Sabtu, 23 Januari 2010

Manakah urusan Dunia & Akhirat?

Tentunya banyak diantara kita yang masih mempertanyakan manakah urusan dunia manakah urusan akhirat, sedangkan kita sedang berjalan seiring waktu mengarah kepada akhirat antar suka maupun terpaksa, adalah suatu ketetapan yang tidak mungkin dapat ditolak.

Kenapa seperti ada dinding pemisah diantara kedua urusan ini? Dalam setiap sajian dakwah cukup arif untuk memisahkan kedua hal ini, jika ada seseorang yang terlalu banyak bertanya, karena yang dipertanyakan sebenarnya muncul dari keraguan yaitu dari hati yang condong mencintai harta dunia. Maka cukuplah bagi si penerima untuk memahami dengan memfokuskan diri pada satu sisi yang akan membawanya kepada kemaslahatan baik dunia maupun akhirat.

Cukup aneh memang jika jika ada orang bijak justru diburu dengan membawa persoalan dunia masing-masing untuk diadukan/dicari pemecahannya.

Banyak orang bertanya-tanya tentang perihal hukum dalam Al-Qur'an, "adakah hukum lain selain apa yang tertera didalamnya?" jika tidak berarti tidak diperlukan lagi ijtihad atau pasrah begitu saja dengan keadaan dengan ikut larut begitu saja bagai buih dalam arus zaman yang terus menggelontor tak terbendung. Banyak sekali pemikiran semacam ini yang senantiasa menggelayuti orang-orang yang tidak dapat menerima begitu saja dengan keadaan sekarang.

Permasalahan ini akan terus bergulir, jika tidak ada seorangpun yang berani mempertaruhkan hidupnya untuk mengabdikan diri sepenuhnya untuk membenahi persoalan ini yaitu orang yang tidak disibukan dengan perniagaan dunia hanya mengharap ridho Rabbnya. Karena tidak mungkin bagi orang yang masih mendua hatinya dapat memahami ayat-ayatNYA, karena luasnya ilmu Islam (Khazanah) yang terkandung didalamnya yang tidak mungkin tersentuh oleh orang yang khianat (pembangkang).

Apabila kita jeli sebenarnya tidak sedikit orang yang diberi hikmah/pemahaman, tapi kenapa banyak diantaranya menjadi lebay bahkan terprosok dalam jurang pluralisme, adalah sifat-sifat yang sebenarnya sudah digambarkan dalam Qur'an secara gamblang. Lain daripada itu adalah siasat dimana Rosululloh saw dulunya berdakwah secara sembunyi-sembunyi, namun tidak layak dikatakan sebagai orang yang sembunyi atau asing yang akhirnya hanya untuk menjual dirinya (mencari ketenaran) dengan ayat-ayatNYA dengan harga murah.

Disinipula salah satu faktor kaburnya sejarah, apalagi era pencitraan sekarang dimana apapun yang terbit dalam bentuk tulisan ataupun image/citra tidak lebih untuk mengangkat citra seseorang ataupun wadah/pihak/golongan tertentu. Pada masa Orde Baru dimana suasana religi masih kental ada saja mubalig yang secara terang-terangan mengkampanyekan partainya yang tidak Islami.

Orang asing dalam Islam adalah orang yang ikhlas tidak butuh publikasi dan cukup Rabbnya saja yang menjadi saksi atas usahanya. Orang yang tidak mengenalinya tentulah dianggap remeh saja, karena hawa nafsunya selalu diperturutkan mengejar 'pamor dan power' yang tidak lebih adalah angan kosong. Pepatah jawa mengatakan "mendem jero mumbul duwur" sebagai gambaran orang yang selalu merendah diri / tidak sombong.

Jika dicermati secara keseluruhan otak bangsa ini kadang tidak lebih seperti tabung tv yang mudah saja terprofokasi oleh image yang sebenarnya sudah diarahkan dalam kurun waktu yang lama (tanpa disadari). Dalam menilai orang seperti menilai tokoh sinetron. Perkara yang cukup menggelikan banyak sekali jika kita jeli. Orang yang dibesarkan induknya akhirnya mendurhakai... :) Dunia benar-benar sudah terbalik.

Sifat-sifat mulia yang sudah digariskan dalam Qur'an yang mampu untuk menampung logika manusia sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri akhirnya terhalangi oleh hawa nafsu bagai bulan tertutup bayang-bayang bumi. Tidak sedikit saya dapati orang yang mengambil dalil Qur'an sekehendak hatinya tidak melihat secara global sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan untuk mengenali hukum-hukum yang terkandung didalamnya, yang tentunya tidak dapat dikenali jika dicari kulit(kata/lafal)nya saja.

Maha Benar Alloh atas penjagaan Ayat-ayatNYA.

"Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya, bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu. Atau apakah kamu memperoleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka: "Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?"
[68 Al-Qalam 35-40]

[2.207] Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.
[2.208] Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

[2.152] Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.
[2.153] Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
[2.154] Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.
[2.155] Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,

[17.100] Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai khazanah rahmat Tuhanku, niscaya khazanah itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir.
[15.21] Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.

0 komentar:

Followers

Mbh