Kamis, 21 Januari 2010

Malu Adalah Mahkotanya Para Sufi

Saudaraku yang dirahmati Allah, ketika kita tahu bahwa Allah mencintai sifat malu maka kita akan ukur semua perbuatan kita dengan kecintaan pada Allah, sebagaimana dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, an-Nasai dari hadits al-Asyajj al-'Ashri, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku: "Sesungguhnya engkau memiliki dua sifat yang dicintai oleh Allah". Aku bertanya kepada beliau: 'apa itu?'. Beliau bersabda :"sifat lemah lembut (al-Hilm) dan sifat malu". Aku bertanya lagi: 'sifat yang sudah lama (melekat padaku) atau yang baru?'. Beliau menjawab dengan sabdanya: "bahkan yang sudah lama". Aku berkata (pada diriku): 'alhamdulillah Yang telah menganugerahkan kepadaku dua sifat yang dicintai oleh Allah'.

Begitu juga dengan apa yang dikatakan oleh seorang shahabat, Salman al-Farisi: "Sesungguhnya bila Allah menginginkan kehancuran/kebinasaan bagi seorang hambaNya, maka Dia akan mencabut dari dirinya sifat malu, dan bila sudah dicabut sifat tersebut dari dirinya maka dia tidak akan menemuiNya kecuali dalam kondisi dia amat dimurkai dan murka, dan bila dia sudah dalam kondisi demikian maka akan dicabut dari dirinya sifat amanah lantas dia tidak akan menemuiNya kecuali dalam kondisi dia dicap sebagai pengkhianat dan orang yang dikhianati, dan bila dia sudah menjadi pengkhianat dan orang yang dikhianati maka akan dicabut dari dirinya sifat rahmah (sifat belas kasih) lantas dia tidak akan menemuiNya kecuali dalam kondisi dia memiliki sikap keras dan berhati kasar, dan apabila dia sudah dalam kondisi demikian maka akan dicabut sebagian iman dari tengkuknya, dan bila sudah demikian maka dia tidak akan menemuiNya kecuali dalam kondisinya yang telah menjadi syaithan yang dilaknat dan suka melaknat".

Sifat malu merupakan bagian dari iman, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Ibnu 'Umar radhiallâhu 'anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam lewat di depan seorang laki-laki yang mencerca saudaranya yang memiliki sifat malu, dia (orang tersebut) berkata: "sesungguhnya engkau ini amat pemalu", seakan dia mengatakan (ungkapan ini berasal dari perawi hadits-red);"..ia (sifat malu tersebut) telah membahayakan dirimu". Lantas kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "biarkanlah dia! Karena sesungguhnya sifat malu itu adalah sebagian dari iman". (H.R.Bukhari, Muslim,…). Dan dalam hadits yang lain dikatakan: "sifat malu adalah cabang dari iman". (H.R. Bukhari, Muslim,…).

Sifat malu hanya membawa pada kebaikan, sebagaimana dalam hadits 'Imran bin Hushain dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam : "Sifat malu tidak membawa selain kebaikan". (H.R.Bukhari dan Muslim).
Karakteristik sifat malu selalu melawan hubbu dunnya (mencintai dunia) dan ini yang mengharuskan seoang sufi harus zuhud terhadap dunia. Hal ini seperti digambarkan dalam hadits Ibnu Mas'ud :" Malu kepada Allah adalah bahwa engkau menjaga kepala dan apa yang disadari/ditangkapnya, (menjaga) perut dan apa yang dikandungnya, mengingat mati dan musibah (yang akan menimpa); barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah dia meninggalkan gemerlap dunia. Maka siapa yang melakukan hal itu, berarti dia telah berlaku malu kepada Allah". (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad, at-Turmuzi secara marfu').

Sedangkan implikasi dari sifat malu kepada Allah senantiasa melahirkan tindakan untuk selalu memonitor semua nikmatNya dan melihat keterbatasan dan ketimpangan-ketimpangan dalam mensyukurinya. Bila seorang hamba telah dicabut sifat malu dari dirinya baik sifat malu bawaan atau pun yang didapat melalui proses maka dia tidak lagi memiliki filter untuk melakukan perbuatan yang jelek-jelek dan akhlaq yang rendah dan hina; lantas kemudian jadilah dia seakan-akan tidak memiliki iman sama sekali.

Seperti yang diungkapkan oleh 'Imran bin Hushain radhiallâhu 'anhu bahwa sifat malu yang dipuji dalam sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam adalah akhlaq yang memberikan sugesti untuk melakukan perbuatan yang baik dan meninggalkan yang jelek, sedangkan kelemahan dan ketidakmampuan yang berimbas kepada keterbatasan dalam melakukan hak-hak Allah dan hak hamba-hambaNya maka hal ini tidaklah dinamakan sifat malu tersebut akan tetapi hal itu adalah kelemahan, ketidakmampuan, dan kehinaan semata.

Lalu bagaimana dengan tafaqquhnya seorang hamba atas agama ini bila meloncati pagar adab dan tatakrama?? ketika shalat slalu menjadi prioritas dalam ibadah tapi diluar shalat maksiat menjadi pemuas sifat hewaniyah?? tentu ini yang menjadi maksud dari sabda Nabi Yang artinya: “Kabarilah aku tentang Ihsan? Bersabda Rosulullah SAW bahwasanya engkau menyembah Allah SWT seakan engkau melihatnya, kalau engkau tidak dapat yang demikian itu maka ketahuilah bahwa Allah SWT melihatmu”. Inilah bagian yang menjadi kajian khusus dunia Tashawwuf, hingga manusia dapat menjadi dirinya sendiri baik diwaktu shalat atau diluar shalat (tetap muroqobah) yang dibarengi akhlak karimah.

Akhirnya mari kita berbenah diri dengan memproses sikap untuk selalu beradab, baik itu dalam beribadah kepada Allah atau bermu'amalah sesama manusia, jadikan hati selalu merasa diawasi dengan keberadaan Allah, agar semua bentuk amalan dapat kita pertanyakan sebelum kita kerjakan, bila memang mendapat jawaban baik, kerjakanlah, bila tidak, tinggalkanlah. Inilah amalan para sufi dari qurun ke qurun yang menjadikan adab sebagai pondasi semua ibadahnya.
Saudaraku... ingatlah selalu diantara ungkapan yang populer sejak kenabian pertama hingga dari abad ke abad adalah : "jika engkau tidak merasa malu maka perbuatlah apa yang engkau inginkan". (H.R.Bukhari) Wallahu a'lam.

0 komentar:

Followers

Mbh