Kamis, 21 Januari 2010

Mengetahui tanpa curiga

Banyaknya konsentrasi yang tercurahkan kepada hal-hal yang cukup memusingkan, terutama kajian-kajian sebelumnya mungkin terasa berat belum lagi ditambah beban hidup dan berita-berita yang menambah keprihatinan, pantaslah sinetron dan gosip lebih menjadi pelarian dan yang cukup bermodal pergi Dugem... :D

Bebah hidup itulah yang sama-sama kita rasakan, siapun orangnya tanpa terkecuali pastilah merasa terbebani tidak peduli orang kaya sekalipun. Itulah salah satu bukti keadilanNYA dengan membatasi manusia dengan hatinya. Wajarlah jika dunia hiburan lebih mahal harganya dan akan sangat terasa di kota-kota besar. Kasihan dech anak-anak gak nemuin space buat bermain kadang di rel kereta yang berbahaya soalnya lapangan hijau sudah disulap menjadi ladang beton, adapun tersisa sedikit sudah dipagari. Sedikit sekali 'publik space' untuk sekedar penetrasi pikiran.

[8 AL ANFAAL (rampasan perang) 24] "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah MEMBATASI MANUSIA DENGAN HATINYA dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan. "

Pada pembahasan sebelumnya terutama 'Seseorang membangun sorganya sendiri' sudah banyak dibahas belum lagi makalah lain yang sebenarnya orientasinya tetap sama yaitu bagian dari renungan jiwa demi memperoleh hikmah.

Boleh jadi ketika melihat sosok Michael Jackson yang penuh gelamor dengan kepawaiannya diatas panggung dapat memukau dunia, namun disisi lain hatinya sepi bahkan prilakunya konon menyimpang. Banyak lagi gambaran akan kemewahan dunia senantiasa mengimingi kita untuk berdansa menari dengannya padahal tidak lebih hanya kulit saja (kenikmatan semu). Seolah berkata 'kejarlah daku kau kutipu."

Bagaimanakah seharusnya mengolah dunia agar menjadi guna bagi kehidupan didunia dan akhirat? Selayaknya kita semua sudah tahu apa yang diperintahkan agama (Islam), pada dasarnya bukan sekedar aturan etika-norma atau belaku sebagai pengikat ilingkungan sosial saja namun Rahmat seluruh alam. Dengan demikian cakupannya sangat luas.

Mengetahui tanpa curiga
===============

Pada dasarnya fitrah manusia itu sendiri adalah berkait dengan Tuhannya, entah bagaimana ia memperoleh gambaran tentang Tuhan tidak lepas dari apa yang ia peroleh dari lingkungan berikut keyakinan dalam beragama. Jika kita jeli banya seputar kita orang yang telah lama mengenyak kenikmatan dunia katakanlah sudah kenyang menemukan kehampaan, sebagi kilas balik panggilan jiwa. Sebagai bahan renungan boleh baca notes saya >http://www.facebook.com/note.php?note_id=191137021589

Demikian juga peringatan-peringatan senantiasa hadir dalam setiap nafas kita, tidak peduli seberapa sensitif kita menangkapnya. Kemudian kembali lagi bagaimana ia menggali kesadaran dan memilah (membedakan) mana jalan yang benar, seberapa mampu ia keluar dari kungkungan pemikiran disekelilingnya. Itulah Rahmat sebagaimana CahayaNYA menyebar keseluruh penjuru. Namun gelapnya hati bisa jadi tidak dapat menerima pancaran itu, karena ia senantiasa mengingkarinya.

Kok jadi berat lagi yach... padahal pengennya yang ringan-ringan. Oh yach mengetahui tanpa curiga.

Perhatikanlah betapa kita tidak bisa sembunyi dari kejahatan yang kita lakukan walaupun ditutupi seribu alibi yang sebelumnya sudah dipersiapkan untuk mengelak atau dibangun sistem untuk menutupi, tetap saja terkuak. Siapakah yang memberikan bocoran? Gaib bukan? Ini baru di dunia lho... klo diakhirat kan tinggal nikmati saja dan semua akan jelas dengan penglihatan yang berbeda didepan seluruh saksi yang melekat antara yang disaksikan dengan yang menyaksikan.

Kecurigaan sering kali muncul pada benak kita namun sedikit saja yang dapat membedakan mana intuisi (dugaan - menduga-duga) dengan kebenaran yang datang dariNYA.

Kita diajarkan untuk tidak saling curiga (suhudhon) kepada sesama khususnya Muslim. Kenapa? Mata tidaklah punya pengetahuan, mata hanyalah sarana untuk mengintip. Namun bisa juga menjadi masuknya bisikan setan apabila hatinya jahat. Begitu juga dengan indera lainnya. Sehingga kita patut waspada dengan perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain yang merasa terhakimi.

Seringkali kita menjadi serba salah ketika mengingatkan namun dianggap menghakimi atau menelanjangi. Itulah hebatnya mengenal fitrah dimana tiada orang dapat lari sembunyi. Jika serba tahu nanti dikira bisa membaca atau dikata dukun ... hehehe. Padahal perinsipnya setiap manusia sama, hanya ketebalan penutupnya saja yang berbeda.

Sebelumnya juga pernah dibahas bagaimana berprasangka baik akan membuahkan pelajaran. Menuntun kita kepada prediksi yang lebih menguntungkan daripada menghakimi orang lain namun tidak sempat mengoreksi diri sendiri. Sehingga untuk berbuat baik senantiasa berkaca kepada orang lain yang dianggapnya tidak berbuat baik. Disinilah senantiasa manusia terikat oleh simbol, sehingga terus menjadi pengutuk keadaan.

Pahamilah bahwa pengetahuan/penglihatan kita amatlah lemah tanpa petunjukNYA tidaklah kita dapat menjadi pembeda. Mana yang Hak dan mana yang bathil, karena senantiasa terpaku pada hal-hal yang sifatnya relatif tidak mendasar (hakiki).

Mari kita bersihkan jiwa kita, jika kenikmatan dunia dipandang dari menikmati dunia yang tidak lebih mengenyangkan syahwat hati menempati posisi yang terbalik yaitu dengan banyak memberi maka ia akan memperoleh kenikmatan tentunya dengan niat Lillahita'ala, memberi tanpa mengharap semata demi mencapai RidhoNYA. Sebagaimana para sahabat berlomba-lomba beramal tanpa mempedulikan nasib hidupnya tentunya karena kenikmatan tersebut, dan perlulah dilatih dengan mengetahui koridor yang harus dilalui (dijalani).

Luruskan niat dimanapun kita bangkit menghadap kepadaNYA dengan selurus-lurusnya.

***

[8.25] Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.
[8.26] Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.
[8.27] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
[8.28] Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.
[8.29] Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

0 komentar:

Followers

Mbh