Adapun yang dimilikinya di muka bumi yang tidak dimiliki oleh Allah di
langit berarti dia memiliki istri dan seorang anak, sedangkan Allah tidak
beristri dan beranak. Hal ini sebagaimana firman Allah "Dia tiada beranak
dan tidak pula diperanakkan" (QS Al Ikhlash : 3)



Umar berkata : "Demi Allah, engkau telah membuatku puas dan lega."



Saudaraku, *berapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar hanya
karena pemahamannya yang buruk. *



Apalagi ilmu hikmah sangat pelik dan mendalam. Hikmah adalah karunia Allah.
Suatu ilmu yang paling agung, suatu kebaikan yang paling utama dan
merupakan dasar keutamaan, dan induk segala kebaikan. Hanya segelintir
orang yang diberikan kebijakan berupa hikmah, sebagaimana Allah berfirman :
"Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan
As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barang siapa yang
dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak.
dan *Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari
firman Allah)*. (QS Al Baqarah : 269)



Hikmah itu berasal dari kesempurnaan Dzat Allah swt dan keberlangsungan
eksistensinya yang terus menerus, tiada pernah berakhir. Allah
memberikannya kepada orang-orang pilihan-Nya. Jarang orang mendapatkannya
kecuali ia telah meninggalkan keduniawian, menundukkan hawa nafsunya sambil
membawa ketakwaan, ke-wara-an, ke-zuhud-an hakiki dan masuk ke jalan
orang-orang yang didekatkan dengan Allah, dari kalangan malaikat atau
hamba-hamba-Nya yang shalih, sehingga Allah menganugerahinya suatu ilmu,
lalu memberinya hikmah dan kebaikan. Menghidupkannya dengan kehidupan yang
baik, dan memberikan cahaya yang mampu menuntunnya di dalam kegelapan jalan
dunia. Sebagaimana firman Allah : "Dan apakah orang yang sudah mati.
Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang,
yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat
manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang
sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? (QS Al An Am : 122)



Nah saudaraku, cerita di atas menceritakan kepadamu perbedaan antara orang
yang telah diberi ilmu hikmah dan orang yang belum diberi ilmu hikmah.
Perbedaannya tampak mencolok, bagaikan perbedaan langit dan bumi. Tetapi
bukan itu yang ingin diketengahkan hari ini,* inti dari cerita di atas
adalah bahwa jika engkau telah mendapatkan ilmu hikmah, maka engkau akan
dapat memandang sesuatu hal secara dalam dan arif.* Pemahaman terhadap ilmu
Allah terpancar dari wajah dan bahasa.* Keputusanmu bukanlah keputusan
serampangan, melainkan dengan hujah (dalil) yang nyata sehingga keputusanmu
adalah keputusan yang bercahaya, sehingga dengan demikian, engkau dapat
menyelematkan seseorang dari fitnah dan kebodohan orang lain.*



Tetapi, ketahuilah olehmu saudaraku, *bahwa kajian-kajian Ilahiah dan
pengetahuan-pengetahuan ketuhanan sangatlah tersembunyi, suatu jalan yang
pelik. Barang siapa yang ingin menyelami lautan pengetahuan Ilahi dan
mendalami hakikat ketuhanan, maka ia harus menempa diri dengan
latihan-latihan (riyadhah) ilmiah dan amaliah serta memperoleh kemampuan
bawaan (malakah) untuk menanggalkan beban berat di badanny*a, untuk
kemudian naik ke kerajaan langit. Dan di situlah engkau akan "menemukan"
Tuhan, dan merasa nyaman dalam pangkuan-Nya.



Ingatlah, *bahwa sebagian kaum memiliki kebencian terhadap perbedaan paham
lawannya. Kebencian ini membuat ia sibuk mendistorsi fakta-fakta mengenai
islam, sehingga secara tak langsung mereka menghancurkan islam dari
dalam.*Semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut.



*Semoga engkau termasuk ke dalam golongan yang didekatkan oleh Allah
kepada-Nya.* Sehingga dengan kedekatanmu, Allah menganugerahimu ilmu hikmah
yang akan menerangi jalanmu di dunia ini. Amin...



*3. BIARKAN ALLAH BESERTA HAMBANYA*



Saudaraku, walaupun abu jahal dikenal sebagai salah seorang dari musuh
Rasul senior, *kenyataannya Nabi masih menasihatinya secara personil.*



"Wahai abu jahal", nabi memulai, "tahukan kamu cerita nabi Ibrahim ketika
beliau diangkat oleh Allah ke alam malakut (alam malaikat) dan ke tempat
yang sedikit di bawah langit. Dari sana ia diberikan oleh Allah suatu
kekuatan sehingga bisa menyaksikan apa yang dilakukan oleh manusia di
dunia, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.



Ketika dilihatnya dua orang yang sedang berzina, *Ibrahim mengangkat kedua
tangannya dan berdoa memohon kutukan dan kecelakaan bagi mereka. Doa ini
dikabulkan. Kemudian Ibrahim melihat dua orang lain yang melakukan hal yang
sama. Dipanjatkannya lagi doa kutukan sampai keduanya celaka. Sampai
Ibrahim melakukan hal tersebut untuk ketiga kalinya.*



Melihat hal itu, Allah berfirman kepada nabi Ibrahim : *Wahai Ibrahim,
tahanlah doamu kepada mereka. Sungguh Aku adalah Allah yang maha pengampun
dana maha penyayang. Dosa hamba-hambaku tidak merugikanku, sebagaimana
ketaatan mereka tidak akan menambahkan apa-apa bagiku.* Aku tidak mengatur
mereka dengan cara melampiaskan rasa murka seperti halnya yang kau lakukan.
Tahanlah doamu dari hamba-hambaku, yang laki-laki dan perempuan karena
engkau hanya seorang hamba yang bertugas memberikan peringatan. Engkau
tidak bersekutu denganku dalam kerajaan-Ku. *Engkau tidak mempunyai kuasa
terhadap-Ku dan terhadap hamba-hambaKu. Hamba-hambaku berada di antara tiga
sifat*



*Pertama, mereka yang memohon ampun dariKu. Aku ampuni mereka. Aku maafkan
kesalahan-kesalahan mereka dan aku sembunyikan aib-aib mereka.*



*Kedua, hamba-hamba-Ku yang Ku tahan mereka dari azab-Ku karena Ku tahu
kelak dari sulbi mereka akan lahir anak keturunan yang beriman.* Aku
bersikap lunak kepada ayah-ayah mereka mereka dan tidak terburu-buru
terhadap ibu-ibu mereka. Aku angkat azabku agar hambaku yang mukmin itu
bisa keluar dari sulbi mereka. Apabila mereka dan anaknya sudah terpisah,
maka akan datanglah saat azab-ku dan turunlah bencana-Ku.



*Ketiga, mereka yang bukan dari golongan pertama dan kedua. Untuk mereka
telah ku siapkan azab yang lebih besar dari kau (Ibrahim) inginkan. *Karena
azab-ku terhadap hamba-hambaku berdasarkan keagunganKu dan
kemahaperkasaanKu.



*Wahai Ibrahim, biarkan antara Aku dan hamba-hamba-Ku. Karena Aku lebih
kasih terhadap mereka dibandingkan dengan engkau, dan Aku adalah Allah yang
maha kuasa, maha sabar, maha mengetahui dan maha bijaksana.* Aku mengatur
mereka dengan ilmu-Ku dan Aku laksanakan terhadap mereka ketentuan dan
takdir-Ku.



*4. UCAPAN KOTOR BERASAL DARI HATI YANG KOTOR*



"Wahai saudaraku, sesungguhnya orang kau murtadkan telah menemui Rabb-nya.
Dan ingatlah bahwa ketika engkau kelak menghadap pula kepada Allah Azza wa
Jalla. *Engkau pasti akan sadar bahwa dosa terkecil yang pernah engkau
lakukan di dunia jauh lebih berat bagimu dibandingkan kejahatan terbesar
yang dilakukan oleh orang yang kau murtadkan.*



*Di hari itu (kiamat), engkau tidak akan pernah memikirkan dosa terbesar
oleh orang yang kau murtadkan, walaupun ia begitu besar. Sebab engkau hanya
memikirkan dirimu sendiri,* walaupun dosa itu mungkin tidak sebanding
dengan kedzaliman orang yang kau murtadkan. *Ya, saudaraku, masing-masing
kalian kelak akan sibuk dengan dirinya sendiri.*



Ketahuilah saudaraku, *bahwa Allah azza wa jalla akan menuntut balas pada
orang yang kau murtadkan, terhadap orang-orang yang
didzaliminya.*Sebagaimana juga Ia akan menuntut balas kepada
orang-orang yang mendzalimi
orang yang kau murtadkan, untuknya. Maka bila engkau hari ini mendzalimi
orang yang kau murtadkan, pasti Allah akan menunututmu di akhirat akibat
kedzaliman itu.



*Berhati-hatilah menjelek-jelekan siapapun dengan kata-kata kotor. Termasuk
orang yang kau berikan status murtad. Allah tidak akan membiarkanmu menodai
dan mengotori majelisnya dengan celaan dan kebencian kepada siapa saja.*



*5. TIRULAH RASUL DALAM MELURUSKAN KESALAHAN ORANG*



Wahai saudaraku, ketika engkau memurtadkan saudaramu sesalam muslim,
tanyakanlah kepada dirimu sendiri, *"Kira-kira, manakah yang lebih baik,
Dirimu atau Nabi Musa?"* Jawabanmu pastilah, *"Sudah tentu Nabi Musa lebih
baik daripada saya."*



Lalu tanyakanlah pertanyaan kedua, *"lalu, siapakah menurut pendapatmu
yang lebih jahat, orang yang kau murtadkan atau Firaun?"* Tentu jawabanmu
adalah, *"Pada hemat saya, Firaun masih lebih jahat daripada orang yang
saya murtadkan."*



Maaf, saudaraku. Seingat saya, bagaimana pun jahatnya Firaun, sampai ia
mengaku tuhan, dan bertindak kejam kepada umat Nabi Musa, malah telah
merebus hidup-hidup dayang-dayang putrinya yang bernama Masyitah beserta
susuannya, pun Nabi Musa diperintahkan Allah untuk berkata dengan lemah
lembut kepada si zalim itu.* Tolong dapatkah Tuan membacakan buat saya
perintah Allah yang dimuat dalam Al-Quran Surat Thoha ayat 44 tersebut?"
"Berikanlah, hai Musa dan Harun, kepada Firaun nasihat-nasihat yang baik
dengan bahasa yang halus, mudah-mudahan ia mau ingat dan menjadi takut
kepada Allah."* (QS Toha : 44)



Karena itu, *pantas bukan kalau saya meminta Tuan untuk menegur orang yang
salah dengan bahasa yang lebih sopan dan sikap yang lebih bertata krama?
Lantaran Tuan tidak sebaik Nabi Musa dan orang yang tuan murtadkan tidak
sejahat Firaun? Ataukah barangkali Tuan mempunya Al-Quran lain yang memuat
ayat 44 surat Thaha itu?"*



Saudaraku, *hatimu mungkin tidak puas, rasanya masih ingin mengutuk dengan
kalimat yang lebih garang dan keras. Akan tetapi, bagaimanapun pahitnya,
perintah Allah harus dipatuhi, ayat Al-Quran harus dipegang.*



Kutiplah surah An-Nahl ayat 125 yang berbunyi : "*Serulah ke jalan Tuhanmu
dengan bijaksana, dengan nasihat yang baik.*



*Jika seseorang melihat bahwa ada saudaranya sesama muslim menyimpang,
mengapa ia tidak menyayangi saudaranya dengan meluruskannya ? Tidak hanya
berkoar memurtadkan orang lain, sementara ia sendiri tidak melakukan
perbaikan.*





6. Seyogianya seseorang tidak mencampur adukkan pendapat pribadi pada
hal-hal yang menjadi hak prerogatif Allah.



*Pengafiran dan pemurtadan adalah hak prerogatif Allah, bukan hak manusia.
Tahanlah ucapan-ucapanmu dari hamba-hamba Allah, yang laki-laki dan
perempuan karena engkau hanya seorang hamba yang bertugas memberikan
peringatan.* Engkau tidak bersekutu dengan Allah dalam kerajaan-Nya, juga
tidak bersekutu dalam surga dan neraka-Nya. Engkau tidak mempunyai kuasa
terhadap-keputusan Allah dan terhadap hamba-hamba-Nya.



*Sebelum seorang menggenggam surga dan neraka di kedua tangannya, ia tidak
boleh memberikan status kafir atau murtad kepada sesama muslim.*





*7. TAHUKAH ENGKAU*





Berhati-hatilah saudaraku, barangkali orang yang sekarang engkau beri
status murtad, bisa jadi memiliki lautan kebaikan di masa sebelumnya - maka
- *bisa jadi kesalahan itu telah lenyap di tengah lautan kebaikannya.*





Atau barangkali ketika engkau memberikan status murtad kepadanya, ia sudah
bertaubat lama, dan menggantikan kesalahannya dengan kebaikan yang
melangit. *Sehingga status murtad yang engkau berikan akhirnya menjadi
fitnah dan dosa untukmu. *



*Nah saudaraku, semoga kita semua diberkahi Allah, sehingga tidak
melangkahi kuasa-Nya. Amin.*

0 komentar:

Followers

Mbh