Minggu, 17 Januari 2010

risalah bid'ah

A.PENGERTIAN BID’AH
Secara bahasa bid’ah sama artinya dengan al-ikhtira yaitu sesuatu yang baru yang diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya. Bid’ah ini dikenal juga dengan nama perbuatan muhdats.
Secara terminology bid’ah artinya hal baru dalam agama setelah agama ini sempurna.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah mengungkapkan Bid’ah dalam islam adalah:
Segala apa yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak pula diperintahkan baik dalam wujud perintah wajib ataupun anjuran.
Imam Asy-Syaithibi rahimahullah mengatakan :”Bid’ah adalah cara baru dalam agama yang dibaut menyerupai syari’at dengan maksud berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah.”
Note: Ibadah asal mulanya tidak diperbolehkan kecualai yang disyari’atkan oleh Allah sedangkan sesutau di luar ibadah asal mulanya boleh kecuali ada larangan dari syari’at.
Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab al –Hanbali rahimahullah berkata:” bid’ah adalah segala sesuatu yang tidak memiliki dasar hokum dalam syari’at yang mengindikasikan keabsahannya…lalu dinisbatkan pada ajaran agama.
KESIMPULAN DARI PENGERTIAN BID’AH:
• Hal yang baru
• Ruang lingkupnya agama
• Tidak ada syari’at contoh maupun anjuran
• Tata cara baru atau menyerupai tata cara syari’at
• Tujuannya berlebihan dalam beribadah
• Sama sekali jelas-jelas tidak ada dalam syari’at

B. HUKUM BID’AH DALAM ISLAM

……Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu….(QS:Al-Maidah:3)

Dari ayat di atas dapat kita petik faidah yaitu
1. Agama Islam telah sempurna syariatnya
2. Syariat Islam tidak butuh tambahan apapun
3. Sebagai bukti bahwa Rasulullah amanah terhadap risalah Allah
Rasulullah bersabda :”Hati-hati kalian dengan perkara yang baru . Setiap perkara baru(dalam agama) adalah bidah, dan setiap bidah adalah sesat.”(HR. Abu Dawud No 4607,Tirmidzi no 2676,Ahmad IV/46-76,Ibnu Majah no 42,43,44 dari sahabat Irbad ibn sariyah radhiallahu’anhu)
Sahabat Ibnu Umar radhiallahu’anhuma berkata “Setiap bid’ah adalah sesat meskipun manusia memandangnya baik”
Imam Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah berkata “Perbuatan bid’ah lebih di cintai oleh iblis dari pada kemaksiatan dan pelaku kemaksiatan masih mungkin ia untuk bertaubat dari kemaksiatan, sedangkan pelaku kebid’ahan sulit bertaubat dari kebid’ahannya.”
Makusud perkataan Imam Sufyan adalah bahwa orang yang berbuat maksiat dia paham dirinya telah berbuat salah dan menentang agama sedangkan pelaku bid’ah mereka merasa perbuatannya baik dan di ridhai Allah.

Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(QS.Al-Ma’idah :67)

Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, Maka umat yang sebelum kamu juga Telah mendustakan. dan kewajiban Rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya."(QS:Al-Ankabut:18)
Dua ayat di atas adalah jaminan bahwa Rasulullah adalah orang yang amanah dan beliau tidak menyisakan satu risalahpun dari Allah kecuali telah disampaikan kepada sahabatnya.

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).(QS:An-Najm:3-4)
Ayat di atas menunjukkan semua ucapan Rasulullah yang sampai ke kita di luar Al-Qur’an adalah termasuk wahyu yang di wahyukan. Maksudnya dengan lafaz dari Rasulullah agar mudah dipahami oleh manusia.
Note:sangatlah tidak berakal orang yang mengatakan bahwa Islam ini belum sempurna bahkan buang air kecil, besar , berhubungan intim dan hal-hal yang kecil dan detail melainkan sudah diajarkan oleh Rasulullah.
Pertanyaan: Apa ciri orang yang mengaku cinta dan beriman kepada Allah?
Jawab:

…..Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.(QS:Al-Hasyir:7)
Pertanyaan: mana buktinya ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa bid’ah itu sesat?
Jawab:

Maka (Zat yang demikian) Itulah Allah Tuhan kamu yang Sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?(QS:Yunus:32)

Katakanlah: "Sesungguhnya Aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhankusedang kamu mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. dia menerangkan yang Sebenarnya dan dia pemberi Keputusan yang paling baik".(QS:Al-An’am:57)
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabdas:”Barang siapa yang mengada-adakan hal baru di dalam perkara kami (Islam) yang tidak ada (dalil) di dalamnya, maka amalannya tertolak.”(HR.Bukhari no2697,Muslim no 1718,Ahmad no VI/146,180,256 dari Ummul mu’minin Aisyah radhiallahu’anha)
Hal ini sangat erat kaitannya dengan syarat di terimanya amalan, apabila salah satu atau keduanya tidak ada maka amalannya tertolak (tidak ada nilainya sama sekali di hadapan Allah)




Amalan diterima apabila :
1. Ikhlas

“Sesunguhnya kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”(QS:Az-Zumar:2-3)


Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.(QS.al-Bayyinah:5)

2. Ittiba’


31. Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
32. Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".(QS.Ali-imran:31-32)


Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang Telah dikuasainya itudan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.( QS.An-Nisa:115)

Dan silahkan mentadabburi ayat-ayat berikut ini :
Al-Ahzab:21 dan 26,An-Nisa’:14 dan 64, Al-Anfal :20

Pertanyaan: bagaimana sikap seorang muslim dalam mengikuti syari’at ?
Jawab :

36. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata.(QS.Al-Ahzab:36)

KESIMPULAN:”HUKUM BID’AH ADALAH HARAM MUTLAK”
Karena kesesatan tempatnya di neraka.(HR.An-Nasa’III/189)

C. FAKTOR-FAKTOR MUNCULNYA BID’AH
1. Jahil (bodoh) baik dalam pengetahuan agama maupun pemahamannya
2. Tidak mengetahui tujuan syari’at
3. Salah dalam menafsirkan wahyu (Al-Qur’an dan Assunnah)
4. Selalu mendahulukan rasio / logika/akal/ra’yu daripada wahyu (Al-Qur’an dan Assunnah)
5. Mengikuti hawa nafsu
6. Ghuluw dalam beribadah
7. Taqlid buta
8. Ashabiyah (fanatic ) maupun hizbiyyah (kelompok)
D. ALASAN ISLAM SANGAT KERAS TERHADAP BID’AH
1. Menuduh Rasulullah berkhianat terhadap risalah yang diterima dari Allah dan menyembunyikan sebagian
2. Menganggap Islam tidak sempurna
3. Menganggap dirinya lebih tahu Islam dari pada Rasul dan para shahabat.
4. Menganggap dirinya tahu yang paling baik dalam berislam
5. Secara tidak langsung mengangkat dirinya sebagai syari’at yang notebene adalah hak Allah mutlak
6. Mempersulit pelaksanaan beragama yang sejatinya Islam adalah agama yang mudah
7. Mematikan sunnah
8. Bid’ah menjadikan manusia tidak maju dan mematikan daya kreativitas dalam urusan dunia
9. Memecah ukhuwah Islamiah
10. Memperbanyak kesia-siaan dalam beramal shalih
11. Menghabiskan atau menyita waktu yang sejatinya dapat digunakan untuk thalabul ‘ilmi alias pembodohan terhadap ummat.

104. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.(QS:Al-Maidah:104)
Ayat di atas adalah menerangkan klasik para pelaku bid’ah.

116. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).(QS:Al-An’am:116)
Ayat di atas menerangkan bahwa mayoritas belum tentu benar.
Pertanyaan: Bagaimana bila kita melihat hal yang baru kita ketahui tetapi kita belum tahu itu bid’ah atau bukan?
Jawab:

59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS:An-Nisa’:59)


64. Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), Kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar". (QS. An-Naml :64)

E. SIKAP SEORANG YANG BERIMAN TERHADAP BID’AH
Seorang yang beriman kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam harus mempunyai sikap terhadap pelaku bid’ah. Akan tetapi, kita tidak bisa langsung menyamaratakan pelaku bid’ah. Apakah dia hanya ikut-ikutan (orang awam) ataukah dia ahli bid’ah (orang yang menyebarkan bid’ah).
Mengapa bisa demikian? Karena tingkatan bid’ah sendiri dibagi menjadi :
1. Bid’ah yang menyebabkan kekufuran sehingga pelakunya kafir
2. Bid’ah sebagai dosa besar
3. Bid’ah sebagai dosa kecil
F. MACAM-MACAM PELAKU BID’AH
1. Dari level pelakunya : apakah dia mujtahid bid’ah atau orang yang bertaqlid.
2. Dari pelaksanaan Bid’ah : apakah dia melakukan secara terang-terangan atau tersembunyi
3. Dari penyebaran bid’ah : apakah dia menda’wahkan bid’ah atau ikut-ikutan
4. Dari sikap terhadap orang beriman : apakah dia mengganggu atau tidak
5. Dari jenis bid’ahnya : apakah bid’ahnya menjadikan ia kufur atau tidak
6. Dari kontinuitas : apakah dia melakukan terus-menerus atau hanya kadang-kadang
G. SIKAP ORANG BERIMAN TERHADAP AHLI BID’AH (GEMBONG BID’AH)
1. Membenci karena Allah
2. Tidak sedikitpun menaruh simpatik terhadap bid’ahnya
3. Bermuamalah boleh, tetapi jangan berteman akrab (bersahabat)
4. Tidak menerima saran dan nasihat mereka yang berbau bid’ah
5. Tidak duduk di majlis ilmu ataupun majlis biasa mereka
6. Bila kita tidak berilmu, jangan berdiskusi atau berdebat dengan mereka
7. Tidak ada dialog dengan mereka tentang masalah bid’ah
NOTE :
1. Hanya diterapkan pada ahli bid’ah yang menganggap bid’ahnya benar
2. Untuk orang awam kita harus lebih sabar dan ahsan dalam pendekatan agar dia mendapat hidayah dan kembali ke jalan Allah
3. Jidal (debat) dengan ahli bid’ah adalah tugas para ahli ilmu (ulama) yang telah kokoh keilmuannya dan tidak dikhawatirkan goyah keimanannya.

H. SIKAP KITA TERHADAP ORANG AWAM YANG HANYA IKUT-IKUTAN BID’AH
1. Menasihati dengan akhlak yang mulia
2. Bila tidak mau? Berikan artikel, buku, atau berbagai rujukan yang berkaitan dengan pelarangan bid’ah
3. Bila tetap tidak mau? Berikan ancaman-ancaman dari ayat-ayat Al-Qur’an, As-Sunnah, dan cerita-cerita siksa di Hari Akhirat
4. Apabila semua yang di atas itu ditolak, maka berlakulah HAJR
Pertanyaan : Apa itu HAJR?
Jawab : HAJR adalah memutuskan hubungan dengan seseorang. Hajr dibagi menjadi dua :
1. Hajr Mamnuu’ (Hajr yang dilarang syariat)
Contoh : menghajr seseorang yang masih mengaku muslim lebih dari 3 hari.

2. Hajr Masyru’ (Hajr yang disyari’atkan) yaitu hajr yang dilakukan oleh orang yang dianggap terhormat (penguasa, ulama, tokoh masyarakat, dll) yang bertujuan member pelajaran dan peringatan agar orang yang dihajr kembali ke jalan yang benar dan menyesali perbuatannya.

I. CIRI-CIRI AHLI BID’AH
1. JAHIL (dalam makna luas maupun sempit)
2. Membentuk firqaah (golongan), kelompok, asosiasi, yang mempunyai visi dan misi kelompok yang harus dicapai (NB : masih berhubungan dengan ruang lingkup agama)
3. Gemar berdebat masalah syari’at yang telah jelas dengan maksud menimbulkan syubhat (kesamaran) maupun syak (keraguan) di hati kaum muslimin.
4. Condong kea rah hawa nafsu
5. M,endahulukan rasio/ akal/ logika/ ra’yu di atas wahyu ilahi (Al-Qur’an dan As-Sunnah)
6. Gemar mencari-cari ayat yang mutasyabihat untuk mencari celah syari’at, dan mengabaikan ayat-ayat muhkam
7. Gemar berlebih-lebihan dalam beribadah atau meremeh-remehkan hukum tertentu
8. Kurang menguasai As-Sunnah
9. Benci, sinis, dengki terhadap orang-orang yang multazim (berusaha konsisten) di atas sunnah.
10. Membenci para ahlu hadits karena mereka takut aib mereka dilucuti satu per satu.
11. Mereka mengunggul-unggulkan mayoritas dari pada kebenaran itu sendiri (Quantitas di atas Qualitas)
J. KERUGIAN YANG DI DAPAT ORANG BERIMAN YANG MENDENGARKAN PERKATAAN AHLI BID’AH ATAU DEKAT DENGAN MEREKA:
1. Bila aqidah dan keimanan belum kokoh, minimal syubhat tertanam di otak mereka, dan maksimal menyetujui bid’ah itu dengan berbagai macam alas an.
2. Timbul keraguan terhadap Syari’at Islam dan berimplikasi luas terhadap keimanannya.
3. Biasanya diawali dengan rasa tidak enak hati terhadap pelaku bid’ah karena kita merasa balas budi atas kebaikan dan mulut manis mereka yang berakibat kita tidak punya sikap tegas dihadapan bid’ah.
4. Menjadikan kita mendapat label bahwa kita bagian dari ahli bid’ah.
5. Yang paling parah dari semua di atas, kita benar-benar telah menjadi pelaku bid’ah.K. SIKAP SEJATI ORANG YANG BENAR-BENAR BERIMAN DAN BERTAQWA
Dari shahabat Nu’man Ibnu Basyir radhiallahu ‘anhu, berkata, “Saya mendengar Rasulullahi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Halal itu jelas, Haram itu jelas, diantara keduanya ada hal-hal yang samar , oramg banyak yang tidak mengetahui (hukum) itu (perkara syubhat). Barang siapa yang menjaga diri dari hal-hal yang samar itu, maka dia telah membersihkan agamanya dan kehormatannya. Barang siapa yang terjatuh dalam hal yang samar itu maka dia telah terjatuh pada perkara yang haram. Seperti halnya penggembala yang menggembala di sekitar hima (daerah terlarang), maka dikhawatirkan (gembalaannya) memasuki hima, Ingatlah! Setiap penguasa memiliki hima, dan Allah mempunyai daerah yang terlarang berupa hal-hal yang haram. Ingatlah! Di dalam tubuh ada segumpal daging bila sehat maka sehatlah seluruh tubuh, bila rusak segumpal daging itu maka rusaklah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah Hati. (Muttafaqun ‘Alaihi)
Muttafaqun ‘alaihi = HR. BUKHARI-MUSLIM

MARAAJI’ (DAFTAR PUSTAKA)

Abdul Hakim Bin Amir Abdat. 2006. Al-Masaail Jilid I. Jakarta : Darus Sunnah

Abu Nizar Bin Taufiq Hasan. _ . “Bahaya Bid’ah Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah”. Penerbit Al-Mizan

Ibnu Hajar Asqalani. 2009. “Bulughul Maram Min Jam’I Adillati Ahkam”. Jakarta : Pustaka As-Sunnah

Salim Ibnu ‘Ied Al-Hilaly.2008. Ensiklopedi Larangan Jilid I. Bogor : Pustaka Imam Syafi’i

Yazid Bin Abdul Qadir Jawas.2006. “Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”. Bogor : Pustaka Imam Syafi’i

Yusuf Qardhawi.1999. As-Sunnah Wal Bid’ah. Depok : Gema Insani

0 komentar:

Followers

Mbh