Sabtu, 23 Januari 2010

Bagaimana Hukum Non muslim Dari taklif ubudiyah???

Assalamumu'alaikum.

Saudara,..............
Ini adalah sesuatu yang betul2 terjadi.

Nabi Muhammad adalah yang diutus untuk meneruskan kaidah2 nabi yang terdahulu.
ada ayat yang mengatakan agama Ilam adalah agama yang paling sempurna ( terjemahah kasar )

Setelah nabi muhammad, seluruh aturan agama terdahulu di di hapus, dan di ganti agama Islam dan orang2 yang masuk surga adalah ummat Muhammad

Saat ini masih ada orang yang terlahir dari agama kristen ( misalnya ).
Orang tsb. dari kecil hingga dewasa sampai meninggal tetap ber agama selain Islam .padahal dia (orang tsb) tidak pernah mendapat pendidikan Islam, karena pihak orang tua sangat fanatik dengan agamanya. seperti halnya kita mendidik anak2 kita.
Dan dia memang tidak mau mencari agama selain yang dianut karena dia sangatlah taat dengan agamanya.

Mungkin juga orang tsb. telah ditentukan oleh Nya untuk menganut agama selain Islam ( ini adalah analisa saya ).

Dengan adanya : Setelah nabi muhammad, seluruh aturan agama terdahulu di di hapus, dan di ganti agama Islam dan orang2 yang masuk surga adalah ummat Muhammad.

Lantas bagaimana nasib orang tsb.? masuk neraka kah ? atau dengan kata lain:
HANYA ALLAH YANG TAHU.

Mohon di terangkan dengan jelas menurut logika orang awam.

Terima kasih banyak atas jawabannya.

Saya:

Mochammad Qosim

Rt 04 / Rw 02 jalan Pintu Air ( les ) kelurahan Bapangan Jepara Jawa tengah Indonesia

E-mail : abut_206@yahoo.co.id


Waalaikum salam wr wb.

Saudaraku yang dirahmati Allah

Sesungguhnya masalah ini merupakan bagian dari kajian yang mendasar pada aqidah seseorang yang menyangkut pada keimanan, didalamnya termasuk iman terhadab kitab-kitab suci.

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu , Kami berikan aturan dan jalan yang terang....[Al-maidah:48]

Pada dasarnya para anbiya dan rusul sebelum Nabi Muhammad SAW diutus mereka telah membawakan da'wah ilahiah untuk umat tentang tauhid yang sama, tidak ada perbedaan di dalamnya. Maka dalam menjelaskan ayat 48 surat al-maidah Rosulullah bersabda: “sebaik-baik perkataan yang di ucapkan saya dan para nabi sebelum-ku (adalah) LAA ILAAHA ILLA ALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU.

Permasalahannya disini apakah syari'at Nabi-Nabi terdahulu masih berlaku atau tidak? Jawabannya : melihat ketentuan nasikh mansukh (pengukuhan hukum) dalam alquran.

Dalam kaitan itu, Imam Suyuthi maupun Imam Syathibi banyak mengulas prinsip tersebut. Mereka mencatat adanya pendapat yang memandang adanya tiap ayat atau kelompok ayat yang berdiri sendiri. Tapi semuanya berpendapat bahwa antara satu ayat dengan ayat lainnya dari al-Qur'an tidak ada kontradiksi (ta'arudl). Dari asas inilah lahir metode-metode penafsiran untuk meluruskan pengertian terhadap bagian-bagian yang sepintas lalu tampak saling bertentangan.

Adanya gejala pertentangan (ta'arudl) yang demikian merupakan asas metode penafsiran dimana Nasikh-Mansukh merupakan salah satu bagiannya.

Adanya naskh (yang membatalkan) antara satu syari'at dengan syari'at lainnya. Ini terjadi sebagaimana dapat kita amati antara syari'at Nabi Isa as. dengan syari'at hukum agama Yahudi yang lebih dahulu ada. Dalam hubungan ini, dapat kita katakan bilamana kita mengikrarkan Islam sebagai syari'at, dengan sendirinya kita mengaku adanya naskh (pembatalan hukum), karena syari'at-syari'at sebelumnya tidak akan kita anut lagi dan semua hukumnya pun tidak akan kita berlakukan, sepanjang tidak dikukuhkan kembali oleh syari'at Nabi Muhammad saw.

Kembali pada pertanyaan saudaraku, bagaimanakah nasib seorang anak yang tumbuh besar dalam asuhan kristiani atau non muslim mendapati akhir ajalnya dalam keadaan tetap non muslim, jelas dia secara dzohir syari'at dia akan tetap mendapatkan balasan neraka. Jika ada yang mengatakan “berarti dimana keadilan Tuhan itu?” jawabnya ada pada “anugrah Allah” yaitu berupa kesempurnaan panca indra yang darinya setiap hamba dititipkan amanah pertanggung jawaban. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.[Al-mulk:6] dan juga firman-Nya : “Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala".[Al-mulk: 10]

Saudaraku, apa yang menjadikan kita bimbang setelah ini, bahwasannya kedudukan seorang kafir (non muslim) adalah mendapatkan hak dan amanah yang sama seperti umat manusia umumnya, yaitu mendapat taklif (pembebanan amanah) dalam mempergunakan anugrah Allah dengan sebaik-baiknya, mata seharusnya digunakan untuk memandang ayat-ayat Allah, kekuasaan Allah, Kebesaran Allah. Telinga atau pendengaran harus digunakan untuk mendengar peringatan peringatan Allah dari da'wah dan fenomena alam yang didengarnya. Akal harus digunakan untuk bertafakkur (mengkaji) alam semesta dan ayat-ayat Allah baik yang tersurat atau tersirat, sehingga tidak ada anugrah yang di sia-siakannya.

Akhirnya, mari kita simak apa yang di ajarkan Rosulullah kepada Abu Hurairoh: “siapa saja orangnya yang kau temui mensaksikan (bersaksi bahwa) LAA ILAAHA ILLA ALLAHU dengan keyakinan di dalam hatinya, maka kabarkanlah berita gembira padanya dengan balasan syorga...” wallahu a'lam bishawab.

0 komentar:

Followers

Mbh