Minggu, 17 Januari 2010

SUNNI-SYIAH DALAM DISKUSI AQIDAH [I-V]

Bismillah… was sholatu wassalamu ala rosulillah… wa’ ala alihi wa shohbihi wa man tabi’a hudah…
amma ba’du:
Perbincangan untuk mengkritisi ajaran syiah, memang sangat menarik untuk disimak. Apalagi di masa
sekarang ini… masa dimana mereka lagi gencar-gencarnya menyebarkan paham sesat itu ke seantero
dunia… terutama negara kita tercinta INDONESIA…
Dengan NEGARA IRAN sebagai pusat kekuatan jasmani dan rohaninya… mereka tidak ragu-ragu
untuk mendakwahkan idiologinya dengan dinar dan dolar yang besar… Karena pada akhirnya nanti,
mereka akan meraup keuntungan yang berlipat ganda… mereka akan tajir bin kaya raya, dengan
kewajiban membayar seperlima kekayaan dari setiap pengikutnya… Tidak hanya itu, mereka juga akan
mampu dengan bebas merenggut kehormatan setiap wanita super cantik yang diinginkannya, dengan
iming-iming pahala kawin mut’ah yang mereka buat-buat dan palsukan…
Memang, sekarang kita belum banyak melihat perbedaan antara SUNNI dan SYIAH… Itu karena
mereka selalu berlindung di balik tabir TAKIYAH (baca: kedustaan)… tabir yang mereka gunakan
untuk menghalangi sinar matahari yang akan menampakkan wajah buruk mereka…
Tapi kita tak perlu khawatir… bi idznillah dengan berjalannya waktu, kita yakin tabir itu akan rapuh
dan koyak… kita yakin, -dengan pertolongan Alloh, usaha dan sumabangsih umat sunni- sinar
matahari hidayah itu, akan dapat menembus tabir setan itu… dan kita akan tahu, siapa sebenarnya
mereka…?!!
Tulisan ini ibarat lentera kecil, yang akan membantu anda menerangi dalam menjelajahi alam kelabu
ajaran sesat ini, semoga bisa memberikan tambahan pencerahan dalam pikiran… sehingga kita bisa
melihat dan mengerti… mana yang benar yang harus diikuti… dan mana yang batil, yang harus
dijauhi…
Selanjutnya, kami persilahkan anda menyimak diskusi antara SUNNAH dengan SYIAH…, semoga
bermanfaat… amin
(1) Al-Kulainiy menyebutkan dalam kitabnya al-Kafi (1/258): “Sebenarnya para imam kita itu tahu
kapan mereka akan meninggal, dan mereka tidak akan meninggal kecuali setelah mereka memilihnya”.
Di sisi lain, Al-Majlisiy dalam kitabnya Biharul Anwar (43/364), menyebutkan sebuah hadits yang
berbunyi: “Tidak ada imam yang mati, melainkan dibunuh atau diracun”.
Seandainya seorang imam itu mengetahui hal yang ghaib, sebagaimana dikatakan oleh Kulainiy,
tentunya ia akan tahu setiap makanan dan minuman yang disuguhkan kepadanya. Apabila makanan itu
mengandung racun, tentunya ia tahu hal tersebut dan akan menjauhinya. Karena apabila ia tetap
memakannya, berarti matinya bunuh diri! Mengapa? Karena ia tahu bahwa makanan itu mengandung
racun, dan ia akan membunuh dirinya sendiri jika memakannya. Padahal Rosululloh -shollallohu alaihi
wasallam- telah mengabarkan bahwa orang bunuh diri tempatnya di neraka! Apakah kaum syiah rela
hal ini diterapkan kepada para imam mereka??!!
(2) Apabila Ali r.a. mengetahui, bahwa dirinya adalah kholifah dari Alloh (langsung sepeninggal
Rosul -shollallohu alaihi wasallam-) yang termaktub dalam wasiat beliau.
Pertanyannya: Mengapa Ali r.a. malah membaiat Abu bakar r.a., kemudian Umar r.a., kemudian
Utsman r.a., untuk menjadi kholifah??!
Apabila kalian mengatakan: “Pada waktu itu ia sedang lemah”. Maka kami katakan: Seharusnya orang
yang lemah tidaklah pantas menjadi kholifah, karena kholifah hanya khusus bagi mereka yang mampu
mengembannya.
Apabila kalian mengatakan: “Ia mampu, tapi tidak melakukannya”. Maka kami katakan: itu berarti
sebuah penghianatan… padahal seorang penghianat tidak pantas menjadi kholifah, tidak pula dapat
dipercaya. –sungguh Ali r.a. bersih dari semua tuduhan mereka itu-.
Jika demikian, lalu apa jawaban kalian…??!
(3) Kaum Syiah berkeyakinan bahwa Ali r.a. adalah imam yang ma’shum (bebas dosa). Tapi disisi
lain, kita dapati fakta –yang juga diakui oleh kaum syiah[1]- bahwa dia mengawinkan putrinya, Ummu
Kultsum (yang juga saudari kandung Hasan dan Husein), dengan Umar bin Khottob!!!
Menyikapi fakta ini, ada dua kemungkinan jawaban, yang dua-duanya bertentangan dengan keyakinan
mereka:
Kemungkinan Pertama, Ali r.a. tidak ma’shum. Mengapa?? Karena ia telah menikahkan putrinya
dengan orang yang (mereka anggap) telah kafir. Dan ini bertentangan dengan dasar-dasar keyakinan
mereka.
Kemungkinan Kedua , Umar r.a. itu seorang muslim, yang telah diridhoi oleh Ali r.a. sebagai
menantunya!! (Ini juga bertentangan dengan keyakinan mereka).
Dua jawaban… yang sungguh sangat membingungkan…
(4) Kaum Syiah beranggapan bahwa Abu Bakar dan Umar r.a. itu kafir. Tapi di sisi lain kita dapati
fakta bahwa Ali r.a., -yang dianggap ma’shum oleh kaum syiah-, telah rela dengan kekhilafahan
keduanya, Ali r.a. juga membaiat mereka berdua, satu demi satu, dan tidak pernah keluar dari
pemerintahan mereka.
Fakta ini melazimkan ke-tidak ma’shum-an Ali r.a., Mengapa? Karena ia telah setuju dan bersedia
membaiat dua orang yang menurut keyakinan mereka adalah kafir, dholim, dan memusuhi ahlul bait.
Padahal perbuatan tersebut dapat merusak ke-ma’shum-an seseorang, karena sama saja menolong orang
yang dzolim dalam melakukan kedzolimannya, dan ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang
ma’shum.
Atau, mereka akan mengatakan bahwa perbuatan tersebut benar, karena Abu bakar dan Umar r.a.
adalah kholifah yang mukmin, jujur, dan adil. Dan jika fakta ini benar adanya, berarti kaum syiah telah
menyelisihi imam mereka dalam mengkafirkan, menghujat, melaknat dan tidak rela dengan
kekhilafahan keduanya.
Kenyataan ini, tentunya membuat kita bingung sendiri, kita akan mengikuti jalan siapa? jalan yang
dipilih oleh Ali r.a. (yang ma’shum), atau kita akan mengikuti jalan pengikutnya yang bergelimang
kemaksiatan??!
(5) Setelah meninggalnya Fatimah r.a. Ali telah menikah dengan baberapa wanita, dan lahir dari
mereka banyak anak, diantaranya:
Lahir dari rahim Ummul Banin binti Hizam: Abbas, Abdulloh, Ja’far, Utsman.
Lahir dari rahim Laila binti Mas’ud: Ubaidulloh dan Abu Bakar.
Lahir dari rahim Asma’ binti Umais: Yahya, Muhammad al-Ashghor, dan Aun.
Lahir dari Ummu Habib binti Robi’ah: Ruqoyyah dan Umar yang meninggal pada usia 35 tahun.
Lahir dari Ummu Mas’ud binti Urwah: Ummul Hasan dan Romlah al-Kubro.
Lihatlah bagaiman Ali menamai Anaknya dengan Abu Bakar, Umar dan
Utsman. Pertanyaannya: Apakah seorang ayah akan memberikan nama kepada buah hatinya dengan
nama musuh bebuyutannya?! Apalagi jika ayah tersebut adalah sang Ali r.a. [2]
Bagaimana mungkin Ali r.a. menamai anak-anaknya dengan nama orang yang kalian anggap sebagai
musuhnya?! Apakah orang yang berakal mau menamai anak kesayangannya dengan nama-nama
musuhnya??!
(6) Pengarang kitab Nahjul Balaghoh -yakni salah satu kitab sandaran kaum syiah- meriwayatkan,
bahwa Ali telah mengundurkan diri untuk menerima tampuk khilafah, ia mengatakan: “Tinggalkan aku,
dan carilah orang selainku”.[3]
Fakta ini menunjukkan batilnya pemahaman syiah, mengapa?? Karena, bagaiamana mungkin ia
mengundurkan diri untuk menerima tampuk khilafah, padahal menurut kalian, pengangkatan dirinya
sebagai imam dan kholifah adalah sebuah kewajiban dari Alloh, bahkan menurut anggapan kalian ia
pernah meminta kekhilafan tersebut kepada Abu bakar r.a.??!
(7) Kaum syiah beranggapan bahwa, Fatimah r.a. adalah buah hati Rosululloh -shollallohu alaihi
wasallam- yang di masa Abu Bakar r.a., telah dihinakan, dipatahkan tulang rusuknya, hendak dibakar
rumahnya, dan hendak digugurkan kandungannya yang dinamai Muhsin!!
Pertanyaanya: Dimanakah Ali saat terjadinya semua peristiwa ini??! Mengapa ia tidak membela
Fatimah, padahal ia adalah seorang yang dikenal sangat dan sangat pemberani sekali??! Ini
menunjukkan bahwa kabar tersebut, hanyalah kebohongan yang disebar-sebarkan oleh syiah, untuk
menghujat ahlus sunnah… semoga Alloh membalas keburukan mereka dengan balasan yang
setimpal… amin.
(8) Kita dapati banyak fakta, yang mengatakan bahwa para sahabat telah menikahkan keluarga
mereka dengan keluarga Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, mereka menikahinya, dan juga
sebaliknya. Terutama Abu Bakar r.a dan Umar r.a. (syaikhoin = julukan untuk keduanya). Dan fakta ini
telah disepakati oleh para sejarahan dan ahli riwayat, baik dari kalangan syiah maupun dari Ahlus
Sunnah.
Lihatlah bagaimana Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah menikah dengan Aisyah r.a., puterinya
Abu Bakar r.a. Beliau juga menikahi Hafshoh r.a., putrinya Umar r.a.
Sebaliknya, beliau menikahkan dua puterinya (Ruqoyyah r.a. dan Ummu Kultsum r.a.) dengan kholifah
ketiga, yang dermawan dan tinggi rasa malunya, yakni Utsman r.a. karenanya ia mendapatkan julukan
dzunnuroin (peraih dua cahaya).
Kemudian, anaknya Utsman r.a. juga menikah dengan Ummu Kultsum r.a., yakni putrinya Abdulloh
bin Ja’far bin Abu Tholib.
Begitu pula Marwan bin Aban bin Utsman r.a., juga menikah dengan Ummul Qosim binti Hasan bin
Hasan bin Ali bin Abi Tholib r.a.
Lalu Zaid bin Amr bin Utman bin Affan r.a., juga menikah dengan Sakinah binti Husain r.a.
Dan Abdulloh bin Amr bin Utsman bin Affan r.a., telah menikah dengan Fatimah binti Husain bin Ali
r.a..
Di sini kami hanya akan menyebutkan tiga sahabat, yang termasuk khulafaur rosyidin, yakni Abu
Bakar r.a, Umar r.a, dan Utsman r.a., padahal sebenarnya banyak pula para sahabat lain yang menjalin
hubungan saudara dengan keluarga melalui pernikahan.
Tujuan kami tidak lain ingin menjelaskan, bahwa sebenarnya keluarga Nabi -shollallohu alaihi
wasallam- dahulu sangat simpati dengan mereka, Inilah yang mendasari dijalinnya persaudaraan
dengan pernikahan-pernikahan tersebut.[4]
Kita juga dapati, para Keluarga Nabi -shollallohu alaihi wasallam- (ahlul bait), banyak memberikan
nama kepada anak-ankanya dengan namanya para sahabat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-,
sebagaimana disepakati oleh para sejarawan dan ahli riwayat, baik dari kalangan Ahlus Sunnah maupun
syiah.
• Lihatlah bagaimana Ali, -sebagaimana disebutkan dalam literatur kaum syiah-, menamai salah
satu anaknya, yang lahir dari rahim Laila binti Mas’ud, dengan nama Abu Bakar. Yang
dengannya, ia menjadi orang pertama kali dari bani hasyim, yang menamai anaknya dengan
nama Abu Bakar.[5]
• Hasan bin Ali, juga menamai anak-anaknya dengan nama: Abu Bakar, Abdur Rohman, Tholhah,
dan Ubaidulloh.[6]
• Demikan pula Hasan bin Hasan bin Ali, ia juga menamai anaknya dengan nama Abu Bakar.[7]
• Ada juga kalangan ahlul bait yang memakai kunyah (panggilan kesayangan yang diawali
dengan abu atau ummu) Abu bakar, seperti: Zainul Abidin bin Ali[8] dan Ali bin Musa (ar-
Ridho).[9]
Ahlul bait juga banyak yang menamai anaknya dengan nama Umar r.a. diantaranya:
• Ali r.a., ia menamai anaknya dengan nama Umar al-Akbar, yang lahir dari rahim Ummu Habib
binti Robiah, ia meninggal di Althof bersama saudara kandungnya Husain r.a. Ali r.a. juga
memiliki anak lain dengan nama Umar al-Ashghor, yang lahir dari rahim as-Shohba’ at-
Taghlibiyyah, dan anak ini diberikan umur panjang sehingga setelah saudara-saudaranya
meninggal, ia mewarisi mereka.[10]
• Hasan bin Ali r.a, menamai kedua anaknya dengan nama: Abu Bakar dan Umar.[11]
• Diantara ahlul bait lainya yang menamakan anak dengan nama Umar antara lain: Ali Zainal
Abidin, Musa al-Kazhim, Husain bin Zaid bin Ali, Ishaq bini Hasan bin Ali bin Husain, Hasan
bin Ali bin Hasan bin Husain bin Hasan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kami cukupkan
sekian penyebutan namanya, agar tidak lebih menambah panjang tulisan ini.[12]
Disamping itu, ada juga Ahlul bait yang memberikan nama Aisyah kepada putrinya, seperti: Musa al-
Kazhim[13] dan Ali al-Hadi.[14]
Diantara putra Ali, ada juga yang diberi nama Utsman r.a, ia lahir dari istrinya yang bernama Ummul
Banin binti Hizam.
Fakta-fakta di atas, menunjukkan kepada kita akan besarnya kecintaan dan kedekatan ahlul bait
terhadap ketiga kholifah pertama itu. Apakah syiah masih mengingkari fakta nyata yang teramat
banyak ini??!
(9) Hasan bin Ali r.a telah mengalah kepada Muawiyah dan menyerahkan tampuk pimpinan
kepadanya, di waktu kaum anshor dan pasukannya bersatu mendukungnya, padahal sangat mungkin
baginya untuk meneruskan peperangan itu.
Di sisi lain saudaranya Husain r.a. malah keluar dari pemerintahan Yazid, ketika sedikit pendukungnya,
padahal seharusnya ia bisa mengurungkan niat tersebut dan berdamai dengannya.
Dua keputusan itu, tentunya ada yang benar dan ada yang salah. Mengapa?? Karena seandainya
keputusan Hasan r.a. untuk mengalah, -di saat ia mampu meneruskan peperangan itu- benar, berarti
keluarnya Husein r.a. yang tanpa dukungan kekuatan, -di saat ia mampu untuk berdamai- itu salah.
Sebaliknya, apabila keluarnya Husein r.a. ketika sedang lemah itu benar, berarti tindakan Hasan r.a.
yang mengalah ketika sedang kuat itu salah..!
Fenomena ini, menjadikan syiah berada pada posisi yang mengambang, karena selama ini mereka
mengatakan, bahwa keputusan yang diambil keduanya itu benar. Dengan begitu, mereka telah
mengumpulkan dua hal yang sangat bertentangan dan tak dapat disatukan. Sungguh fenomena ini
benar-benar meluluhkan dasar-dasar keyakinan mereka.
Seandainya mereka mengatakan bahwa tindakan Hasan r.a. itu salah, berarti sama saja mengatakan
bahwa ke-imam-annya pudar, dan jika dikatakan ke-imam-annya pudar berarti sama saja membatalkan
ke-imamah-an dan ke-ma’shum-an ayahnya, mengapa?? Karena ayahnya telah mewasiatkan
kepemimpinan itu kepadanya, dan imam yang ma’shum tidak akan mewasiatkan kecuali kepada imam
yang ma’shum, sebagaimana anggapan mereka.
Sebaliknya, seandainya mereka mengatakan bahwa tindakan Husein r.a. itu salah, berarti sama saja
mengatakan bahwa ke-imam-an dan ke-ma’shum-annya pudar, padahal pudarnya ke-imam-an dan kema’shum-
annya itu berakibat pada pudarnya ke-imam-an dan ke-ma’shum-an seluruh anak dan
keturunannya, mengapa?? Karena pokok seluruh ke-imam-an mereka itu berasal darinya, dari dirinyalah
ke-imam-an itu bercabang-cabang. Dan jika sudah pudar pokoknya, berarti pudar pula apa yang
berasal darinya..!
(10) al-Kulainiy menyebutkan dalam kitabnya al-Kafi (1/239): Abi Bashiroh mengatakan: suatu
saat aku pernah menemui abu abdilloh a.s. Aku mengatakan kepadanya: “Diriku menjadi tebusan
untukmu! Sungguh aku ingin menanyakan sesuatu, dan tidak ada orang yang mendengar perkataanku
ini”. Ia mengatakan: Maka abu abdillah a.s. pun mengangkat tirai yang menutup antara dia dan rumah
sebelahnya, ia lalu memeriksa sekitarnya. Lalu ia mengatakan: “Wahai Abu Muhammad, tanyakan apa
saja yang ada dalam benakmu!”. Aku menjawab: “Diriku menjadi tebusan untukmu…” ia diam
sejenak, lalu mengatakan: “Sungguh kami memiliki Mushaf Fatimah. Tahukah mereka apa mushaf
fatimah itu?”. Ia mengatakan lagi: “Itu adalah mushaf yang di dalamnya berisi tiga kali lipatnya qur’an
kalian ini, demi Alloh tidak ada (dalam mushaf tersebut) satu huruf pun yang sama dengan qur’an
kalian ini”. Aku pun mengatakan: “Sungguh demi Alloh, ini benar-benar ilmu”. (Tapi) ia malah
menimpali: “Memang benar itu adalah ilmu, tapi itu belum seberapa!”.
Untuk mengkritisi kisah tersebut, maka kita tanyakan kepada mereka: Apakah Rosululloh -shollallohu
alaihi wasallam- dahulu tahu tentang mushaf fatimah itu?!
Seandainya beliau tidak mengetahuinya, bagaimana ahlul bait yang derajatnya dibawahnya bisa
mengetahuinya?!
Dan Seandainya beliau mengetahuinya, mengapa beliau menyembunyikannya dari umatnya?! Padahal
Alloh telah men-firman-kan: “Wahai Rosul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu.
Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-
Nya” (al-Maidah:67).
(11) Pada juz pertama kitab al-Kafi karangan al-Kulainiy, terdapat banyak nama yang
meriwayatkan hadits Rosul -shollallohu alaihi wasallam- untuk kaum syiah, mereka juga banyak
menukil perkataan ahlul bait, diantara banyak nama itu adalah:
Mufadh-dhol bin Umar, Ahmad bin Umar al-Halabiy, Umar bin Aban, Umar bin Udzainah, Umar bin
Abdul Aziz, Ibrohim bin Umar, Umar bin Handzolah, Musa bin Umar, Abbas bin Umar dst…
Coba anda perhatikan nama-nama tersebut, tidakkah anda melihat bahwa semuanya berkisar pada satu
nama yang sama, yakni nama Umar?!
Pertanyaannya: Mengapa Para Ahlul bait itu menamakan dirinya dengan nama Umar?!
(12) Alloh ta’ala berfirman: “Sampaikanlah kabar gembira kepada mereka yang bersabar (.) Yaitu
mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka mengatakan: “Inna lillah wa inna ilaihi rojiun”
(sesungguhnya kami milik Alloh dan kepada-Nyalah kami akan kembali). (.) Mereka itulah orang yang
memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhan-Nya, dan mereka itulah orang yang mendapat petunjuk”.
(al-Baqoroh 156-157)
Dalam kitab Nahjul Balaghoh juga disebutkan: Setelah wafatnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam-,
Ali r.a. berkata: “Andai saja engkau tidak melarang untuk bersedih yang berlebih (karena kematian),
tidak memerintahkan untuk bersabar, tentunya kami akan habiskan air mata ini”.[15]
Ia juga menyebutkan: bahwa Ali r.a. mengatakan: “Barangsiapa ketika dirundung musibah
memukulkan tangannya ke pahannya, maka sirnalah (pahala) amalnya”.[16]
Pengarang kitab Muntahal Aamal menyebutkan: Bahwa Husein r.a. ketika di Karbala, berpesan kepada
saudarinya Zainab r.a.: “Wahai saudariku, aku memohon kepadamu dengan nama Alloh, untuk
menghormati permohonanku ini, apabila nantinya aku dibunuh, maka janganlah engkau merobek-robek
saku bajumu karena kematianku, jangan pula engkau lukai wajahmu dengan kuku-kukumu, dan jangan
pula engkau meneriakkan hujatan dan cemoohan atas syahidnya aku!”.[17]
Abu Ja’far al-Qummiy menukil, bahwa Amirul Mukminin (Ali) r.a. mengatakan kepada para
sahabatnya: “Janganlah kalian berpakaian hitam, karena itu adalah pakaiannya Fir’aun!”.[18]
Di dalam kitab as-Shofi, menafsiri ayat (yang artinya): “…dan (apabila para wanita itu berbaiat
untuk) tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik” dikatakan: Sesungguhnya Nabi membaiat
para wanita itu, untuk tidak berpakaian hitam, tidak merobek-robek sakunya, dan tidak meneriakkan
hujatan (saat ada kematian).
Dalam kitab Furu’ul Kafi (5/527), karangan Kulainiy dikatakan: Bahwa Nabi -shollallohu alaihi
wasallam- berwasiat kepada Fatimah r.a.: “Jika aku nanti mati, maka janganlah kau lukai wajahmu,
jangan kau lepas rambutmu, jangan kau teriakkan hujatan, dan jangan pula meratapi kematianku!”.
Syaikhnya kaum syiah Muhammad bin Husain bin Babawaih al-Qummiy, -yang berjuluk as-
Shoduq (yang dipercaya)- mengatakan: Termasuk sabda-sabda Rosululloh -shollallohu alaihi
wasallam- yang belum pernah dikatakan oleh orang sebelumnya adalah: “Meratapi mayit adalah
termasuk perbuatan orang jahiliyyah”.[19]
Para ulama mereka, (diantaranya: al-Majlisiy, an-Nuriy, dan al-Brujardiy), meriwayatkan bahwa
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah bersabda: “Dua amalan yang terlaknat dan dibenci
Alloh: Menangis keras ketika musibah, dan suara ketika naghmah, yakni ratapan dan nyanyian”.[20]
Sekarang pertanyaannya adalah: Mengapa kaum syiah menyelisihi riwayat-riwayat di atas?! Lalu
siapa yang kita percaya, Rosul -shollallohu alaihi wasallam- dan Ahlul bait… atau para malaliy
(pemuka syiah)?!
(13) Apabila tathbir (melukai kepala ketika upacara di bulan Asyuro),[21] meratap, dan memukulmukul
dada itu fadhilah dan keutamaannya sangat besar,[22] lalu mengapa para malaliy (pemuka
syiah) tidak melakukannya??!
(14) apabila syiah beranggapan bahwa peristiwa ghodir khom itu dihadiri oleh ribuan sahabat, dan
semuanya mendengar wasiat beliau untuk menjadikan Ali sebagai kholifah langsung setelah beliau
wafat.
Pertanyaannya: Mengapa tidak ada satu pun dari ribuan sahabat itu yang protes untuk membela Ali
r.a.??!
Bahkan Ammar bin Yasir r.a., Miqdad bin Amr r.a. dan Salman al-Farisiy r.a. pun tidak
melakukannya??!
Mengapa tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan: “Wahai Abu Bakar, mengapa engkau
rampas kekhilafahan itu dari Ali, padahal engkau tahu wasiat Rosululloh -shollallohu alaihi
wasallam- di ghodirkhom itu?!
Sungguh itu merupakan kebohongan besar yang digembar-gemborkan oleh para malaliy (baca:
gembong syiah)
(15) Di akhir hayatnya, Rosul -shollallohu alaihi wasallam- meminta untuk menulis wasiat, yang
dengannya umatnya akan selamanya terjaga dari kesesatan setelah beliau wafat.
Pertanyaannya: Mengapa ketika itu Ali r.a. tidak mengatakan apa-apa??! Padahal kita tahu bahwa dia
adalah orang yang sangat dan sangat pemberani, tidak takut apapun selain Alloh.
Mengapa ia tidak mengingatkan Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- akan prihal
kekhilafahannya??! Bukankah ia tahu bahwa menyembunyikan kebenaran adalah setan bisu??!
(16) Bukankah syiah mengatakan, bahwa sebagian besar riwayat yang ada dalam kitab al-Kafi itu
lemah?! Mereka juga mengatakan bahwa: Kita (kaum syiah) tidak memiliki riwayat yang shohih
kecuali Alqur’an?!
Pertanyaannya: Lantas, mengapa mereka mengaku bahwa dalam kitab yang agung itu (al-Kafi) terdapat
tafsiran Tuhan untuk Alquran, padahal mereka mengakui sendiri banyak riwayat yang lemah di
dalamnya??!
(17) Penghambaan hanyalah khusus bagi Alloh, sebagaimana firmannya (yang artinya): “Hanya
kepada Alloh-lah kalian menghamba (menyembah)!” (az-Zumar:66)
Pertanyaannya: Mengapa kaum syiah menggunakan nama: Abdul Husain (hambanya Husain), Abdul
Ali (Hambanya Ali), Abduz Zahro (Hambanya Fatimah az-Zahro), Abdul Imam (Hambanya Imam Ali)
dll??!
Apakah nama Abdul Husain (Hamba Husain) bisa dimaknai dengan Khodimul Husain (Pelayan
Husain) padahal dia sudah mati syahid??! Apakah dia akan menyuguhkan kepadanya makanan dan
minuman, atau dia akan mengambilkan air wudhu ke makamnya, agar bisa dikatakan sebagai
pelayannya??!
(18) Ketika Ali r.a. memimpin sebagai kholifah, ia tidak menyelisihi para kholifah sebelumnya (Abu
Bakar r.a., Umar r.a. dan Utsman r.a.). Bahkan telah mutawatir pujian Ali r.a. yang mengatakan:
“Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya, adalah Abu Bakar dan Umar”.
Ia juga tidak mengeluarkan Qur’an yang berbeda dengan Qur’an mereka, tidak men-syariatkan kawin
mut’ah, tidak mewajibkan mut’ah kepada umat ketika berangkat haji, tidak mengumumkan ucapan
“hayya ala khoiril amal” ketika adzan, dan tidak pula ia membuang lafal “as-sholatu khoirum minan
naum” dalam adzan shubuh.
Pertanyaannya: Seandainya Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. itu kafir dan telah merampas kekhilafahan
-sebagaimana anggapan kalian-, mengapa Ali r.a. tidak menjelaskan hal itu kepada umat islam, ketika
kekuasaan berada di tangannya??! Bahkan sebaliknya ia malah memuji dan menyanjung keduanya!
Bukankah seharusnya kalian menirunya?!
Atau kalian akan mengatakan bahwa ia telah menghianati umat ini, karena tidak memberitahukan hal
itu kepada mereka??!
Sungguh Ali r.a. tidak akan melakukan apa yang mereka tuduhkan itu…
(19) Kaum syiah berkeyakinan bahwa tiga kholifah pertama itu kafir.
Pertanyaannya: Mengapa Alloh memberikan kemuliaan dan kekuatan kepada mereka?!
Mengapa di zaman mereka banyak negara ditaklukkan, Islam menjadi kuat dan disegani musuh.
Bahkan tidak ada dalam sejarah, dimana Alloh menguatkan Islam melebihi zaman pemerintahan
mereka!!
Apakah fakta ini sesuai dengan hukum Alloh, yang akan selalu menghinakan kekufuran dan
kemunafikan?!
Di sisi lain, kita dapati masanya al-Ma’shum, yang -sebagaimana kalian katakan- Alloh menjadikan
kekuasaannya rahmat bagi seluruh alam, malah terjadi perpecahan umat dan peperangan!! Hingga
keadaan itu menumbuhkan harapan kepada musuh-musuh Islam untuk menaklukkan umat islam.
Lantas, rahmat apa yang didapat oleh umat Islam pada masanya al-Ma’shum itu??! Tidakkah kalian
merenungkannya…?!
(20) Kaum syiah menganggap bahwa Mu’awiyah r.a. itu kafir, tapi di sisi lain kita dapati Hasan bin
Ali r.a. malah mengalah untuk menyerahkan kekholifahannya kepadanya, padahal ia adalah imam yang
ma’shum.
Hal ini melazimkan mereka untuk mengatakan: bahwa Hasan r.a. menyerahkan kekholifahan kepada
orang kafir, dan ini sangat bertentangan dengan ke-ma’shum-annya.
Atau akan mengatakan, bahwa Muawiyah r.a. adalah seorang muslim, dan ini bertentangan juga dengan
keyakinan dasar mereka.
Lalu apa yang akan mereka katakan…?!
(21) Apakah Rosul -shollallohu alaihi wasallam- pernah sujud kepada turbah husainiyyah (tanah
karbala, tempat terbunuhnya Husain r.a.), yang dibuat sujud oleh kaum syiah?!
Jika mereka mengatakan: “Pernah”, maka sungguh demi Tuhannya Ka’bah, itu kedustaan yang nyata.
Tapi jika mengatakan: “Tidak pernah”, maka kita katakan: apabila demikian, apakah jalan kalian itu
lebih lurus dari pada jalannya Rosul -shollallohu alaihi wasallam-?!
Meskipun kita tahu, riwayat-riwayat mereka mengatakan bahwa Jibril pernah datang kepada Rosul
-shollallohu alaihi wasallam- dengan membawa tanah dari karbala.
(22) Kaum syiah berkeyakinan bahwa sepeninggal Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, para sahabat
keluar dari Islam dan berbalik memusuhi beliau.
Pertanyaannya: Apakah para sahabat sebelum Rosul -shollallohu alaihi wasallam-wafat memeluk
syiah, kemudian setelah itu memeluk agama Ahlus Sunnah?! Atau mereka itu asalnya Ahlus Sunnah,
kemudian beralih ke syiah?!
(23) Kita semua tahu, bahwa Hasan r.a. adalah putra pasangan Ali r.a. dan Fatimah r.a., ia termasuk
imam yang ma’shum menurut keyakinan syiah, keadaannya sama dengan Husain r.a..
Pertanyannya: Mengapa pangkat imamah-nya Hasan r.a. terputus dan tidak turun kepada anakanaknya?!
sedangkan pangkat imamah-nya Husein r.a. terus turun-temurun kepada keturunannya??!
Bukankah kita tahu dua-duanya adalah dari bapak dan ibu yang sama?! Bukankah keduanya adalah
sayyidnya pemuda surga??!
Bahkan Hasan r.a. melebihi Husain r.a. dalam segi usia dan juga lebih dahulu memimpin!
Adakah jawaban yang memuaskan….??!
(24) Mengapa pada saat sakitnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam- yang terakhir, Ali r.a. tidak
pernah sekalipun menjadi imam memimpin sholatnya kaum muslimin??!
Seandainya ia adalah orang yang paling berhak memimpin sepeninggal beliau, seharusnya sekali-kali ia
pernah menjadi imam utama dalam sholat!!
Bukankah kepemimpinan dalam sholat itu merupakan cabang dari kepemimpinan dalam khilafah,
sebagaimana dipraktekkan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-??!
(25) Kalian mengatakan bahwa penyebab menghilangnya imam kalian yang ke-12 dari negeri
Sardab adalah ketakutan terhadap pemimpin yang dholim.
Pertanyannya: Mengapa ia sampai sekarang masih bersembunyi, padahal bahaya tersebut telah lama
hilang dengan berdirinya banyak negara syiah dalam sejarah, seperti: Negara Ubaidiyyin, Negara
Buwaihiyyin, Negara Shofawiyyin, dan yang sekarang masih kuat dan eksis adalah Negara Iran…??!
Mengapa ia tidak keluar sekarang??! Padahal kaum syiah sekarang tentunya mampu membelanya matimatian
dan melindunginya di negara mereka (Iran)??!
Ditambah lagi jumlah mereka yang jutaan dan mereka juga bersedia mengorbankan jiwanya kapan pun
diminta…!!
Sekali lagi mengapa ia tidak keluar sekarang??!
(26) Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menjadikan Abu Bakar as-Shiddiq r.a. sebagai rekan
hijrahnya dan mengusahakan agar ia tetap selamat… Di sisi lain beliau menjadikan Ali bin Abi Tholib
r.a. dalam posisi yang bisa mengancam hidupnya di atas ranjang beliau…
Pertanyaannya: Seandainya Ali r.a. itu imam dan kholifah yang diwasiatkan, maka apakah beliau akan
membahayakan hidup Ali r.a., di saat beliau mengusahakan agar Abu Bakar r.a. tetap selamat…??!
Padahal seandainya Abu Bakar r.a. yang mati, maka tentunya tidak akan membahayakan ke-imamahannya,
karena menurut kalian ia tidak ada hubungannya sama sekali dengan imamah…!
Siapakah yang lebih pantas hidupnya selamat, dan siapakah yang lebih pantas untuk menanggung
bahaya pembunuhan di atas ranjang maut itu…?!
Jika kalian mengatakan: “Ali r.a. mengetahui yang ghaib”, lalu keutamaan apa yang diraihnya dengan
tidur di ranjang beliau?!
(27) Takiyah tidak disyariatkan kecuali karena adanya rasa takut, sedangkan takut itu disebabkan
dua hal: (1) Takut akan keselamatan diri (2) Takut memberatkan diri, karena dianiaya, dihujat, dicerca,
dan dirusak kehormatannya.
Kita katakan: Adapun ketakutan yang pertama (takut mati), maka itu tidak ada dalam diri para imam.
Mengapa?? Karena dua hal:
(a) Karena kematian para imam itu -sebagaimana keyakinan syiah- adalah atas kehendak para imam
sendiri, jika mereka tidak menghendaki mati, mereka tidak akan mati.
(b) Karena para imam -sebagaimana keyakinan syiah-, itu tahu apa yang telah dan akan terjadi. Mereka
tahu kapan ajal menjemput, cara matinya dan waktu matinya dengan sangat detail… Jika keadaanya
demikian, seharusnya mereka tidak akan takut akan keselamatannya! Dan tidak ada gunanya mereka
bertakiyah, yakni berlaku munafik dalam agama dan menipu para awamnya kaum muslimin!!
Adapun ketakutan yang kedua (takut cobaan), tentunya mereka tahu bahwa hal tersebut adalah akibat
yang banyak dialami oleh para ulama, dan ahlul bait tentunya orang yang paling pantas untuk
mendapatkan keutamaan bersabar dalam cobaan itu, apalagi untuk membela agama kakek mereka
Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-.
Jika faktanya demikian, lalu untuk apa takiyah itu tetap diterapkan??!
(28) Kewajiban mengangkat imam yang ma’shum –menurut syiah- adalah untuk tujuan
menghilangkan kelaliman dan kejahatan dari seluruh penjuru dunia, dengan menjujung tinggi nilai
keadilan.
Pertanyaannya: Apakah kalian mengatakan bahwa di setiap kota dan desa, akan selalu ada orang
ma’shum yang akan terus memerangi kelaliman?!
Apabila kalian mengatakan: “Ya”. Maka itu merupakan pengingkaran yang jelas terhadap kenyataan
yang ada! Apakah kalian melihat ada orang yang ma’shum di daerah kafir yang dihuni oleh para
musyrikin dan ahlul kitab (yahudi nasrani)??!… Apakah di negeri syam ketika pemerintahan
Mu’awiyah juga ada orang yang ma’shum??!
Apabila kalian mengatakan: “Orang yang ma’shum hanya satu, tapi dia mempunyai banyak asisten di
seluruh penjuru kota dan desa”.
Maka kami jawab: “Dia memiliki asisten di seluruh kota dan desa, yang ada di muka bumi ini, atau
sebagiannya saja?”
Jika jawaban kalian “Di seluruh kota dan desa, yang ada di muka bumi ini”, maka kami katakan: Ini
juga pengingkaran yang jelas, seperti jawaban kami yang pertama.
Dan jika jawaban kalian “Asisten itu hanya ada di sebagian kota atau desa”, maka kami katakan:
seluruh kota dan desa di bumi ini, mempunyai kebutuhan yang sama terhadap imam yang ma’shum,
lalu mengapa kalian beda-bedakan??! …. (bersambung)
[1] Kaum syi’ah sendiri mengakui terjadinya pernikahan ini, diantara menetapkannya adalah: al-
Kulainy dalam al-Kafi fil Furu’ (6/115), at-Thusiy dalam Tahdzibul Ahkam (8/148 dan 2/380), juga
dalam Alistibshor (3/356), al-Mazandaroniy dalam Manaqib Aalu Abi Tholib (3/162), Murtadho Ilmil
Huda dalam asy-Syafi (111), Ibnu Abil Hadid dalam Syarhu Nahjil Balaghoh (3/124), al-Ardubailiy
dalam Hadiqotusy Syi’ah (277), asy-Syusytariy dalam Majalisul Mukminin (76, 82), dan al-Majlisiy
dalam Biharul Anwar (621). Untuk tambahan silahkan untuk merujuk kitab Zawaju Umar bin Khottob
min Ummi Kultsum binti Ali bin Abi Tholib -haqiqotun waftiro’-, karya Abu Mu’adz al-Isma’iliy.
[2] Lihat keterangan ini dalam Kasyful Ghummah fi Ma’rifatil Aimmah, karya Ali al-Irbiliy (2/66)
[3] Nahjul Balaghoh (hal. 136, 366-367, dan 322)
[4] Keterangan lebih luas tentang masalah perkawinan para sahabat dengan keluarga nabi (ahlul bait),
dapat dirujuk ke kitab ad-Durrul Mantsur min Turotsi Ahlil Bait, karangan al-Faqih al-Imamiy
Alauddin al-Mudarris.
[5] al-Irsyad karya al-Mufid (354), Maqotilut tholibiyyin karya Abul Faroj al-Ashbahaniy as-Syi’iy
(91), dan Tarikhul Ya’qubiy as-Syi’iy (2/213).
[6] At-Tanbih wal Isyrof karya Mas’udi as-Syi’ie (263)
[7] Maqotilut Tholibiyyin karya Abul Faroj al-Ashbahaniy as-Syi’ie (188)
[8] Kasyful Ghummah karya Arbiliy (2/317)
[9] Maqotilut Tholibiyyin karya Abul Faroj al-Ashbahaniy as-Syi’ie (561-562)
[10] Al-Irsyad karangan al-Mufid (354), Mu’jamu Rijalil Hadits karangan al-Khu’iy (1351), Maqotilut
Tholibiyyin karangan Abul Faroj al-Ashbahaniy (84), Umdatut Tholib (361), Jala’ul Uyun (570).
[11] Al-Irsyad karangan al-Mufid (194), Muntahal Amal (1/240), Umdatut Tholib (81), Jala’ul Uyun
karangan al-Majlisiy (582), Mu’jamu Rijalil Hadits karangan al-Khu’iy (13/29), Kasyful Ghummah
(2/102)
[12] Keterangan lebih detail bisa anda rujuk ke kitab Maqotilut Tholibiyyin dan kitab-kitab syiah
imamiyyah lainnya, seperti kitab ad-Durrul Mantsur, karangan Ala’uddin al-Mudarris (hal. 56-69)
[13] Al-Irsyad (302), al-Fushulul Muhimmah (242), Kasyful Ghummah karya Arbiliy (3/26)
[14] Al-Irsyad karya al-Mufid (2/312)
[15] Nahjul Balaghoh (576), Mustadrokul Wasa’il (2/445)
[16] Al-Khishol karangan as-Shoduq (621) dan Wasa’ilus Syiah (3/270)
[17] Muntahal Amal (1/248)
[18] Man la yahdhuruhul faqih, karangan Abu Ja’far Muhammad bin Babawaih al-Qummiy (1/232),
Wasa’ilus Syiah (2/916)
[19] Diriwayatkan oleh as-Shoduq dalam kitab Man la Yahdhuruhul Faqih (4/271-272), juga
diriwayatkan oleh al-Hurrul Amiliy dalam kitab Wasailus Syiah karangan (2/915), Yusuf al-Bahrony
dalam al-Hadaiqun Nadhiroh (4/149), Hajj Husain al-Brujardiy dalam Jami’ Ahaditsus Syi’ah (3/488),
Muhammad Baqir al-Majlisiy dalam Biharul Anwar 82/103)
[20] Dikeluarkan oleh al-Majlisiy dalam Biharul Anwar (82/103), Mustadrokul Wasa’il (1/143-144),
Jami’ Ahaditsus Syi’ah (3/488), Man la Yahdhuruhul Faqih (2/271).
[21] Shirotun Najah karangan at-Tibriziy (1/432)
[22] Irsyadus Sa’il (184)
Bismillah, Walhamdulillah, wash sholatu was salamu ala rosulillah, wa ala aalihi washohbihi wa man
wa lah…
Berikut ini, kami paparkan banyak pertanyaan kritis kepada KAUM SYIAH, atau siapa saja yang
masih toleran kepada ajaran yang telah disepakati oleh Ulama Ahlus Sunnah sebagai ajaran sesat itu…
Tidak lain tujuan kami, ingin mengajak mereka agar lebih kritis dalam berwacana… Menerima
kebenaran walaupun banyak dicerca… Karena bagaimanapun kebenaran itu lebih berharga…
Tidak lupa kami ingatkan, bahwa tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya… (SUNNISYIAH…
dlm diskusi akidah…)
(29) Kalau upacara memukul dada dan kepala itu memiliki keutamaan, mengapa Nabi -shollallohu
alaihi wasallam- tidak melakukannya saat putranya Ibrohim meninggal?! Mengapa Ali r.a. tidak
melakukannya saat istrinya Fatimah r.a. meninggal?!
(30) Kaum syiah selalu berdalil dengan hadits kisa’ (selimut) untuk menetapkan pangkat imam
kepada 12 orang imamnya.
Pertanyaannya: Fatimah r.a. adalah salah satu orang yang jelas-jelas disebut dalam hadits itu, lalu
mengapa dia tidak dimasukkan dalam daftar orang yang berpangkat imam??!
(31) Mengapa ketika Imam Mahdi mereka muncul, membuat perjanjian damai dengan kaum Yahudi
dan Nasrani (Kristen), tapi di sisi lain ia memerangi Bangsa Arab dan Kabilah Quraisy??!
Bukankah Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- itu dari Bangsa Arab dan dari Kabilah
Quraisy??! Bukankah para imam mereka juga demikian??!.
(32) Mengapa Abu Bakar r.a. memerangi mereka yang murtad, dan mengatakan: “Andai saja
mereka tidak menunaikan kewajiban zakat, yang mereka tunaiakan pada masa Rosululloh -shollallohu
alaihi wasallam-, walaupun hanya senilai tali pelana, aku tetap akan memerangi mereka”.
Tapi di sisi lain kaum syiah mengatakan, bahwa Ali r.a. tidak mengeluarkan mushaf yang ditulisnya
dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, hanya karena takut akan menyebabkan banyak orang yang
murtad!! Padahal ia seorang kholifah, -yang menurut kaum syiah- memiliki sifat-sifat dan pertolongan
ilahi. Pun begitu, ia tetap menolak untuk mengeluarkan mushaf-nya, karena takut banyak orang yang
murtad karenanya… dan merelakan mereka berada dalam kesesatan…
Sedangkan Abu Bakar r.a., bersikeras memerangi mereka yang murtad karena tidak menunaikan zakat,
walaupun hanya senilai sebuah tali pelana!!
Mungkinkah hal ini ada dalam kehidupan nyata, atau itu hanya ada dalam jalan pikiran mereka??!
(33) Ahlus Sunnah dan Kaum syiah dengan seluruh sektenya, sepakat bahwa Ali bin Abi Tholib r.a.
adalah orang yang sangat dan sangat pemberani, ia sedikit pun tidak takut dalam membela agama
Alloh. Dan jiwa pemberaninya itu tidak pernah pupus dari awal hingga gugur sebagai syahid di tangan
Ibnu Muljim.
Syiah juga terang-terangan mendakwa, bahwa Ali bin Abi Tholib r.a. adalah penerima wasiat dari Nabi
-shollallohu alaihi wasallam-, untuk menjadi pengganti beliau langsung setelah beliau wafat.
Pertanyaannya: Apakah jiwa pemberani Ali r.a. itu pupus, sepeninggal Nabi -shollallohu alaihi
wasallam-, sehingga ia harus membaiat Abu Bakar as-Shiddiq r.a.?! Kemudian membaiat Umar bin
khottob r.a.?! Kemudian membaiat Utsman bin Affan r.a.?!
Apakah ia tidak mampu untuk naik ke mimbar Nabi -shollallohu alaihi wasallam- –walaupun hanya
sekali- di masa tiga kholifah tersebut, untuk mengumumkan bahwa kekhilafahannya telah dirampas?!
Atau mengatakan bahwa dialah kholifah sesungguhnya, karena dia-lah satu-satunya orang yang
menerima wasiat tersebut?!
Mengapa ia tidak melakukan hal itu dan menuntut haknya, padahal kita tahu betapa dia sangat
pemberani dan sangat banyak pembelanya..??!
(34) Apa yang diistilahkan dengan Hadits Kisa’,[1] hanyalah menceritakan empat orang[2] dari
keluarga Ali r.a. untuk dibersihkan dari dosa.
Pertanyaannya: Lantas, mana dalilnya bahwa para imam yang lain juga dibersihkan dari dosa, apalagi
dikatakan sebagai seorang yang ma’shum??!
(35) Masjid Aqsho berhasil dibebaskan pada masa Umar bin Khottob r.a., kemudian dibebaskan
yang kedua kali pada masa kepemimpinan sholahuddin al-Ayyubi yang notabene adalah Ahlus Sunnah.
Pertanyaannya: Keberhasilan apa yang diraih syiah dalam sejarah??! Pernahkah mereka memperluas
daerah kekuasaan Islam walaupun hanya sejengkal??! Atau pernahkah mereka menghalau musuh yang
menyerang kekuatan Islam??!
(36) Kaum syiah menganggap bahwa Umar r.a. itu membenci Ali r.a.. Tapi di sisi lain kita dapati,
ketika Umar r.a. keluar untuk menerima kunci kota Baitul Maqdis –sebagai tanda ia kemenangannya-,
ia memilih Ali r.a. sebagai pengganti dirinya di Kota Madinah??! Dan dalam posisi seperti itu, Ali-lah
r.a. yang akan menjadi kholifah, jika terjadi musibah pada diri Umar r.a.??! Apakah itu yang kalian
katakan sebagaia suatu kebencian??!
(37) Ulama syiah mengatakan, bahwa anggota badan untuk sujud dalam sholat ada delapan (dahi,
hidung, dua tangan, dua lutut, dan dua kaki), dan semua anggota ini harus menyentuh tanah ketika
sujud.[3]
Mereka juga menyatakan wajibnya sujud ke benda yang tidak dimakan dan tidak dipakai, oleh karena
itulah mereka meletakkan Turbah (serpihan tanah karbala) tepat dibawah dahi ketika sujud.[4]
Pertanyaannya: Mengapa mereka hanya meletakkan turbah-nya dibawah dahi??! Mengapa tidak
meletakkannya pada seluruh anggota badan yang digunakan untuk sujud??!
(38) Kaum syiah beranggapan, bahwa apabila Imam Mahdi mereka muncul, maka ia akan
menerapkan syariatnya Nabi Dawud!
Pertanyaannya: Lalu di-kemana-kan syariat Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- yang menjadi
penghapus syariat sebelumnya??!
(39) Kaum syiah berkeyakinan, bahwa para imam mereka ketika dalam kandungan, posisinya di
samping badan (bukan ditengah), dan dilahirkan dari paha kanan[5] (bukan dari rahim).
Pertanyaannya: Bukankah Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- itu nabi dan manusia yang paling
mulia?! Tapi meskipun begitu, beliau tetap dikandung di perut ibunya dan dilahirkan juga dari rahim
ibunya, sebagaimana manusia biasa…
(40) Abdulloh bin Ja’far as-Shodiq adalah saudara kandung Ismail bin Ja’far as-Shodiq. Keduanya
adalah putra dari Fatimah binti Husain bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Tholib r.a. Jadi mereka
berdua adalah sayyid dari keturunan Husain r.a.
Pertanyaannya: Mengapa sayyid Abdulloh bin Ja’far tidak menjadi Imam, setelah meninggalnya
saudara kandungnya sendiri??!
(41) al-Kulainiy meriwayatkan dalam kitabnya al-Kafi: …dari Abu Abdillah: “Bahwa Rosululloh
-shollallohu alaihi wasallam- dulu membenci warna hitam kecuali pada tiga hal: Khuf (selop), Imamah
(sorban) dan kisa’ (selimut).[6]
Al-Hurrul Amili meriwayatkan dalam kitabnya al-Wasa’il: bahwa Amirul Mukminin Ali r.a.
mengatakan kapada para sahabatnya: “Janganlah kalian berpakaian hitam! karena sesungguhnya itu
adalah pakaiannya Fir’aun”.[7]
Dalam kitab Uyunul Akhbar (1/26): …dari Ali bin Abi Tholib r.a., dari Rosul -shollallohu alaihi
wasallam-: “Bahwa sesungguhnya hitam itu warna pakaian musuh”. Dan masih banyak lagi riwayatriwayat
dalam kitab syiah yang senada dengan ini.
Pertanyaannya: Dengan banyaknya riwayat yang mengecam warna hitam pada pakaian, lantas mengapa
kaum syiah tetap memakainya, bahkan mereka memuliakannya dan menjadikannya sebagai pakaiannya
para sayyid mereka??!.
(42) Seandainya ada orang yang ingin menganut syiah, kelompok mana yang ia harus pilih dari
sekian banyak sempalan syiah??! Ada yang Imamiyah, Ismailiyah, Nashiriyah, Zaidiyah, druziyah…
dst, padahal mereka semua mengaku sebagai ahlul bait (keluarga nabi), mengakui akidah imamah, dan
semuanya memusuhi para sahabat nabi??! Bahkan mereka semua juga mengaku, bahwa pada kelompok
merekalah pokok ajaran agama yang benar…??!
(43) Kaum syiah beranggapan, bahwa diantara syarat menjadi imam: harus mukallaf (yakni: berakal
dan sudah baligh), tapi di sisi lain mereka mengatakan, bahwa imam mereka yang menghilang
(Muhammad al-Askariy) telah meraih pangkat imam dalam usia lima atau tiga tahun.
Pertanyaannya: Mengapa syarat itu tidak diterapkan juga pada imam terakhir ini??!
(44) Banyak ulama syiah, -khususnya mereka yang hidup di Iran- tidak menguasai bahasa arab, lalu
bagaimana mereka bisa menggali hukum dari Alqur’an dan Hadits??!
Bukankah pengetahuan berbahasa arab adalah salah satu syarat mutlak untuk menjadi seorang yang
alim ajaran Islam??!
(45) Kaum syiah berkeyakinan bahwa mayoritas sahabat Nabi -shollallohu alaihi wasallam- adalah
kafir dan munafik, kecuali hanya sedikit sekali dari mereka. Jika memang demikian, mengapa kaum
mayoritas yang kafir itu tidak menyerang kaum minoritas yang bersama Nabi -shollallohu alaihi
wasallam-??!
Jika mereka mengatakan: bahwa para sahabat itu murtad setelah Nabi -shollallohu alaihi wasallamwafat
kecuali 7 orang. Mengapa kaum mayoritas yang kafir itu tidak menyerang kaum minoritas yang
hanya berjumlah tujuh orang saja??! Mengapa mereka tidak mengembalikan agama nenek moyang
mereka??!
(46) Apakah rasional, jika ternyata Nabi -shollallohu alaihi wasallam- gagal dalam memilih para
sahabatnya, sedangkan si khomaini saja bisa berhasil dalam memilih para anteknya??!
(47) Syaikh-nya kaum syiah, Abu Ja’far Muhammad bin Hasan at-Thusiy mengatakan dalam
mukadimah kitabnya Tahdzibul Ahkam (1/45) (salah satu dari 4 kitab utama syiah): “Sebagian teman
ada yang mengingatkan aku, tentang hadits-haditsnya sahabat kami (penganut syiah) yang terdapat
banyak perselisihan, perbedaan, pertentangan, dan kontradiksi di dalamnya. Bahkan hampir-hampir
tidak ada riwayat, kecuali ada riwayat lain yang menentangnya. Begitu pula hampir tidak ada hadits,
kecuali ada hadits lain yang menyelisihinya. Sehingga musuh-musuh kami menjadikan hal ini sebagai
senjata ampuh untuk mencemarkan madzhab (syiah) kami”
Sayid Daldar Ali al-Lakahnawiy, seorang ulama syiah dalam kitabnya Asasul Ushul (hal. 51)
mengatakan: “Sesungguhnya hadits-hadits yang datang dari para imam, itu sangat kontradiktif.
Hampir-hampir tidak ada satu hadits pun kecuali ada hadits lain yang menafikannya, begitu pula tidak
ada satu riwayat pun kecuali ada riwayat lain yang menentangnya, sehingga hal tersebut menjadi sebab
keluarnya sebagian orang (syiah) yang kurang ilmunya….”
Husain bin Syihabuddin al-Karkiy, seorang syaikh dan ulama syiah ini mengatakan dalam kitabnya
Hidayatul Abror ila Thoriqil A’immatil Athar (164): “Itulah tujuan yang disebutkannya di awal
kitabnya at-Tahdzib, bahwa ia menulis kitab tersebut adalah untuk menyelaraskan pertentangan yang
ada dalam riwayat-riwayat kami, setelah ia dikabari ada sebagian penganut syiah yang keluar gara-gara
banyaknya pertentangan yang ada”
Kita katakan: Para ulama syiah telah mengakui banyaknya pertentangan dalam madzhab mereka,[8]
padahal Alloh telah menerangkan kepada kita tentang ciri-ciri kebatilan, yakni dalam firman-Nya (an-
Nisa:82): “Sekiranya itu bukan dari Alloh, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan
di dalamnya”. Seandainya syiah itu ajaran yang benar, tentunya tidak ada -atau paling tidak, sangat
sedikit- pertentangan di dalamnya…!!
(48) Syiah mengatakan, bahwa menangis atas kematian Husain r.a. hukumnya mustahab (sunat).
Pertanyaannya: Apakah hukum tersebut berdasarkan dalil atau hanya berdasar hawa nafsu saja?!
Apabila berdasarkan dalil, lalu mana dalilnya?! Dan Mengapa tidak ada satupun dari imam-imam ahlul
bait -yang kalian ikuti- melakukan hal itu?!
(49) Syiah berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Tholib r.a. itu lebih mulia dari anaknya yang bernama
Husain r.a.
Pertanyaannya: Jika demikian adanya, mengapa kalian tidak menangisinya pada peringatan hari
wafatnya Ali r.a., sebagaimana kalian menangisi anaknya??!
Bahkan, bukankah Nabi -shollallohu alaihi wasallam- lebih mulia dari keduanya?! Mengapa kalian
tidak menangisi beliau, sebagaimana tangisan kalian kepada mereka berdua??!
(50) Dalam akidah syiah, meyakini kekhilafahan Ali r.a. dan keturunannya itu adalah rukun yang
sangat agung, iman seseorang tidak akan sah kecuali dengannya. Barangsiapa tidak meyakininya, maka
ia telah kafir dan harus masuk jahanam, meskipun ia bersaksi dengan dua syahadat, mendirikan sholat,
menunaikan zakat, dan berangkat haji ke baitulloh yang suci.
Pertanyaannya: Mengapa Alqur’an tidak menyebutkan rukun iman yang agung ini?! Padahal Alqur’an
banyak menyebutkan rukun dan kewajiban yang kelasnya dibawahnya, seperti sholat, zakat, puasa,
haji. Bahkan Alqur’an jelas-jelas menyebutkan beberapa perkara yang mubah, seperti berburu… dll.
Lalu dari mana datangnya rukun yang paling agung ini??!
(51) Seandainya masyarakat sahabat -sebagaimana dituduhkan oleh syiah- adalah masyarakat yang
saling benci, saling hasad, saling berlomba merebut tampuk khilafah, dan masyarakat yang tiada lagi
iman dalam hati mereka kecuali hanya segelintir dari mereka, tentunya kita tidak akan dapati Islam
berhasil menaklukkan banyak negera kuat, dan tersebar luas pada zaman sahabat.
(52) Mengapa banyak kaum syiah yang meninggalkan sholat jum’at, yang jelas-jelas diperintahkan
Alloh dalam firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan
sholat pada hari jum’at, maka segeralah kamu mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual-beli”??! (surat
al-Jum’ah:9)
Jika mereka jawab: “Kami meninggalkannya sampai munculnya Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu”.
Kita katakan: “Apakah tindakan menunggu tersebut, membolehkan kita meninggalkan perintah yang
sangat agung ini?! Sehingga ratusan ribu orang atau bahkan lebih telah mati, sebelum mereka
menunaikan ibadah yang sangat agung ini, hanya karena udzur mentah yang berbau setan ini!!”.
(53) Kaum syiah berkeyakinan bahwa Qur’an yang ada sekarang, banyak ayatnya telah dibuang dan
dirubah oleh Abu Bakar r.a. dan Umar r.a., terutama ayat yang menurut anggapan mereka jelas-jelas
menyatakan kekhilafahan Ali r.a.
Pertanyaannya: Seandaianya tuduhan mereka itu benar, mengapa ketika tampuk khilafah berada di
tangan Ali r.a., ia tidak lantas bergerak untuk menjelaskan hal itu kepada umat??! Atau paling tidak
mengembalikan ayat-ayat tersebut sebagaimana dulu diturunkan??!
Kita semua tidak mendapati hal itu dilakukan oleh Ali r.a. ketika memegang khilafah, Alqur’an pada
masanya masih seperti Alqu’an pada masa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan masa-masa kholifah
sebelumnya.
Karena Alqur’an itu akan terus dijaga oleh Alloh, sebagaimana firman-Nya: “Sungguh kami telah
turunkan Alqur’an dan kami juga yang akan menjaganya”. Tidakkah syiah meyakini ayat ini??!
(54) Kitab-kitab syiah banyak meriwayatkan dari Ja’far as-Shodiq, bahwa ia pernah mengatakan
kepada seorang perempuan yang bertanya tentang Abu Bakar r.a. dan Umar r.a.: “Apakah aku boleh
mengakui kekhilafahan keduanya?”. Ia menjawab: “Akuilah kekhilafahan keduanya!”. Perempuan itu
bertanya lagi: “Berarti jika aku nanti menemui Tuhanku, aku akan mengatakan: bahwa engkau
menyuruhku untuk mengakui kekhilafahan keduanya?!”. Ia pun menjawab: “Ya”.[9]
Kitab-kitab mereka juga meriwayatkan bahwa, pernah salah seorang sahabatnya al-Baqir, heran ketika
mendengarnya menjuluki Abu Bakar r.a. dengan julukan as-Shiddiq, ia bertanya: “Kamu menjulukinya
as-Shiddiq?!”. al-Baqir pun menjawab: “Ya, memang benar Abu Bakar itu as-Shiddiq, dan barangsiapa
tidak menjulukinya as-Shiddiq (sangat pemercaya), maka Alloh tidak akan mempercayai perkataannya
di akhirat nanti”.[10]
Pertanyaannya: Lantas, apa pendapat syiah tentang Abu Bakar as-Shiddiq r.a.??! …… (bersambung)
[1] Inti cerita hadits kisa’: Suatu ketika Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah keluar ke rumah
Ummu Salamah, dengan melingkupkan selimut hitamnya, lalu datanglah Hasan, lalu Husain, lalu
Fatimah, lalu Ali. Beliau memasukkan semuanya ke dalam selimutnya itu, kemudian membaca ayat:
“Sesungguhnya Alloh hendak menghilangkan dosa dari kalian -wahai ahlul bait- dan membersihkan
kalian sebersih-bersihnya”.(surat al-Ahzab:33) (HR. Ahmad:25969, Muslim:2424, at-Tirmidzy:3787)
[2] Yakni Ali, Fatimah, Hasan dan Husain
[3] Wasa’ilus Syiah karangan al-Hurrul Amiliy (3/598)
[4] Al-Jami’ lis Syaroi’ (70)
[5] Itsbatul Washiyyah karangan al-Mas’udiy (196)
[6] Furu’ul Kafi karangan al-Kulainiy (6/449), Wasa’ilus Syi’ah (3/278)
[7] Wasailus Syi’ah (3/279)
[8] Lihat Ushulu Madzhabis Syi’ah al-Imamiyyah al-Isnay Asyariyyah, karangan al-Qoffariy (1/418)
[9] Roudhotul Kafi (8/101)
[10] Kasyful Ghummah (2/360)
Alhamdulillah, artikel tentang syiah ini bisa kami lanjutkan lagi… semoga dapat menjawab banyak
keganjilan yang terdapat dalam ajaran syiah yang dewasa ini banyak menyebar hingga di sekeliling
kita… jangan lupa saran dan kritik anda sangat kami nantikan… selamat membaca…
(55) Abul Faroj al-Ashbahaniy dalam kitabnya Maqotilut Tholibiyyin (88, 142, 188), al-Arbiliy
dalam kitabnya Kasyful Ghummah (2/66), dan al-Majlisiy dalam kitabnya Jala’ul Uyun (582), mereka
telah menyebutkan bahwa: Abu bakar bin Ali bin Abi Tholib r.a. adalah diantara orang yang terbunuh
di Karbala bersama saudaranya Husain r.a. Terbunuh juga waktu itu, anaknya Husain yang namanya
Abu Bakar. Terbunuh pula Muhammad al-Ashghor yang mempunyai kun-yah Abu Bakar.
Pertanyaannya: Mengapa nama-nama itu disembunyikan oleh syiah??! Mengapa mereka hanya
menggembar-gemborkan nama Husain r.a. dalam peristiwa itu??!
Sebabnya adalah karena saudara dan anaknya Husain r.a., keduanya bernama Abu Bakar!! Ulama syiah
tidak ingin fakta ini diketahui oleh pengikut mereka dan kaum muslimin. Mengapa?? Karena hal itu
akan menyingkap kebohongan mereka ketika menuduhkan adanya permusuhan antara ahlul bait
dengan para pemuka sahabat, terutama Abu Bakar r.a.
Karena seandainya -sebagaimana keyakinan syiah- Abu Bakar r.a. itu telah murtad, kafir, dan
merampas haknya Ali r.a., tentunya tidak mungkin banyak ahlul bait yang memiliki nama Abu
Bakar??!
Adanya fakta tentang banyaknya nama ahlul bait yang sama dengan nama Abu Bakar, adalah bukti
kecintaan mereka terhadap Abu Bakar as-Shiddiq r.a.!!
Lalu mengapa kaum syiah tidak mengikuti Ali r.a. dan Husein r.a. untuk menamai anak mereka dengan
nama Abu Bakar??!
(56) Di masa Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, banyak sahabat yang hanya menemui beliau sekali
dalam hidupnya, kemudian mereka kembali ke tempat tinggalnya. Tak diragukan lagi, tentunya mereka
belum mendengar tentang kekhilafahan Ali bin Abi Tholib r.a. dan keturunannya.
Pertanyaannya: Apakah orang tersebut Islamnya kurang??!
Jika kalian mengatakan: “Ya”, maka kami jawab: “Seandainya hal itu benar, tentunya Nabi -shollallohu
alaihi wasallam- adalah orang yang paling wajib membenarkan Islamnya, dengan menerangkan
kekhilafahan Ali r.a. kepada mereka. Tapi faktanya beliau tidak melakukan hal itu!!
(57) Di dalam kitab Nahjul Balaghoh -kitab yang diagungkan oleh syiah- disebutkan: Diantara surat
Ali bin Abi Tholib r.a. kepada Muawiyah itu berbunyi:
“Sesungguhnya aku telah dibai’at oleh orang-orang yang membai’at Abu Bakar, Umar dan Utsman,
sebagaimana mereka (para sahabat) membai’at mereka (tiga kholifah sebelumnya). Maka tidak ada
pilihan lagi bagi yang hadir (untuk menolakku), dan yang tidak hadir (juga) tidak boleh menolaknya.
Adapun syuro, itu hanyalah haknya kaum Muhajirin dan Anshor, maka apabila mereka sudah sepakat
menyebut satu orang sebagai imam, maka berarti itu merupakan bentuk keridhoan Alloh kepada imam
tersebut.
Kemudian apabila ada orang yang keluar dari perintahnya dengan hujatan atau bid’ah, maka mereka
harus diperintah untuk kembali ke jalan semula, dan apabila para pembangkang itu tidak patuh, maka
mereka (pembelaku) akan memeranginya, dan siapapun yang berada diluar jalan kaum mukminin, dan
Alloh akan membiarkannya dalam kesesatan.
Wahai Mu’awiyah, sungguh jika engkau merenung dengan pikiranmu tanpa hawa nafsumu, pastinya
engkau akan mendapatiku orang yang paling bersih dari darah Utsman, engkau juga akan mendapati
bahwa aku jauh dari tuduhan itu, kecuali jika engkau menuduhku, maka tuduhlah aku sesuai
kehendakmu. Wassalam”.[1]
Dalam surat ini, terdapat bukti-bukti berikut ini:
(a) Bahwa imam itu dipilih oleh Kaum Muhajirin dan Anshor, padahal menurut syiah mereka sama
sekali tidak ada hubungannya dengan imamah.
(b) Bahwa cara pembai’atan Ali r.a. sama dengan cara pembai’atan Abu Bakar r.a, Umar r.a. dan
Utsman r.a.
(c) Bahwa asy-Syuro hanyalah hak Kaum Muhajirin dan Anshor. Dan ini menunjukkan keutamaan dan
derajat mereka yang tinggi di sisi Alloh, berbeda dengan pandangan syiah terhadap mereka.
(d) Bahwa kerelaan dan pembai’atan Kaum Muhajirin dan Anshor terhadap imam mereka, adalah
termasuk bentuk keridhoan Alloh kepadanya. Jadi di sana tidak ada perampasan hak khilafah
sebagaimana dituduhkan oleh syiah, karena bagaimana mungkin Alloh ridho dengan hal itu.
(e) Kaum syiah selalu melaknat Muawiyah r.a, padahal kita dapati dalam surat-suratnya, Ali r.a. tidak
pernah melaknatnya.
(58) Kaum syiah tidak akan mampu mengingkari bahwa Abu Bakar r.a, Umar r.a. dan Utsman r.a.
adalah termasuk orang yang membai’at Rosul -shollallohu alaihi wasallam- dalam peristiwa bai’atur
ridhwan, yang dalam firman-Nya: Alloh telah meridhoi mereka dan mengetahui isi hati mereka.[2]
Pertanyaan: Apakah pantas kaum syiah mengingkari dan menyelisihi kabar Alloh ini ??! Seakan-akan
mereka mengatakan: “Wahai Tuhanku, engkau tidak mengetahui mereka sebagaimana pengetahuan
kami tentang mereka!”. -kita memohon perlindungan kepada Alloh dari kesesatan ini-.
(59) Kita melihat, kaum syiah mendekatkan diri kepada Alloh dengan menghujat para sahabat,
terutama kepada tiga kholifah pertama: Abu Bakar r.a, Umar r.a. dan Utsman r.a. Di sisi lain kita tidak
melihat satu pun Kaum Sunni yang menghujat ahlul bait!! Sebaliknya mereka malah mendekatkan diri
dengan mencintai mereka. Sungguh inilah fakta yang tidak bisa mereka pungkiri, walaupun dengan
kedustaan.
(60) Ulama syiah berulang-ulang menyebut dalam kitab mereka tentang peristiwa matinya Husein
r.a, bahwa ia mati dalam keadaan kehausan dalam pertempuran. Oleh karena itulah, kalian akan lihat
mereka menulis di tempat tampungan air minum kalimat: “Minumlah air dengan mengingat hausnya
Husain r.a.!”.
Pertanyaannya: Seandainya para imam itu -sebagaimana keyakinan syiah- mengetahui hal gaib yang
akan datang, bukankah seharusnya Husain r.a. tahu ia akan butuh air saat perang dan akan mati karena
kehausan??! Bukankah seharusnya ia bisa bersiap-siap mengumpulkan banyak air agar tidak kehausan
dalam perang??!
(61) Agama Islam ini telah sempurna di masa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- masih hidup,
sebagaimana firman-Nya: “Pada hari ini aku lengkapkan bagimu agamamu”. Sedangkan syiah baru
muncul setelah beliau wafat, bukankah ini menunjukkan bahwa syiah bukan bagian dari Islam??!
(62) Alloh telah menurunkan ayat tentang bebasnya Aisyah r.a., dalam peristiwa tuduhan
perselingkuhan. Alloh juga membersihkannya dari keburukan itu. Tapi di sisi lain, kita dapati sebagian
kaum syiah masih saja terus menuduhnya dengan pengkhianatan!![3]
Sungguh tuduhan mereka itu sama saja menghujat Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, bahkan sama
saja menghujat Alloh!! Mengapa?? karena Alloh mengetahui semua yang gaib tapi tidak
memberitahukan kepada Nabi-Nya bahwa istrinya telah berkhianat!! -sungguh tidak mungkin Aisyah
berkhianat-.
Sungguh, sekte yang paling sesat adalah mereka yang berani menghujat istrinya orang terbaik
(Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-), dan ibundanya kaum mukminin…!!!
(63) Jika benar, Ali r.a. dan kedua anaknya memiliki banyak kelebihan, sebagaimana disebutkan
dalam kitab-kitab syiah, bahkan –sebagaimana keyakinan syiah- mereka sekarang bisa memberikan
manfaat kepada orang lain, meskipun sudah mati.
Pertanyaannya: Mengapa mereka tidak bisa memberikan manfaat kepada diri sendiri, bahkan ketika
mereka masih hidup??!
Sebagaimana kita ketahui, di sana ada kelompok-kelompok yang menentang kekhilafahan Ali r.a, dan
dia juga akhirnya mati terbunuh. Kita juga tahu bahwa Hasan r.a. terpaksa harus mengalah dan
menyerahkan tampuk khilafah kepada Mu’awiyah r.a. Begitu pula Husain r.a, disudutkan dan dibunuh,
sehingga ia tidak berhasil meraih apa yang dia inginkan… begitu pula orang-orang setelahnya. Lalu
kemana kelebihan-kelebihan yang banyak disebut dalam kitab-kitab itu??!
(64) Kaum syiah beranggapan, bahwa keutamaan Ali r.a. itu diterangkan dalam riwayatnya kaum
syiah dengan riwayat yang mutawatir, begitu pula nash yang menyatakan Ali r.a. sebagai imam
(kholifah langsung setelah Nabi -shollallohu alaihi wasallam- wafat).
Kita katakan:
Adapun syiah yang bukan dari kalangan sahabat, maka mereka tidak pernah melihat atau mendengar
dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Orang seperti ini, riwayatnya menjadi mursal dan terputus.
Apabila mereka tidak meriwayatkan dari sahabat, maka riwayatnya berarti tidak shohih.
Adapun sahabat Nabi -shollallohu alaihi wasallam- yang dibela oleh syiah, jumlah mereka sangat
sedikit sekali, hanya berjumlah belasan orang, dan jumlah tersebut tidak memenuhi syarat mutawatir
dalam meriwayatkan hadits!! Sedangkan terhadap mayoritas sahabat yang meriwayatkan keutamaan
Ali r.a, kaum syiah malah mencela dan menuduh mereka telah kafir!!
Apabila mereka mengatakan: “Bisa jadi mayoritas sahabat –yang dipuji dalam Alqur’an- itu semuanya
berdusta dan menyembunyikan kebenaran”, maka kita katakan: “Seharusnya hal tersebut lebih
mungkin terjadi pada minoritas sahabat yang mereka bela, yang jumlahnya jelas-jelas sangat sedikit
sekali”.
(65) Kaum syiah meyakini: bahwa niat Abu Bakar r.a, Umar r.a. dan Utsman r.a. adalah meraih
tampuk pimpinan dan kekuasaan, sehingga mereka mendholimi selain mereka dalam kekhilafahannya.
Kita katakan: Sungguh mereka bertiga tidak pernah sekalipun memerangi kaum muslimin ketika
memegang tampuk pimpinan, sebaliknya mereka malah memerangi kaum murtaddin dan kafirin,
mereka jugalah yang menaklukkan kekaisaran romawi dan persia, merekalah yang membuka negeri
persia, menegakkan Islam, memuliakan iman dan penganutnya, serta menghinakan kekafiran dan
pengikutnya.
Adapun Utsman r.a, memang kedudukannya dibawah Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. Di masa
pemerintahannya para pemberontak menuntut kematiannya, tapi meskipun begitu ia tetap tidak
memerangi kaum muslimin, bahkan ia tidak pernah membunuh satu muslim pun di masa
pemerintahannya.
Apabila syiah mengatakan, bahwa bisa jadi ketiga kholifah tersebut menjadi musuh Rosul -shollallohu
alaihi wasallam- dan berlaku lalim dalam pemerintahannya! Maka kita katakan: Perkataan itu juga
melazimkan hal yang sama pada diri Ali r.a.??!
(66) Kaum qodiyaniyah menjadi kafir karena mereka mengakui pendirinya sebagai nabi. Lantas, apa
bedanya dengan syiah yang mengakui para imam mereka memiliki keistimewaan sebagaimana
keistimewaan para nabi, atau bahkan melebihi mereka??! Bukankah keyakinan ini bisa menyeret
kepada kekufuran?!
Atau bisakah mereka mendatang perbedaan yang jelas antara imam dengan Rosul?!
Lalu Apakah Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- datang untuk memberikan kita kabar gembira
tentang 12 imam, yang perkataan mereka sama dengan perkataan beliau, perbuatan mereka sama
dengan perbuatan beliau, dan mereka semua ma’shum persis seperti beliau…??!
(67) Bagaimana Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dimakamkan di rumah Aisyah r.a,
sedangkan kalian menuduhnya dengan kekufuran dan kemunafikan??! Bukankah dimakamkannya
Rosululloh di rumah Aisyah r.a. menunjukkan kecintaan dan kerelaan beliau terhadapnya??! Apakah
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-akan rela dengan orang yang munafik dan kafir
(68) Bagaimana Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dimakamkan disamping Abu Bakar r.a. dan
Umar r.a, sedangkan kalian menganggap keduanya kafir, bukankah orang muslim tidak boleh
dimakamkan bersama orang-orang kafir?!
Bagaimana mungkin Alloh tidak menjaga Nabi-Nya -shollallohu alaihi wasallam-, sehingga harus
bersanding dengan dua orang kafir dalam kuburnya??!
Lalu dimana pula Ali r.a. menghadapi hal-hal yang berbahaya ini?! Mengapa ia tidak menentangnya?!
Dalam hal ini, kalian berada di antara dua pilihan:
Pilihan pertama: Dengan mengatakan bahwa Abu bakar r.a. dan Umar r.a. adalah seorang muslim,
yang mendapatkan kemuliyaan di sisi-Nya dan di sisi Rosul-Nya -dan inilah yang benar-.
Pilihan kedua: Dengan mengatakan bahwa Ali r.a. telah mudahanah (basa-basi) dalam agamanya!!
-dan ini sangat tidak mungkin dilakukan olehnya-.
Cobalah renungkan, bagaimana mungkin seorang Nabi Pilihan -shollallohu alaihi wasallamdimakamkan
bersama orang-orang kafir dan fajir??!
(69) Kaum syiah beranggapan bahwa nash tentang ke-imamah-an dan kekholifahan Ali r.a. terdapat
dalam Alqur’an, akan tetapi para sahabat menyembunyikannya.
Kita katakan: Tuduhan itu sangat tidak beralasan, karena kita dapati para sahabat tidak
menyembunyikan hadits-hadits yang digunakan kaum syiah sebagai dalil ke-imamah-an Ali r.a, seperti
hadits: “Kedudukanmu (Ali r.a.) di sisiku, sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa” dan haditshadits
lainnya. Jika tuduhan mereka benar, mengapa para sahabat tidak menyembunyikan hadits yang
seperti ini??!
(70) Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. -sebagaimana keyakinan syiah- telah berhasil menyingkirkan Ali
r.a. dari tampuk khilafah. Lantas apa keuntungan pribadi yang diraih keduanya??! Mengapa Abu Bakar
r.a, dan Umar r.a, tidak menurunkan tampuk khilafah kepada anaknya, sebagaimana dilakukan oleh Ali
r.a.?!
(71) Kita dapati bahwa Muhammad bin Abdulloh bin Amr bin Utsman bin Affan, adalah putra dari
Fatimah binti Husain bin Ali bin Abi Tholib. Yang berarti neneknya adalah Fatimah r.a, sedangkan
kakeknya adalah Utsman r.a.
Pertanyaannya: Apakah mereka akan mengakui bahwa Fatimah r.a. memiliki cucu yang terlaknat?!
Karena mereka beranggapan bahwa yang dimaksud dengan firman Alloh “Pohon yang terkutuk dalam
Alqur’an” adalah Bani Umayyah,[4] dan Muhammad bin Abdulloh bin Amr adalah salah satu dari
mereka.
(72) Kaum syiah telah menyematkan kepada imam mereka dua sifat yang saling kontradiktif,
yakni: takiyah dan ke-ma’shum-an. Mengapa?? Karena, apa gunanya ke-ma’shum-an para imam, jika
kalian tidak bisa memastikan, bahwa ucapan dan amalan mereka itu tidak bersumber dari takiyah,
bukankah kalian mengatakan bahwa takiyah adalah 9/10 agama ini??!
Selagi kalian menjadikan pahala dan kedudukan takiyah itu seperti sholat, karena “barangsiapa
meninggalkan takiyah itu seperti orang yang meninggalkan sholat”,[5] dan selagi kalian mengatakan
bahwa “9/10 agama ini adalah takiyah”,[6] maka tak diragukan lagi para imam kalian pasti telah
menerapkannya dengan sempurna, dan ini bertentangan dengan konsep kema’shuman yang kalian
sematkan kepada mereka!!
(73) Kaum syiah juga sangat kontradiktif ketika mereka berdalil tentang ke-imamah-an para imam
mereka dengan hadits tsaqolain[7] (dua hal yang berat dan berharga, yakni Aqur’an dan keturunan
Nabi -shollallohu alaihi wasallam-). Kemudian, kita dapati mereka mengkafirkan orang yang mencela
keturunan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, tapi tidak mengkafirkan orang mencela Alqur’an,
mereka hanya mengatakan bahwa ia sedang berijtihad dan ternyata salah ijtihadnya!
(74) Kaum syiah beranggapan bahwa mayoritas sahabat telah murtad, kecuali segelintir orang saja,
jumlah maksimal mereka tidak lebih dari tujuh orang.
Pertanyaannya: Dimana ahlul bait yang lainnya, seperti keturunan Ja’far, Ali r.a. dan yang lainnya…
apakah mereka juga ikut murtad??!
(75) Di dalam hadits mahdi Rosul -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan: “Seandainya umur
dunia ini hanya tersisa satu hari, maka Alloh akan panjangkan hari itu, hingga Ia utus seorang lelaki
dari keturunanku, yang namanya sama dengan namaku, dan nama ayahnya sama dengan nama
ayahku”. (HR. Abu Dawud:4282, dishohihkan oleh Albany).
Sebagaimana kita ketahui bahwa nama Rosul -shollallohu alaihi wasallam- adalah Muhammad bin
Abdulloh, sedangkan Imam Mahdi-nya syiah bernama: Muhammad bin Hasan!! Bukankah ini sangat
kontradiktif sekali…!!
(76) Kaum syiah meriwayatkan dari Ali r.a.: bahwa suatu ketika, ia menemui para sahabatnya
dengan kesedihan yang mendalam, ia mengatakan: “Bagaimana keadaan kalian jika datang zaman,
dimana hukum Alloh disia-siakan, kekayaan dimonopoli mereka yang kaya, para wali Alloh dimusuhi,
sedangkan musuh Alloh dibela?”. Mereka menimpali: “Wahai Amirul Mukminin, jika kami hidup pada
zaman itu, apa yang harus kami perbuat?”. Ia menjawab: “Jadilah seperti para sahabat Isa, meskipun
akhirnya dicabik-cabik dengan gergaji dan disalib, mati di jalan Alloh lebih baik dari pada hidup dalam
kemaksiatan”.[8]
Pertanyaannya: Bagaimana mereka menyandingkan ucapan ini dengan konsep takiyah merekal??!
(77) Siapa yang memaksa Abu Bakar r.a. untuk berhijrah bersama Nabi -shollallohu alaihi
wasallam-?! Seandainya benar ia itu orang yang munafik -sebagaimana anggapan syiah- mengapa ia
rela lari dari kaumnya yang kafir, padahal mereka itu para penguasa dan mempunyai kekuatan di
Mekah?!
Seandainya kemunafikan dia adalah karena dorongan dunia, lalu maslahat apa yang ia harapkan dari
Nabi -shollallohu alaihi wasallam- ketika itu, padahal keadaan beliau pada waktu itu adalah orang
yang terusir dan terkucilkan?! Belum lagi tindakannya itu beresiko pembunuhan, karena para kafirin
mekah tidak mungkin lagi mempercayainya!
(78) Jika benar para sahabat itu murtad setelah wafatnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam-,
mengapa mereka memerangi para murtaddin, seperti: pengikut Musailamah al-Kadzdzab, pengikut
Thulaihah bin Khuwailid, pengikut Aswad al-Anasiy, pengikut Sajjah dan yang lainnya untuk kembali
lagi ke Islam?! Bukankah -jika tuduhan mereka benar- seharusnya mereka membela dan
membiarkannya selagi mereka sama-sama murtadnya??!
(79) Sudah menjadi sunnatulloh dalam pandangan syariat, bahwa para sahabat nabi adalah orang
yang paling mulia dalam agamanya. Oleh karenanya, jika penganut agama itu ditanya siapa orang yang
paling mulia dalam agamanya, tentu mereka akan menjawab: para sahabat nabinya.
Jika penganut Taurat ditanya siapa orang yang paling mulia, tentunya mereka akan menjawab: para
sahabat Musa. Begitu pula penganut Injil, jika ditanya demikian, tentu mereka akan menjawab: para
sahabat Isa. Dan begitu pula nabi-nabi yang lainnya. Mengapa?? Karena pemahaman para sahabat nabi
terhadap wahyu, tentunya lebih dekat dan lebih mendalam. Begitu pula pengetahuan mereka tentang
nabinya, tentunya lebih kuat dan lebih tepercaya.
Jika demikian adanya, mengapa para sahabat Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, yang beliau adalah
rosul pilihan yang paling mulia, malah menjadi orang yang terlaknat, munafik bahkan kafir??!
Bagaimana kalian mengaku menghormati Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan keluarganya, jika
kalian menuduh para sahabatnya dengan tuduhan yang sangat keji dan kotor itu??! –naudzubillah minal
khudzlan-.
(80) Kita dapati Nabi -shollallohu alaihi wasallam- tidak menggunakan takiyah dalam situasisituasi
genting, sedangkan syi’ah malah mendakwakan bahwa takiyah itu 9/10 agama ini?! Mereka juga
mendakwakan bahwa para imam mereka sering menerapkannya.
Pertanyaannya: Mengapa mereka tidak mengikuti jejak kakeknya Muhammad -shollallohu alaihi
wasallam-??!
(81) Kita tahu bahwa Ali tidak mengkafirkan musuhnya, tidak juga kepada kaum khowarij yang
memerangi, menyakiti dan mengkafirkannya. Mengapa kaum syiah tidak mengikuti jejaknya??!
Bahkan yang menjadi ciri utama syiah adalah pengkafiran mereka terhadap dua sahabat terbaik
Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-: Abu Bakar r.a. dan Umar r.a, bahkan mereka juga
mengkafirkan para istri beliau, ibundanya kaum muslimin!!
(82) Ijma’ (kesepakatan ulama) -menurut syiah- bukanlah dalil yang berdiri sendiri, akan tetapi ia
menjadi dalil jika didukung oleh pernyataan orang yang ma’shum.[9]
Kita katakan: Ini sama saja bohong, lantas apa maknanya Ijma’ itu sebuah dalil, kalau ia bergantung
pada dalil lain??!
(83) Kita dapati kaum syiah banyak mengkafirkan kelompok Zaidiyyah, padahal mereka juga
pembela ahlul bait. Dengan ini kita tahu, bahwa yang pokok dari ajaran mereka adalah membenci para
sahabat dan salafus sholeh, bukan mencintai ahlul bait sebagaimana pengakuan mereka.[10]
(84) Kita dapati ulama syiah banyak menolak Ijma’nya Umat Islam, dengan dalih tidak adanya
perkataan orang ma’shum. Tapi di sisi lain, mereka malah menerima kabar tentang Imam Mahdi
mereka yang ditunggu-tunggu dari seorang perempuan bernama: Hakimah, yang jelas tidak diketahui
hal ihwalnya!!.
(85) Kaum syiah beranggapan bahwa Ali r.a. mempunyai hak khilafah setelah Rosul -shollallohu
alaihi wasallam- dengan berdasar pada hadits: “Kedudukanmu (Ali r.a.) di sisiku (Nabi -shollallohu
alaihi wasallam-), sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa”. (HR. Bukhori dan Muslim). Tapi kita
dapati Harun tidak menjadi pengganti Musa setelah dia wafat, melainkan penggantinya adalah Yusya’
bin Nun!!
(86) Ulama syiah telah membuat para pengikutnya lebih berani melakukan kemaksiatan dan dosa
besar dengan klaim mereka bahwa: “Dengan rasa cinta terhadap Ali r.a, maka tiada satu maksiat pun
yang dapat membahayakan mereka”.
Sungguh, klaim ini jelas-jelas didustakan oleh Alqur’an, yang dalam banyak ayatnya menjelaskan
banyak larangan dan pelanggaran terhadapnya, apapun alasannya. Alqur’an dengan jelas menyatakan
bahwa: “(Pahala dari Alloh) itu bukanlah angan-anganmu, bukan pula angan-angan ahli kitab. (Akan
tetapi) barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan
dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Alloh” (an-Nisa’:123).
(87) Kaum syiah meyakini konsep akidah al-bada’ (bahwa keputusan Alloh bisa berubah, dan ini
bertentangan dengan sifat Alloh yang maha mengetahui hal gaib), tapi di sisi lain mereka meyakini
bahwa para imam mereka itu mengetahui hal gaib yang telah dan akan terjadi.
Pertanyaannya: Apakah para imam itu lebih agung melebihi Alloh??!
(88) Sejarah menceritakan kepada kita, bahwa syiah sejak dulu sering membela musuh Islam,
seperti kaum yahudi, kristen, dan para musyrikin dalam banyak peristiwa.
Diantara peristiwa yang paling mengemuka adalah: peristiwa runtuhnya Kota Bagdad di tangan
Mongol, peristiwa runtuhnya Kota Baitul Maqdis di tangan Kaum Kristen…dll.
Pertanyaannya: Apakah seorang muslim sejati akan melakukan apa yang mereka lakukan?! Atau
pernahkah Ali r.a. dan keturunannya melakukan apa yang mereka lakukan.
(89) Kita dapati banyak kaum syiah menggunjing dan mencela Hasan bin Ali r.a. dan keturunannya,
padahal dia juga ahlul bait dan salah satu imam mereka.[11]
(90) Siapapun yang memperhatikan syiah, akan mendapati banyaknya sempalan, perselisihan, dan
saling mengkafirkan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, diantara contoh yang paling jelas
adalah:
Syeikh mereka Ahmad al-Ahsa’iy, ia mendirikan firqoh (kelompok) yang terkenal dengan nama
syaikhiyyah. Kemudian datang muridnya Kazhim ar-Rosytiy dengan firqoh baru yang diberi nama al-
Kasyfiyyah. Setelah itu muridnya yang bernama Muhammad Karim Khon mendirikan firqoh baru al-
Karimkhoniyyah. Lalu muridnya yang lain lagi Qurrotul Ain mendirikan firqoh yang dikenal dengan
nama Qurrotiyyah. Dan Mirza Ali asy-Syiroziy juga mendirikan firqoh al-Babiyyah, serta Mirza
Husain Ali juga mendirikan firqoh al-Bahaiyyah.
Lihatlah bagaimana semua firqoh syiah ini tumbuh pada satu masa dan satu waktu yang berdekatan,
maha benar Alloh yang maha agung ketika mengatakan: “Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (sesat)
yang akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya” (al-An’am:153).
(91) Ketika para pemberontak mengepung rumah Utsman bin Affan r.a, kita dapati Ali r.a. malah
melindunginya. Bahkan ia menyuruh kedua putranya Hasan r.a. r.a, Husain r.a. dan keponakannya
Abdulloh bin Ja’far untuk ikut serta mengamankan rumahnya, [12] hingga Utsman r.a. menyuruh para
pembelanya untuk melepaskan senjata mereka dan kembali ke rumah masing-masing.
Fakta ini menunjukkan batilnya prasangka syiah yang mengatakan adanya kebencian dan permusuhan
antara keduanya.
(92) Dahulu Umar r.a. -sebagaimana disepakati oleh Kaum Sunni dan syiah- sering mengajak Ali r.a.
untuk musyawarah dalam banyak masalah.[13]
Seandainya Umar r.a. itu pemimpin yang dholim -sebagaimana kalian tuduhkan- tentunya Umar r.a.
tidak akan mengajak musyarah dengan ahlul haq (pemilik kebenaran), karena orang dholim tidak akan
mencari kebenaran.
(93) Telah disepakati bersama bahwa Salman al-Farisiy r.a. menjadi amir (walikota) yang
membawahi beberapa daerah di zamannya Umar r.a. Ammar bin Yasir juga menjadi amir di kota Kufah
di zamanya Umar r.a. Padahal keduanya dianggap syiah sebagai pembela dan pendukung Ali r.a.
Pertanyaannya: Seandainya Umar itu murtad, atau dholim, atau jahat kepada Ali r.a. -sebagaimana
tuduhan mereka- tentunya mereka mereka berdua tidak akan menerima tugas tersebut. Mengapa??!
Karena, bagaimana mungkin mereka berdua bersedia tolong menolong dengan orang yang dholim dan
murtad, sedang Alloh telah berfirman: “Jangahlah kalian cenderung kepada orang yang dholim, yang
menyebabkan kalian disentuh api neraka!”. (Hud:113)
(94) Syiah beranggapan bahwa mengetahui 12 imam adalah syarat sah-nya iman.
Lantas, apa yang akan mereka katakan terhadap mereka yang mati sebelum selesainya masa 12 imam
tersebut??! Apa jawaban mereka jika yang mati adalah imam mereka sendiri??! Sebagian dari imam
syiah tidak tahu siapa imam setelahnya, lalu bagaimana kalian jadikan itu sebagai syarat sah-nya
iman??!
(95) Seandainya dikatakan kepada kalian, bahwa ada seorang pemimpin mukmin, yang sholih dan
bertakwa, ia mempunyai pengikut yang sebagiannya mukmin dan sebagian lagi munafik. Dan atas
kemurahan Alloh ia bisa mengetahui siapa diantara mereka yang munafik dari cara bicara mereka. Pun
begitu pemimpin tersebut tetap menjauhkan pengikutnya yang mukmin dan sholih, sebaliknya memilih
mereka yang munafik, memberikan posisi tampuk pimpinan, dan menjadikannya sebagai pemimpin di
masa hidupnya. Tidak hanya itu, bahkan ia menikahkan putrinya dengan mereka yang munafik, dan ia
meninggal dalam keadaan rela dengan mereka.
Apa penilaian kalian terhadap sikap pemimpin ini??! Itulah yang menjadi keyakinan syiah terhadap diri
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-!!
(96) Pemuka syiah al-Hurrul Amiliy meriwayatkan dari Abu Ja’far, ia menafsiri firman-Nya:
“Janganlah kalian kembalikan mereka (para istri) kepada (para suami) mereka yang kafir”, dengan
mengatakan: “Barangsiapa memiliki istri kafir, yakni tidak memeluk Islam, sedang ia beragama Islam,
maka hendaklah ia mengajaknya untuk masuk Islam. Jika istri itu menerima ajakan itu, berarti ia tetap
menjadi istrinya. Tapi apabila ia menolak, berarti ia bukan istrinya lagi, dan Alloh melarang suaminya
untuk tetap mempertahankannya”.[14]
Berdasarkan keterangan ini, seandainya Ibunda kaum muslimin Aisyah r.a, itu -seperti anggapan syiahtelah
murtad dan kafir, bukankah seharusnya wajib ditalak karena firman-Nya ini?! Kecuali jika
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- tidak mengetahui kemunafikan dan murtadnya Aisyah r.a,
sedang kaum syiah mengetahui hal itu!!
(97) Sempalan syiah yang dikenal dengan nama al-Khottobiyyah, meyakini bahwa yang menjadi
imam setelah Ja’far as-Shodiq adalah anaknya yang bernama Isma’il. Sedangkan kelompok syiah yang
lain membantahnya dengan mengatakan, bahwa Isma’il telah meninggal sebelum bapaknya meninggal,
dan mayit tidak mungkin menjadi kholifahnya orang yang masih hidup!![15]
Maka kami katakan kepada syiah: Kalian berhujjah untuk melegitimasi kekhilafahan Ali r.a. langsung
setelah Rosul -shollallohu alaihi wasallam- wafat dengan sabdanya: “Kedudukanmu (Ali r.a.) di sisiku
(Nabi -shollallohu alaihi wasallam-) adalah sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa”, padahal
Harun meninggal sebelum Musa, dan mayit tidak mungkin menjadi kholifahnya orang yang masih
hidup -sebagaimana pengakuan kalian-!!
(98) Kaum syiah berhujjah untuk men-sahkan kekholifahan 12 imamnya dengan hadits: “Islam ini
akan terus kuat sampai 12 kholifah, mereka semua dari kabilah Quraisy”, dalam riwayat lain dengan
redaksi: “12 amir (kepala pemerintahan)”, dan dalam riwayat lain dengan redaksi: “Urusan umat ini
akan terus berjaya selama dipimpin oleh 12 orang”. (HR. Bukhori dan Muslim)
Maka kita katakan kepada mereka, bahwa hadits tersebut dengan jelas menyatakan bahwa ke-12 orang
tersebut adalah kholifah dan amir yang memimpin umat manusia, padahal kita tahu bahwa para imam
syiah tidak ada yang mengemban tampuk khilafah kecuali Ali r.a. dan putranya Hasan r.a.
Kesimpulannya: Hadits tersebut berada di suatu lembah, sedangkan syiah berada di lembah yang lain
(tidak nyambung)!!. Dan riwayat-riwayat tersebut juga tidak menyebutkan nama-nama para kholifah
tersebut, lalu dari mana mereka menentukan nama-namanya??!
(99) Kaum syiah berkeyakinan, bahwa sepeninggal Rosul -shollallohu alaihi wasallam- para sahabat
telah murtad kecuali segelintir orang dari mereka.
Kita katakan kepada mereka, bahwa murtad itu sebabnya ada dua: karena syubhat (logika yang rancu)
atau karena syahwat (hawa nafsu).
Kita tahu, bahwa syubhat di masa awal Islam itu lebih kuat. Sehingga siapa yang imannya bak gunung
ketika Islam sedang lemah, bukankah seharusnya imannya bertambah kuat ketika Islam semakin jaya?!
Adapun tentang syahwat, maka kita katakan: bahwa orang yang bersedia hijrah dengan meninggalkan
rumah, harta, kekuatan, dan kemuliaan yang telah mereka miliki sebelumnya, mereka yang berhijrah
karena kecintaan mereka kepada Alloh dan Rosul-Nya, dengan penuh kerelaan tanpa paksaan,
bagaimana mungkin orang seperti ini akhirnya murtad, karena dorongan syahwat yang dulu telah
mereka tinggalkan??!
(100) Kaum syiah meyakini bahwa para sahabat itu tidak adil (tepercaya). Akan tetapi kita dapati
dalam kitab-kitab syiah banyak riwayat yang menunjukan adilnya mereka, diantaranya adalah, ketika
mereka meriwayatkan dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- saat haji wada’, beliau mengatakan:
“Semoga Alloh menerangi orang yang mendengar ucapanku ini, kemudian ia memahaminya, dan
menyampaikannya kepada orang yang belum mendengarnya…”.[16] Apabila para sahabat itu tidak
adil (tepercaya), lalu mengapa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mempercayai mereka untuk
menyampaikan haditsnya kepada orang yang tidak mendengarnya??!
(101) Dikatakan kepada salah seorang syiah: “Bukanlah Rosululloh -shollallohu alaihi wasallammembebaskan
kita untuk memilih istri yang sholihah dan menantu yang terhormat?!”
Ia mengatakan: “Ya, tentu tidak ada yang meragukan hal itu”.
Dikatakan kepadanya: “Apakah kamu rela mendapat menantu dari hasil zina?”.
Ia mengatakan: “Na’udzubillah, jika aku mendapatkan menantu seperti itu!”.
Dikatakan kepadanya: “Itulah kalian, yang menuduh bahwa Umar bin Khottob r.a. adalah anak seorang
ibu pezina yang bernama: Shohak![17]
Bahkan Ni’matulloh al-Jazari, salah satu ulama kalian dengan sangat konyolnya telah menuduh bahwa
Umar r.a. tidak puas kecuali dengan liwath (homo)!![18] Ia juga menuduh bahwa putrinya yang
bernama Hafshoh r.a. itu munafik dan pelacur seperti ayahnya, bahkan ia itu kafir!!
Apakah kalian menganggap Rosululloh telah mengambil menantu dari anak hasil zina??! Ataukah ia
rela dirinya mengawani wanita (yakni Hafshoh r.a.) yang amoral dan munafik??!
Demi Alloh, sesungguhnya kalian telah berdusta kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dan
para sahabatnya, dan merelakan untuk mereka apa yang kalian tidak merelakannya untuk diri kalian
sendiri…!!
(102) Jika memang benar para sahabat yang munafik dan murtad sedemikian besar jumlahnya,
sebagaimana dituduhkan oleh syiah, lantas bagaimana Islam bisa tersebar luas di masa mereka??!
Bagaimana kekaisaran romawi dan dinasti persia bisa tumbang oleh mereka??! Begitu pula baitul
maqdis mampu direbut dari genggaman musuh??!
(103) Muhammad Kasyif alul Ghitho’, seorang pemuka syiah ketika menceritakan tentang Ali r.a.
mengatakan: “Ketika Ali melihat 2 kholifah sebelumnya –yakni Abu Bakar dan Umar- telah
mengerahkan segenap kekuatannya untuk menyebarkan kalimat tauhid, menyiapkan pasukan perang,
memperluas daerah kekuasaan… maka ia pun membaiat dan menerimanya”.[19]
Jadi, sebagaimana pengakuan salah seorang pemuka syiah, mereka berdua telah menyebarkan kalimat
tauhid, mempersiapkan tentara perang fisabilillah, dan membuka banyak daerah kekuasaan. Lantas
mengapa keduanya dituduh sebagai gembong kekafiran, munafik dan murtad??! Sungguh kontradiksi
yang sangat nyata??!
(104) Dalam mengkafirkan para sahabat setelah wafatnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam-,
Ulama syiah berhujjah dengan sabda beliau: “Datang kepadaku orang-orang yang aku mengenalnya
dan mereka juga mengenalku, tapi mereka dihalangi untuk datang ke telagaku, aku pun mengatakan:
‘Itu para sahabatku, itu para sahabatku!’, maka dikatakan kepadaku: ‘Sesungguhnya kamu tidak tahu
apa yang mereka kerjakan sepeninggalmu’.” (HR. Bukhori)
Maka kita katakan kepada syiah: Hadits tersebut redaksinya umum, tidak menyebut nama-nama orang
tertentu, hadits itu juga tidak mengecualikan Ammar bin Yasir r.a, atau al-Miqdad bin Aswad r.a, atau
Abu Dzar r.a, ataupun Salman al-Farisiy r.a. (yakni mereka yang dikatakan tidak murtad oleh syiah)!
Bahkan redaksi hadits tersebut tidak mengecualikan Ali bin Abi Tholib r.a.! Lantas mengapa kalian
mengkhususkan kepada sebagian sahabat saja, tidak kepada mereka??!
Sungguh setiap orang yang memendam kebencian kepada salah seorang dari sahabat, akan bisa
mendakwakan bahwa hadits ini berlaku untuk sahabat yang dia benci!!
(105) Malik bin al-Asytar -salah seorang sahabat senior Ali r.a, dan termasuk orang yang dielukan
oleh syiah- mengatakan: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Alloh ta’ala telah mengutus Rosul-
Nya kepada kalian, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Ia juga menurunkan kepadanya
kitab yang berisi halal, harom, kewajiban dan kesunatan. Kemudian Ia mewafatkannya dalam keadaan
telah menunaikan seluruh kewajibannya. Lalu Ia menentukan Abu Bakar r.a. sebagai penerus beliau,
yang berjalan diatas jalan beliau dan meneladani beliau. Setelah itu Abu Bakar r.a. memilih Umar r.a.
sebagai penggantinya, dan ia pun meneladani jalan mereka”.[20]
Lihatlah bagaimana ia memuji Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. dengan pujian yang memang pantas bagi
keduanya. Tapi meskipun demikian, ternyata kaum syiah menutup mata dengan pujian itu, mereka
tidak menyebutkan riwayat itu di majlis-majlis atau husainiyat (tempat ibadah) mereka. Sebaliknya di
tempat tersebut, mereka malah mencela keduanya -semoga Alloh memberikan hidayah-Nya kepada
mereka-. Lalu ada apa sebenarnya??!
(106) Ibnu Hazm mengatakan tentang Ali: “Ia membaiat Abu Bakar, setelah 6 bulan ia telat
membaiatnya. Dan hanya ada dua kemungkinan dalam hal ini: (a) Bisa jadi ia benar dengan
keterlambatannya dan salah ketika membaiatnya (b) atau bisa jadi ia salah dalam keterlambatannya dan
benar ketika membaiatnya”.[21]
[1] Shofwah Syuruhu Nahjil Balaghoh (593)
[2] Sebagaimana firman-Nya: “Sungguh, Alloh telah meridhoi orang-orang yang mukmin, ketika
mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam
hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan
yang dekat”. (al-Fath:18)
[3] Tafsir al-Qummiy (2/377), al-Burhan karangan al-Bahroniy (4/358)
[4] Al-Kafi (5/7), kitab Salim bin Qois (362)
[5] Biharul Anwar (75/421), Mustadrokul Wasail (12/254)
[6] Ushulul Kafi (2/217), Biharul Anwar (75/423)
[7] Yakni sabda beliau -shollallohu alaihi wasallam-: “Sungguh, aku tinggalkan kepada kalian dua hal
yang berat dan berharga, yakni Kitabulloh dan Keturunanku, yang merupakan keluargaku” (HR.
Tirmidzy:3786, dishohihkan oleh Albany)
[8] Nahjus Sa’adah (2/639)
[9] Tahdzibul Wushul karangan ibnul Muthohhar (70), al-Marji’iyyah ad-Diniyyah al-Ulya karangan
Husain Ma’tuq.
[10] Lihat sebagai pembanding Risalah Takfirus Syi’ah li Umumil Muslimin, karangan Syeikh
Abdulloh as-Salafiy, di sana banyak disebutkan pernyataan mereka yang jelas-jelas mengkafirkan kaum
muslimin, termasuk juga kelompok Syiah Zaidiyyah.
[11] A’yanus Syi’ah (1/26), kitab Sulaim bin Qois (288), Biharul Anwar (27/212)
[12] Syarhu Nahjil Balaghoh karangan Ibnu Abil Hadid (10/581), Tarikhul Mas’udiy as-Syi’iy (2/344)
[13] Nahjul Balaghoh (325, 340)
[14] Wasail syi’ah (20/542)
[15] Kamaluddin wa Tamamun ni’mah (105)
[16] Al-Khishol (149-150), hadits no: 182
[17] Al-Kasykul karangan al-Bahroniy (3/212), Laqod syayya’anil Husain (177)
[18] Al-Anwar an-Nu’maniyyah (1/63)
[19] Ashlus Syi’ah wa Ushuliha (49)
[20] Malik bin al-Asytar khutobuhu wa Aro’uhu (89), al-Futuh karangan Ibnu A’tsam (1/396)
[21] Al-Fishol fil Milal (4/235)
(107) Mengapa kaum syiah memberikan derajat ma’shum kepada Fatimah r.a., tapi mereka tidak
memberikan derajat ke-ma’shum-an tersebut kepada dua saudarinya: Ruqoyyah r.a. dan Ummu
Kultsum r.a.??! Padahal kita tahu keduanya juga darah daging Rosululloh -shollallohu alaihi
wasallam- seperti Fatimah r.a.!!
(108) Jika dikatakan kepada syiah: Mengapa Ali r.a. tidak menuntut haknya untuk menjadi kholifah
setelah wafatnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, padahal sebagaimana anggapan mereka hal
tersebut jelas termaktub dalam wasiat beliau??!
Mereka menjawab: karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam- juga mewasiatkan agar ia tidak menyulut
fitnah (kericuhan) dan menghunuskan pedangnya sepeninggal beliau.
Kita katakan: Lalu mengapa ia menghunuskan pedangnya ketika perang Jamal dan perang Shiffin,
sehingga menyebabkan ribuan orang gugur di dalamnya??! Siapakah sebenarnya yang lebih berhak
ditumpas, orang dholim yang pertama, ataukah yang keempat, atau yang kesepuluh… dst??!
(109) Kaum syiah tidak mampu menyebutkan perbedaan yang jelas antara nabi dan imam, sampaisampai
syeikh mereka al-Majlisiy mengatakan: “Kami tidak tahu apa sebabnya para imam tidak
mendapat julukan nabi, kecuali untuk menjaga agar Rosul -shollallohu alaihi wasallam- tetap sebagai
penutup para nabi, dan pikiran kami tidak bisa menalar adanya perbedaan antara derajat kenabian
dengan ke-imamah-an”!![1]
Pertanyaannya: Lantas apa pentingnya konsep akidah penutup kenabian, jika ternyata tugas dan
keistimewaan yang hanya dimiliki oleh para nabi, -seperti ke-ma’shum-an, wahyu, mukjizat dan yang
lainnya-, tidak terputus dengan wafatnya sang penutup kenabian Muhammad -shollallohu alaihi
wasallam-??! Akan tetapi ia terus ada hingga 12 imam mereka!!!
(110) Kaum syiah beranggapan bahwa diantara dalil wajibnya ke-khilafah-an Ali r.a. adalah sabda
beliau: “Kedudukanmu (Ali) di sisiku (Nabi -shollallohu alaihi wasallam-), sebagaimana kedudukan
Harun di sisi Musa”. (HR. Bukhori dan Muslim)
Seandainya prasangka mereka benar, seharusnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam- memilihnya
sebagai pengganti pada setiap peperangan yang tidak ia ikuti, bukan malah memilih orang lain. Kita
tentunya tahu bahwa beliau juga pernah menyuruh Utsman r.a. dan Abdulloh bin Ummu Maktum r.a.
sebagai pengganti beliau di Madinah ketika berangkat perang. Jika demikian, mengapa derajat imamah
itu hanya mereka khususkan untuk Ali r.a.??!!
(111) Kaum syiah beranggapan, bahwa wajibnya mengangkat para imam, itu kembali kepada kaidah
“kelemah-lembutan”. Tapi sungguh mengherankan, imamnya yang ke-12 malah menghilang ketika
masih kecil dan sampai sekarang tidak diketahui rimbanya! Lantas kelemah-lembutan apa yang
diperoleh oleh kaum muslimin dari pengangkatan imam ke-12 ini??!
(112) Kaum syiah berkeyakinan bahwa diutusnya para rosul dan diangkatnya para imam adalah
kewajiban Allah, karena konsep “kelemah-lembutan”. Dan kita telah dapati Allah telah mengutus para
rosul, lalu menguatkannya dengan mukjizat dan memusnahkan mereka yang mendustakannya.
Pertanyaannya: Apa bukti bantuan kekuatan Allah kepada para imam itu dan apa bukti bahwa Allah
akan murka kepada mereka yang mendustakannya??!
(113) Kaum syiah meyakini bahwa para imam mereka itu ma’shum. Akan tetapi banyak terdapat
riwayat yang disepakati bersama, menyelisihi keyakinan mereka itu, diantaranya:
(a) Ketika Hasan r.a. menyelisihi ayahnya dalam keputusannya untuk menyerang mereka yang
menuntut darah Utsman r.a. Tidak diragukan lagi, tentunya salah satu dari mereka ada yang salah dan
ada yang benar, padahal keduanya adalah imam yang ma’shum!!
(b) Ketika Husain bin Ali r.a. menyelisihi saudaranya Hasan r.a. dalam keputusannya untuk berdamai
dengan Muawiyah r.a. Tentunya salah satu diantara mereka ada yang salah dan ada yang benar, padahal
keduanya adalah imam yang ma’shum!!
(c) Bahkan sebagian kitab-kitab syiah meriwayatkan dari Ali r.a, ucapannya: “Janganlah kalian enggan
untuk mengambil perkataan yang benar, ataupun melakukan musyawarah dengan bijaksana, karena
bisa jadi aku terjatuh dalam kesalahan”.[2]
(114) Kaum syiah di masa sekarang ini, banyak mencela ulama ahlus sunnah Negeri Haromain
(Mekah dan Madinah), karena fatwa mereka yang membolehkan meminta bantuan kepada orang kafir -
jika situasinya darurat- untuk melawan para ba’tsiyyin yang murtad. Tapi di sisi lain kita dapati syeikh
mereka dalam kitabnya Muntahat Tholab fi Tahqiqil Madzhab menukil ijma’ (kesepakatan) ulama syiah
-kecuali at-Thusiy- tentang bolehnya meminta bantuan kepada orang kafir dzimmiy untuk melawan
para pemberontak!! Bukankah ini merupakan kontradiksi yang nyata…?!
(115) Dalam konsep syiah, imamah akan disematkan kepada orang yang mendakwakan dirinya
sebagai imam dan memiliki banyak karomah yang menunjukkan kebenaran dakwaannya. Tapi
mengapa mereka tidak menyematkan imamah itu kepada Zaid bin Ali padahal ia telah
mendakwakannya untuk dirinya, sebaliknya mereka malah menyematkannya kepada imam mahdi
mereka yang hilang, padahal ia tidak mendakwakannya, disamping juga ia tidak menunjukkan
karomahnya karena -sebagaimana keyakinan mereka- ia telah menghilang saat masih kecil??!
(116) Kaum syiah telah memalsu hadits yang bunyinya: “Semoga Allah melaknat orang yang tidak
ikut dalam pasukan Usamah”.[3] tujuan mereka memalsu hadits itu adalah untuk melaknat Umar r.a,
karena ketidak-ikutannya dalam pasukan itu. Tapi mereka tidak sadar, bahwa hal tersebut juga menjadi
bumerang bagi mereka karena dua kemungkinan:
(a) kemungkinan pertama, Ali r.a. ikut dalam pasukan Usamah r.a. Dan ini merupakan bentuk
pengakuan Ali r.a. terhadap ke-imamah-an Abu Bakar r.a, mengapa?? Karena ia rela dengan pimpinan
yang diangkat oleh Abu Bakar r.a.!
(b) kemungkinan kedua, Ali r.a. tidak ikut dalam pasukan itu. Dan hal ini berarti menjadikan Ali r.a.
sebagai korban kebohongan mereka!
(117) Kholifah yang benar setelah Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, adalah Abu Bakar as-
Shiddiq r.a, diantara dalilnya:
(a) Kesepakatan dan ijma’ para sahabat untuk menaatinya, menjalankan perintah dan larangannya, serta
tidak mengingkarinya. Seandainya ia bukan kholifah yang benar, tentunya para sahabat tidak akan
membiarkan dan menaatinya. Kita semua tentunya tahu, bagaimana tingkat kezuhudan, kehati-hatian,
dan kuatnya agama mereka, serta ketidak-perdulian mereka di jalan Allah dengan celaan orang yang
mencela!
(b) Karena Ali r.a. tidak menyelisihinya dan tidak memberontaknya. Keadaan ini tidak luput dari
kemungkinan berikut ini:
Bisa jadi Ali r.a. tidak memberontaknya karena takut akan terjadi fitnah dan akibat buruk. Atau bisa
jadi Ali r.a. tidak mampu untuk memberontaknya. Atau bisa jadi ia tahu bahwa Abu Bakar r.a. memang
berhak menjadi kholifah.
Dan tidak mungkin Ali r.a. tidak memberontak karena takut fitnah atau akibat buruk, karena ia telah
memerangi Muawiyah r.a, sehingga banyak umat islam yang gugur dalam peperangan itu. Ia juga
memerangi Tholhah r.a. dan Zubair r.a. Ia juga akhirnya memerangi Aisyah r.a. sejak ia tahu bahwa
kebenaran berada di pihaknya. Dan ia tidak membiarkan mereka, karena takut terjadi fitnah (akibat
buruk).
Ketidak-mampuan Ali r.a. untuk memberontak juga tidak mungkin. Karena orang-orang yang
membelanya ketika melawan Muawiyah r.a. juga telah beriman ketika peristiwa as-Saqifah, peristiwa
pergantian kholifah ke Umar, dan peristiwa syuro (untuk mengganti Umar). Seandainya mereka tahu
bahwa kebenaran ada di pihak Ali r.a, tentunya mereka akan membelanya di hadapan Abu bakar r.a,
karena dia lebih berhak diserbu dan diperangi dari pada Muawiyah r.a.
Jadi, dengan ini telah jelas, bahwa Ali r.a. meninggalkan itu semua, karena ia tahu bahwa sesungguhnya
kebenaran memang ada di pihak Abu Bakar r.a.!
(118) Kaum syiah mengaku mereka cinta ahlul bait dan keturunan Nabi -shollallohu alaihi
wasallam-. Akan tetapi kita dapati banyak hal yang bertentangan dengan kecintaan itu. Misalnya
dengan tindakan mereka mengingkari nasab sebagian keturunan beliau, seperti dua putri beliau
Ruqoyyah r.a. dan Ummu Kultsum r.a.
Mereka juga mengeluarkan al-Abbas dan seluruh keturunannya dari nasab beliau. Begitu pula tindakan
mereka terhadap az-Zubair bin Shofiyah r.a, yang masih bibi Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.
Mereka banyak membenci keturunan Fatimah r.a, bahkan mencelanya, seperti: Zaid bin Ali, dan
Anaknya yang bernama Yahya, Ibrohim, dan Ja’far yang masih anak kandung Musa al-Kazhim, dan
Ja’far bin Ali yang masih saudara imam mereka Hasan al-Askariy.
Mereka berkeyakinan bahwa Hasan bin Hasan (al-Mutsanna), dan anaknya yang bernama Abdulloh (al-
Mahdh), serta anaknya yang bernama Muhammad (an-Nafsuz Zakiyyah), telah murtad, keluar dari
Islam.
Mereka juga meyakini hal yang sama (murtad dan kafir) kepada: Ibrohim bin Abdulloh, Zakariya bin
Muhammad al-Baqir, Muhammad bin Abdulloh bin Husan bin Hasan, Muhammad bin Qosim bin
Husain, Yahya bin Umar… dst.
Lantas dimana kecintaan ahlul bait yang selama ini mereka gembar-gemborkan?!
Salah satu bukti hal diatas adalah ucapan salah seorang dari mereka: “Sesungguhnya keturunan Hasan
bin Ali r.a. yang lainnya, itu banyak telah melakukan tindakan yang tercela, yang tidak mungkin
dibenarkan walaupun dengan konsep takiyah”[4]
(119) Bahkan lebih parah dari itu semua, ternyata mereka mengkafirkan seluruh ahlul bait yang
hidup di masa-masa awal!! Sebagaimana dikatakan dalam banyak riwayat dan sumber tepercaya
mereka, bahwa sesungguhnya orang-orang setelah wafatnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-,
semuanya telah murtad kecuali tiga orang saja: Salman r.a, Abu Dzar r.a, dan al-Miqdad r.a. Sebagian
mereka menambah bilangannya menjadi tujuh, tapi tidak satu pun dari mereka yang berasal dari ahlul
bait.[5] Dalam riwayat-riwayat itu mereka telah menghukumi semua sahabat dengan murtad dan kafir. -
naudzubillah-.
(120) Bahkan mereka nyata-nyata telah mengkafirkan beberapa anggota ahlul bait, seperti al-Abbas
r.a. (paman Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-), yang mereka katakan bahwa ayat berikut adalah
ditujukan kepadanya: “Barangsiapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan
tersesat jauh dari jalan (yang benar)” (al-Isro:72).[6]
Di dalam kitab al-Kafi juga terdapat ungkapan yang mengandung pengkafiran terhadap putra Abbas r.a,
yakni Abdulloh bin Abbas r.a, yang berjuluk Habrul Ummah (ulama’nya umat islam) dan turjuamanul
qur’an (ahli tafsir qur’an). Mereka juga mengatakan bahwa ia (Abdulloh bin Abbas r.a.) adalah orang
yang bodoh dan berakal dungu!![7]
Di dalam kitab Rijalul Kasyi dikatakan: “Ya Allah, semoga engkau melaknat dua anak si fulan dan
engkau butakan penglihatannya, sebagaimana telah engkau butakan hatinya…”![8] Kemudian syeikh
mereka Hasan al-Musthofawiy mengomentarinya dengan mengatakan: “Maksud dari dua anak si fulan
adalah Abdulloh bin Abbas dan Ubaidulloh bin Abbas”.[9]
Bahkan putri-putri Nabi shollallohu alaihi wasallam -selain Fatimah r.a.- juga tidak luput dari sasaran
kebencian mereka, bahkan sebagian syiah mengingkari bahwa mereka termasuk putri Nabi -shollallohu
alaihi wasallam- !![10]
Jika demikian, lalu dimana kecintaan kepada Ahlul Bait??!
(121) Ketika masa kekholifahan Abu Bakar r.a, Ali r.a. juga ikut serta dalam memerangi kaum
murtaddin, kemudian ia mengambil tawanan wanita dari Bani Hanifah, dan lahir dari wanita ini
putranya yang bernama: Muhammad bin Hanafiyah. Fakta ini melazimkan sahnya kekholifahan Abu
Bakar r.a, mengapa?? Karena jika tidak, tentunya ia tidak ikut serta dalam kebijakannya itu.
(122) Pendapat-pendapat yang dinukil dari imam mereka Ja’far as-Shodiq, sangat simpang siur
dalam banyak permasalahan. Hingga hampir saja tidak ada satu pun masalah fikih, kecuali ada 2 atau 3
pendapatnya yang saling bertentangan.
Misalnya, dalam permasalahan sumur yang kejatuhan najis: Dalam satu riwayat ia mengatakan, sumur
itu bagaikan laut yang tidak terpengaruh oleh najis. Dalam riwayat lain ia mengatakan, sumur itu harus
dikuras sampai habis airnya. Dalam riwayat lainnya lagi ia mengatakan, sumur itu harus diambil airnya
7 atau 6 ember.
Ketika salah seorang ulama mereka ditanya, tentang solusi dari pertentangan ini, ia mengatakan:
“Seorang mujtahid boleh me-rojih-kan (menguatkan) dan memilih salah satu dari sekian banyak
pendapat ini, sedangkan pendapat yang lainnya, hendaknya ia anggap sebagai takiyah!”.
Ada yang tanya: “Bagaimana jika ada mujtahid yang lain, lalu ia menguatkan pendapat selain pendapat
yang dipilih oleh mujtahid pertama, apa sikap dia terhadap pendapat-pendapat yang lain?”
Ia menjawab: “Sama, ia hendaknya mengatakan bahwa pendapat lainnya itu takiyah!”.
Maka kita katakan: kalau begitu, berarti hilanglah sudah madzhabnya Ja’far as-Shodiq, mengapa??
Karena tidak ada satu masalah pun yang disandarkan kepadanya, melainkan ada kemungkinan itu
merupakan takiyah, karena tidak ada yang barometer pembeda antara mana yang takiyah dan mana
yang bukan takiyah!!
(123) Kitab-kitab hadits yang menjadi sandaran kaum syiah diantaranya: al-Wasa’il karangan al-
Hurrul Amiliy (meninggal 1104 H), al-Bihar karangan al-Majlisiy (meninggal 1111 H), dan
Mustadrokul Wasa’il karangan at-Thobrosiy (meninggal 1320). Semua kitab hadits ini dikarang
belakangan!
Apabila mereka itu mengumpulkan hadits-hadits tersebut dari sanad dan riwayat, bagaimana orang
yang berakal mau percaya dengan riwayat yang belum pernah dicatat sejak 11 sampai 13 abad
lamanya??!
Apabila hadits-hadits tersebut sudah terbukukan sebelumnya, mengapa kitab-kitab tersebut baru
ditemukan pada masa yang sangat akhir ini??! Mengapa ulama-ulama pendahulu mereka tidak
mengumpulkannya??! Mengapa kitab-kitab tersebut tidak termaktub dalam kitab-kitab klasik
mereka??!
(124) Ada banyak riwayat dan hadits dari ahlul bait dalam kitab-kitab syiah, yang kandungannya
sama dengan ajaran ahlus sunnah, baik dalam hal akidah, ingkar bid’ah, dll. Akan tetapi ulama syiah
mengalihkan makna eksplisitnya, karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan dalih bahwa
itu adalah takiyah.
(125) Penulis kitab Nahjul Balaghoh menukil pujian Ali r.a. terhadap Abu Bakar r.a. dan Umar r.a,
misalnya: “Telah pergi orang yang bersih pakaiannya dan sedikit aibnya, orang yang berhasil meraih
kebaikannya, dan telah lalu keburukannya, orang yang menunaikan ketaatannya kepada Allah dan
bertakwa kepada-Nya dengan sepantasnya”.[11]
Maka kaum syiah pun bingung, dengan pujian yang menyelisihi keyakinan mereka dalam mencela
sahabat ini, sehingga mereka memaknainya sebagai takiyah!!
Yakni bahwa Ali r.a. mengatakan hal itu, untuk menjaga perasaan dan menarik simpati orang yang
loyal dengan kekholifahan Abu Bakar r.a, yakni Ali r.a. ingin menipu para sahabat lainnya!
Ini mengharuskan mereka mengatakan bahwa Ali r.a. itu seorang yang munafik dan pengecut, orang
yang menampakkan sesuatu yang tidak ada dalam hatinya. Hal ini sangat bertentangan dengan apa
yang ada dalam riwayat-riwayat mereka, yang mengatakan bahwa Ali r.a. adalah orang pemberani dan
selalu menyerukan kebenaran…!!
(126) Sebagaimana kita tahu, kaum syiah meyakini ke-ma’shum-an imam mereka. Dan ini sangat
menyulitkan mereka menghadapi banyaknya riwayat yang menjelaskan bahwa mereka juga seperti
manusia biasa, yang mungkin saja lupa dan salah…, sampai-sampai seorang ulama syiah al-Majlisiy
mengatakan bahwa: “Hal ini, sungguh sangat musykil (bermasalah), karena banyaknya riwayat dan
ayat yang menyatakan kemungkinan timbulnya lupa dari mereka…”.[12]
(127) Imam syiah yang ke-11 (Hasan al-Askariy) telah meninggal dan tidak memiliki anak, dan agar
konsep pokok madzhab imamiy tidak runtuh, seorang yang bernama Utsman bin Said mendakwakan
bahwa al-Askariy ini mempunyai anak yang menghilang ketika umurnya empat tahun, dan ia menjadi
wakilnya anak tersebut.
Maka sungguh mengherankan kaum syiah ini! Mengaku tidak akan menerima kecuali perkataan orang
yang ma’shum, tapi dalam masalah akidah yang paling penting ini mereka malah menerima ucapan
seorang laki-laki yang tidak ma’shum.!!!
(128) Kaum syiah menghujat dan melekatkan segala keburukan kepada Marwan bin Hakam, tapi
lagi-lagi mereka sangat kontradiktif dengan meriwayatkan dalam kitab-kitab mereka bahwa Hasan r.a.
dan Husein r.a. dulu sholat menjadi makmumnya.[13]
Yang sungguh mengherankan, ternyata Mu’awiyah putra Marwan bin Hakam ini telah menikahi
Romlah putrinya Ali r.a, sebagaimana dinyatakan oleh para ahli nasab.!![14]
Begitu pula Zainab putri Hasan al-Mutsanna, ternyata dinikahkan dengan cucunya Marwan yang
bernama: Walid bin Abdul Malik,[15] ia juga menikahi Nafisah, putrinya Zaid bin Hasan bin Ali.[16]
(129) Kaum syiah mengaku tidak boleh menjadi imam kecuali yang sudah baligh.[17] Kemudian
mereka meruntuhkan sendiri rumusan tersebut dengan pengakuan mereka terhadap ke-imamah-an
Muhammad bin Ali, yang berjuluk al-Jawad (sang dermawan), yang ketika kematian ayahnya (Ali ar-
Ridho) belum mencapai umur baligh.
(130) Kaum syiah mengklaim -dalam banyak kisah tentang imam mahdi mereka yang menghilangbahwa
ketika ia dilahirkan “Ada banyak burung turun dari langit, burung-burung itu mengusapkan
sayapnya ke kepala, wajah, dan seluruh badan Mahdi kecil ini, kemudian terbang kembali. Ketika
ayahnya ditanya tentang hal itu, ia tersenyum dan mengatakan: “Mereka itu malaikat dari langit, turun
untuk ber-tabarruk dengan bayi yang lahir ini, mereka akan menjadi pembelanya ketika ia keluar
nanti”.!![18]
Pertanyaannya: Lalu untuk apa ia takut-takut lagi dan sembunyi dalam Sirdab-nya??!
(131) Kaum syiah mengklaim bahwa imam itu harus termaktub ke-imamah-annya.
Seandainya itu benar, tentunya kita tidak akan menemukan banyaknya perselisihan tentang para imam
mereka. Mengapa setiap sempalan syiah mengklaim bahwa imam merekalah yang termaktub dalam
nash??!
Misalnya kelompok syiah al-Kaisaniyyah, mereka mengklaim bahwa yang menjadi imam setelah Ali
r.a. adalah anaknya yang bernama Muhammad bin Hanafiyyah….
(132) Sesungguhnya dengan meyakini bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- adalah penutup
para nabi dan rosul, akan terpenuhi juga maksud akidah imamah, baik ketika beliau masih hidup,
maupun setelah beliau wafat.
Barangsiapa mengakui bahwa Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- adalah utusan Allah, taat
kepada beliau itu wajib, dan ia berusaha semampunya untuk menaatinya. Seandainya orang seperti ini
dikatakan masuk surga, maka ia tidak butuh lagi dengan masalah imamah, dan tidak wajib baginya
kecuali taat kepada Rosul -shollallohu alaihi wasallam-.
Seandainya orang seperti ini, dikatakan tidak akan masuk surga kecuali setelah ia menaati para imam,
maka (perkataan) ini jelas menyelisihi ayat-ayat Alqur’an. Karena Allah ta’ala dalam beberapa ayat
Alqur’an, telah mewajibkan masuk surga bagi mereka yang menaati Allah dan Rosul-Nya. Allah tidak
mensyaratkan masuk surga dengan menaati atau mengimani seorang imam pun, sebagaimana firman-
Nya: “Barangsiapa mentaati Allah dan Rosul-Nya, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang
yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati
syahid, dan orang-orang yang sholih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (an-Nisa: 69). Begitu
pula firman-Nya: “Barangsiapa taat kepada Allah dan Rosul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam
surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka akan kekal di dalamnya. Dan itulah
kemenangan yang agung”. (an-Nisa’: 13)
Seandainya imamah itu pokok keimanan, atau kekufuran, atau rukun agama yang paling agung, dan
Allah tidak akan menerima amalan hamba-Nya kecuali dengannya -sebagaimana dikatakan oleh syiah-,
maka tentunya Allah akan menyebutkan dan menegaskan imamah dalam ayat-ayat itu, karena
pengetahuan Allah akan terjadinya perselisihan setelah itu.
Saya tidak mengira akan ada orang yang mengatakan, bahwa sebenarnya imamah itu masuk dalam
ayat-ayat tersebut, karena ia termasuk bentuk taat kepada Allah dan Rosul-Nya. Mengapa? Karena itu
merupakan penafsiran yang terlalu jauh dan dibuat-buat.
Bahkan cukup untuk membantahnya dengan kita katakan, bahwa sebenarnya taat Rosul juga
merupakan bentuk ketaatan kepada Tuhan yang mengutusnya. Di ayat-ayat itu, Allah tidak hanya
menyebutkan taat kepada-Nya saja dan menjadikan taat Rosul masuk dalam ketaatan kepada-Nya,
tetapi Dia menyebutkan dua-duanya. Tujuannya adalah untuk menegaskan adanya dua rukun yang
sangat penting dalam akidah Islam, yakni: Taat kepada Allah dan taat kepada Rosul-Nya.
Disebutnya taat kepada Rosul setelah taat kepada Allah sebagai syarat masuk surga, adalah karena
Rosul -shollallohu alaihi wasallam- itu penyampai syariat dari Allah, juga karena dengan menaatinya,
berarti sama dengan menaati Dzat yang mengutusnya.
Karena tidak ada lagi penyampai syariat dari Allah setelah wafatnya Rosululloh -shollallohu alaihi
wasallam-, maka Allah menjadikan keberuntungan dan kemenangan meraih surga dengan taat kepada
Rosul-Nya dan menekuni perintahnya dan meninggalkan perintah dari selainnya.
(133) Kaum syiah meyakini bahwa semua ilmu tersimpan dalam pengetahuan para imam mereka,
para imam itu juga yang mewarisi banyak kitab dan ilmu yang tidak diwarisi oleh selain mereka.
Mereka memiliki shohifatul jami’ah, kitab Ali, al-Abithoh, Diwan syiah, al-Jufr. Di dalam kitab-kitab
ini terdapat apapun yang dibutuhkan oleh manusia.
Yang mengherankan, ternyata shohifah-shohifah yang disebutkan oleh kaum syiah ini tidak pernah ada
dalam kenyataan. Seandainya satu saja dari sekian banyak kitab itu ada, tentunya sejarah mereka akan
berubah, para imam mereka tidak akan kesulitan menemukan hukum permasalahan, dan tidak terjadi
banyak musibah yang silih berganti menimpa imam mereka, sehingga ada yang terbunuh dan adapula
yang diracun.!!
Jika satu saja dari kitab itu nyata, tentunya imam mereka yang terakhir tidak akan bersembunyi di
sirdab-nya, karena takut pembunuhan.!!
(134) Kita katakan juga, Kemana kitab-kitab itu sekarang??!
Lalu apa yang ditunggu oleh imam mahdi mereka untuk keluar??!
Apakah umat manusia membutuhkannya dalam urusan agama mereka??!
Jika mereka butuh, mengapa umat ini dibiarkan jauh dari sumber petunjuknya, sejak ia bersembunyi di
sirdabnya, yakni sejak lebih dari 11 abad lamanya??! Apa dosa generasi-generasi ini sehingga tidak
boleh mendapatkan kitab yang sangat bernilai itu??!
Jika mereka tidak membutuhkannya, lantas apa gunanya klaim-klaim seperti ini??! Mengapa pula
kaum syiah dijauhkan dari sumber hidayahnya yang hakiki, yakni Alqur’an dan Assunnah??!
(135) Kaum syiah menyebutkan dalam kitab-kitab mereka, bahwa keluarnya Husain r.a. ke Kufah,
lalu ternyata ia di sana dianiaya dan dibunuh, adalah penyebab murtadnya seluruh umat islam kecuali
tiga orang.
Pertanyaannya: Kalau ia tahu apa yang terjadi di masa depan, bukankah seharusnya ia mengurungkan
niatnya??!
(136) Kaum syiah mengatakan bahwa sebab bersembunyinya imam mereka yang ke-12 adalah karena
takut dibunuh.
Kita katakan: Lalu mengapa imam-imam sebelumnya tidak dibunuh, padahal mereka hidup ditengahtengah
khilafah ketika usia dewasa?! Kalau mereka saja yang dewasa tidak dibunuh, bagaimana
mungkin orang yang masih kecil hendak dibunuh??!
(137) Kaum syiah mengklaim bahwa mereka hanya bersandar dengan hadits shohih yang datang dari
jalan ahlul bait.[19]
Pengakuan ini penuh dengan distorsi dan penipuan, mengapa?? Karena mereka menganggap setiap
imam mereka -yang berjumlah 12- itu seperti Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, setiap ucapannya
seperti perkataan Allah dan Rosul-Nya. Oleh karena itu, jarang sekali didapati ucapan Rosul
-shollallohu alaihi wasallam- dalam banyak tulisan mereka, karena mereka sudah cukup dengan
ucapan para imam mereka.
Tidak benar juga, bahwa mereka bersandar dengan semua hadits yang datang dari jalan ahlul bait,
karena ternyata mereka hanya mengambil hadits dari para imam mereka saja. Misalnya mereka tidak
mengambil riwayat dari keturunan Hasan r.a…
(138) Kita katakan juga: Kalian mengaku hanya mengambil hadits shohih yang datang dari para
imam kalian dari ahlul bait. Padahal sebagaimana diketahui bersama, tidak satupun dari mereka yang
sampai pada umur mumayyiz pada zaman Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, kecuali Ali bin Abi
Tholib r.a.
Apakah Ali r.a. mampu meriwayatkan semua tuntunan Rosul -shollallohu alaihi wasallam- kepada
generasi setelahnya?! Mungkinkah ia melakukannya?! Bukankah kadang Rosululloh -shollallohu
alaihi wasallam- meninggalkannya di Madinah, dan kadang mengutusnya ke daerah lain, yang
menunjukkan ia tidak selalu bersama beliau?! Bagaimana mungkin Ali r.a. bisa menceritakan
kehidupan Nabi -shollallohu alaihi wasallam- ketika bersama para istri beliau?!
Jadi, jelas bahwa Ali r.a. tidak mungkin mampu menceritakan sendiri seluruh tuntunan Rosul
-shollallohu alaihi wasallam- kepada kalian!
(139) Kita katakan juga: Bahwa kita dapati sebagian besar daerah Islam mendapatkan ilmu dari Rosul
-shollallohu alaihi wasallam- dari selain jalan Ali r.a, dan mayoritas orang menyampaikannya juga
bukan dari keluarga beliau!
Sebagai misal, beliau mengutus As’ad bin Zuroroh r.a. ke Madinah untuk mengajak penduduknya
masuk Islam, mengajarkan Alqur’an kepada Kaum Anshor, dan memahamkan mereka tentang
agamanya.
Beliau juga mengutus Ala’ bin Hadhromiy r.a. ke Bahrain untuk misi yang sama.
Beliau juga mengutus Mu’adz r.a. dan Abu Musa r.a. ke Yaman, dan mengutus Attab bin Usaid r.a. ke
Mekah.
Lantas. mana klaim syiah bahwa tidak sah menyampaikan ajaran beliau kecuali ahlul baitnya??!
(140) Kaum syiah dalam kitab-kitabnya, mengakui bahwa tidak sampai kepada mereka tentang
halal, harom dan manasik haji kecuali dari jalan Abu Ja’far al-Baqir.
Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mendapatkan hal tersebut dari Ali r.a.!
Ini juga menunjukkan bahwa para pendahulu mereka beribadah dengan apa yang dibawa oleh sahabat
Rosul -shollallohu alaihi wasallam-!
Beberapa kitab syiah mengatakan: “Pada asalnya, kaum syiah sebelum munculnya Abu Ja’far al-Baqir,
tidak tahu masalah manasik haji, perkara yang halal dan yang harom, sampai datangnya Abu Ja’far, ia
kemudian membuka pengetahuan pengikutnya, mengajari mereka manasik haji, perkara yang halal dan
yang harom. Sampai akhirnya semua orang membutuhkanya, padahal sebelumnya kaum syiah
membutuhkan mereka (kaum sunni)”.[20]
(141) Kaum syiah mengatakan bahwa orang yang mimpi melihat imam mahdi mereka, diberikan
pangkat adil (tepercaya) dan shodiq (benar ucapannya).
Syeikh mereka al-Mamaqoniy mengatakan: “Seorang bisa termuliakan karena mimpinya melihat alHujjah
(julukan imam mahdi mereka) -semoga Allah mempercepat kemenangannya dan menjadikan
kami tebusan untuknya setelah kemunculannya-. Dengan mimpinya itu kita mempersaksikan secara
aksiomatis bahwa kedudukannya berada pada derajat keadilan yang paling tinggi”.[21]
Pertanyaannya: Mengapa kalian tidak menerapkan hukum itu terhadap orang yang mimpi melihat
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, padahal sudah jelas beliau lebih mulia darinya??!
(142) Kaum syiah sangat kontradiktif, mereka tidak mau menerima riwayat yang datang dari orang
yang tidak meyakini salah satu imam mereka. Karena alasan inilah, mereka menolak riwayat para
sahabat.
Akan tetapi, di sisi lain mereka tidak menerapkan rumusan tersebut, terhadap pendahulu mereka!!
Syeikh mereka al-Hurrul Amiliy menegaskan bahwa syiah imamiyyah menerima riwayat yang datang
dari kelompok syiah al-Fathiyyah,[22] syiah al-Waqifiyyah[23] dan syiah an-Nawusiyyah.[24] Padahal
ketiga kelompok ini mengingkari sebagian 12 imam mereka, meskipun begitu mereka tetap
menganggapnya sebagai perowi mereka yang tsiqoh.[25]
Pertanyaannya: Mengapa mereka tidak menerapkan hukum tersebut kepada para sahabat Rosululloh
-shollallohu alaihi wasallam-??!
(143) Banyak ulama syiah meyakini bahwa dalam kitab mereka al-Kafi karangan al-Kulainiy,
terdapat riwayat shohih (kuat), dhoif (lemah), bahkan maudhu’ (palsu). Padahal mereka sendiri
menyatakan bahwa kitab ini telah diajukan kepada imam mahdi mereka yang menghilang dan ia
mengatakan: “Kafin li syi’atina” (ini cukup untuk pengikut kita).[26]
Pertanyaannya: Mengapa imam mahdinya ini tidak memprotes riwayat-riwayatnya yang palsu??!
(144) Syeikhnya syiah al-Hamadaniy dalam kitabnya Misbahul Faqih mengatakan: “Sesungguhnya
kunci utama dijadikannya Ijma’ sebagai hujjah –sebagaimana pendapat yang dipilih ulama
mutaakhirin- itu tidak tergantung pada kesepakatan seluruh ulama, bahkan tidak pula tergantung pada
kesepakatan ulama pada masa tertentu, akan tetapi kunci utamanya ada pada pendapat orang yang
ma’shum dengan cara terkaan…”.[27]
Lihatlah mereka menjadikan terkaaan dan prasangka mereka sebagai dalil, sedangkan (ijma’)
kesepakatan ulama salaf bukanlah sebuah dalil.
(145) Salah seorang ulama terkemuka mereka, Ibnu Babawaih al-Qummiy, penulis kitab Man La
Yahdhuruhul Faqih (salah satu dari empat kitab yang menjadi rujukan amal mereka). Kaum syiah
mengakui bahwa orang ini: “Mengklaim adanya ijma’ dalam satu masalah, kemudian dalam masalah
yang sama ia mengklaim adanya ijma’ yang menyelisihi ijma’ yang pernah ia klaim sebelumnya”.[28]
Sampai-sampai salah seorang ulama syiah yang lain mengatakan: “Orang yang modelnya seperti ini
ketika mengklaim ijma’, bagaimana bisa dijadikan sandaran dan dipercaya nukilannya?!”.[29]
(146) Diantara keganjilan syiah, adalah jika ada beda pendapat dalam satu masalah, dan salah satu
pendapat diketahui orangnya, sedang pendapat lain tidak diketahui orangnya, maka yang benar adalah
pendapat yang tidak diketahui orangnya!! Mengapa?? Karena mereka beranggapan bahwa, bisa jadi
pendapat yang tidak diketahui orangnya adalah pendapatnya imam yang ma’shum! Sampai-sampai
syeikh mereka al-Hurrul Amiliy memprotesnya, dengan mengatakan: “…kalau nasabnya tidak jelas,
bagaimana kita bisa memastikan ataupun mengira, bahwa ia itu orang yang ma’shum?!”.[30]
(147) Syeikhnya syiah al-Majlisiy mengatakan: “Menghadap ke arah makam adalah wajib, meskipun
tidak menghadap ke arah kiblat”,[31] yakni ketika melakukan sholat dua rekaat di makam-makam
mereka.
Yang mengherankan, ternyata larangan menjadikan kubur sebagai masjid dan kiblat, itu ada dalam
kitab-kitab mereka dari para imam ahlul bait, akan tetapi mereka memaknai larangan tersebut sebagai
takiyah, sebagaimana kebiasaan mereka menyikapi apa pun yang tidak sesuai hawa nafsu mereka.!!
(148) Kaum syiah sering mengulang-ulang hadits Ghodir, dan juga sabda beliau: “Aku ingatkan
kalian agar menjaga keluargaku”, akan tetapi mereka lupa bahwa merekalah orang yang paling
menyelisihi wasiat nabi ini, mengapa?? Karena mereka memusuhi sebagian besar ahlul bait.!!
(149) Kita katakan kepada syiah: Jika benar para sahabat menyembunyikan nash wasiat untuk Ali r.a,
harusnya mereka juga menyembunyikan dan tidak meriwayatkan apa pun tentang keutamaan dan
jasanya. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Ini menunjukkan bahwa jika seandainya nash itu
ada, tentunya mereka akan menyampaikannya. Apalagi nash masalah khilafah merupakan peristiwa
bersejarah yang sangat agung sekali, dan tentunya itu akan sangat dikenal oleh siapapun, baik
pendukung maupun musuhnya!!
(150) Kaum syiah mengatakan: Sesungguhnya Allah memanjangkan umur Imam Mahdi mereka
hingga beratus-ratus tahun, itu karena kebutuhan manusia -bahkan seluruh alam ini- kepadanya.
Kita katakan: Seandainya Allah itu memanjangkan umur seseorang karena kebutuhan makhluk
kepadanya, tentunya Allah akan memanjangkan umur Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.
(151) Kaum syiah menolak keterangan Ja’far, bahwa saudara kandungnya yang bernama Hasan al-
Askariy, (ayahnya imam mereka, yang katanya menghilang) itu tidak mempunyai anak, dengan alasan
ia tidak ma’shum.[32]
Tapi di sisi lain, mereka menerima pengakuan Utsman bin Sa’id, yang mengatakan bahwa Hasan al-
Askariy itu memiliki anak, padahal ia juga tidak ma’shum. Sungguh sangat Kontradiktif sekali…!!
(152) Diantara akidah syiah yang sangat terkenal adalah akidah thinah. Inti akidah ini, bahwa Allah
azza wajall menciptakan kaum sunni dari tanah liat dan menciptakan kaum syiah dengan tanah liat
yang berbeda dengannya!! Kemudian terjadi percampuran antara dua tanah liat itu dengan cara-cara
tertentu.
Maka kemaksiatan dan kejahatan apapun yang ada pada diri orang syiah, itu merupakan pengaruh
buruk dari tanah liatnya sunni! Sebaliknya kebaikan dan sifat terpuji apapun yang ada pada diri sunni,
itu merupakan pengaruh baik dari tanah liatnya syiah!
Kemudian pada hari kiamat nanti, akan dikumpulkan seluruh keburukan yang dilakukan orang syiah,
kemudian ditimpakan ke orang sunni! Sebaliknya seluruh kebaikan yang dilakukan orang sunni
dikumpulkan, kemudian diberikan kepada orang syiah!!!
Tapi kaum syiah lupa, bahwa tenyata akidah bikinan mereka ini menyelisihi madzhab mereka sendiri
dalam masalah qodho, qodar dan amalan hamba. Mengapa?? Karena akidah thinah ini, menunjukkan
bahwa seorang hamba itu terpaksa dalam amalannya, dan ia tidak mempunyai pilihan. Padahal
madzhab mereka mengatakan: bahwa seorang hambalah yang menciptakan amalannya, dia sendirilah
yang menciptakan amalannya tanpa campur tangan Allah, sebagaimana madzhabnya mu’tazilah.
(153) Keyakinan syiah dalam mengkafirkan para sahabat, sesungguhnya berakibat pada
pengkafiran Ali r.a, mengapa??! Karena ia tidak menunaikan kewajiban yang dibebankan Allah
kepadanya.
Keyakinan itu juga menjadikan Syariat Islam tidak mutawatir.
Bahkan menjadikan Islam itu syariat yang batil, mengapa?? Karena yang menyebarkannya adalah
orang-orang yang telah murtad dan kafir.
Itu juga melazimkan celaan kepada Alqur’an, mengapa?? Karena ia datang dari jalan Abu Bakar r.a,
Umar r.a, Utsman r.a. dan para pembelanya. Dan inilah tujuan akhir penggagas tuduhan itu!!!
(154) Dalam kitab Nahjul Balaghoh dikatakan bahwa Ali r.a. memohon kepada Allah dengan doa
berikut:
“Ya Allah, ampunilah dosaku, dosa yang engkau lebih mengetahui dariku. Dan jika aku
mengulanginya, maka ulangilah ampunan-Mu. Ya Allah ampunilah dosaku, karena janjiku kepada-Mu,
yang Engkau dapati aku tidak menunaikannya. Ya Allah, ampunilah dosaku, dengan ibadah lisan yang
dapat mendekatkan diriku kepada-Mu, dan tundukkanlah hatiku. Ya Allah, ampunilah aku karena salah
kata dan salah ucap, karena hati yang lalai dan lisan yang salah”.[33]
Dalam doa ini, Ali r.a. meminta ampun kepada-Nya atas dosa-dosanya karena lupa dll, dan ini
menyelisihi akidah mereka tentang ke-ma’shum-annya.
(155) Kaum syiah beranggapan bahwa, tiada seorang nabi pun, melainkan ia telah menyeru tentang
kekholifahan Ali r.a.![34] Allah juga mengambil janji kenabian dengan kekholifahan Ali r.a.![35]
Bahkan karena ghuluw (perbuatan melampaui batas) mereka itu, sampai-sampai syeikh mereka at-
Thohroniy mengatakan, bahwa kekholifahan Ali r.a. itu telah ditawarkan kepada segala sesuatu, yang
menerimanya menjadi baik, sedang yang menolaknya menjadi buruk.[36]
Kita katakan kepada syiah: Misi dakwah para nabi adalah untuk menegakkan tauhid dan
mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah, bukan kepada kekholifahan ali r.a. sebagaimana klaim
mereka. Allah ta’ala berfirman: “Tidaklah kami utus para rosul sebelum kamu (Muhammad) kecuali
kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah,
maka hendaklah kalian hanya menyembah kepadaku” (al-Anbiya’:25)
Jika dakwaan kalian itu benar, bahwa kekholifahan ali r.a. itu termaktub di dalam kitabnya para nabi,
pertanyaannya: Mengapa hanya kalian yang menyatakannya dan tidak ada kelompok lain yang tahu hal
itu??!
Mengapa pemeluk agama lain (Yahudi dan Kristen) tidak mengetahui hal itu??! Padahal banyak dari
mereka yang masuk Islam, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menceritakan kekholifahan Ali??!
Bahkan mengapa hal tersebut tidak tercantum dalam Alqur’an, kitab yang menjaga kitab-kitab
sebelumnya??!
(156) Apakah para imam mereka pernah melakukan kawin mut’ah?! Lantas siapa anak-anak
mereka dari hasil kawin mut’ahnya itu??!
(157) Kaum syiah mengatakan, bahwa para imam mereka, mengetahui apa yang sudah terjadi dan
akan terjadi, tidak ada yang samar pada mereka, dan Ali r.a. adalah pintunya ilmu.
Pertanyaannya: Bagaimana Ali r.a. bisa tidak tahu apa hukumnya madzi, sehingga harus menyuruh
orang untuk menanyakan hal itu kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.
(158) Sumber-sumber syiah sepakat bolehnya mengamalkan takiyah, baik untuk para imam maupun
yang lainnya, ini menunjukkan bolehnya seorang imam menampakkan amalan yang tidak sesuai
dengan hatinya, dan sah-sah saja para imam itu mengatakan sesuatu yang tidak benar.
Kita katakan: Orang yang melakukan takiyah, berarti ia tidak ma’shum, mengapa?? Karena pastinya ia
akan berdusta, dan dusta itu termasuk maksiat.
(159) al-Kulainy dalam kitabnya ar-Roudhoh menukil, bahwa sebagian pembela imam Ali r.a,
memintanya untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh para kholifah sebelumnya, tapi ia
menolaknya dengan dalih tindakan itu akan membuat pasukannya lari meninggalkannya.[37]
Pertanyaannya: Apakah Ali r.a. akan membiarkan kesalahan-kesalahan yang sangat fatal itu, yakni
kesalahan yang -menurut kaum syiah- jelas-jelas menyelisihi Alqur’an dan Assunnah??!
Lantas apakah membiarkan kesalahan yang ada itu, sesuai dengan konsep ke-ma’shum-an yang mereka
dakwakan untuk Ali??!
(160) Umar telah memilih 6 orang untuk melakukan syuro, setelah wafatnya, kemudian 3 orang
dari mereka mengundurkan diri, lalu Abdurrohman bin Auf r.a. juga ikut mengundurkan diri, tinggal
tersisa Utsman r.a. dan Ali r.a..
Pertanyaannya: Mengapa tidak dari awal saja, Ali r.a. mengatakan kepada mereka bahwa ia telah
menerima wasiat kekholifahan dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam-??! Apakah masih ada orang
yang ia takuti setelah meninggalnya Umar r.a.??! …. (bersambung…)
[1] Biharul Anwar (26/28)
[2] Al-Kafi (8/256), Biharul Anwar (27/253)
[3] Al-Muhadzdzab karangan Ibnul Barroj (1/13), al-Idhoh karangan Ibnu Syadzan (454), Wushulul
Akhyar karangan al-Amiliy (68)
[4] Tanqihul Maqol karangan al-Mamaqoniy (3/142)
[5] Idem
[6] Kitab Salim bin Qois al-Amiriy (92), ar-Roudhoh minal Kafi (8/245), Hayatul Qulub karangan al-
Majlisiy (2/640)
[7] Rijalul Kasyi (53)
[8] Ushulul Kafi (1/247)
[9] Rijalul Kasyi (53), Mu’jamu Rijalil Hadits karangan al-Khu’iy (12/81)
[10] Kasyful Ghitho’ karangan Ja’far an-Najafi (5), Da’irotul Ma’arif as-Syi’iyyah karangan Muhsin
al-Amin (1/27)
[11] Nahjul Balaghoh (350)
[12] Biharul Anwar (25/351)
[13] Biharul Anwar (10139), an-Nawadir karangan ar-Rowandiy (163)
[14] Nasabu Quraisy karangan Mush’ab az-Zubairiy (45), Jamharotu Ansabil Arob karangan Ibnu
Hazm (87)
[15] Nasabu Quraisy (52), Jamharotu Ansabil Arob (108)
[16] Umdatut Tholib fi Ansabil Ali Abi Tholib karangan Ibnu Anbah as-Syi’iy (111), Thobaqot Ibni
Sa’ad (5/34)
[17] Al-Fushulul Mukhtaroh karangan al-Mufid (112-113)
[18] Roudhotul Wa’izhin (260)
[19] Ashlus Syi’ah wa Ushuliha karangan Muhammad Husain alu Kasyifil Ghitho’ (83)
[20] Ushulul Kafi (2/20), Tafsirul Ayyasyi (1/252-253), al-Burhan (1/386), Rijalul Kasyi (425)
[21] Tanqihul Maqol (1/211)
[22] Mereka adalah pengikuta Abdulloh al-Afthoh, putra Ja’far as-Shodiq
[23] Mereka adalah kelompok yang urutan imamnya berhenti sampai Musa bin Ja’far, mereka
mengatakan bahwa orang setelahnya tidak berhak dengan drajat imamah lagi.
[24] Mereka adalah pengikut seorang lelaki yang dikenal dengan nama: Nawus atau Ibnu Nawus,
mereka mengatakan bahwa Ja’far bin Muhammad belum meninggal, dan dialah imam mahdi
sebenarnya.
[25] Lihatlah sebagaia contoh: Rijalul Kasyi (hal. 563, 565, 570, 712, 616, 597, 715)
[26] Muqoddimatul kafi, karangan Husain Ali (25), Roudhotul Jannat, karangan Khuwansariy (6/109),
As-Syiah, karangan Muhammad Shodiq as-Shodr (122)
[27] Mishbahul Faqih (436), Alijtihad wat Taqlid (17)
[28] Jami’ul Maqol fi ma yata’allaqu bi Ahwalil haditsi war Rijal, karangan at-Turaihi (15)
[29] Idem.
[30] Muqtabasul Atsar (3/63)
[31] Biharul Anwar (101/369)
[32] Al-Ghoybah (106-107)
[33] Nahjul Balaghoh – Syarhu Ibni Abil Hadid (6/176)
[34] Biharul Anwar (11/60), al-Ma’alimuz Zulfa (303)
[35] al-Ma’alimuz Zulfa (303)
[36] Wada’iun Nubuwwah karangan at-Thohroniy (155)
[37] Ar-Roudhoh (29)
(161) Sebagian syiah menuduh Aisyah r.a. telah berzina –naudzubillah-.
Maka kita katakan kepada mereka: Jika tuduhan itu benar, mengapa Rosululloh tidak menegakkan
hukuman zina kepadanya, padahal beliau telah mengatakan “Demi Allah, andai saja Fatimah yang
mencuri, maka pasti aku potong tangannya”??! (HR. Bukhori) Mengapa Ali r.a. juga tidak menegakkan
hukuman zina kepadanya, padahal ia adalah orang yang tak gentar dengan apapun dijalan Allah??!
Mengapa pula Hasan r.a. tidak menghukumnya dengan hukuman zina, ketika ia menjadi kholifah??!
(162) Kaum syiah beranggapan bahwa Ali r.a. memiliki Alqur’an yang susunannya sesuai dengan
urutan turunnya!
Kita katakan kepada mereka: Ali r.a. telah menerima tampuk khilafah setelah Utsman r.a, mengapa ia
tidak mengeluarkan mushaf ini dengan lengkap dan baik?! Dua kemungkinan untuk kalian:
(a) Bisa jadi mushaf ini sebenarnya tidak ada, dan kalian hanya berdusta atas nama Ali r.a.
(b) atau mungkin mushaf itu ada dan Ali r.a. menyembunyikannya. Jika demikian, berarti ia telah
menyembunyikan, dan menipu kaum muslimin selama pemerintahannya. –dan ini tidak mungkin
dilakukan olehnya-.
(163) Al-Kulainiy membuat bab khusus dalam kitabnya al-Kafi dengan judul: “Para wanita tidak
berhak mewarisi rumah “. Ia meriwayatkan dari Abu Ja’far, ia mengatakan: “Para wanita tidak berhak
mewarisi harta yang berupa tanah dan rumah”.[1]
At-Thusiy dalam kitabnya at-Tahdzib (9/254) meriwayatkan dari Maisar, ia mengatakan: Aku telah
menanyakan kepada Abu Abdillah, tentang apa yang boleh diwarisi oleh para wanita? Maka ia
menjawab: “Mereka berhak mewarisi nilai dari batu bata, bangunan, kayu, dan rotan. Adapun tanah dan
rumah, mereka tidak berhak mewarisinya”.
Dari Muhammad bin Muslim, dari Abu Ja’far a.s. ia mengatakan: “Para wanita tidak berhak mewarisi
tanah dan rumah”.
Dari Abdul Malik bin A’yun, dari salah satu dari keduanya a.s. mengatakan: “Para wanita tidak berhak
mewarisi tempat tinggal dan bangunan”.
Di dalam riwayat-riwayat mereka ini, tidak ada pengkhususan sama sekali, tidak untuk Fatimah r.a,
tidak pula untuk yang lainnya. Atas dasar keterangan ini, maka sebenarnya Fatimah r.a. tidak berhak
menuntut harta warisan Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- (sebagaiamana disebutkan dalam
riwayat-riwayat syiah).
Ditambah lagi, seluruh harta (peninggalan) Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- adalah untuk
imam. Sebagaimana diriwayatkan dari Muhammad bin Yahya, dari Ahmad bin Muhammad, dari Amr
bin Syamr, dari Jabir, dari Abu Ja’far, ia mengatakan: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallambersabda:
“Allah menciptakan Adam, dan memberikannya satu bagian dari dunia. Apapun yang
dulunya menjadi bagian Adam, maka itu menjadi bagian Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, dan
apapun yang dulunya menjadi bagian Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, maka ia menjadi
bagian para imam dari keluarga Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-“.[2]
Kita tahu imam yang pertama dalam keyakinan syiah adalah Ali r.a. Oleh karena itu, sebenarnya orang
yang paling berhak menuntut Tanah Fadak adalah Ali r.a, bukan Fatimah r.a. Akan tetapi kita tidak
melihat Ali r.a. melakukannya, bahkan ia mengatakan: “Seandainya aku berkehendak, tentunya aku
bisa mendapatkan madu jernih ini, gandum pilihan ini, dan sutera tenun ini. Akan tetapi alangkah
jauhnya aku dari godaan hawa nafsuku hingga sifat tamakku menuntunku untuk memilih-milih
makanan, mungkin saja di negeri Hijaz dan Yamamah, masih ada orang yang tidak tamak dengan
Qursh (roti yang bulat dan pipih), dan tidak pernah merasakan kenyang (dalam hidupnya)”.[3]
(164) Kaum syiah meriwayatkan dari Imam Ja’far as-Shodiq -yang menurut mereka adalah pendiri
madzhab Ja’fari-, ia dengan bangga mengatakan: “Aku dilahirkan oleh Abu Bakar sebanyak dua kali”.
[4] Itu karena nasabnya kembali kepada Abu Bakar dari dua jalur:
Pertama: Dari jalur ibunya, Fatimah binti Qosim bin Abu Bakar
Kedua: Dari jalur nenek seibunya, Asma’ binti Abdur Rohman bin Abu Bakar, yang merupakan ibunya
Fatimah binti Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar.
Tapi, kita dapati kaum syiah, meriwayatkan dari Imam Ja’far as-Shodiq ini, banyak riwayat bohong
tentang celaannya kepada kakeknya Abu Bakar r.a.!!
Pertanyaannya: Bagaimana di satu sisi, ia membanggakan dirinya dengan kakeknya, tapi di sisi lain ia
malah mencelanya?!
Sungguh, bisa saja ucapan ini keluar dari orang jalanan yang tak tahu apa-apa, bukan dari imam yang
dipandang kaum syiah sebagai orang yang paling faqih dan paling taqwa di zamannya, yang tidak
seorang pun mengharuskan kepadanya untuk melontarkan pujian ataupun celaan.
(165) Kaum syiah meriwayatkan dari Abu Abdillah Ja’far as-Shodiq, ia mengatakan: “Pemegang
perkara (tampuk khilafah) ini adalah seorang lelaki, tiada orang yang menamai dirinya dengan
namanya kecuali kafir…”[5]
Kemudian mereka meriwayatkan dari Abu Muhammad al-Hasan al-Askariy, ia mengatakan kepada
ibunya al-Mahdi: “Engkau akan mengandung seorang lelaki, namanya Muhammad, dialah yang akan
memimpin sepeninggalku…”[6]
Bukankah ini kontradiktif?! Sekali waktu mengatakan: “Barangsiapa yang memanggilnya dengan
namanya, maka ia kafir”, tapi di waktu yang lain ia mengatakan, bahwa al-Hasan al-Askariy
menamainya dengan nama Muhammad!!
(166) Apakah ada kitab yang diturunkan kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- selain
Alqur’an?! dan kitab tersebut dikhususkan untuk Ali r.a.?!
Jika kalian mengatakan: “Tidak ada”, lalu bagaimana kalian menjawab riwayat-riwayat kalian berikut
ini:
(a) al-Jami’ah.
Dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah, ia mengatakan: “Aku Muhammad, sungguh kami memiliki kitab
al-Jami’ah, tahukah mereka apa itu al-Jami’ah?!
Abu Bashir menimpali: “Aku katakan: Diriku adalah tebusanmu, apa itu al-Jami’ah?!”.
Abu Abdillah menjawab: “Ia adalah shohifah (lembaran), panjangnya 70 hasta, dengan ukuran hastanya
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, didiktekan langsung dari belahan mulut beliau, dan ditulis
langsung oleh Ali r.a. dengan tangan kanannya. Di dalam lembaran itu terdapat seluruh yang halal dan
yang haram. Bahkan didalamnya terdapat semua yang dibutuhkan manusia, sampai keterangan tentang
makhluk kutu pun ada…dst”.[7]
Perhatikanlah ucapannya: “Di dalamnya terdapat semua yang dibutuhkan manusia”, lantas mengapa itu
disembunyikan, sehingga kita tidak menemukannya beserta isi yang terkandung di dalamnya?!
Bukankah ini termasuk menyembunyikan ilmu?!
(b) Shohifah Namus (lembaran Namus)
Dari Ridho, tentang ciri-ciri imam, ia mengatakan: “Dan ia memiliki shohifah (lembaran) yang di
dalamnya terdapat seluruh nama pengikutnya sampai hari kiamat. Ia juga memiliki shohifah yang berisi
seluruh nama musuhnya sampai hari kiamat”.[8]
Kita katakan: Shohifah apa ini, yang cukup untuk menampung seluruh nama pengikut syiah sampai
hari kiamat?! Seandainya, nama orang di negara Iran -yang hari ini masih hidup- saja kita catat,
tentunya kita akan membutuhkan minimal ratusan jilid buku!!
(c) Shohifah al-’Abithoh.
Dari Amirul Mukminin, ia mengatakan: “Sungguh demi Allah, aku memiliki banyak potongan shohifah
dari Rosululloh -semoga Allah memberikan sholawat kepada beliau, keluarga dan keturunannya-.
Diantaranya ada shohifah al-’Abithoh, dan kabar tentang bangsa Arab lebih hebat darinya. Di dalamnya
terdapat 60 kabilah arab baharjah, mereka tidak berhak mendapat bagian Agama Allah (yakni mereka
semua kafir)”.[9]
Kita katakan: Sungguh, riwayat ini tidak bisa diterima dan tidak masuk akal. Apabila sejumlah kabilah
ini kafir semua, itu berarti tiada seorang pun yang muslim menurutnya.
Perhatikan juga, pengkhususan kabilah-kabilah arab dengan hukum kejam ini, darinya anda akan
mencium bau fanatisme terhadap bangsa tertentu!
(d) Shohifah Dzu’abatus Saif. (lembaran pada gantungan pedang)
Dari Abu Bashiroh, dari Abu Abdillah: “Pada gantungan pedang Rosululloh -shollallohu alaihi
wasallam-, ada sebuah shohifah kecil, yang didalamnya terdapat banyak huruf, dan setiap hurufnya
bisa membuka seribu huruf lain.
Abu bashiroh berkata, Abu Abdillah mengatakan: “Maka tidak keluar dari shohifah itu, kecuali hanya
dua huruf saja, sampai kiamat tiba”.[10]
Kita katakan: Lantas kemana huruf-huruf yang lain?! Bukankah sebaiknya juga dikeluarkan, sehingga
pengikut Ahlul Bait bisa mengambil manfaat darinya?!
Ataukah ia akan terus disembunyikan sampai datangnya Mahdi, dan banyak generasi mati sedangkan
agama mereka terus dikurung dalam sirdabnya…??!
(e) Shohifah Ali
Yaitu shohifah lain, yang juga terdapat pada gantungan pedang beliau -shollallohu alaihi wasallam-.
Dari Abu Abdillah, ia mengatakan: “Pada gantungan pedang Rosululloh -shollallohu alaihi wasallamada
shohifah, yang tertulis di dalamnya: bismillahirrohmanirrohim, sesungguhnya orang yang paling
sombong kepada Allah pada hari kiamat nanti adalah orang yang membunuh mereka yang bukan
pembunuhnya, dan orang yang memukul mereka yang bukan pemukulnya. Barangsiapa yang mengaku
sebagai budaknya orang yang bukan tuannya, maka ia telah kafir (ingkar) dengan apa yang diturunkan
kepada Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-. Dan barangsiapa berbuat bid’ah atau membantunya,
maka pada hari kiamat nanti, Allah takkan menerima ibadahnya yang wajib, maupun yang sunat”.[11]
(f) al-Jafr (dokumen rahasia)
Ia ada dua macam: al-Jafrul Abyadh (dokumen putih) dan al-Jafrul Ahmar (dokumen merah).
Dari Abul Ala’, ia berkata, Aku mendengar Abu Abdillah mengatakan: “Sungguh aku memiliki al-
Jafrul Abyadh.
Abu Ala’ bertanya: “Apa saja yang ada di dalamnya?”
Abu Abdillah menjawab: “Di dalamnya terdapat Zabur-nya Nabi Dawud, Taurot-nya Nabi Musa, Injilnya
Nabi Isa, Shuhuf-nya Nabi Ibrohim, dan seluruh yang halal dan yang harom… Dan aku juga
mempunyai al-Jafrul Ahmar“.
Abu Ala’ bertanya: “Apa saja yang ada di dalamnya?”
Abu Abdillah menjawab: “Di dalamnya terdapat persenjataan, itu akan dibuka untuk (menuntut balas)
darah, yang akan dibuka oleh pemilik pedang untuk membunuh”.
Lalu Abdulloh bin Abi Ya’fur berkata kepadanya: “Semoga Allah memperbaikimu, apakah keturunan
Hasan r.a. mengetahui hal ini?”.
Ia menjawab: “Sungguh demi Allah, mereka mengetahuinya sebagaimana mereka tahu malam itu
malam, dan sebagaimana mereka tahu siang itu siang. Akan tetapi karena hasad dan cinta dunia,
mereka kemudian menolak dan mengingkarinya. Seandainya mereka mencari kebenaran dengan
kebenaran, tentunya itu akan lebih baik bagi mereka”.[12]
Kita katakan: Cobalah renungkan! Zabur-nya Nabi Dawud, Taurot-nya Nabi Musa, Injil-nya Nabi Isa,
Shuhuf-nya Nabi Ibrohim, dan semua yang halal dan yang harom ada di al-Jafr ini! Lantas mengapa
kalian menyembunyikannya?!
(g) Mushaf Fatimah r.a.
- Dari Ali bin Said, dari Abu Abdillah, ia mengatakan: “Sungguh demi Allah, kami memiliki mushaf
fatimah, tidak ada di dalamnya satu ayat pun dari Alqur’an. Sungguh ia merupakan dikte-an Rosululloh
-semoga Allah memberikan sholawat kepada beliau dan keluarganya- yang ditulis oleh Ali r.a. dengan
tangannya”.[13]
- Dari Muhammad bin Muslim, dari salah seorang dari keduanya r.a.: “Aku tinggalkan pada Fatimah
sebuah mushaf, ia bukan Alqur’an, tetapi merupakan firman Allah yang diturunkan kepadanya,
didiktekan oleh Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dan ditulis oleh Ali r.a.”.[14]
- Dari Ali bin Abu Hamzah, dari Abu Abdillah: “Kami memiliki Mushaf Fatimah, sungguh demi Allah,
tidak ada huruf (kalimat) yang sama dengan huruf Alqur’an, akan tetapi ia merupakan dikte-an
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, dan ditulis oleh Ali r.a.”.[15]
Maka, apabila kitab tersebut adalah hasil dikte-an Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dan ditulis
oleh Ali r.a, mengapa beliau menyembunyikannya dari umat islam?! Padahal Allah telah memerintah
beliau agar menyampaikan semua yang diturunkan kepadanya, sebagaimana firman-Nya: “Wahai
Rosul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang
diperintahkan itu), berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya” (al-Maidah: 67).
Bagaimana mungkin, Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- setelah menerima wahyu ini
menyembunyikan Alqur’an ini dari seluruh umat islam?! Pantaskah Ali r.a. dan para imam setelahnya
menyembunyikannya dari para pengikutnya?! Bukankah ini merupakan pengkhianatan terhadap
amanat yang diemban oleh mereka?!
(h) Taurat, Injil dan Zabur.
Dari Abu Abdillah, bahwa ia biasa membaca kitab Injil, Taurat, dan Zabur dalam bahasa Suryani.[16]
Kita katakan: Lantas apa gunanya Amirul Mukminin dan para imam setelahnya membaca dan mengkaji
bersama kitab Zabur, Taurat dan Injil dengan sembunyi-sembunyi, padahal riwayat-riwayat mereka
mengklaim bahwa hanya Ali r.a. saja yang menerima Alqur’an secara lengkap, seluruh kitab dan
banyak shohifah lainnya?!
Lantas, apa gunanya kitab Zabur, Taurat, dan Injil bagi Ali r.a.?! Sedangkan kita semua tahu bahwa
kitab-kitab itu telah dinasakh (dihapus) dengan turunnya Alqur’an?!
Setelah ini semua, kita katakan: Kita semua tahu bahwa Islam tidak memiliki kecuali satu kitab, yakni
Alqur’an. Adapun kitab-kitab yang berjumlah banyak, itu adalah ciri-ciri orang Yahudi dan Nasrani,
sebagaimana jelas terlihat pada kitab-kitab mereka yang berjumlah banyak.
(167) Kaum syiah meriwayatkan dari Abul Hasan, dalam firman-Nya: “Mereka hendak
memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka”, ia mengatakan: yakni
mereka ingin memadamkan kepemimpinan Amirul Mukminin.
Sedangkan firman-Nya setelah itu: “Tetapi Allah tetap akan menyempurnakan cahaya-Nya”,
maksudnya bahwa Allah-lah yang akan menyempurnakan ke-imamah-an itu, dan ke-imamah-an itulah
maksud dari kata cahaya, yakni dalam firman-Nya: “Maka, berimanlah kalian kepada Allah dan Rosul-
Nya, dan kepada cahaya yang kami turunkan!”. Ia mengatakan lagi: “demi Allah, cahaya itu adalah
para imam dari keluarga Muhammad pada hari kiamat nanti”.[17]
Pertanyaannya: Apakah Allah menyempurnakan cahaya-Nya dengan menyebarkan Islam, atau dengan
memberikan kekuasaan, wasiat, dan kekhilafahan kepada ahlul bait?!
(168) Kaum syiah memvonis bahwa Muawiyah r.a. telah murtad dan kafir! Jika tuduhan itu benar,
maka berarti mereka telah mencela Ali r.a. dan anaknya Hasan r.a. Mengapa? Karena penjelasan berikut
ini:
Kalau kita katakan Muawiyah r.a. telah murtad, berarti kita mengakui bahwa Ali r.a. pada waktu itu
kalah dengan kaum murtaddin. Sedangkan Hasan r.a, ia malah menyerahkan tampuk pimpinan kepada
kaum murtaddin.
Di sisi lain kita dapati, Kholid bin Walid r.a. pada zaman Abu Bakaar r.a. mampu memerangi dan
menaklukkan para murtaddin. Ini menunjukkan pembelaan Allah kepada Kholid r.a. untuk
menaklukkan kaum kafir, lebih besar dari pada pembelaan Allah kepada Ali r.a.?!, karena Allah maha
adil dan tidak mendzolimi salah satu dari keduanya, sehingga dengan begitu Kholid r.a. di sisi Allah
menjadi lebih afdhol dari pada Ali r.a. Bahkan pasukan Abu Bakar r.a, Umar r.a, Utsman r.a. dan para
asisten mereka selalu menang menghadapi kaum kafir, tapi mengapa Ali r.a. malah tidak mampu
menghadapi para murtaddin!
Allah ta’ala juga telah berfirman: “Janganlah kalian merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab
kalian paling tinggi derajatnya, jika kalian beriman”. (Ali Imron: 139), Dia juga berfirman: “Maka
janganlah kalian lemah dan mengajak damai, karena kalianlah yang lebih unggul, dan Allah pun
bersama kalian, dan Dia tidak akan mengurangi segala amal kalian”. (Muhammad: 35). Tapi ketika
merasa tidak mampu menyingkirkan Muawiyah r.a. dari negaranya, Ali r.a. akhirnya mengajak damai
dan tenang seperti sediakala. Maka, seandainya para sahabat Ali r.a. itu mukmin, sedang pengikut
Mu’awiyah r.a. itu murtad -sebagaimana dituduhkan syiah-, seharusnya para sahabat Ali r.a. bisa
menundukkan mereka, tapi kenyataannya tidak demikian!
(169) Sesungguhnya kaum syiah tidak akan mampu menetapkan keimanan dan keadilan Ali r.a.
Mereka tidak mungkin mampu menetapkannya kecuali jika mereka menjadi Ahlus Sunnah.
Karena, jika Kelompok Khowarij dan mereka yang setuju mengkafirkan atau men-fasik-kan Ali r.a.
mengatakan: “Kami tidak menerima jika Ali dikatakan mukmin, akan tetapi dia itu kafir atau dholim” -
sebagaimana tuduhan syiah kepada Abu Bakar r.a. dan Umar r.a.-, tentunya mereka tidak mempunyai
dalil atas keimanan dan keadilan Ali r.a, kecuali dalil-dalil tersebut lebih menunjukkan keimanan dan
keadilannya Abu Bakar r.a, Umar r.a, dan Utsman r.a..
Apabila kaum syiah berhujjah dengan kabar yang mutawatir tentang islamnya, hijrahnya dan jihadnya
Ali r.a, maka kabar itu juga telah mutawatir dari tiga kholifah itu. Bahkan telah mutawatir juga kabar
tentang islamnya, sholatnya, dan puasanya Mu’awiyah r.a. dan para kholifah Bani Umayyah dan Bani
Abbas, begitu juga jihad mereka melawan para kuffar!
Jika kaum syiah menuduh salah satu dari mereka dengan kemunafikan, maka bisa juga seorang
Khowarij menuduh Ali r.a. dengan kemunafikan. Jika mereka menyebutkan syubhat lain, seorang
Khowarij juga bisa mendatangkan syubhat yang lebih kuat lagi!
Jika kaum syiah itu menuduh Abu Bakar r.a. dan Umar r.a, itu munafik, memendam permusuhan
kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, dan sebisa mungkin merusak Islam, maka bisa juga orang
Khowarij (yang menentang Ali r.a.) mengatakan hal yang sama kepada Ali.
Bisa saja seorang khowarij (yang menentang Ali), mengatakan: bahwa Ali dulunya benci terhadap anak
pamanya itu (yakni Nabi -shollallohu alaihi wasallam-) -karena sengketa keluarga-, sehingga ia ingin
merusak agamanya, tapi ia tidak mampu mewujudkannya di masa beliau dan masa-masa tiga kholifah
berikutnya, hingga akhirnya ia berhasil membunuh kholifah ketiga (Utsman r.a.) dan menyulut fitnah
(kekacauan), yang dengannya ia berhasil membunuh para sahabat Muhammad -shollallohu alaihi
wasallam- dan umatnya. Itu semua ia lakukan karena kebencian dan permusuhannya kepada Nabi
-shollallohu alaihi wasallam-. Ia dulunya juga memendam jalinan hubungan dengan kelompok
munafikin yang mendakwakan ketuhanan dan kenabian untuk dirinya, karena kebiasaannya yang
menampakkan apa yang tidak ada dalam hatinya, karena inti ajaran agamanya adalah takiyah. Itulah
sebabnya mengapa firqoh al-Batiniyyah, termasuk diantara pengikutnya, mereka mempunyai apa yang
dirahasiakan Ali r.a, dan menyebarkan ajaran agama kebatinan yang dianut oleh Ali r.a. tersebut!
Apabila kaum syiah ingin menetapkan keimanan dan keadilan Ali r.a. dengan nash Alqur’an, maka kita
katakan, bahwa Alqur’an berlaku umum untuk semua orang. Tercakupnya Ali r.a. dalam ayat Alquran,
tidak lebih utama dari pada tercakupnya sahabat lain dalam ayat yang sama. Tidak ada satu ayat pun,
yang mereka klaim sebagai ayat yang khusus ditujukan kepada Ali r.a, kecuali bisa saja orang lain
mengklaim ayat yang sama itu khusus untuk Abu Bakar r.a. dan Umar r.a.
Soal klaim-mengklaim tanpa hujjah, itu bisa dilakukan oleh siapapun. Dan mengklaim adanya
keutamaan bagi syaikhoin (Abu Bakar r.a. dan Umar r.a.), itu lebih mudah dari pada mengklaim
keutamaan untuk sahabat lainnya.
Apabila kaum syiah mengatakan, bahwa keimanan dan keadilan Ali r.a. itu datang dari nukilan dan
riwayat yang kuat, maka kita katakan bahwa nukilan dan riwayat yang ada pada mereka justru lebih
masyhur dan lebih banyak!
Jika mereka mendakwakan riwayatnya mutawatir, maka mutawatir-nya kabar tentang keutamaan Abu
Bakar r.a. itu lebih benar!
Jika mereka bersandar pada nukilan dari para sahabat, maka justru nukilan mereka tentang keutamaan
Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. itu lebih banyak!
(170) Kaum syiah beranggapan bahwa Ali r.a. adalah orang yang paling berhak dengan Imamah
(tampuk khilafah), karena -sebagaimana klaim mereka- dialah sahabat nabi yang paling utama, dan
paling banyak keutamaannya melebihi sahabat lainnya.
Kita katakan: Andai saja kalian mengetahui banyak keutamaan untuk Ali r.a, seperti lebih dulu masuk
islam, pernah berjihad bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, ilmunya luas, dan seorang
yang zuhud. Lantas apakah kalian mendapati hal tersebut ada pada diri Hasan r.a dan Husain r.a.?!
Coba bandingkan keduanya dengan Sa’ad bin Abi Waqqosh r.a, Abdurrohman bin Auf r.a, Abdulloh bin
Umar r.a. dan para sahabat lainnya baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshor?! Tentu tidak ada
yang bisa mengklaim hal tersebut di atas untuk keduanya.
Maka, tidak ada sandaran lagi bagi mereka untuk mendakwakan ke-imamah-an keduanya, kecuali
dengan mengklaim adanya nash khusus untuk keduanya agar menjadi kholifah, dan itu merupakan hal
yang setiap orang mampu melakukannya.
Andaikan saja Bani Umawiyah membolehkan untuk berdusta dalam mengklaim nash khusus tentang
Mu’awiyah, tentunya posisi mereka lebih kuat dari pada posisi kaum syiah, karena firman Allah ta’ala:
“Barangsiapa dibunuh secara dholim, maka sungguh kami telah memberi kekuasaan kepada walinya,
tetapi janganlah walinya itu melampaui batas dalam pembunuhan. Sesungguhnya dia adalah orang
yang mendapat pertolongan”. (al-Isro’:33), maka bisa saja Bani Umawiyah mengatakan bahwa yang
dimaksud dengan “orang yang didholimi” adalah Utsman bin Affan r.a, dan Allah telah menolong
Muawiyah r.a. karena posisinya sebagai walinya Utsman r.a.!
(171) Kaum syiah beranggapan, bahwa Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. telah merampas tampuk
khilafah dari Ali r.a, serta merencanakan agar para sahabat menghalanginya… -sampai akhir kedustaan
mereka-.
Kita katakan: Seandainya apa yang kalian sebutkan itu benar, lantas mengapa Umar r.a.
memasukkannya sebagai salah satu anggota syuro?! Andaikan Umar r.a. tidak mengikutkannya,
sebagaimana ia tidak mengikutkan Sa’id bin Zaid r.a. dalam syuro tersebut, atau menggantinya dengan
orang lain, tentunya tidak ada seorang pun yang memprotesnya, walaupun dengan sepatah kata?!
Maka benarlah kesimpulan kita, bahwa sebenarnya para sahabat itu telah bersikap terhadap Ali r.a.
sesuai dengan posisinya, mereka tidak melampaui batas, tidak pula memandangnya dengan sebelah
mata, -semoga Allah selalu meridhoi mereka semua-. Para sahabat itu telah mendahulukan orang yang
paling berhak, dan siapa yang lebih utama untuk mengembannya. Mereka menyamakannya dengan
orang yang sepadan dengan mereka.
Penjelasan berikut ini, menguatkan kesimpulan ini:
Ketika Ali r.a. memegang tampuk khilafah setelah wafatnya Utsman r.a, maka kalangan Muhajirin dan
Anshor pun bersegera untuk membaiatnya.
Apakah ada yang menyebutkan bahwa salah seorang dari mereka mengajukan udzur karena telah
membaiat Abu Bakar r.a., Umar r.a. dan Utsman r.a.?! Atau adakah diantara mereka yang bertaubat
karena pengingkarannya terhadap nash ke-imamah-an Ali r.a.?! Atau adakah orang yang mengatakan:
“Aku sekarang ingat nash tentang kekhilafahan Ali r.a. yang dulunya aku lupa dengannya”?!.
(172) Kaum Anshor telah menentang Abu Bakar r.a, dan mengajak untuk membaiat Sa’ad bin
Ubadah r.a, sedang Ali r.a. malah duduk di rumahnya, ia tidak memihak Abu Bakar r.a, tidak pula
memihak mereka. Maka kembalinya Kaum Anshor untuk membaiat Abu Bakar r.a, tidak mungkin
keluar dari sebab-sebab berikut ini:
(a) Karena kalah kuat.
(b) Atau karena mereka sadar bahwa Abu Bakar r.a. lebih berhak dengan tampuk khilafah tersebut,
sehingga mengharuskan mereka membaiatnya.
(c) Atau mereka melakukannya tanpa ada sebab apapun. Dan tidak mungkin ada kemungkinan lain lagi.
Apabila kaum syiah mengatakan, bahwa “mereka membaiatnya karena kalah kuat”, maka kita katakan,
itu adalah dusta, karena dalam peristiwa itu tidak pernah terjadi perang, saling pukul, saling hujat,
ancaman, ataupun persenjataan. Dan mustahil Kaum Anshor gentar, padahal jumlah mereka lebih dari
2000 pasukan berkuda yang pemberani, yang semuanya dari satu keluarga besar. Keberanian mereka,
jelas tidak menyisakan keraguan di hati, karena selama 8 tahun berturut-turut mereka terus memerangi
seluruh bangsa arab di setiap sudut negerinya, mereka siap mati, dan siap diserang oleh kekaisaran
romawi dalam perang Mu’tah dan peristiwa lainnya.
Mustahil Kaum Anshor itu menjadi gentar hanya dengan Abu Bakar r.a. dan dua orang yang datang
dengannya, yang ia tidak memiliki keluarga yang besar, tidak memiliki majikan, pembela, dan harta
yang bisa menjadi pendukungnya. Mustahil kaum anshor itu gentar sehingga mau kembali kepada
orang yang membatalkan hak mereka, bahkan membaiatnya dengan tanpa keraguan dan tanpa
penundaan.
Tidak benar juga, jika mereka menarik kembali ucapan dan pendapat mereka -bahwa khilafah adalah
hak mereka- dan menarik kembali keinginan mereka untuk membaiat anak paman mereka dengan
tanpa sebab apapun. Karena mustahil jumlah yang besar itu sepakat dengan suatu yang mereka anggap
kebatilan, tanpa adanya paksaan dan tujuan untuk mendapatkan harta atau kedudukan. Sungguh
mustahil tanpa ada sebab apa-apa, kemudian mereka mau menyerahkan semua urusannya, kepada
seorang yang tidak memiliki kerabat, kekuatan, pelayan, penjaga pintu, gedung yang aman, majikan
dan harta yang cukup.
Jika semua kemungkinan di atas salah, berarti hanya tersisa satu kemungkinan yang benar, yakni
bahwa Kaum Anshor itu mau kembali membaiat Abu Bakar r.a, karena dalil yang benar dan shohih
menurut mereka, yang datang dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.
Mereka kembali, bukan karena ijtihad seperti ijtihadnya mereka (kaum syiah), bukan pula karena
prasangka seperti prasangka mereka (kaum syiah).
Apabila kepemimpinan itu telah lepas dari tangan Kaum Anshor, lantas apa yang menjadikan mereka
semua sepakat untuk menginkari adanya nash dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam-tentang
kekhilafahan Ali r.a.?! Sungguh mustahil mereka semua sepakat untuk menolong orang yang
mendholimi dan merampas hak mereka!!
(173) Kontradiksi yang ada dalam kisah Imam Mahdi-nya syiah.
(a) Siapa ibunya Mahdi itu?
Apakah ia seorang budak yang bernama Narjas, ataukah budak yang bernama shuqoil, ataukah budak
yang bernama malikah, ataukah budak yang bernama Khomth, ataukah budak yang bernama Hakimah,
ataukah budak yang bernama Raihanah atau Susan, ataukah ia itu orang merdeka yang bernama
Maryam?!
(b) Kapan Mahdi dilahirkan?
Apakah ia dilahirkan setelah delapan bulan dari ayahnya meninggal, ataukah dilahirkan sebelum
ayahnya meninggal, yakni tahun 252, ataukah ia dilahirkan tahun 255, ataukan tahun 256, ataukah
tahun 257, ataukah tahun 258. Ataukah ia lahir pada tanggal 8 Dzul qo’dah, ataukah tanggal 8 Sya’ban,
ataukah tanggal 15 Sya’ban, ataukah 15 Romadhon?!
(c) Bagaimana ibunya mengandungnya?
Apakah ia mengandungnya di perut sebagaimana perempuan lain? Ataukah ia mengandungnya di sisi
badannya, tidak seperti perempuan lainnya?!
(d) Bagaimana ibunya melahirkannya?
Apakah ia melahirkannya dari jalan biasa? Ataukah ia lahir dari paha, tidak seperti kebiasaan wanita
lain?!
(e) Bagaimana pertumbuhannya?
Mereka meriwayatkan dari Abul Hasan: “Kami para pemilik wasiat (kekhilafahan), tumbuh dalam
sehari sebagaimana tumbuhnya orang lain dalam sepekan”!
Dari Abul Hasan, ia mengatakan: “Bayi kami yang berumur sebulan, sama dengan bayi orang lain yang
berumur setahun”!
Dari Abul Hasan, ia mengatakan: “Kami para imam, tumbuh dalam sehari, sebagaimana tumbuhnya
orang lain dalam setahun”![18]
(f) Dimana ia tinggal?
Mereka mengatakan: “Di Thoibah (Madinah)”, lalu mengatakan: “bukan di sana, tapi di gunung
Rodhwa di daerah Rouha’, lalu mengatakan: “bukan di sana, tapi di Mekah di daerah Dzi Thuwa, lalu
mengatakan: “bukan di sana, tapi di daerah Samurro’”.
Sampai-sampai ada sebagian mereka mengatakan: “Andaikan aku tahu, dimana engkau berada…
apakah di bumi ataukah di langit sana… ataukah di daerah Rodhwa ataukah di tempat lain, ataukah di
daerah Dzi thuwa… ataukah di Negeri Yaman di Lembah Syamrokh, ataukah di Jazirah
Khadhra’…?!”[19]
(g) Ketika keluar, apakah ia masih muda atau sudah tua?
Dari al-Mufadhdhol, ia mengatakan: “Aku bertanya kepada as-Shodiq: ‘Wahai sayid-ku, ia (Mahdi)
akan kembali muda atau keluar dalam keadaan sudah tua?’ ia menjawab: ‘SubhanAllah, apa ada yang
tahu itu, ia akan keluar kapanpun ia kehendaki, dan dengan bentuk apa pun ia ingini’”.[20]
Dalam riwayat lain: “Ia akan keluar dalam keadaan muda, seperti orang yang umurnya 32 tahun”.[21]
Dalam riwayat lain: “Ia akan keluar, dan umurnya 51 tahun”.[22]
Dalam riwayat lain: “Ia akan keluar dalam keadaan muda, seperti orang yang umurnya 33 tahun.[23]
(h) Berapa tahun ia akan berkuasa?
Muhammad as-Shodr mengatakan: “Ada banyak riwayat yang menceritakan masalah ini, akan tetapi
ada perselisihan yang sangat besar di dalamnya, sehingga menjadikan banyak pengarang kitab menjadi
bimbang dan bingung”.[24]
Ada yang mengatakan: “Mahdi itu akan berkuasa selama 19 tahun”, dalam riwayat lain: “Tujuh tahun,
tapi Allah memanjangkan siang dan malamnya hingga salah satu tahunnya sama dengan 10 tahun,
hingga masa pemerintahannya sama dengan 70 tahun dari tahun kalian”[25]
Dalam riwayat lain dikatakan, bahwa Mahdi akan memerintah selama 309 tahun, sebagaimana para
Ahlul Kahfi menetap di goanya.
(i) Berapa lama ia akan terus bersembunyi?
Mereka meriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib, ia mengatakan: “Mahdi nantinya akan bersembunyi dan
bingung. Saat itu ada kelompok yang tersesat, ada juga yang mendapat petunjuk. Ketika ia ditanya:
“Berapa lama Mahdi dalam kebingungan?” Ali menjawab: “Selama enam hari atau enam bulan atau
enam tahun”.[26]
Dari Abu Abdillah, ia mengatakan: “Waktu antara keluarnya Mahdi dan pembantaian jiwa yang suci,
hanya 15 hari saja”, yakni pada tahun 140H.
Muhammad as-Shodr mengomentari riwayat ini dengan perkataannya: “Kabar ini adalah kabar yang
kuat, dan bisa ditetapkan dalam sejarah -sebagaimana metode penulisan kitab ini-, ia telah diriwayatkan
oleh al-Mufid dalam kitab al-Irsyad dari Tsa’labah bin Maimun, dari Syu’aib al-Haddad, dari Sholih
bin Maitam al-Jamal, dan mereka semua adalah para perowi yang mulia dan tsiqoh. [27]
Ketika kabar itu ternyata tidak terjadi, maka datanglah riwayat lain, yang mengatakan: “Wahai Tsabit,
sebenarnya Allah itu mulanya memberikannya waktu keluar tahun 70H, lalu ketika Husain dibunuh,
Allah menjadi semakin marah kepada penduduk bumi, sehingga ia mengakhirkan waktunya hingga
tahun 140 H, maka aku pun memberitahukan kalian bahwa ia akan keluar pada tahun 140 H, tapi kalian
malah menyebarkan keterangan itu dan membuka tabir rahasia-Nya, sehingga Allah sekarang tidak
memberitahu kita kapan ia akan keluar”.[28]
Kemudian datang riwayat yang menyalahkan semua riwayat yang datang, dari Abu Abdillah Ja’far as-
Shodiq, ia mengatakan: “Telah berdusta orang-orang yang menentukan batas waktu itu, sesungguhnya
kami ahlul bait tidak menentukan batas waktunya”.[29] Ia juga mengatakan: “Kami tidak menentukan
batas waktu untuk kejadian yang telah lalu, kami juga tidak menentukan waktu untuk kejadian yang
akan datang”.[30]
(174) Allah telah memuji para sahabat dalam beberapa ayat Alqur’an, diantaranya:
“Rahmatku meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku bagi mereka yang bertakwa,
yang menunaikan zakat dan mereka yang beriman kepada ayat-ayat kami (-) (yaitu) mereka yang
mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di
dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang ma’ruf dan
mencegah dari yang mungkar, yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan
segala yang buruk bagi mereka, yang membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada
pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan
mengikuti cahaya yang telah diturunkan kepadanya (Alqur’an), mereka itulah orang-orang yang
beruntung”. (al-A’rof: 156-157)
Allah juga berfirman: “(yaitu) orang yang menaati Allah dan Rosul setelah mereka mendapat luka
(dalam Perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebajikan dan bertakwa di antara mereka mendapat
pahala yang besar. (-) (yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rosul) yang ketika ada orang-orang
mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang
kalian, karena itu takutlah kepada mereka!”, ternyata ucapan itu menambah kuat iman mereka, dan
mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia-lah sebaik-baik
pelindung”. (Ali Imron: 172-173)
Allah juga berfirman: “Dialah yang memberikan kekuatan kepadamu dengan pertolongan-Nya dan
dengan (dukungan) orang-orang mukmin. (-) dan Dia yang mempersatukan hati mereka (orang-orang
yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu
tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah-lah yang telah mempersatukan hati mereka.
Sungguh, Dia maha perkasa lagi maha bijaksana”. (al-Anfal: 62-63).
Allah juga berfirman: “Wahai Nabi (Muhammad)! Cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan
bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu” (al-Anfal: 64).
Allah juga berfirman: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian)
menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. (Ali
Imron: 110)
Dan masih banyak lagi ayat yang senada dengannya.
Adapun kaum syiah, mereka mengakui keimanan para sahabat di masa Rosul -shollallohu alaihi
wasallam-, akan tetapi mereka beranggapan bahwa para sahabat itu murtad sepeninggal beliau!
Sungguh demi Allah, ini sangat mengherankan, bagaimana mungkin seluruh sahabat sepakat untuk
murtad sepeniggal beliau?! Mengapa pula hal itu mereka lakukan?!
Bagaimana mereka menolong Nabi -shollallohu alaihi wasallam- ketika situasi bahaya dan berat,
mengorbankan jiwa dan apapun yang berharga, tapi kemudian murtad sepeninggal beliau tanpa sebab
apapun?!
Kecuali bila kalian mengatakan, bahwa sebab murtadnya mereka adalah: karena mereka telah
mengangkat Abu Bakar r.a. sebagai kholifah. Maka kita katakan:
Mengapa para sahabat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- sepakat untuk membaiat Abu Bakar
r.a.? Apa yang mereka takutkan dari Abu Bakar r.a.? Apakah Abu Bakar r.a. itu mempunyai kekuatan
dan kekuasaan sehingga bisa memaksa mereka untuk membaiatnya?
Ditambah lagi, keadaan Abu Bakar r.a. yang berasal dari Bani Taim, yang merupakan keluarga yang
paling sedikit jumlahnya dari Kabilah Quraisy, adapun keluarga yang paling terhormat dan banyak
jumlahnya dari Kabilah Quraisy adalah Bani Hasyim, Bani Abdiddar, dan Bani Makhzum.
Apabila Abu Bakar r.a. tidak mampu memaksa para sahabat Rosul -shollallohu alaihi wasallam- untuk
membaiatnya, mengapa para sahabat itu mau mengorbankan jihad, iman, pembelaan, prioritas, dunia
dan akhirat mereka untuk orang lain, yakni Abu Bakar r.a.?!
(175) Kaum syiah beranggapan bahwa para imam mereka ma’shum dan Mahdi mereka ada dan
biasa berhubungan dengan sebagian ulama mereka. Ada yang mengatakan jumlah ulama yang biasa
berhubungan dengan Mahdi mereka itu mencapai 30 orang.
Lalu pantaskah -setelah pengakuan ini- ada perselisihan dan pertentangan dalam ajaran mereka, yang
hampir saja tidak ada kelompok dan sempalan yang menyamai mereka dalam soal perselisihan?!
Sehingga hampir-hampir setiap mujtahid dalam ajaran mereka memiliki madzhab khusus untuk
dirinya?! Padahal mereka mengakui bahwa adanya imam yang menerangkan hujjah kepada manusia
adalah suatu kewajiban, dialah Mahdi yang ditunggu-tunggu. Lalu mengapa mereka menjadi kelompok
yang paling banyak perselisihannya, padahal imam mereka itu ada dan sering berhubungan dengan
dengan mereka?!
Kemudian kalian mengatakan, bahwa al-Majlisiy menyebutkan hadits, yang menerangkan bahwa:
“Imam (Mahdi) yang menghilang itu tidak mungkin dilihat, dan barangsiapa mengaku telah
melihatnya, maka ia telah berdusta”, kemudian kami membaca ulama kalian mengaku beberapa kali
telah melihat Imam Mahdi!!
(176) Kita katakan kepada kaum syiah:
Kalian mengatakan, bahwa tidak boleh ada masa yang kosong dari orang yang menegakkan hujjah
Allah, yaitu seorang imam. Apabila takiyah bagi kalian adalah 9/10 agama, dan ia boleh dilakukan oleh
imam, bahkan sunat menerapkannya, atau bahkan merupakan keutamaan dan kemuliaan baginya,
karena dialah orang yang paling bertakwa, lantas bagaimana hujjah Allah kepada makhluknya akan
sempurna dengannya?!
(177) Pengarang kitab Nahjul Balaghoh meriwayatkan, bahwa ketika Ali mendengar ada Kaum
Anshor yang mengatakan bahwa imamah itu hak mereka, ia mengatakan: “Mengapa kalian tidak
berhujjah kepadanya bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah mewasiatkan agar
membalas budi orang yang berbuat baik kepada mereka, dan memaafkan kesalahan mereka?! Mereka
bertanya: “Apa hujjah yang ada dalam ucapan itu?”. Ia menjawab: “Seandainya imamah itu hak
mereka, tentunya tidak akan ada wasiat itu untuk mereka”.[31]
Maka kita katakan kepada kaum syiah: “Rasululloh -shollallohu alaihi wasallam- juga pernah
berwasiat untuk Ahlul bait, dalam sabdanya: ‘Saya mengingatkan kalian untuk (menjaga) keluargaku’,
dan seandainya imamah itu hak khusus mereka, tentunya tidak akan ada wasiat itu untuk mereka?!”
(178) Kaum syiah membuat banyak syarat untuk seorang imam, diantaranya: imam harus anak
ayahnya yang paling besar, ia harus yang memandikan jenazah ayahnya, tingginya sama dengan
tingginya tombak Rosul -shollAllahu alaihi wasallam-, dia orang yang paling alim, tidak pernah junub,
tidak pernah mimpi basah, mengetahui hal gaib!,… dst
Akan tetapi, mereka kemudian jatuh dan melanggar sendiri syarat-syarat itu!! Karena kita temukan
sebagian imam mereka bukan anak tertua, seperti Musa al-Kazhim dan Hasan al-Askariy.
Sebagian mereka tidak memandikan jenazah imam sebelumnya, seperti Ali ar-Ridho yang anaknya,
Muhammad al-Jawad belum bisa memandikannya karena umurnya waktu itu masih di bawah 8 tahun.
Bahkan Husain bin Ali, anaknya yang bernama Ali Zainal Abidin juga tidak memandikannya, karena ia
yang waktu itu menetap dirumahnya, karena dihalangi oleh Asakir bin Ziyad.
Sebagian mereka juga tidak setinggi tombak Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, seperti
Muhammad al-Jawad, yang umurnya masih di bawah 8 tahun ketika bapaknya meninggal, begitu juga
Anaknya yang bernama Ali bin Muhammad, bapaknya juga meninggal ketika ia masih kecil.
Sebagian mereka ada yang bukan orang yang paling alim, seperti mereka yang menerima tampuk
khilafah ketika masih kecil.
Sebagian mereka ada yang jelas-jelas dikabarkan oleh syiah, bahwa ia telah mimpi basah dan junub,
seperti Ali r.a. dan kedua putranya Hasan r.a. dan Husain r.a., sebagaimana dikatakan oleh riwayat
mereka, bahwa Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Tidak boleh ada yang junub di masjid
ini, kecuali aku, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain”.[32]
Adapun mengetahui hal gaib, maka itu adalah dusta yang nyata, dan tidak pantas untuk dibantah,
karena jika mereka mengetahui hal gaib, tentunya tidak ada imam yang mati karena racun
-sebagaimana mereka katakan-, lalu dimana pengetahuan mereka tentang hal yang gaib?!
(179) Kaum syiah meriwayatkan bahwa Hasan al-Askariy -ayah imam mahdi mereka yang
menghilang-, memerintahkan untuk menutup kabar tentang al-Muntadhor (sebutan Imam Mahdi)
kecuali dari para perowi yang tsiqoh (tepercaya). Kemudian mereka menyelisihi hal itu, dan
beranggapan bahwa siapa yang tidak mengetahu Imam Mahdi, maka berarti ia tahu dan menyembah
kepada selain Allah! Dan apabila ia mati dalam keadaan seperti itu, maka ia mati dalam keadaan kafir
dan munafik!.[33]
(180) Di hadapan kita ada dua kelompok:
(a) Kelompok yang mencela Alqur’an dengan mendakwakan terjadinya perubahan dan pemalsuan di
dalamnya, yang didalangi oleh an-Nuri at-Thubrusiy, yakni pengarang kitab al-Mustadrok, yang
menjadi salah satu dari 8 kitab hadits utama kaum syiah 12 imam, dialah pengarang Kitab Fashul
Khitob Fi Itsbati Tahrifi Kitabi Robbil Arbab. Ia menyatakan dalam kitab tersebut tentang terjadinya
tahrif (perubahan) dalam Alqur’an: “Diantara bukti adanya tahrif dalam Alqur’an adalah, fasihnya
kalimat Alqur’an dalam beberapa paragraf yang sampai pada derajat mukjizat, dan lemahnya susunan
kalimat di paragraf lainnya”!.[34]
Sayid Adnan al-Bahroniy mengatakan: “Banyak kabar (riwayat) yang tidak terhitung lagi jumlahnya,
dan telah mencapai derajat mutawatir, sehingga tidak perlu lagi menukil riwayat itu setelah tersebarnya
pendapat telah terjadinya tahrif dan perubahan yang dilakukan oleh kedua kelompok. Hal ini sudah
menjadi opini yang diterima oleh para sahabat dan tabi’in, bahkan itu merupakan ijma’ golongan yang
benar (syiah) dan menjadi pokok utama aliran mereka, dan riwayat-riwayat mereka banyak sekali
menceritakan tentangnya”.[35]
Yusuf al-Bahroniy mengatakan: “Tidak asing lagi, di dalam riwayat-riwayat ini terdapat banyak dalil
dan ungkapan yang jelas dan gamblang, tentang pendapat yang kami pilih dan jelasnya perkataan kami.
Seandainya kabar seperti ini masih bisa disangsikan, padahal riwayatnya sangat banyak dan menyebar,
tentunya kabar tentang seluruh ajaran syariat Islam juga jelas bisa disangsikan keabsahannya. Karena
pokoknya adalah sama, begitu pula jalan sanad, para perowi, para syeikh dan para penukilnya.
Sungguh, pendapat yang menyatakan tidak adanya perubahan dan penggantian dalam Alqur’an, itu
tidak luput dari tindakan berbaik sangka dengan para imam (kholifah) yang dholim, bahwa mereka
tidak berkhianat terhadap imamah kubro, padahal sudah jelas mereka telah berkhianat terhadap amanat
lain yang lebih berbahaya terhadap agama, yang ditumpukan kepada mereka”.[36]
Sangat jelas sekali celaan kelompok ini, bahwa telah terjadi tahrif (perubahan) dalam alqur’an.
(b) Kelompok lain (yaitu para sahabat Nabi -shollallohu alaihi wasallam-), dosa mereka yang tidak
dimaafkan oleh syiah 12 imam, adalah karena mereka telah menyerahkan khilafah kepada Abu Bakar
r.a., padahal harusnya mereka serahkan kepada Ali r.a.!
Terhadap kelompok pertama, para ulama syiah 12 imam memberikan udzur kepadanya, dan kata paling
pedas yang mereka katakan hanyalah kata “mereka telah salah”, atau “mereka telah berijtihad dan
berusaha men-ta’wil, tapi kita tidak sependapat dengan mereka”.
Andai aku tahu, sejak kapan masalah terjaganya Alqur’an atau ia telah dirubah dijadikan sebagai ajang
untuk berijtihad?! Lalu Ijtihad macam apa yang terdapat dalam ucapan di pelaku kriminal ini bahwa “di
dalam Alqur’an terdapat susunan kalimat yang lemah susunannya”! Sungguh itu merupakan petaka
yang sangat besar.
Cobalah kita ambil contoh penilaian para ulama syiah 12 ini kepada mereka yang mengatakan
terjadinya perubahan dalam Alquran:
Sayid Ali al-Milaniy -salah seorang ulama besar syiah 12 imam sekarang ini-, ia mengatakan dalam
kitabnya ’Adamu Tahrifil Qur’an (hal. 34) ketika membela al-Mirza Nuri at-Thubrusiy: “al-Mirza Nuri
at-Thubrusiy adalah salah seorang ahli hadits yang besar, kami menghormatinya, ia salah seorang
ulama besar kami, kami sama sekali tidak mampu dan tidak boleh mencelanya, itu perbuatan yang
haram, karena ia termasuk ahli hadits yang besar dari ulama kami”.[37] Cobalah renungkan kontradiksi
yang ada ini!!
(181) Allah ta’ala berfirman: “Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian, dan
janganlah kalian ikuti pemimpin selain Dia!” (al-A’rof:3), ini merupakan nash yang menunjukkan tidak
bolehnya mengikuti orang lain kecuali Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.
Adapun kebutuhan manusia untuk mengangkat imam, itu hanyalah agar seorang imam itu bisa
melaksanakan apa yang diwajibkan Allah kepada kita sebagai orang yang menyembahnya. Bukan agar
manusia mengetahui urusan agama yang tidak mereka kehendaki, yang dibawa oleh Rosululloh
-shollallohu alaihi wasallam-.
Kita juga mendapati, ketika Ali r.a. diminta untuk berhukum dengan Alqur’an, ia menyetujuinya, dan
mengatakan bahwa berhukum dengan Alqur’an adalah benar. Jika tindakan Ali itu benar, maka itulah
perkataan kami, dan jika ia menyetujui hal yang batil, maka itu bukanlah sifat dia.
Seandainya berhukum dengan Alqur’an itu tidak boleh dilakukan jika ada imam, tentunya Ali r.a.
ketika itu mengatakan: “Bagaimana kalian menuntut berhukum dengan Alqur’an, padahal ada saya,
sebagai seorang imam yang menyampaikan syariat dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-?!”
Apabila mereka mengatakan: Ketika Rosul -shollallohu alaihi wasallam- wafat, maka harus ada orang
yang menyampaikan agama ini.
Kita katakan: Ini adalah sebuah kebatilan, klaim yang tanpa dalil, dan perkataan yang tanpa dasar yang
mendukungnya.
Akan tetapi yang dibutuhkan oleh penduduk bumi ini, hanyalah penjelasan dan penyampaian dari
beliau. Tidak ada bedanya, antara orang yang hadir di hadapanya, yang tidak hadir, dan mereka yang
datang setelahnya. Karena jika beliau tidak bicara, tidak akan ada penjelasan apapun tentang agama ini.
Jadi yang dibutuhkan dari beliau adalah ucapan beliau yang kekal dan usaha beliau menyampaikan
kepada seluruh penduduk yang ada di muka bumi ini.
Ditambah lagi: Seandainya benar perkataan mereka tentang kebutuhan terhadap seorang imam itu terus
ada untuk selamanya, tentunya itu tidak selaras dengan kenyataan yang ada pada mereka yang tinggal
jauh di pelosok negeri, dan tidak berada di hadapan imam. Karena tidak mungkin seluruh penduduk
bumi hidup bersama dengan sang imam, dari yang tinggal di bagian timur dan barat, mereka yang fakir,
mereka yang lemah, mereka yang sakit, wanita, dan mereka yang sibuk dengan mata pencahariannya
yang akan celaka bila ia meninggalkannya. Oleh karena itu, harus tetap ada orang yang menyampaikan
ajaran agama dari sang imam.
Jadi harus tetap ada orang yang menyampaikan ajaran agama dari sang imam, akan tetapi
menyampaikan ajaran dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, tentunya lebih patut untuk diikuti,
dari pada menyampaikan ajaran dari orang yang berada di bawah beliau! kenyataan ini tidak mungkin
bisa mereka hindari.[38]
(182) Ada banyak ucapan dari para imam -yang riwayatnya benar dan shohih menurut syiahmencela
dan melaknat sekelompok pendusta, yang riwayat-riwayat mereka dijadikan sebagai pijakan
untuk berdirinya agama syiah. Ucapan yang diriwayatkan dari para imam itu mencela mereka secara
khusus. Akan tetapi para syeikhnya syiah tidak menerima celaan yang dialamatkan kepada mereka itu.
Karena seandainya mereka menerima ucapan para imam itu, tentunya mereka akan berubah menjadi
Ahlus Sunnah, dan meninggalkan keganjilan mereka. Seperti biasa, mereka menggunakan takiyah
untuk menyikapi celaan itu.
Tidak ada tafsiran lain untuk tindakan mereka ini, kecuali bahwa mereka telah menolak ucapan para
imam itu secara terselubung! Dan apabila dalam madzhab syiah, orang yang mengingkari nash-nya
imam itu kafir, berarti dengan tindakan ini, mereka telah keluar dari agamanya!
Muhammad Ridho al-Muzhoffar -seorang syeikh dan pemuka mereka saat ini- mengakui, bahwa
mayoritas perowi-perowi mereka telah dicela oleh para imam, dan celaan itu juga ada dalam buku-buku
mereka sendiri. Ia mengatakan ketika mengomentari celaan para imam kepada Hisyam bin Salim al-
Jawaliqiy: “Banyak datang celaan padanya, sebagaimana banyak celaan datang kepada para pembela
ahlul bait besar lainnya dan para sahabat mereka yang tsiqoh (tepercaya). Adapun jawaban untuk
celaan tersebut adalah jawaban yang umum dipakai dan dipahami”.[39] Yakni dengan menggunakan
takiyah!
Lalu ia mengatakan: “Bagaimana dibenarkan celaan diarahkan kepada mereka yang agung itu?
Bukankah agama yang benar ini (syiah) dan hak-hak ahlul bait itu tampak dan tegak, karena hujjahhujjah
mereka yang tajam?!”.[40]
Lihatlah bagaimana fanatisme mempengaruhi mereka! Mereka membela orang-orang yang dicela oleh
para imam ahlul bait, dan menolak nash-nash dari para ulama ahlul bait yang mencela dan
memperingatkan mereka, padahal nash-nash itu tertulis dalam kitab-kitab mereka sendiri.
Dengan tindakannya itu, seakan-akan mereka mendustakan ahlul bait dan membenarkan ucapan para
pembohong itu, karena mereka beranggapan bahwa celaan para imam kepada mereka datang dari
konsep takiyah. Jadi, mereka tidak mengikuti Ahlul Bait dalam ucapan mereka yang selaras dengan
nukilan umat islam, akan tetapi mereka hanya mengikuti jejak para musuh Islam dan menerapkan
gagasannya, lalu segera memakai takiyah untuk menolak ucapan-ucapan para imam mereka.
(183) Secara mutawatir semua orang tahu -baik yang alim maupun yang awam-, bahwa Abu Bakar
r.a., Umar r.a. dan Utsman r.a. dulunya mempunyai hubungan yang sangat khusus sekali dengan Nabi -
shollallohu alaihi wasallam-, dulunya mereka termasuk orang terdekat dan paling bersahabat dengan
beliau, bahkan beliau menjadikan mereka semua sebagai saudara dengan jalan pernikahan, beliau juga
mencintai dan memuji mereka.
Jika demikian, ada kemungkinan mereka itu berada pada jalan yang lurus, secara lahir dan batin,
sebelum maupun sesudah wafatnya beliau, atau keadaan mereka itu sebaliknya, baik sebelum maupun
sesudah wafatnya beliau.
Dan jika mereka tidak berada pada jalan yang lurus, maka itu melazimkan salah satu dari dua hal
berikut ini:
Mungkin karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam- tidak mengetahui keadaan mereka, atau mungkin
karena beliu ber-mudahanah (berpura-pura) dengan mereka. Apapun kemungkinannya, itu termasuk
celaan yang paling berat terhadap diri Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, sebagaimana dalam sebuah
bait:
“Jika anda tidak tahu, maka itu merupakan musibah… Akan tetapi jika anda tahu, musibahnya menjadi
semakin besar”.
Seandainya mereka berubah setelah meniti jalan yang lurus, maka itu merupakan kehinaan dari Allah
bagi Rosul-Nya pada umatnya yang paling dekat dan pemuka sahabatnya. Orang yang mendapat janji,
agamanya akan mengalahkan semua agama, bagaimana mungkin para sahabat terdekatnya adalah
orang-orang yang murtad?!
Hal ini dan yang sejenisnya, termasuk diantara celaan syiah yang paling berat terhadap diri Rosul
-shollallohu alaihi wasallam-, sebagaimana perkataan Abu Zur’ah ar-Roziy: “(Dengan perbuatannya
itu), mereka sebenarnya ingin mencela Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, agar ada yang mengatakan:
dia (Muhammad) itu lelaki jahat dan memiliki para sahabat yang jahat, seandainya ia itu orang yang
saleh, tentunya para sahabatnya juga orang-orang yang saleh”.
(184) Kaum syiah mengatakan bahwa: “Imamah itu wajib, karena imam adalah wakil dari Nabi
-shollallohu alaihi wasallam- dalam menjaga syariat islam, memudahkan umat islam untuk meniti
jalan yang lurus, dan menjaga serta melindungi hukum-hukum dari penambahan ataupun
pengurangan”.[41]
Mereka juga mengatakan bahwa: “Harus ada imam yang diangkat oleh Allah ta’ala, karena alam ini
membutuhkannya. Karena tidak ada yang bertentangan dengan hal ini, maka imam itu harus
diangkat…”.[42]
Mereka juga mengatakan bahwa: “Imamah itu wajib karena ia merupakan bentuk kelembahlembutan…
ia menjadi kelemah-lembutan, karena jika manusia memiliki pemimpin yang ditaati, yang
menuntun ke jalan yang lurus, yang melindungi mereka dari kelaliman, yang membawa mereka kepada
kebaikan, dan yang mencegah mereka dari perbuatan jelek, pastinya mereka lebih dekat kepada
kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan. Dan itulah arti kelemah-lembutan”.[43]
Maka kita katakan: Imam kalian yang berjumlah 12 -selain Ali-, tidak ada yang menjadi kholifah yang
memimpin seluruh kaum muslimin dalam urusan agama dan dunia, mereka tidak mampu melawan
kelaliman, membawa umat kepada kebaikan dan mencegah mereka dari perbuatan jelek! Lalu
bagaimana kalian melekatkan kepada mereka dakwa-dakwa khayalan dan tak akan pernah terjadi itu?!
Hal ini, jika kalian merenunginya tentu akan memudarkan ke-imam-an mereka sebagaimana
pemahaman kalian, karena kelemah-lembutan yang kalian dakwakan itu ternyata tidak pernah terjadi!
(185) Sesungguhnya kejahatan yang dilakukan oleh para sahabat menurut syiah, adalah karena
mereka meninggalkan kepemimpinan Ali r.a, dan tidak menyerahkan kekhilafahan kepadanya, tindakan
inilah yang menjatuhkan keadilan mereka menurut syiah.
Lantas mengapa mereka tidak melakukan hal yang sama kepada sempalan-sempalan syiah yang
mengingkari sebagian imam mereka, seperti: al-Fathiyyah, al-Waqifah dan yang lainnya. Bahkan
kalian akan mendapati, mereka berhujjah dan memuji ulama-ulama mereka itu! Mengapa kontradiksi
ini mereka lakukan?![44]
[1] Furu’ul Kafi, karangan al-Kulaini (7/127)
[2] Ushulul Kafi, karangan al-Kulaini (1/476)
[3] Nahjul Balaghoh (1/211)
[4] Kasyful Ghummah, karangan al-Arbili (2/373)
[5] Al-Anwar an-Nu’maniyah (2/53)
[6] Al-Anwar an-Nu’maniyah (2/55)
[7] Al-Kafi (1/239)
[8] Biharul Anwar (25/117)
[9] Biharul Anwar (26/37)
[10] Biharul Anwar (26/56)
[11] Biharul Anwar (27/65)
[12] Ushulul Kafi (1/24)
[13] Biharul Anwar (26/41)
[14] Biharul Anwar (26/41)
[15] Biharul Anwar (26/48)
[16] Ushulul Kafi (1/227)
[17] Al-Kafi (1/149)
[18] Al-Ghoibah, karangan at-Thusi (hal. 159-160)
[19] Biharul Anwar (102/108)
[20] Biharul Anwar (53/7)
[21] Tarikh ma ba’dazh zhuhur (hal. 360)
[22] Tarikh ma ba’dazh zhuhur (hal. 361)
[23] Al-Ghoibah, karangan at-Thusiy (hal. 420)
[24] Tarikh ma ba’dazh zhuhur (hal. 433)
[25] Tarikh ma ba’dazh zhuhur (hal. 436)
[26] Al-Kafi (1/338)
[27] Tarikh ma ba’dazh zhuhur (hal. 185)
[28] Ushulul Kafi (1/368), al-Ghoibah, karangan an-Nu’mani (hal. 197), al-Ghoibah, karangan at-
Thusiy (hal. 263), Biharul Anwar (52/117).
[29] Ushulul Kafi (1/368), al-Ghoibah, karangan an-Nu’mani (198)
[30] Al-Ghoibah, karangan at-Thusiy (hal. 262), Biharul Anwar (52/103)
[31] Nahjul Balaghoh (hal. 97)
[32] ’Uyunu Akhbarir Ridho (2/60)
[33] Ushulul Kafi (1/181-184)
[34] Fashlul Khitob fi Itsbati Tahrifi Kitabi Robbil Arbab (hal. 211)
[35] Masyariqusy Syumus ad-Durriyah (hal. 126)
[36] Ad-Durorun Najfiyah, karangan Yusuf al-Bahroni (hal. 298)
[37] Tsumma Abshortul Haqiqoh (hal. 294)
[38] Al-Fishol fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal (4/159-160)
[39] Al-Imamus Shodiq, karangan Muhammad al-Husain al-Muzhoffar (hal. 178)
[40] Idem.
[41] As-Syi’ah fit Tarikh (hal. 44-45)
[42] Minhajul Karomah (hal. 72-73)
[43] A’yanus Syi’ah (1/2/hal. 6)
[44] Lihat sebagai contoh: Rijalul Kasyi (hal. 27, 219, 445, 465), Rijalun Najasyi (hal. 28, 53, 76, 86,
95, 139), Jami’ur Ruwah, karangan Ardubaily (1/413)

0 komentar:

Followers

Mbh