Kamis, 21 Januari 2010

Mengikat tanpa memaksa

Bayangkan ketika mau mengikuti permainan yang berbahaya, anggaplah mau naik flying fox, tentunya tubuh harus diikat kuat. Jika orang lain yang mengikatkan bisa jadi akan menyakitkan karena tidak bisa mengukur seberapa tekanan sabuk yang pas dengan kontur tubuh. Lain halnya dengan mengikat sendiri seperti sabuk pengaman mobil.

Bagaimana dengan hukum dengan persoalan haram atau halal?

Pertama kita ambil contoh permasalahan terlebih dahulu, ada saya dengar bahwa anak-anak pesantren begitu keluar justru lebih nakal, terlepas dari pesantren mananya atau siapa-siapanya patutlah kita kaji lebih mendalam agar hal-hal yang senantiasa ditujukan kepada simbol-simbol keIslaman tidak terus menerus menjadi kambing hitam ketidak-adilan media ataupun penilaian yang tidak adil. Belum lagi guru ngaji yang terdengar melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya. Atau hal lain yang dulunya rajin ngaji atau beribadah kemudian berlaku sebaliknya. Dan belum lama mengenai Gus Dur orang yang diagungkan kaum minoritas sebagai pahlawan dengan konsep 'pluralismenya', yang menurut saya tidak lain orang mengambil hal-hal yang menunguntungkannya saja tidak melihat konsepnya secara keseluruhan dan selebihnya adalah maklum, maklum orang yang menangkap dan maklum keterbatasan penyampai adalah dua hal yang mutlak kita koreksi bersama.

Pada kesimpulannya saya menghimbau kepada semua khalayak melihat Islam secara keseluruhan bicara hukum, iman, islam namun tidak mengenal bagaimana mengaplikasinya. Dan kejujuran dalam memahami selayaknya dikedepankan daripada menjadi penyambung lidah saja. Mana pluralisme (menyamakan agama) mana pluralitas (mengakui keberagaman agama).

Kembali kepada contoh awal bahwa pesantren tidak ubahnya wadah pembelajaran layaknya sekolah, seperti kita ketahui mahasiswa yang seharusnya punya nalar yang tinggi saja seringkali terlihat tawuran. Seorang guru ngajipun sifatnya individual yang tak lepas dari manusia lainnya yang mempunyai hasrat tak terkendali, namun anehnya munculnya banci-banci di TV tida pernah dipersoalkan, yang jelas-jelas pengaruhnya lebih luas. Kenakalan remaja pada umunya juga tidak lepas dari pengaruh lingkungan.

Begitu sensitifnya masalah agama ini selayaknya perhatian kita lebih ditumpukan kepada hal-hal yang lebih besar yang menjadi penyebab/penyumbang daripada mengurusi hal-hal yang spesifik namun menelantarkan persoalan yang lebih besar.

Hal-hal yang muncul pada pemberitaan Media terlepas dari benar atau salahnya, diplintir atau tidaknya, agar kita lebih mengetahui komponen-komponen yang terlibat yang mempunyai hubungan sebab-akibat dengan adil dan bijaksana. Jangan terpaku pada nama, jangan terpaku pada simbol atau kulit lihatlah lebih mendalam. Sehingga tidak terjadi yang namanya menolak bungkusnya tapi menerima isinya.

Kembali kepada hukum selayaknya kita menggali kembali kandungan Al-Qur'an salah satunya:

[6 Al-An'aam 119] "Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. "

Jika benar kita takut pada hisab yang buruk perihal yang perlu diperhatikan adalah batasan, seberapa makanan yang halal bisa menjadi haram karena melampaui batas tentu bukan karena makanannya, seberapa harta yang dikumpulkan menjadi haram manakala tidak memberikan hak-hak orang miskin, bukan juga hartanya namun melupakan amanah atau tidak mengindahkan perintahNYA. Begitu juga dengan jual beli yang diharamkan adalah ribanya.

Dan masih banyak lagi tentunya yang perlu kita kaji lebih mendalam, apabila nashnya sudah jelas pikirkanlah bagaimana menerapkan hukum dengan keadaan sekarang dengan memberikan kesadaran karena semakin kritisnya pemikiran sehingga orang tidak cukup hanya difonis atau dipagar dengan penetapan hukum tanpa menitik beratkan sosialisasinya, sebagaimana Islam pertama kali hadir ditengah masyarakat jahiliah adalah dengan bertahap.

Jika Alloh swt mengharamkan diriNYA dari kedholiman, selayaknya kitapun mampu mengharamkan apa-apa yang lebih besar mudharatnya ketimbang manfaatnya (menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk), dengan lebih banyak memperhatikan amalan kita masing-masing niscaya masing-masing pribadi akan menyadari betapa penting mengikatkan diri pada hukum-hukumNYA demi kemaslahatan bersama dan pertanggung jawaban diri selaku pribadi, karena tiada dosa yang dipikul orang lain melainkan dipikul sendiri dan ditambah dosa orang lain apabila menjerumuskan orang lain dan selayaknya setiap pribadi mampu menjadi contoh yang baik.

Sering kali kita menghakimi orang yang dipandang lebih patut dijadikan panutan sama halnya memperlakukan selebritis yang senantiasa harus tampil perfect didepan publik. Atau pepatah lama guru kencing berdiri murid kencing berlari.

Setahu saya Islam mengajarkan kita menjadi pribadi yang mandiri, dengan menanamkan hal-hal kecil mencegah dari awal hal-hal yang terlihat remeh, namun jika diabaikan akan menumpuk juga. Maka tak heran akhirnya lahirnya para pengutuk keadaan, saling mengumpat namun tidak jelas arahnya.

Selayaknya pemahaman dikembalikan kepada pribadi masing-masing dengan mengaplikasikan kehidupan sesuai dengan tuntunan Islam, karena tanpa aplikasi (menjalankan) mana mungkin kita bisa merasakan bahwa apa yang Alloh perintahkan melalui RosulNYA ada faedahnya dan apa yang dilarang ada mudharatnya.

Tutup mata sejenak dengan melihat sosok (siapanya) tapi lihatlah bagaimana ketetapanNYA berlaku dari waktu-kewaktu secara luas dengan melihat komponen-komponen yang terlibat, niscaya kita tidak tergantung pada hal-hal yang sifatnya relatif.

[51 ADZ DZAARIYAAT 20-21] "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?"

###############################################################################

Pernah dengar bukan hadis yang bunyinya "Agama adalah nasihat"?

Fungsi daripada nasihat adalah untuk mencegah hal-hal yang buruk dan mendorong hal-hal baik.

Yang akan saya bahas pada topik kali ini bukan menjabarkan makna daripada nasihat namun mengenal tipikal nasehat tentunya dalam hal agama yang pada dasarnya dakwah adalah nasehat.

Ada beberapa tipikal nasehat yang mungkin susah dibedakan, namun ada baiknya kita bisa mengenalinya agar setiap nasihat yang keluar bisa dicerna dengan baik atau tidak sia-sia.

1. Penentram, ketika orang gelisah tentunya membutuhkan nasehat yang dapat menenangkan hati sebagaimana halnya ketika orang mendapatkan musibah atau hal lain yang menyesakan dada. Yaitu dengan menyuruhnya bersabar bahwa ia sedang diuji. Atau lebih tepat adalah nasehat sebagai pendorong kepada kebaikan.

_Tipe ini biasanya lebih dominan atau lebih pantas disebut nasihat dengan melihat kenyataan yang ada, adapun kecondonganya bila berlebihan atau tidak pada kondisi orang gelisah biasanya cenderung pada hal-hal yang menyenangkan saja. Pada topik yang lalu 'Senda Gurau' sudah disinggung >http://www.facebook.com/topic.php?uid=141491420957&topic=19647

_Yang pada intinya jika kita melihat agama sebagai nasihat tidak selayaknya kita mengharapkan hal-hal yang sependapat saja atau menyenangkan saja dengan kabar gembira atau pahala-pahala namun tidak mengoreksi keburukan atau menimbang sisi buruknya.

2. Pengingat, perihal ini juga termasuk yang dominan bentuknya biasanya cukup dengan membacakan atau menukil Ayat Al-Qur'an, Hadist, Hikayat (riwayat) dan nasihat ulama. Pada dasarnya sangat diperlukan namun akan lebih baik lagi jika ditekankan pengertiannya dan mempunyai orientasi (maksud) yang jelas.

3. Penggugah, manakala orang lalai perlu adanya penggugah, namun tidak semena-mena kita langsung dapat memberikannya apalagi dengan mengkritik kadang mesti memakai bahasa sindiran atau perumpamaan. Walaupun kritik pada hakikatnya masih dalam cabang ini namun kritik biasanya lebih kepada oposisi atau dalam posisi mendebat. Sewajarnya bila kritik adalah batas daripada nasihat dalam hal ini penggugah.

_Perlu adanya pembeda antara kritik dengan nasihat yang kritis, sifat kritis inilah yang seringkali memunculkan perdebatan karena banyak pihak yang merasa tertuduh, namun apabila ditiadakan tiadalah kekuatan nasihat apalagi dalam kondisi dimana sebagian besar/banyak lalai.

_Pada tipe ini nasehat berfungsi sebagai pencegah.

_Jikalau kita melihat kenyataan yang ada sekarang hal-hal semacam ini selayaknya lebih diutamakan demi menyongsong kebebasan berpikir dimana ladang jihad kita sekarang adalah perang pemikiran. Namun sisi buruknya adalah kebiasaan bermulut manis (basa-basi) sudah membudaya, dan kejujuran dalam mengutarakan pendapat menjadi terhalang. Biasanya karena takut salah namun tidak mau berbesar hati menerima kesalahan.

4. Himbauan, dalam kategori ini biasanya kalimatnya jelas mengarah langsung pada point yang dimaksud namun sifatnya temporer karena ada situasi kritis yang harus dipahami bersama. Himbauan bisa bermanfaat apabila yang mengeluarkan adalah pihak yang mempunyai otoritas untuk menyuarakan sehingga efektif dan didengar (diperhatikan). Sedangkan memerintah adalah batasnya.

Dengan demikian ada 4 point yang sekiranya membantu kita dalam menerima nasehat, namun tidak ditutup kemungkinannya ada tipikal lain.

Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Followers

Mbh