Sabtu, 23 Januari 2010

Pentingnya Tashawwuf

Saudaraku yang beriman...
Dalam sebuah hadist Rasulullah saw bersabda:

(( الإيمان بضع وسبعون شعبة أعلاها لاإله إلا الله ، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق ، والحياء شعبة من شعب الإيمان )) .

Artinya :

" Cabang iman terbagi kepada tujuh puluh lebih, yang paling tinggi dari cabangnya adalah kalimat Lailaaha illallah, dan yang paling rendah adalah membuang sesuatu yang menggangu dijalanan, dan sifat malu merupakan salah satu cabang iman " ( hadits riwayat Bukhari–Muslim).

Saudaraku...Para ulama dan fuqaha telah berupaya merangkum cabang-cabang iman tersebut, diantaranya Imam Baihaqi telah meyebutkan tujuh puluh tujuh cabang iman dalam buku beliau "Syua'bul iman" dimana apabila kita analisa, maka dua pertiga dari cabang-cabang iman adalah perbuatan lahiriyah, sementara satu pertiganya berkaitan dengan keadaan bathin ( hati ) yang tidak diketahui orang lain kecuali Allah SWT.

Jadi iman seorang mukmin terbagi kepada perbuatan lahiriyah (bisa dilihat) sebagaimana yang tercakup dalam rukun islam, dan keadaan bathin (hati) yang disebut ihsan.
Adapun definisi ihsan yaitu: melakukan ibadah seolah–olah melihat Allah sekalipun tidak melihatnya, menyakini bahwa Dia melihat hamba-Nya, sebagaimana yang ditegaskan dalam sebuah hadist ketika Jibril datang kepada Nabi saw mangajarkan makna Islam, iman, dan Ihsan. Islam adalah perbuatan lahiriyah, Iman adalah keadaan hati, dan Ihsan merupakan pengaruh dari kesempurnaan Islam dan Iman, karena ihsan adalah perasaan didalam hati. Nabi saw bersabda :

(( ذاق طعم الإيمان من رضي بالله رباً ، وبالإسلام ديناً ، وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبياً ورسولاً ))



Artinya :
" orang yang merasakan hakikat iman adalah orang yang menjadikan Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasulnya ". ( hadits riwayat Muslim, Turmudzi, dan Ahmad).

Dari dua hadits ini telah jelas bahwa syari'at Islam adalah hukum-hukum yang tidak terlepas dari perbuatan lahir dan batin, dimana kedua-duanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Saudaraku yang seaqidah...Para fuqaha telah mengklasifikasikan perbuatan-perbuatan lahir dalam bentuk ibadat baik itu shalat, puasa, zakat, haji (rukum Islam), dan muamalat seperti; nikah, talaq, jual beli, dan hukum-hukum warisan, serta hukum-hukum yang berhubungan dengan perbudakan dan lain-lain, dimana semua ketentuan hukumnya telah ditetapkan dalam hukum yang jelas yang disebut "syariat ".

Perbuatan lahir sangat erat hubungannya dengan keadaan batin, seperti taqwa, wara', khusu' dan lain-lain yang menurut istilah para sufi disebut "hakikat". Syari'at dan hakikat keduanya harus saling melengkapi dan menyempurnakan, karena itu pelaksanaan hukum syari'ah (lahir) tidak sempurna tanpa dibarengi dengan hakikat, demikian pula sebaliknya hakikat tanpa pelaksanaan syariah, maka nilainya akan kurang. Misalnya; seorang muslim yang melakukan shalat, dia dituntut untuk melakukannya dengan hati yang ikhlas, dan khusyu'. Sebagaimana kita ketahui bahwa shalat adalah perbuatan lahir (syari'at), ikhlas dan khusyu' adalah keadaan batin (hakikat). Sedangkan diterima atau tidaknya amal seseorang tergantung kepada niat atau keikhlasan didalam hati ketika melakukannya, firman Allah SWT :

{ وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين }

Artinya:
"Tidaklah mereka diperintahkan kecuali hanya menyembah Allah dengan ikhlas hanya karena-Nya" ( QS: Al-Bayyinah ayat : 5 )
dan sabda Nabi saw :

(( إنما الأعمال بالنيات ))



Artinya:
" Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung kepada niat "
( hadits riwayat Bukhari ) .

Orang yang melakukan ibadah sesuai dengan ketentuan hukum syari'at dengan niat yang ikhlas, hati yang khusyu' dan menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, serta menjauhi dari akhlak tercela, maka pantas kalau dia disebut seorang "faqih yang sufi" . Karena itu menerapkan dan mengamalkan seluruh cabang-cabang iman dalam keseharian bagi seorang "faqih sufi" hukumnya adalah fardhu (wajib), baik itu yang berkaitan dengan tuntutan wajib melakukannya atau wajib meninggalkannya (Ibnu Arabi , Al- F utuhat Al- makkiyah , Juz : 4 / Hal : 478 .

ANTARA SYARI'AT DAN HAKIKAT.

Saudaraku...sebagian orang mengira bahwa hakikat berbeda dengan syari'at atau dengan kata lain, bahwa hakikat bukanlah syari'at. Sebenarnya anggapan seperti ini sangat keliru, karena pada dasarnya hakikat adalah syari'at.

Dan orang yang mengaku dirinya sampai kepada martabat hakikat tanpa melaksanakan syari'at, maka pengakuannya tidak bisa diterima.

Timbul pertanyaan, kenapa ada istilah syari'at dan hakikat ?, maka jawabannya adalah, bahwa syari'at bisa dilakukan oleh kebanyakan orang, akan tetapi hakikat tidak semua orang bisa melakukannya kecuali orang-orang yang sudah sampai kepada martabat itu. (orang-orang khusus), karena itu para sufi membedakan antara keduanya, syari'at adalah perbuatan-perbuatan yang nampak dari hukum-hukum hakikat, dan hakikat adalah yang tersembunyi.

Seperti yang tertera dalam syair seorang sufi:

إن الشريعة حد ما عوج عليه أهل مقامات العلى درجوا .

فنجاة النفس في الشرع فلا تك إنساناً رأى ثم حرم .

فاسلك مع القوم آية سلكوا إلا إذا ما تراهم هلكوا . وهلكهم أن ترى شريعتهم بمعزل عنهم إذا سلكوا ، فاتركهم لا تقل بقولهم تأسياً بالإله إذا تركوا .

Karena itu keselamatan seorang mukmin terjamin apabila dia benar-benar berpegang teguh pada syariat Allah, kerena syariat adalah merupakan tangga untuk menuju martabat kahikat, jadi orang yang melepaskan diri dari syari'at, maka dia tidak akan sampai kepada hakikat. Kalau ada orang yang mengaku wali, atau mendapatkan karamat, tapi tidak melakukan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, atau melanggar hukum-hukum syari'at, misalnya meninggalkan shalat atau rukun Islam lainnya, atau melakukan kemaksiatan yang jelas-jelas haram, maka pengakuannya itu tidak boleh kita terima, karena pada dasarnya dia bukanlah wali, sebab seorang wali adalah orang yang benar-benar menerapkan syariat-syariat Islam dalam kesehariannya.

TARIQAT-TARIQAT PARA SUFI

Adapun tariqat-tariqat para sufi yang menyebar diberbagai penjuru dunia, sebagian orang mengklaim mereka sebagai kelompok yang keluar dari syari'at. Jelas sekali anggapan ini tidak benar, kalau kita menganalisa dari definisi tarikat itu sendiri, dimana tarikat diambil dari asal kata thariq yang artinya jalan, maksudnya adalah syari'at, jadi orang yang berjalan sesuai dengan jalur syari'at islam maka dia akan sampai kepada hakikat.

Adapun tuduhan kepada kaum sufi yang dikatakan kebatinan, ini jelas karena faktor kurang pemahaman tentang hakikat tashawwuf itu sendiri.

Pada dasarnya seorang muslim tidak terlepas dari salah satu tiga golongan menurut persepsi syari'at.
Pertama: Golongan yang mengutamakan batin semata-mata, seperti golongan kebatinan, tanpa melaksanakan syari'at. Dan ini sangat dicela oleh agama.
Kedua: Golongan yang memfokuskan syari'at (dhahir) semata-mata, tanpa memperdulikan keadaan bathin (hati), dan kelompok ini sangat dicela.
Dan ketiga: Golongan yang menjalankan ibadah sesuai syari'at dan tidak mengesampingkan keadaan bathin, artinya menerapkan syari'at yang dibarengi dengah hakikat (batin) .
Firman Allah:

{ فاتبعونى يحببكم الله ويغفرلكم ذنوبكم }

Artinya:
"Ikutilah aku ( Muhammad ), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kamu" (QS . Ali Imran , ayat : 31) .

Jadi tarikat-tarikat para sufi bukanlah kelompok yang melepaskan diri dari syari'at, bahkan mereka adalah orang-orang yang benar-benar berpegang teguh dengan syariat.

Adapun penamaan tarikat kepada Naqsyabandi, Qadiri, Rifa'I, Syazili dan lain-lain, itu hanya sekedar perbedaan nama dan perbedaan methode dalam membimbing dan mendidik pengikutnya, namun tujuannya tetap sama, demikian pula sumbernya sama-sama diambil dari Al-qur'an dan sunnah.
Seperti halnya mazhab dalam Islam yang terbagi kepada Hanafi, Maliki, Syafi'I, Hambali, Dhahiri, Zaidi dan lain-lain.

Orang yang mengikut mazhab Syafi'I tidak boleh mengatakan bahwa pengikut mazhab Hanafi atau yang lainnya keluar dari Islam, karena perbedaan mazhab bukan berarti beda agama, demikian pula kelompok para sufi yang berbeda dalam penamaan tarikat mereka, namun pada dasarnya tujuan dan sumber mereka tetap satu.

Kalimat sufi tidak dikenal dan tidak dipergunakan dizaman Nabi saw dan zaman para Shahabat, karena kalimat sufi merupakan satu istilah yang dibuat oleh sekelompok orang sebagaimana istilah-istilah lain seperti fiqih, ilmu hadits, ushul fiqh, lughah, dan lain-lainnya, dimana istilah-istilah ini tidak ada dizaman Nabi dan para Sahabat. Namun bukan berarti istilah-istilah yang tidak ada dizaman Nabi dan para Sahabat dan kemudian timbul dizaman para tabi'in kita tolak kkarena tuduhan bid'ah, itu hanyalah sebagai istilah-istilah dalam bidang ilmu agama, karena kalau demikian tidak ada yang namanya fiqh, ushul fiqh, ushul hadist, tashawwuf, sufi dan lain-lain.

Tashawwuf bukanlah satu ilmu yang hanya dipelajari, tapi tashawwuf adalah akhlak yang harus dimiliki oleh setiap individu muslim.

Karena itu orang yang memiliki akhlak yang terpuji adalah orang sufi, sekalipun dia tidak menamakan dirinya sufi. Firman Allah dalam Al-Qur'an sebagai pujian terhadap Nabi Muhammad saw karena kemuliaan akhlak Beliau :

{ وإنك لعلى خلق عظيم }

Yang artinya:
"Sesungguhnya engkau (hai Muhammad) memiliki akhlak yang mulia". ( QS . Al – qalam , ayat : 68 ) .

Dan dalam sebuah hadist Nabi bersabda:

(( أقربكم منى مجلسا يوم القيامة أحسنكم خلقا ))

Artinya :
" Orang yang paling dekat kedudukannya denganku dihari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya" ( hadits riwayat Ibnu Hajar ).

Dan sabda Beliau :
(( إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق ))

Artinya :
" Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia". (hadits riwayat Baihaqi, Hakim, dan Bukhari).

Dan dalam hadits lain Beliau bersabda :

(( إن لله مائة خلق من أتاه بخلق منها دخل الجنة ))

Yang artinya :
" Sesungguhnya Allah memiliki seratus akhlak, siapa di antara umatku yang memiliki salah satunya maka dia masuk surga" (hadits riwayat Baihaki, Abu Ya'la, Hakim, dan Turmuzi).


Kaidah Yang Dikaburkan
Tashawwuf dalam persepsi umat islam pada akhir zaman ini menjadi kabur dari sesuatu yang hak, kebenarannya dipoles dengan warna kesamaran bahkan kepincangan, hanya kurang mendalami syari'at seseorang melakukan penyesatan terhadap tashawwuf, bahkan yang lebih memprihatinkan sekaligus menjadi keajaiban telah terurai dalam sebuah khutbah jum'at atau majlis ilmu bahwa seorang yang sufi tidaklah dapat diterima persaksiannya dan bila keluar kabar darinya janganlah pernah engkau terima. Subhaanallah ini adalah kekeliruan yang nyata sekaligus pengingkaran yang memalukan bagi pribadi muslim yang mengaku bertabahhur (mengarungi) dalam ilmu syari'at, kita hanya mampu katakan laa haula wa laa quwwata illa billahi al aliyyi al adzim.

Saudaraku yang dirahmati Allah... sungguh pada zaman ini kita melihat dengan nyata orang orang yang membenci dan menghinakan tashawwuf serta memerangi ajaran itu dengan menjadikan para mutashowwifin sebagai musuh musuh mereka, kita melihat para pengingkar kebenaran tashawwuf dalam islam melakukan apa yang mereka lakukan semaunya, dan mengatakan apa yang mereka katakan tentang tashawwuf dengan pola pikir mereka, kemudian dengan tidak ada rasa malu sedikitpun mereka menuqil perkataannya para imam tashawwuf dalam kesempatan yang lain, baik dalam sebuah khutbah mimbariah, seperti khutbah jum'at, iedul fitri dan adha, perkuliyahan dan ucapan ucapannya, mengatakan dengan tiada rasa malu “telah berkata Fudhail Bin 'Iyadh, berkata Junaid Al Baghdadi, berkata Hasan Al Bashri, berkata Sahl Al tustariy, berkata Al muhasibi, dan berkata Bisyru Al Haafiy”. Lalu siapa yang mereka sebut diatas itu? Yang perkataannya diambil dan dijadikan rujukan dalam berkata dan berda'wah? Mereka adalah para imam tashawwuf yang mereka dustakan ajarannya disatu sisi dan disisi lain mereka nuqil perkataannya, mereka adalah penghulu dan pemimpin dalam dunia tashawwuf yang kitab kitab tashawwuf terpenuhi dengan perkataan, nasehat, hikmah dan ta'bir darinya, sungguh saya tidak tahu apakah orang orang yang menghina dan menyesatkan tashawwuf tapi masih berdalih dengan ucapan ucapannya para imam mutashowwifin itu orang yang bodoh atau pura-pura bodoh? Atau juga mereka orang yang buta atau pura-pura buta? Mari disini kita kaji dan simak nuqilan dari perkataannya para imam tashawwuf tentang syari'ah, agar kita mampu mengetahui kedudukan mereka dengan sebenarnya, dan dengan demikian maka akan terkuak apa yang telah nyata dan yang masih tersembunyi.

Saudaraku seiman dan seaqidah... berkata Imam Junaid – semoga Allah meridhoinya- : “Semua jalan sungguh tertutup dari manusia kecuali bagi orang yang mengikuti tauladan Rosulullah dan mengikuti sunnahnya serta menetapi jalan yang telah dirintisnya (disyari'atkan), karrena jalan kebaikan semuanya terbuka bagi Rosulullah dan bagi orang yang mentauladani dan mengikuti atsarnya” berkata Dzun Nun Al misri – semoga Allah meridhoinya- : “perkataan itu beredar dari 4 sumbu: kecintaan pada Dzat Yang Maha Tinggi (Allah), membenci yang sedikit (dunia), mengikuti apa yang telah diturunkan (alquran) dan takut untuk berpaling (dari Allah), dan merupakan ciri-ciri orang yang mencintai Allah adalah yang mengikuti jejak kekasih-Nya shallallahu alaihi wa sallam dalam akhlak, perbuatan, perintah dan sunnahnya. Berkata Bisyr Al haafiy : “ saya berjumpa Nabi SAW di dalam mimpi, lalu beliau bersabda kepadaku : wahai bisyr, tahukah engkau mengapa Allah mengangkatmu diantara teman yang sebaya denganmu? Saya jawab, tidak ya Rosulallah. Beliau berkata: itu semua karena engkau mengikuti sunnahku dan berkhidmat pada orang-orang yang soleh dan nasehatmu untuk saudara-saudaramu, serta kecintaanmu pada sahabat-sahabatku dan keluargaku. Inilah perkara-perkara yang menghantarkanmu pada kedudukan al abrar (yang mulia). Berkata Sulaiman Al daraniy : “ suatu hari mungkin telah terjadi titik hitam (kesalahan) dalam hatiku dari kesalahan suatu kaum, maka akut tidak menerima persaksian dari hatiku kecuali dengan dua saksi yang dapat adil, yaitu al qur'an dan sunnah”. Berkata Abul hasan al hiwari : “barang siapa yang beramal tanpa mengikuti sunnah Rosulullah, maka bathil (tertolak) amalan itu”.berkata Abu Utsman Al hairi : “berdiam diri bersama Allah adalah dengan adab dan melanggengkan pengagungan terhadap-Nya, dan berdiam diri bersama Rosulullah adalah dengan mengikuti sunnahnya dan menetapi zhohirnya ilmu (syari'at) sedangkan berdiam diri bersama awliya (ahlullah) dengan penghormatan dan khidmat. Dan berdiam diri bersama keluarga adalah dengan akhlak yang baik, berdiam diri bersama para saudara adalah dengan keceriaan dan kegembiraan sejauh tidak berdosa, dan berdiam diri dengan orang-orang yang bodoh adalah dengan mendo'akannya serta mengasihinya. Dan masih banyak nuqilan dari para imam tashawwuf yang saya mencukupkan sampe disini, dan semua merujuk kepada ketetapan alquran dan sunnah, lalu siapakah yang lebih mengerti alquran dan sunnah dibanding mereka? Apakah sekte yang menyesatkan mereka adalah yang lebih tahu alquran dan sunnah? Menyalahkan dan menyesatkan kaum mutashowwifin serta mengajak mereka kembali pada alquran dan sunnah, alquran dan sunnah yang model apa yang dikehendaki kaum penyesat tashawwuf itu?

Saudaraku... berhati-hatilah dengan pemahaman yang sedang memunculkan taringnya dalam dunia dakwah akhir akhir ini, sungguh kebanyakan dari mereka tidak mengetahui ilmu dari sumber yang utuh kecuali dengan memilah milah sekehendak hati mereka. Jangan terprofokasi dengan tudingan keji tanpa ilmu yang mendasar, kita hidup dizaman fitnah maka sebaiknya kita menghindari fitnah yang paling keji yaitu mendzolimi hak ulama Allah, klaim tentang Imam Asy'ari dengan kesesatannya, ini juga merupakan tiupan dakwah kaum sempalan yang tidak memahami as sawaadu al a'dzom (golongan mayoritas) untuk menggerogoti aqidah asy'ariyyin.

Saudaraku... jika engkau temukan kebaikan dari siapapun, ambillah dan pergunakan sesuai porsi yang engkau ketahui, tapi apabila engkau temui kebaikan yang di anggap batil maka bertanyalah kepada ulama dan guru besar di sekelilingmu yang perutnya lebih sering kosong dari pada terisi dengan makanan, yang matanya lebih sering menemani malam dengan mujahadah dan munajat, yang lisannya lebih sering berdzikir dari pada melakukan takfir, yang langkahnya slalu menuntun kedisiplinan menjaga shalat berjama'ah lima waktu, insya Allah itulah yang termaktub dalam firman-Nya “sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” [faathir : 28]

Mudah-mudahan Allah memberikan kemanfaatan dari kajian ini bagi semua pembaca, dan menjadikan sebab berolehnya hidayah Allah serta keridhoan dalam penghambaan kepada-Nya amien.

0 komentar:

Followers

Mbh