Kamis, 21 Januari 2010

Pentingnya Adab Dalam Berdakwah

بسم الله الرحمن الرحيم
Saudaraku yang dirahmati Allah... sudah menjadi rahasia umum bahwa da'wah di bumi pertiwi cukup akrab dengan polemik dikalangan umat, yang kesemua itu dilatar belakangi oleh keilmiahan seseorang dalam berda'wah, harus kita akui dengan sejujurnya bahwa banyak pribadi yang belum pantas untuk memegang amanah ini dengan level dan kapasitas yang karbitan, benar da'wah adalah kewajiban muslim secara keseluruhan, tapi jangan dilupakan wilayah dan cakupan materi yang kita miliki (ilmu) jangan hanya bermodalkan terjemahan bebas kita berani koreksi dan salahkan muslim lainnya, karena bisa jadi masalah itu merupakan masalah yang kita sendiri bukan ahlinya (khilafiah dalam ijtihadnya para Imam Madzhab).

Menjelaskan duduk permasalahan suatu perbedaan pendapat dari sebuah hukum, tentu saja baik dan bahkan perlu dilakukan. Akan tetapi hal itu sangat berbeda dengan 'main tuduh' atau 'asal tuding'.
Misalnya dalam masalah 'ushalli' yang kerap menjadi khilafiah kedudukannya. Kalau seorang ustadz berceramah dan mengatakan bahwa masalah itu merupakan khilaf di kalangan ulama, ada yang menganjurkan tapi juga ada yang melarangnya, dengan masing-masing dilengkapi dengan landasannya, tentu saja hal itu sangat positif. Karena dengan keterangan seperti itu, masyarakat jadi tahu kedudukan sebenarnya.

Bahwa ustadz itu kemudian lebih cenderung memilih salah satu pendapat, juga tidak mengapa. Asalkan beliau tidak sambil memaki, mengejek, menghina atau melecehkan pendapat lainnya.

Gambaran cara penjelasan yang tidak simpatik adalah seorang ustadz yang sejak awal sudah memaki-maki, melecehkan bahkan langsung main tuduh bahwa siapa pun yang melakukan perbuatan ini, pasti sesat, ahli bid'ah, pasti masuk neraka dan seterusnya. Padahal masalah itu masih menjadi polemik (khilaf) di kalangan para ulama. Artinya dengan demikian, pak ustadz ini langsung menggiring audience-nya untuk berpihak kepada pendapatnya, sekaligus menebarkan rasa kebencian kepada pendapat yang berbeda dengannya.

Bahkan tidak jarang, cara-cara yang seperti ini cenderung menghadirkan kebingungan di kalangan umat. Apalagi bila kebetulan umumnya para pendengar termasuk kalangan yang berbeda pedapat dengan pak ustadz tersebut. Akhirnya, makin besarlah rasa perbedaan yang diiringi dengan kebencian di kalangan umat.

Tidak ada yang salah ketika kita menjelaskan masalah bid'ah kepada umat ini. Justru penjelasan itu menjadi wajib untuk disampaikan, mengingat besarnya bahaya bid'ah.

Akan tetapi yang mutlak tidak boleh dilupakan adalah bahwa adab dan akhlak dalam menyikapi khilafiah dengan santun itu yang harus diutamakan, masalah vonis bid'ah ini tidak pernah sepi dari perbedaan pendapat.

Hal ini menunjukkan bahwa tiap ulama punya ijtihad dan hujjah masing-masing, di mana sangat memungkinkan bahwa suatu perkara dianggap bid'ah oleh ulama A, tapi tidak dianggap bid'ah oleh ulama B. Atau boleh jadi penggunaan istilah bid'ah itu sendiri punya pengertian dan cakupan yang saling berbeda antara satu ulama dengan ulama lain.

Tetapi ada juga yang menyikapi masalah ini dengan bedalih dengan surat an nisaa : 9 : “Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul , dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul , jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya”.

Ini menunjukan kita kurang dapat memahami duduk permasalahannya, karena ijtihadnya para imam juga dilandasi dengan “ruh” ayat ini.

Maka menjadi sangat tidak mungkin bagi kita untuk menggeneralisir begitu saja semua masalah bid'ah menjadi satu versi saja (versi wahhabi). Sebab yang namanya ulama itu bukan hanya ada satu saja di dunia ini. Sehingga kehati-hatian, ketelitian serta kematangan pemahaman akan masalah bid'ah dan pengertiannya ini menjadi krusial bagi seorang penceramah.

Bila sebuah masalah sudah disepakati kebid'ahannya oleh semua lapisan ulama baik salaf maupun khalaf, tentu saja kita wajib menyampaikannya kepada khalayak. Sebab kita wajib melindungi umat dari bahaya bid'ah.
Akan tetapi kalau masih ada perbedaan di dalam suatu masalah, Apakah termasuk bid'ah atau bukan, di mana para ulama sendiri masih berpolemik, maka yang lebih bijak untuk kita lakukan adalah berpegang kepada kejujuran ilmiyah. Katakan bahwa sebagian ulama membid'ahkannya tapi sebagian lainnya tidak sampai demikian.

Tidak ada ruginya menjalankan kejujuran, bahkan kejujuran adalah bagian dari ketinggian ilmu seorang ustadz. Dan tidak perlu malu mengatakan hal demikian, toh kewajiban kita hanya menyampaikan saja.
Kita tidak diminta Allah menjadi orang yang paling bertanggung-jawab atas tersebarnya masalah bid'ah di tengah umat. Sehingga kita tidak perlu berkeluh-kesah atas masih bertaburannya bid'ah. Yang diminta oleh Allah kepada kita hanyalah menyampaikan dengan lemah lembut, penuh rasa kasih, serta dengan mengajak secara baik dan santun.

Allah SWT tidak meminta kita untuk memerangi orang yang masih melakukan bid'ah dengan cara memaki, mencaci, mencela, melecehkan atau menyakiti hati mereka. Apalagi dengan cara memboikot, menelikung, mengucilkan, tidak bertegur sapa, atau cara-cara kasar lainnya. Semua itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah, justru akan membuat umat semakin membenci dan berlari dari kita.

Pada gilirannya, kekuatan da'wah islam hanya akan berubah fungsi, yang tadinya bertujuan tabligh (menyampaikan) kebenaran berubah menjadi senjata bumerang bagi persatuan dan kerukunan dalam islam.

Saudaraku yang dirahmati Allah, sungguh kenyataan dari umat ini tidak banyak yang mau saling perduli dengan persatuan dan persaudaraan, seolah olah sudah tidak mendengar dan merasakan makna dari ayat 10 al hujurot “ Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara”.

Dan perasaan yang sering di ingkarinya adalah rasa persatuan yang seharusnya terpatri kuat dalam jiwa sesama muslim, “seorang mu'min bagi mu'min lainnya seperti sebuah bangunan yang satu sama lainnya saling menguatkan” (shohih Bukhori)

Bagaimanakah Nabi telah menggambarkan semestinya pribadi seorang muslim itu dengan kecintaanya, kasih sayang dan kekeluargaan yang utuh, seumpama satu kesatuan dari jasad ini, bila ada anggota tubuh yang sakit, maka yang lainnyapun akan menanggung perasaan itu juga (merasakan sakit).

Kesimpulan:
Da'i yang masih memaksakan diri dalam tablighnya terhadap permasalahan khilafiah berarti bukan dai yang memiliki kapasitas seperti difirmankan Allah Dalam surat yusuf: 108 : “Katakanlah: "Inilah jalan ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Da'i yang menggeneralisir hukum bid'ah untuk semua wilayah khilafiah berarti sikap bijak telah lari dari pribadinya, dan ini yang akan memecah belah umat muslim.

Ikutilah oleh saudaraku semua da'i dengan sumber yang mutawatir (bersambung) keilmiahannya pada Ulama ulama ahlu sunnah wal jama'ah, yang slalu mengedepankan akhlak dan tatakrama dalam berda'wah.

Bismillaahirrohmaanirrohiim, mari kita sama2 baca istighfar, semoga Allah mengampuni dosa2 kita semua

Astaghfirullah Robbal Barooyaa
Astaghfirullah Minal Khotooyaa

Robbi Zidhnii 'ilman naafi'aa
Wa waafiqlii 'amalan magbuullaan
Wa waahablii rizqon waasi'aa
Watub 'alaiya taubatan nasuuhaa
Watub 'alaiya taubatan nasuuhaa

Hidup di dunia sebentar saja
Sekedar mampir sekejap mata
Jangan terpesona jangan terpedaya
Akherat nanti tempat pulang kita
Akherat nanti hidup sebenarnya

Barang siapa Alloh tujuannya
Niscaya dunia akan melayaninya
Namun siapa dunia tujuannya

Niscaya kan letih dan pasti sengsara
Diperbudak dunia sampai akhir masa

Alloh melihat Alloh mendengar
segala sikap dan kata kita
Tiada yang luput satupun jua
Alloh takkan lupa selama-lamanya
Alloh takkan lupa selama-lamanya

Wahai Sahabat cepatlah taubat
Karena ajal kian mendekat
Takutlah siksa yang menghancurkan
Azab jahanam sepanjang Zaman
Azab jahanam sepanjang zaman

Ingatlah maut pasti kan menjemput
Putuskan nikmat dan cita-cita
Tak dapat ditolak tak dapat dicegah

Bila waktu hidup berakhir sudah
Bila waktu hidup berakhir sudah

Tubuhpun kaku terbungkus kafan
Tiada guna harta pangkat jabatan
Tinggallah ratap dan penyesalan
Menanti peradilan yang menentukan
Menanti peradilan yang menentukan

Astaghfirullah Robbal Barooyaa
Astaghfirullah Minal Khotooyaa


KH. Abdullah Gymnastiar

0 komentar:

Followers

Mbh