Kamis, 21 Januari 2010

Salafi Dan Sufi

Ukhti yang dirahmati Allah, pengertian dari ma'na salafi secara etimologi (bahasa) adalah penisbatan waktu terhadap perkembangan zaman yang didatangi zaman selanjutnya, atau bisa diartikan “sebelum” itu sama artinya dengan “salaf”. Maka sesungguhnya setiap zaman dari waktu-waktu yang telah lalu adalah “salaf” bila disandarkan kepada zaman yang datang sesudahnya, dan bisa disebut zaman “khalaf” bila zaman itu disandarkan pada waktu yang telah berlalu.

Namun yang kita inginkan disini tentu ma'na yang dikukuhkan dalam istilah selain di atas, maka akan kita ketahui bahwa pengertian salaf dalam istilah adalah : qurun ketiga yang pertama dari usia umat islam, umat Sayyidina Muhammad SAW. Sedangkan sumber pengambilan istilah ini adalah sabda Rosulullah SAW. Yang diriwayatkan Ibnu Mas'ud: “sebaik baik manusia (umat) adalah qurunku, kemudian umat yang datang setelah mereka kemudian yang datang setelah mereka, kemudian akan datang setelah itu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya” (riwayat syaikhoni)

Hanya saja ada segolongan umat zaman ini yang mengibarkan bendera salafi (mengaku paling salafi dalam perbuatan amal ibadahnya) lalu suka membid'ahkan ibadah orang lain, maka ambillah yang baik dari mereka dan tinggalkan sikap dan sifat ekstrim dari mereka.

sedangkan pengertian sufi adalah orang-orang yang beramal dengan tashawwuf islam, sbagaimana harus difahami oleh seorang muslim bahwa keislaman seseorang akan sempurna bila dia telah mengumpulkan 3 unsur dalam dirinya: dua kalimat syahadat, iman dan ihsan. Dua kalimat syahadat adalah sebagai persaksiaan kita terhadap keislaman kita pada allah, sedangkan iman adalah aplikasi islam kita dengan rukun-rukunnya dipenuhi keyakinan, sedangkan ihsan adalah bagian yang mengambil peranan akhlak dalam beribadah baik itu muamalah dengan Allah atau dengan manusia. Dari ihsan inilah tashawwuf menempati bagian khusus dalam pengkajiaannya, dan orang-orang yang beramal dengan kaidah ini disebut sufi.

apabila anda mendapati orang yang mengatakan bahwa tashawwuf merupakan perkara baru yang diketahui setelah qurun ketiga hijriah, maka ketahuilah bahwa itu hanya perkiraan yang berlebihan dan tidak ilmiah, tidak ada kekuatan sejarah serta ketidak adaan sanad ucapannya, apabila yang mereka maksudkan adalah lafad tashawwuf yang tidak dikenal dalam islam kcuali setelah qurun ketiga, maka ini juga perkataan yang tidak dapat dibenarkan (ini hanya ucapannya Syaikhul Islam Ibnu Taimiah -rahimahullah- di dalam kitabnya “as shufiah wal fuqara” beliau mengatakan: adapun lafad shufiy itu tidak dikenal kecuali setelah qurun ketiga hijriah.) namun kenyataannya telah dinukil perkataan dengan lafad itu bukan hanya oleh seorang imam saja, tapi banyak, seperti Imam Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ahmad Bin Hambal, Abu Sulaiman Ad darani, Sufyan As sauri, Hasan Al basri dan lain sebagainya. Ini menunjukkan lafad tashawwuf sudah dikenal mulai akhir qurun pertama.

Perkataan Imam malik dalam masalah tashawwuf (sufi): dia yang sedang Tasawwuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawwuf rusaklah dia . Hanya siapa yang memadukan keduannya terjamin benar .
Dari muhaddith Ahmad Zarruq ( d . 899 ) [ Ahmad Zarruq , Qawa`id al tasawwuf ( Cairo , 1310 ) ]

perkataan Imam Syafi'i: Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik? [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]

Imam Ahmad berkata mengenai para sufi : Aku tidak tahu apakah ada oarang yang lebih baik dibanding mereka itu . ( al Saffarini , Ghidha al albab li sharh manzumat al adab ( Cairo : Matba`at al Najah , 1324/1906 ) 1 : 120 )
ketahuilah materi tashawwuf itu dari segi ibadah dan adab (secara keumumam ma'na ibadah dan adab budi pekerti) itu sangat nyata ada di dalam al quran dan al hadits, yaitu peranan sebagian kandungan ilmu agama, dan jika lafad tashawwuf tidak terdapat pada masa masa ini (akhir qurun pertama dan awal qurun kedua) maka ibadah, adab, pendidikan batiniah, perantara-perantara yang dapat menghubungkan hamba pada Allah, dan terangkatnya nilai martabat manusia semua ini telah termaktub dalam syari'at Allah, dan itulah tashawwuf, maka dari sisi mana lagi tashawwuf kita anggap sebagai perbuatan bid'ah?

0 komentar:

Followers

Mbh