Kamis, 21 Januari 2010

Infaq Pembuka Pintu Rezeki

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [Q.S. At-Baqarah[2]:261]

Diawal surah Al-Baqarah [2], Allah swt menyebutkan salah satu ciri dari orang yang bertaqwa itu adalah mereka yang menafkahkan sebahagian dari rejeki yang telah dianuge-rahkan Allah swt kepadanya dijalan Allah. Jadi untuk mencapai ketaqwaan yang sempurna salah satu syaratnya adalah berinfaq. Dan bila kita tilik lebih mendalam lagi ke dalam Al-Qur’an, banyak sekali ayat-ayat yang menya-takan seruan untuk menafkahkan harta di jalan Allah, dan hampir selalu kata “menafkahkan harta” ini mengikuti kata perintah untuk mendirikan shalat. Hal ini menunjukkan bahwa menafkahkan harta di jalan Allah itu adalah salah satu kewajiban yang sangat penting kedudukannya didalam ajaran Islam, seperti halnya shalat. Dan bahkan telah dikukuhkan sebagai rukun Islam yang ke empat (Zakat). Bagi yang telah dikaruniakan oleh Allah swt harta melebihi batas-batas tertentu diwa-jibkan untuk menyisihkan sebahagian dari hartanya tersebut untuk dibelanjakan dijalan Allah. Dan bagi yang belum mencukupi syarat-syarat tersebut dapat menafkahkan secukup-nya sesuai dengan kemampuannya masing-masing melalui infaq dan sadaqah.

Bukan saja perintah menafkahkan harta saja yang diturunkan Allah swt kepada hambanya, tetapi bahkan banyak sekali keutamaan-keutamaan yang didapatkan oleh hamba yang gemar melakukan perintah Allah ini. Allah swt berfirman: “Katakanlah: "Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya. “(QS. 34:39) dan bahkan dalam Surah Al-Hadid (57) ayat 11, Allah swt menyatakannya dengan kata “meminjamkan hartanya”, padahal sebenarnya “harta” yang kita punya tersebut adalah milikNya. Karena itu, jika Allah swt menghendaki dengan paksa Allah akan dapat mengambil semua harta yang kita punyai itu dalam sekejap. Tetapi… Allah swt tidak begitu, Dia itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Bijaksana dan Maha Pemberi Rejeki.

Maka terbuktilah apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw bahwa: “Carilah rejeki dengan berinfak”. Memang sekilas pernyataan ini aneh karena berinfak kan berarti mengeluarkan sesuatu dari yang kita miliki, bukannya bertambah tetapi malah berkurang. Tetapi sebenarnya logika seperti ini adalah logika sekuler alias logika syeitan, dimana syeitan menghembus-hembuskan kebakhilan kepada orang-orang yang ingin berinfaq. Dan juga logika ini berangkat dari pengertian bahwa dari ada menjadi tiada. Padahal jika dilihat dari kacamata iman seharusnya kita berangkat dari kita tidak mempunyai apa-apa (atau tiada), dan diberi oleh Allah swt rejeki atau menjadi ada. Jadi sudah sewajarnya Allah swt minta sedikit untuk meratakannya dengan saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Bahkan lebih dari 2.5 persen yang diminta Allah swt itupun semestinya sangat amatlah wajar.

Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menyatakan keistimewaan berinfak yang berkaitan dengan imbalan yang akan diberikan Allah swt, diantaranya firman Allah disurat Al Baqarah 261 yang telah ditulis diatas. Allah akan melipat gandakan atas harta yang telah kita nafkahkan dijalanNya, sekehendakNya. Kalau kita kalkulasikan dari pernyataan Allah swt dalam surat ini, setidak-tidaknya harta yang kita nafkahkan itu akan diganti 700 kalinya. Jika kita ibaratkan tabungan, kita menabung kepada Allah dengan bagi hasil 700 kali lipat dari uang yang kita tabungkan atau 70000 persen. Lantas, cobalah cari didunia ini Bank yang berani membungakan uang sebesar itu, kecuali Bank-nya Allah.

Di dalam ayat berikut Allah menyatakan hal yang senada ditambah dengan pahala yang banyak pula: “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (QS. 57:11). Bahkan didalam suatu hadist Rasulullah saw pernah menyatakan bahwa harta yang kita nafkahkan dijalan Allah yang berbentuk amal jariah atau amal yang produktif yang tidak pernah akan berhenti memberikan manfa’at pahala kepada yang beramal, walaupun orang tersebut sudah meninggal dunia.
Jadi disini terlihat bahwa sepertinya rejeki itu ada pintunya yang dapat dibuka dengan berinfaq. Makin sering kita berinfaq, makin sering juga pintu itu terbuka atau makin banyak harta yang diinfakkan maka makin lebar dan besar pula terbukanya pintu rejeki itu.

Kalau kita ibaratkan menafkahkan harta kita dijalan Allah itu laksana menanam tanaman, tentu kita akan memilihkan benih yang baik dan unggul untuk mendapatkan hasil yang baik. Artinya kita menanamkan modal kita kepada Allah pun dari rizki yang baik dan halal, baik dari apa yang kita nafkahkan itu ataupun bagaimana cara kita mendapatkan harta tersebut. Sudah barang tentu harta yang bersih akan menghasilkan yang bersih pula. Setelah ditanam benih yang bagus dan unggul tentunya perlu media yang bagus pula untuk mendapatkan hasil yang bagus, yang dalam hal ini diberikan kepada yang berhak menerimanya (musytahik). Kemudian dipupuk dan disiram serta dirawat dengan keikhlasan.

Maka dapat kita katakan disini bahwa merugi-lah orang-orang yang tidak mau menafkahkan sebahagian dari hartanya dijalan Allah. Dan juga patut kita ingat bahwa banyak juga kecaman-kecaman yang diingatkan Allah swt terhadap orang-orang yang bakhil, diantaranya: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah menge-tahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 3:180). Dan juga di ayat lain: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, (QS. 9:34).

Wallahu'alam

0 komentar:

Followers

Mbh