Sabtu, 23 Januari 2010

Apakah Shalat Kita Menyembah Ka'bah???

Assalamualaikum wr wb.

sebagai seorang muslim kita wajib beribadah pada allah swt salah satunya solat yang menghadap kiblat yaitu kakbah. lalu pada suatu hari teman saya yang juga seorang MUSLIM menghina cara ibadah kita kaum muslim.
dia berkata " heh orang islam solat yembah bangunan"
aku jawab "sebenarnya kami beribadah padanya (allah)"
dia balas " heh keras kepala sama aja kalo orang islam yembah bangunan "
lalu aku pergi meningalkannya.

nah pertanyaannya nih bagaimana cara kita membalas perkataan orang tersebut dengan baik dan sopan menurut kaidah islam?

Waalaikum salam wr. wb.
Saudaraku yang dirahmati Allah

Berbicara mengenai shalat, tata cara dan arah menghadapkan diri ketika shalat bukanlah hal yang rumit untuk kita fahami, intinya terletak pada sejauh mana muslim memahami hakikat shalat yang ia lakukan, Allah berfirman: “Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah”[An-najm:62] dan juga firman-Nya: “dan sujudlah dan dekatkanlah” [Al-alaq:19]

Masih banyak lagi ayat sujud yang kesemua itu menunjukkan tujuan hakikat shalat kita. Islam adalah ajaran yang rasional, penyembahan kepada Allah semesta alam yang Maha Ghaib pada dasarnya tidak mungkin ditujukan hanya kepada satu tempat tertentu saja apalagi Allah berada dimana-mana dan selalu mengawasi setiap gerak dan diri kita.

Dan kepunyaan Allah sajalah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. [al-Baqarah 2:144]

Jika halnya secara praktek dilapangan umat Islam mengarahkan sholat mereka kearah Ka’bah dimasjid al-haram itu tidak serta merta diartikan sebagai suatu simbol penyembahan pada berhala yang berupa susunan batu hitam, namun semata-mata untuk menjadikan Ka’bah itu suatu kesatuan tujuan dalam beribadah kepada Tuhan Yang Maha Satu.
Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (ka'bah).
[ Al-Quraisy 106:3]

Dengan demikian didalam Islam tidak terjadi perbedaan antara satu bangsa yang menganut Islam dengan bangsa lainnya yang juga menganut Islam mengenai tata cara peribadatan dan arah penghadapannya.

Adapun setiap umat sebelum kenabian Muhammad telah dinyatakan memiliki kiblat sholat masing-masing dan ini pun logis, kiblat Nabi Nuh bisa saja berbeda dengan kiblat Nabi Musa begitu seterusnya, hal ini tidak lain karena dakwah masing-masing Nabi dan Rasul sebelumnya hanya terbatas pada daerah kaumnya saja sehingga belum diperlukan adanya kesamaan arah kiblat bagi mereka semua.

Dan bagi tiap-tiap ummat ada kiblatnya dimana ia menghadap kepadanya. [al-Baqarah 2:148]

Berbeda kasusnya manakala Nabi Muhammad diutus kepada semua bangsa, semua daerah dan kesetiap suku menembus adat tradisi dimasing-masing daerah. Perbedaan bisa menjadi suatu perselisihan yang besar apalagi bila perbedaan itu justru menyangkut tata cara penyembahan terhadap Tuhan. Maka dengan disatukannya pandangan kearah kiblat (ka'bah) terdapat hikmah pemersatu ukhuwah dan tata cara ibadah dalam syari'at islam. Wallahu a'lam bishawab

0 komentar:

Followers

Mbh