Minggu, 17 Januari 2010

SYIAH DAN TRAUMA SEJARAH PERSIA

Persia adalah sebuah bangsa dengan latar belakang sejarah yang cukup tua. Pernah menjadi salah satu negara adidaya (superpower) disamping Imperium Romawi. Lintasan sejarah tersebut pula yang mungkin telah menempa bangsa Persia menjadi bangsa yang cukup lihai dalam urusan politik dan filsafat. Agama resmi kerajaan Persia zaman itu adalah majusi/ zoroaster. Suatu pendapat mengatakan bahwa majusi bukannya menyembah api. Tetapi api adalah cara mencapai fokus. Konon, ada sebuah tempat pemujaan dari api yang tidak pernah padam hingga seribu tahun. Baru padam pada saat hari kelahiran Rasulullah SAW.

Sejarah panjang Persia tentu saja telah mewariskan karakter dan kebudayaan bangsa yang melekat. Ada pendapat yang menilai bahwa bangsa Persia termasuk bangsa penganut paham chauvinisme. Meyakini bahwa mereka adalah ras unggul. Ras/ bangsa yang punya martabat lebih tinggi dari bangsa/ ras lain.

Hal ini pula yang ikut melatarbelakangi penolakan Kisra (sebutan raja Persia) terhadap dakwah Rasulullah SAW. Bangsa Persia merasa lebih bermartabat dibanding bangsa Arab. Bahkan Kisra dengan angkuhnya merobek-robek surat Rasulullah SAW sambil mengatakan bahwa bangsa Arab tidak perlu mengajarinya tata cara beribadah. Rasulullah SAW mengatakan bahwa kerajaan itu akan dirobek-robek sebagaimana Kisra melakukannya pada surat Beliau SAW.

Benar perkataan Nabi SAW. Sekian tahun kemudian, kedigdayaan kerajaan Persia runtuh. Jatuh ke tangan kaum muslimin yang saat itu dipimpin oleh khalifah Umar bin Khattab.

Tentu momen sejarah tersebut sangat menusuk harga diri sebuah bangsa yang pernah berjaya. Menjadi sebuah trauma hebat bagi bangsa yang telah berabad-abad mengenyam kejayaan. Apalagi mengingat yang menaklukkan mereka adalah bangsa Arab yang menurut mereka lebih rendah martabatnya.

Karena penaklukan Persia oleh Arab terjadi pada masa kekhalifahan Umar Ibn Khattab, maka nama tersebut sangat diingat sekaligus dibenci oleh Persia. KEBENCIAN terhadap figur Umar Ibn Khattab terekam oleh sejarah dimana si Khalifah dibunuh oleh Abu Lukluk Almajusi (seorang majusi).

Tetapi trauma Persia terhadap Umar Ibn Khattab tidak sembuh hanya dengan nyawa si Khalifah. Semacam penghargaan diberikan kepada pembunuh Umar Ibn Khattab. Yaitu dengan menghias dan menziarahi makam Abu Lukluk Almajusi.

Untuk mengabadikan kebencian terhadap Umar Ibn Khattab, dibuatlah sebuah ideologi bernama Shia. Ideologi ini dipersiapkan sebagai pisau bermata dua. Satu sisi ideologi ini memakai nama Islam. Bahkan mengusung spirit sebagai pendukung keluarga Nabi SAWW (Ahlulbayt). Ini juga bertautan dengan sejarah Persia. Perlu diketahui bahwa dalam penaklukan Persia oleh Arab, SEOARANG PUTRI BANGSAWAN PERSIA DITAWAN DAN AKHIRNYA DINIKAHI OLEH IMAM HUSEN R.A.

Dari fakta ini juga sangat mudah ditapaktilasi kenapa dalam ideologi Shia (bahkan yang meyakini ada 12 Imam) SEMUA IMAMNYA ADALAH DARI KETURUNAN IMAM HUSEN R.A. TIDAK ADA SATUPUN KETURUNAN IMAM HASAN R.A.Padahal Imam Hasan dan Imam Husen keduanya sama-sama cucu Nabi SAWW.

Mata pisau kedua diperuntukkan sebagai saluran pelampiasan rasa benci dan traumatik bangsa Persia terhadap Umar Ibn Khattab khususnya, dan bangsa Arab secara umum.

Trauma bangsa Persia juga bisa dilihat dari cara penyampaian (dakwah) ideologi Shia. Sikap tidak percaya diri namun agresif sangat terasa. Sikap ini tersembunyi dibalik agresifitas Shia dalam MENGKRITIK KITAB AHLUSSUNNAH. Sementara Shia menutup kitab marji’ mereka.

Prinsip dan strategi dasar dakwah Shia kontra Ahlussunnah adalah : “Shoot the Bukhary, hide the Kaafy” ( Serang kitab Albukhary (kitab hadis rujukan utama Ahlussunnah), tetapi sembunyikan Alkaafy (kitab hadis rujukan utama Shia )

Tidak jarang orang Shia berupaya menyembunyikan kitab tersebut dengan menyataan bahwa Alkaafy bukanlah kitab rujukan. Bahkan rancu dan ragu dalam menyatakan kitab hadis apa yang menjadi acuan utama Shia.

Pernyataan tersebut justru menjegal kema’shuman para imam Shia sendiri. Jika para imam (yang mereka yakini ma’shum/ suci dari kesalahan dan kekhilafan) tidak merekomendasikan kitab hadis bagi pengikutnya, maka berarti ada tugas utama yang terlalaikan oleh para imam.

Bagi mereka yang masih menghargai logika dan nikmat akal, maka mempertanyakan ketertutupan kitab rujukan utama Shia adalah sebuah keharusan.

Referensi utama ideologi Shia SEHARUSNYA terbuka untuk umum. Ukuran keterbukaan dimaksud adalah KETERSEDIAAN (availability) di pasaran. Sehingga masyarakat umum bisa mengakses (baca : membeli) di toko-toko.

Tetapi seperti terlihat di lapangan, tidak ada kitab hadis utama Shia.

Mengapa? Tentu Anda berhak menggunakan nalar Anda…..

Inilah sebuah kesimpangsiuran yang lama terjadi. Sejak dahulu orang umum mendengar informasi bahwa ideologi Shia mempunyai Al Quran yang berbeda. Oleh karena itu, pada masa pemerintahan Iran pernah mengundang sejumlah masyarakat dari berbagai negara untuk berpartisipasi dalam lomba semacam MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran).

Pemerintah Iran membagikan Mushaf Al Quran cetakan Iran kepada para peserta MTQ untuk dibawa pulang ke negara masing-masing. Tujuan utamanya adalah untuk mengundang orang menyaksikan bahwa Mushaf Al Quran di Iran adalah sama seperti di belahan dunia lain.

Memang benar bahwa Mushaf dari Iran sekalipun saat ini sama dengan yang ada di tangan kaum muslimin di dunia. Tidak ada perbedaan. Sehingga orang kemudian menduga bahwa informasi tentang adanya perbedaan Al Quran adalah isu tak bertanggung jawab.

Di sinilah pangkal kesimpangsiuran tersebut. Masyarakat tidak mendapat detail informasi.

Informasi yang benar adalah bahwa ideologi Shia mempunyai keyakinan bahwa Al Quran yang ada di tangan kita saat ini adalah kurang. Berbeda dengan yang asli atau yang semestinya. Bahwa telah terjadi campurtangan manusia dalam perubahan/ kekurangan Al Quran saat ini. Istilah tersebut dikenal dengan Takhrif.

Namun mereka saat ini masih tetap memakai Mushaf Al Quran yang sama dengan yang ada sekarang. Mereka mempercayai bahwa Al Quran yang asli dan lengkap masih berada di tangan para Imam mereka. Akan dipergunakan nanti saat Imam tersebut telah muncul. Zaman dimana Imam yang dinantikan tersebut belum hadir, sementara waktu mereka mempergunakan Al Quran yang ada saat ini.

Bukti-bukti bahwa ideologi Shia mempunyai keyakinan bahwa Al Quran mengalami takhrif, sangatlah jelas. Karena jelas tersurat dalam kitab-kitab rujukan utama mereka (Alkaafy), dalam kitab tafsir Shia yang termashur (Al Qummy), dan sekian banyak kitab ulama besar Shia ( yang paling komprehensif memaparkan takhrif adalah berjudul Fashul Khithob fii Itsbat Tahrifil Kitabil Rabbil Arbaab karya Husain Muhammad Taqiyuddin an Nuri Ath Thabrusy. Ialah sebuah kitab yang komprehensif memaparkan bahwa terjadi peyimpangan (takhrif) dalam Al Quran yang periwayatannya disandarkan para Imam Shia dipaparkan disana ratusan hadis)

Kita lihat beberapa saja dari diantara sekian banyak data tentang keyakinan ideologi Shia itu langsung dari kitab rujukan utama mereka. Antara lain :

Al Kulainy menyebutkan dalam Alkaafy 1/457 — Dari Abu Bashir dari Abi Abdillah berkata: ”Sungguh kami mempunyai sebuh Mushfah yang namanya Mushfah Fathimah, tahukah anda apa mushaf Fathimah itu ? Dia berkata: Mushaf Fathimah adalah seperti tiga kali Quran kamu sekalian, demi Allah tidak ada didalamnya satu huruf pun yang tertulis dalam Quranmu (sunni)”.

Al Kulaini juga menyebutkan dalam Alkaafy 4/456, Dari Hisam ibn Salim dari Abi Abdillah berkata: ”Sesungguhnya Al Quran yang diturunkan Jibril a.s kepada Muhammad saww jumlahnya adalah 17 ribu ayat.

(Perlu kita ketahui bahwa ayat yang dalam Al Quran jumlahnya hanya enam ribuan ayat. Jadi, perbedaannya sangat jauh)

Dalam Alkaafy 4/433 juga disebutkan, Dari Muhammad ibn Salman dari sebagian sahabatnya dari Abi Hasan berkata: ”Saya berkata kepadanya: “Sesungguhnya kami mendengar ayat-ayat Al Quran yang tidak biasa kami dengar sebagaimana dalam Al Quran kami, dan kami juga tidak pandai membacanya sebagaimana kamu sekalian , apakah kami berdosa ? Dia berkata :” Tidak, akan datang nantinya orang yang akan mengajarkan”.

Dalam Alkaafy jilid 1 hal 441disebutkan :

Dari Jabir: “saya mendengar Abu Ja’far berkata: Setiap orang yg mengatakan bahwa dia telah mengumpulkan seluruh Al Qur’an adalah pembohong, tidak ada yang memiliki seluruh Al Qur’an dan menghafalnya kecuali Ali dan para imam sesudahnya”.

Jika Anda mempunyai kesempatan membaca sendiri kitab rujukan utama Shia ini (Alkaafy), Anda akan dengan mudah menjumpai banyak hadis-hadis seperti tersebut di atas.

Lihat juga dalam kitab tafsir pegangan idelogi Shia yaitu tafsir Al Qummy (karya Abul Hasan Ali ibn Ibrahim Al Qummy).

Salah satunya adalah dari tafsir Al Qummy pada jilid 1 hal 10, dia berkata: ”Diantara yang bukan firman Allah ta’ala adalah ayat “Kuntum khoiro ummah“ Berkata Abu Abdillah kepada pembaca ayat ini ‘khoiro ummah (ummat terbaik)?’ sedangkan mereka membunuh amirul mukminin dan membunuh Hasan dan Husain. Maka dikatakan kepadanya: ”Lantas bagaimana sebenarnya ayat itu diturunkan? Dia berkata: “Kuntum khoiro aimmah (kamu adalah sebaik-baik imam)” bukankah kamu tidak melihat pujian Allah yang terdapat di akhir ayat ini “ takmuruna bil makruf wa tanhauna ‘anil munkar wa tu’minuna billahi” (kalian ber amar ma’ruf dan nahi mungkar serta beriman pada Allah).

Pernyataan tokoh ulama idelogi Shia lainnya :

Berkata Abu Hasan Al Amily dalam Pendahuluan yang kedua, bagian ke-empat tafsir Miratul Anwar wa Misykatul Asrar: ”menurutku sudah sangat jelas perkataan bahwa al Quran telah diubah dan di ganti. Setelah saya meneliti, bisa saya katakan bahwa keyakinan itu merupakan dhoruriyah dalam madzha syiah. Dan bisa dikatakan bahwa tujuannya adalah untuk merampas kekholifahan”.

Ayasyi meriwayatkan dalam tafsirnya, juz 1 hal. 25 : Dari Abi Ja’far bahwasanya dia berkata: ”kalaulah tidak ada tambahan dan pengurangan dalam Kitabullah niscaya kebenaran yang kita miliki tidak akan tertutup.

Berkata Haj Karim al Kirmani yang diberi gelar Mursyidul Anam dalam bukunya “irsyadul Awam juz. 3 hal 221 dalam bahasa Parsi: ”Setelah Imam Mahdi muncul dan membacakan al Quran dia berkata: ”Wahai kaum muslimin inilah Al Quran yang sesungguhnya yang telah diturunkan kepada Muhammad dan yang telah dubah dan diganti “.

Berkata Mulla Muhammad Taqiy al Kasyani dalam buku Hidayah Ath Tholibin hal 368 dalam bahasa Parsi: ”Utsman memerintahkan kepada sahabatnya Zaid ibn Tsabit yang merupakan musuh Imam Ali supaya mengumpulkan Al Quran dan menghapus darinya ayat tentang keluarga ahlul bait.

Bukti-bukti seperti di atas adalah sebagian kecil saja. Banyak data semacam itu dalam kitab rujukan utama dan utama ideologi Shia.

Apakah ada ulama Shia yang menolak keyakinan tersebut? Jawabannya adalah : ada. Mereka adalah Abu Ja’far Ath Thusy, Abu Ali Ath Thobrusi penulis Majma’u Al Bayan, Syarif Murtadho, Abu Ja’far ibn Bawabaih (Ash Shiddiq). Mereka pernah menyatakan penolakan terhadap adanya takhrif dalam Al Quran.

Tetapi pendapat bertaraf pendapat pribadi beberapa orang, tentu tidak dapat dijadikan alasan menutupi kenyataan bahwa ideologi Shia secara resmi (dalam rujukan utama dan jumhur ulama Shia) meyakini bahwa Al Quran sekarang ini tidak asli (kurang). Apalagi jika dikaitkan dengan salah satu asas ideologi Shia yang disebut taqiyyah (berpura-pura dan meyembunyikan ideologi mereka).

Maka masyarakat meragukan penolakan dari beberapa orang ini apakah memang benar-benar menolak ataukah karena sekedar melakukan taqiyyah untuk menutupi keyakinan ideologi Shia terhadap kurangnya Al Quran?

Perkara taqiyyah antaranya bisa dibaca dalam Ushul Alkaafy (page 482) : diriwayatkan dari Ja’far Asshadiq dari Abu Umair, bahwa Abu Abdillah r.a. berkata “ Wahai Abu Umair! sembilan per sepuluh agama itu terdapat dalam taqiyyah, tidak ada agama bagi yang tidak bertaqiyyah”

Sebagaimana dikatakan Husain Muhammad Taqiyuddin an Nuri Ath Thobrusy (pengarang kitab yang secara komprehensif memaparkan kekurangan-kekurangan Al Quran berjudul Fashul Khithob fii Itsbat Tahrifil Kitabil Rabbil Arbaab) :

” Tidak diherankan bagi yang memperhatikan bahwa pembahasannya akan berujung pada kecenderungan memihak mereka yang mengakui bahwa Al Quran telah mengalami perubahan (takhrif)”.

Pengikut ideologi Shia mencari exit gate atau jalan keluar dari fakta dengan cara pegingkaran. Demi menutupi keyakinan mereka sendiri, mereka mengaku bahwa mereka bukan pengikut Alkulainy. Mereka mengatakan bahwa Alkulainy bukan ahli hadis.

Lalu siapakah ahli hadis Shia? apa kitab rujukan ideologi Shia?

Inilah mengapa begitu mendesak agar diadakan bedah buku Alkaafy. Masyarakat berhak mendapat informasi yang benar dan utuh mengenai ideologi Shia..

Lakukan survey terhadap prilaku belajar pemeluk ideologi Shia, FOKUSKAN survey Anda pada bagaimana proses mereka manjadi pemeluk ideologi Shia.

Anda akan menemukan hasil survey yang cukup mengagetkan. Ialah bahwa orang memeluk ideologi Shia ternyata melalui proses belajar SKIPPING. Ada lembar/ halaman belajar yang mereka lewatkan. IRONISNYA halaman yang dilewatkan itu adalah justru halaman utama. Lembar belajar yang semestinya mutlak harus mereka baca.

Mereka justru BELUM membaca kitab rujukan utama yang mampu memberi gambaran kongkrit dan comprehensive ideologi Shia (Kutub Al Arba’ah terutama Alkaafy). Rujukan utama SEHARUSNYA hal pertama dan utama yang harus mereka pelajari.

STRATEGI DASAR dakwah ideologi Shia memang tidak menampilkan kitab-kitab rujukan utama. Apa yang ada dalam rujukan utama dipecah dalam banyak kitab. Agar pihak luar sulit mencari bentuk komprehensif dan arah tujuan ideologi tersebut. Jika saja ada masalah tak logis yang terlihat, maka mudah menimpakan kekeliruan hanya pada sebuah kitab kecil. TANPA MENYENTUH RUJUKAN UTAMANYA.

Kaum muda terpelajar tidak lagi menaruh pendekatan dengan berdebat masalah tatacara shalat, kawin kontrak, halal haram makanan, dan semacamnya.

Kaum muda dan cendekiawan saat ini menyadari PENTINGNYA bedah buku Alkaafy agar masyarakat mendapat informasi/ pemahaman yang benar dan komprehensif mengenai ideologi Shia.

KOMENTAR TOKOH ULAMA SHIA MENGENAI KITAB ALKAAFY:

Attabrusy dalam Mustadrak Alwasail vol 3 hlm 532 menulis

“ Alkaafy diantara empat buku Shia lainnya adalah laksana matahari diantara bintang-bintang, dan tak perlu lagi dipertanyakan posisi rantai para perawi hadis-hadisnya, dan kamu akan merasa puas dan yakin bahwa hadist-hadist itu adalah TEPAT DAN SHAHIH”.


Sharafudin Musawi dalam Muraja’at (nomor 110) menyebut

“ Alkaafy, Attahdzib, Alistibsar dan Man La Yahdhuruhul Fagih adalah mutawatir (betul-betul sahih) dan telah disetujui ketepatan isinya (hadis-hadisnya), dan Alkaafy adalah yang paling tua, paling agung, paling baik dan paling tepat DIANTARA keempat kitab itu.”


Muhammad Shadiq Asshadr dalam Kitabussyiah hlm 127 menyebut

“ Shia telah secara aklamasi menerima kutub al’arbaah (Alkaafy, Attahdzib, Alistibshar, Alfagih) berikut semua perawi di dalamnya adalah BENAR”


Berkata ath Thusi:

”Muhammad ibn Ya’kub al Kulainy yang diberi gelar Abu Ja’far al A’war.. Pengaruhnya besar dan seorang alim besar.


Berkata Ardabili:

”Muhammad ibn Ya’kub ibn Ishaq Abu Ja’far al Kulaini Pamannya bernama Allan al Kulaini ar Razi, dia adalah mazhab kami di jamannya, DIA ADALAH ORANG PALING TERPERCAYA DALAM BIDANG HADIST. Dia mengarang kitab al Kafi ketika masih berumur 20 tahun. (dalam Jaami’ Ar Ruwat 2/218, Al Hully hal. 145)


Berkata AghoBazrak Thohrani:

”Kitab Alkaafy merupakan kitab hadis yang PENTING diantara kutub al’arbaah. TIDAK ADA kitab yang serupa dengannya yang berisi riwayat dari keluarga Rasulullah . (dalam Dzariah 17/245)


Di atas adalah sebagian kecil saja dari testimoni tokoh-tokoh ulama besar ideologi Shia. Menggambarkan kredibilitas Alkulainy keagungan kitab Alkaafy dalam pandangan ideologi Shia.

Kitab Alkaafy disusun oleh Abu Ja’far Muhammad ibn Ya’kub ibn Ishaq Al Kulainy. Beliau diyakini penganut Shia sebagai ahli hadis ber-kredibilitas tinggi. Sehingga isi kandungan Alkaafy diyakini sudah melalui penyaringan tingkat tinggi. Apalagi hadis-hadis di dalamnya diyakini bersumber dari Imam yang ma’shum (tidak pernah salah).

Tetapi kemudian masyarakat mulai mengetahui apa sebenarnya isi kandungan Alkaafy. Terutama tentang keyakinan KURANGNYA AL QUR'AN DAN PELAKNATAN SAHABAT-SAHABAT NABI SAWW. Jelas sekali tertulis dalam Alkaafy ayat-ayat Al Quran yang diyakini Shia kurang karena dibuang oleh sahabat-sahabat Nabi SAWW.

Dari ayat-ayat yang diyakini terbuang itulah pondasi ideologi Shia bertumpu. Yaitu ayat-ayat Al Quran tentang Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Tanpa ayat-ayat tersebut, ideologi Shia SULIT MENCARI PIJAKAN.

Penganut ideologi Shia mengalami kesulitan menyembunyikan keyakinan kurangnya Al Quran tersebut. Karena SANGAT LUGAS tersurat dalam kitab rujukan mereka.

Penganut ideologi Shia MENCOBA MENCARI CELAH untuk menetralisir isi kandungan Alkaafy dengan menukil kalimat dalam Prakata Kitab Alkaafy. Yaitu Alkulainy mengatakan dalam Prakata Kitab Alkaafy agar isi Alkaafy diuji dengan nash Al Quran.

Pengujian dengan nash Al Quran sudah menjadi hukum dasar. Segala sesuatu memang harus disesuaikan dengan nash Al Quran. Tetapi ini menyangkut sebuah kitab rujukan sebuah ideologi. Kitab rujukan sangat berbeda dengan sekedar kumpulan informasi mentah (raw- material database).

Alkaafy disusun oleh Alkulainy selama bertahun-tahun. Alkulainy sebagai pribadi DIYAKINI JUMHUR ULAMA SHIA SEBAGAI AHLI HADIST.

SEHARUSNYA sebuah kitab rujukan telah melewati pengujian dan penyaringan minimal oleh sang penyusun. Pasti Alkulainy sudah menguji isi kandungan kitab yang beliau susun dengan nash Al Quran. Mayoritas/ jumhur ulama Shia pasti mempunyai alasan untuk menyetujui hasil pengujian tersebut SEHINGGA MEREKA SECARA AKLAMASI memberi pujian terhadap kitab Alkaafy.

Penganut ideologi Shia BERUSAHA MENUTUPI KEYAKINAN MEREKA dengan cara mengkaburkan posisi Alkaafy sebagai rujukan atau hanya sekedar kumpulan informasi mentah. Jka diterima asumsi bahwa Alkaafy hanya sebuah kumpulan data metah, maka akan memberi kesimpulan bahwa IDEOLOGI SHIA BERTUMPU HANYA PADA INFORMASI MENTAH/BELUM TERUJI (RAW-MATERIAL DATABASE).

SEBUAH PERTANYAAN BESAR mengapa sebagian penganut ideologi Shia mengatakan bahwa kitab Alkaafy bukanlah rujukan ideologi Shia. Bahwa mereka tidak berpegang pada kitab Alkaafy.

Lalu dengan pondasi apa ideologi Shia dibangun? Bagaimanakah bentuk ideologi Shia tanpa kitab Alkaafy sebagai rujukan?

Ini salah satu urgensi agar diadakan bedah buku Alkaafy. Masyarakat berhak mendapat informasi/ pemahaman yang benar tentang ideologi Shia. Pemahaman yang komprehensif. BUKAN PARSIAL.

Sebelumnya Alkaafy digambarkan sebagai kitab RUJUKAN YANG AGUNG. Sebuah kitab rujukan yang berisi hadis-hadis murni bersumber dari Ahlulbayt. Sehingga sangat JAUH dari kekeliruan. Karena (menurut ideologi Shia) para Imam adalah manusia-manusia SUCI (ma’shum), JERNIH dari segala kesalahan.

Tetapi setelah orang melihat isi kandungan Alkaafy, para penganut ideologi Shia berusaha mengubah gambaran kitab rujukan mereka sendiri. Usaha tersebut cukup wajar dipandang sebagai PEMBELAAN. Karena terlampau SULIT untuk terus menerus menutupi hal-hal yang termuat dalam Alkaafy.


Term/ istilah yang terkenal sebagai defence penganut Shia terhadap Alkaafy adalah :


“ Kami penganut Shia adalah orang-orang berpikiran kritis. Bahkan kitab Alkaafy sebagai rujukan pun kami kritisi. Kami mengakui memang ada beberapa hal dalam Alkaafy yang tidak bisa diterima. ”


Mereka seharusnya TIDAK BERHENTI hanya ada pernyataan “ ada beberapa hal dalam Alkafy yang tidak bisa diterima”. Paling tidak ada tiga hal yang perlu mereka jabarkan :

1. APA SAJA yang mereka maksud dengan “beberapa hal dalam Alkaafy yang tidak bisa diterima” itu?

Sebagai bentuk pengakuan bahwa mereka KRITIS, sudah seharusnya mereka menjabarkan hal-hal tersebut. Merinci apa-apa saja yang mereka nyatakan sebagai kesalahan-kesalahan dalam Alkaafy.

2. BERAPA BANYAK yang mereka sebut sebagai “beberapa hal dalam Alkaafy yang tidak bisa diterima” ?

Itu tugas mereka jika mengaku sebagai orang KRITIS. Penganut Shia semestinya lebih confident mempresentasikan kitab-kitab rujukan utama mereka sendiri.

3. Setelah merinci apa dan berapa hal-hal dalam Alkaafy yang mereka akui unacceptable, sewajarnya mereka menyebutkan SIAPA yang bertanggung jawab atas kekeliruan-kekeliruan itu?


Melacak siapa yang bertanggung jawab, paling tidak ada tiga pihak yang kemungkinan menjadi sumber kesalahan itu.

- KEMUNGKINAN PERTAMA, kesalahan ada pada PENYUSUN ALKAAFY.
Yaitu Abu Ja’far Muhammad ibn Ya’kub ibn Ishaq al Kulainy. Jika memang kesalahan itu ada pada Alkulainy, maka Alkaafy terlalu beresiko untuk dijadikan sebagai sebuah kitab rujukan. Karena si penyusun kitab yang menjadi pelaku kesalahan-kesalahan itu.

- KEMUNGKINAN KEDUA, kesalahan ada pada SANAD/PERAWI hadist dalam Alkaafy.
Jika kesalahan terletak pada perawi hadis dalam Alkaafy, maka asumsinya adalah mayoritas hadis dalam Alkaafy collapsed /gugur. SEBAB, sanad atau perawi hadis dalam Alkaafy RELATIF SAMA.

- KEMUNGKINAN KETIGA, kesalahan ada pada SUMBER HADIST. ( perlu diketahui bahwa hadis-hadis dalam Alkaafy rantai sanad yang disebut HANYA sampai kepada Imam !!).


Sangat sulit dipercaya jika penganut ideologi Shia menunjuk sumber hadis mereka (para Imam) bertanggung jawab atas kesalahan. Sebab ideologi Shia mempercayai bahwa para Imam adalah MANUSIA SUCI (ma’shum), mempunyai ilmu lahir batin yang BISA MENGETAHUI apa-apa yang telah lalu dan hal-hal yang akan datang.

Penganut Shia sebaiknya berhati-hati menjawab apa, berapa, dan siapa yang terlibat dalam “hal-hal yang tidak bisa diterima dalam Alkaafy”. Tetapi mereka harus BERTANGGUNG JAWAB atas pernyataan mereka.

DEMI MENGHINDARKAN DIRI DARI PEMBICARAAN KITAB ALKAAFY, sebagian penganut Shia mengatakan bahwa Alkaafy bukan kitab rujukan.

LALU APA KITAB RUJUKAN IDEOLOGI SHIA?

Itulah beberapa hal yang minimal harus dijabarkan oleh penganut ideologi Shia. TERLALU BANYAK MENGUPAS PIHAK LAIN sambil menutup kitab rujukan sendiri, adalah TINDAKAN YANG JAUH dari harapan para cendekiawan dan kaum muda saat ini.

Sangat penting digelar bedah buku Alkaafy. Masyarakat berhak mendapat informasi/ pemahaman yang benar dan utuh tentang ideologi Shia.

Dihitung sejak revolusi Iran, maka sudah lebih dari 20 tahun dakwah intensif ideologi Shia di Indonesia. Sayang sekali dalam waktu selama itu kitab rujukan utama ideologi tersebut (Alkaafy) justru tidak dipresentasikan.

Terbukti pernyataan para analis bahwa ideologi Shia berdakwah dengan siasat berpencar. Memberi pemahaman yang terpilah-pilah ( tidak menyeluruh, parsial) terhadap ideologi mereka. Kitab rujukan dimana orang bisa mendapat pemahaman komprehensif tentang ideologi Shia, justru dibatasi.

Analogi dakwah ideologi Shia adalah seperti seorang salesman mobil yang menawarkan sebuah produk mobil. Tetapi tidak menunjukkan wujud dari mobil yang dia tawarkan. Dia hanya menunjukkan spareparts dari mobil yang dia janjikan. Bahkan lebih banyak meluangkan waktu untuk mendeskreditkan merk pesaing.

Pemahaman komprehensif ideologi Shia dipecah dalam berbagai kitab kecil (bukan rujukan). Sehingga jika ada kesalahan yang terlihat, maka kesalahan itu hanya menimpa sebuah kitab kecil saja. Tidak membahayakan ideologi Shia secara keseluruhan.

Inilah sebab mengapa ideologi Shia membatasi akses terhadap kitab rujukan yang dengannya orang mampu menangkap pemahaman menyeluruh terhadap ideologi Shia.

Harapan selama 20 tahun agar ulama ideologi Shia mempresentasikan sendiri kitab rujukan mereka (Alkaafy) adalah harapan yang tidak logis. Masyarakat sekarang memiliki inisiatif untuk menggelar Bedah Buku Alkaafy.

Organisasi / perkumpulan kaum muda dan pelajar adalah ujung tombak terwujudnya inisiatif tersebut. Acara bedah buku yang profesional, yang menjunjung etika dan obyektifitas berdasarkan fakta.

Gelombang desakan agar diadakan acara bedah buku Alkaafy ini sudah begitu kuat. Sebuah fenomena yang sangat baik dari sisi pencerahan logika. Ide ini telah mendapat dukungan penuh banyak pihak.

-----------------------------------

Setiap sejarah selalu berkaitan dengan pelaku, waktu, dan tempat kejadian. Tempat dibatasi wilayah. Waktu berjalan dalam rentangan tertentu. Pelaku dengan perjalanan hidup dan karakternya.

Salah satu tokoh utama dalam sejarah perjuangan Islam adalah Imam Ali karramallah wajhah.

Siapakah Imam Ali k.w..? Seluruh ahli sejarah sepakat bahwa beliau adalah figur utama dan tokoh sentral dalam Islam. Termasuk dalam jajaran orang yang pertama memeluk Islam. Sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAWW. Suami dari penghulu wanita surga yaitu Fatimah Azzahra’. Bapak dari cucu-cucu Rasulullah SAWW. Beliaulah salah satu dari ahlul kisaa’. Baliau yang mendapat kehormatan gelar karramallah wajhah.

Beliau dilengkapi dengan segala keutamaan. Baik dari segi keilmuan, ahli hikmah, keluhuran budi, bijaksana, jiwa yang penuh sifat kesatria, pakar strategi, hingga kekuatan fisik dan kepiawaian bertempur. Terlalu banyak bukti sejarah untuk mendukung karakter tersebut. Tidak ada kontroversi.

Beberapa ciri karakter seorang kesatria adalah sifat konsisten, teguh memegang amanah, berani menghadapi masalah. Salah satu pujian yang datang dari lawan adalah saat pemuka kaum Quraisy begitu ta’jub melihat Imam Ali k.w dalam usia yang begitu muda telah berani tidur di pembaringan Rasulullah SAWW yang sedang diintai pembunuhan.

Imam Ali k.w. adalah seorang pejuang. Selalu berdiri di barisan depan kaum muslimin di medan pertempuran. Dengan Dzul Fiqar nya beliau termasuk dalam tiga pahlawan yang maju dalam pertempuran pembuka Badar disamping asadullah Hamzah dan Ubaidillah. Dan banyak lagi peran penting Imam Ali k.w. sebagai pejuang sejati.

Kekuatan karakter beliau menonjol baik di saat suka maupun duka. Dalam kelapangan maupun di dalam situasi sulit. Pada masa damai, saat perang, atau pun masa-masa penuh fitnah. Konsisten dalam ucapan dan tindakan.

Tetapi bagaimanakah karakter Imam Ali k.w. menurut sejarah versi ideologi Shia? Meskipun ideologi Shia memproklamirkan diri sebagai pendukung setia Imam Ali k.w., Ideologi Shia secara implisit menggambarkan Imam Ali k.w. sebagai seorang yang serba bimbang, penakut, tidak berani mengambil resiko, memilih bersembunyi dan menghindari rintangan yang menghadang.

Menurut ideologi Shia, Imam Ali k.w. memilih berdiam diri dari berbagai problem. Berdiam diri dari sekian banyak tantangan dari para sahabat Nabi SAWW terutama Umar ibn Khattab. Mulai dari isu wasiat, jabatan khalifah, penghapusan ayat-ayat Al Quran, pengharaman mut’ah oleh Umar ibn Khattab, dan lain-lain.

Demikian seterusnya kehidupan Imam Ali k.w. dalam sejarah versi Shia. Sebuah gambaran karakter penakut, pesimis, tanpa inisiatif, tak berdaya, butuh belas kasih, suka bersembunyi, sehingga mudah teraniaya, fragile, mudah didhalimi, demikian hingga akhir hayat beliau. Duapuluh empat tahun (perhitungan dari wafatnya Rasul SAWW hingga Imam Ali k.w. meninggal) Imam Ali k.w. selalu ber-taqiyyah dalam kondisi serba lemah.

Imam Ali k.w. oleh ideologi Shia tetap berkarakter lemah meski pada saat menduduki jabatan khalifah sekalipun. Sedangkan masa itu Umar ibn Khattab dan Abu Bakar Asshiddiq telah wafat.

Dengan segala keutamaan ilmu, budi, dan fisik beliau ditambah posisi menjabat sebagai khalifah, masih tersisakah alasan beliau untuk tetap berdiam diri, penakut, dan tidak menegakkan hak-hak dan hukum Allah?

Menurut ideologi Shia, kondisi pribadi Imam Ali k.w. yang terus bertaqiyyah, berdiam diri dari segala problem, mendadak berubah ketika berselisih dengan Aisyah r.a. Imam Ali k.w. dalam kasus ini berani mengangkat senjata. Meninggalkan persatuan umat yang sering beliau jadikan alasan berdiam diri dari Umar ibn Khattab.

Inilah batas kepahlawanan seorang Imam Ali k.w.menurut ideologi Shia. Selalu berdiam diri (taqiyyah) dalam berbagai masalah, kecuali ketika menghadapi seorang wanita. Beliau berani mengangkat senjata.

Menurut sejarah versi Shia, Imam Ali k.w. ternyata tidak hanya sebagai pribadi yang lemah dan tak berdaya dalam penegakan hukum. Namun sekaligus pribadi yang lemah dalam membela kehormatan keluarga.

Sejarawan sepakat pada fakta bahwa Imam Ali k.w. mengambil Umar ibn Khattab sebagai menantu. Yang menikahi Ummy Kultsum anak Imam Ali k.w. dari Fatimah Azzahra’.

Menurut ideologi Shia, Umar ibn Khattab adalah tokoh paling korup, munafik, dan berbagai sifat negatif. Atas dasar apa Imam Ali k.w. rela mengawinkan putrinya dengan Umar ibn Khattab?

Kita lihat bagaimana sejarah versi ideologi Shia memberi komentar tentang perkawinan Umar ibn Khattab dengan Ummy Kultsum putri Imam Ali k.w.:

Menurut beberapa ulama besar Shia, Imam Ali mendapat tekanan sehingga beliau mengeluarkan keajaiban dengan jin yang menyerupai Ummy Kultsum untuk dinikahkan kepada Umar ibn Khattab. ( baca kitab Mawa’idz Husainiyyah dan Ayaatun Bayyinat).

Betapa lemah tak berdaya seorang Imam Ali k.w. sehingga membutuhkan sebuah mu’jizat berupa kehadiran jin dalam menghadapi Umar ibn Khattab. Jika benar yang dinikahkan adalah jin, lalu dimanakah keberadaan Ummy Kultsum yang asli?

Pendapat ini berbeda dengan rujukan utama ideologi Shia yaitu kitab Alkaafy. Alkaafy mengakui bahwa perkawinan itu memang terjadi. Kita lihat bagaimana Alkaafy memandang fakta perkawinan itu.

Dalam Furu’ Alkaafy jilid II page 141 : dari Zaraarah dari Imam Ja’far mengatakan (tentang perkawinan Umar ibn Khattab dengan Ummy Kultsum putri Imam Ali k.w.) :

“Sesungguhnya itu adalah vagina yang diperkosa”

Bedah buku Alkaafy sangat penting dan mendesak dilakukan. Masyarakat berhak mendapatkan informasi/ pemahaman yang benar dan utuh mengenai ideologi Shia.

==========================================
Link: http://logika.wordpress.com

0 komentar:

Followers

Mbh