Minggu, 18 Oktober 2009

HOW WE MUST MANAGE " MANGEMENT MALU "

HOW WE MUST MANAGE “ MANAGEMENT MALU “
( Bagaimana seharusnya kita mengelola “ MANAGEMENT MALU “ )

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

B i s m i l l a h i r r a h m a a n i r r a h i i m,

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin, segala pujian kita panjatkan kehadirat Allah SWT, sholawat serta salam semoga tercurah atas junjungan kita Rasulullah SAW, beserta keluarganya, para shahabatnya dan orang2 yang istiqomah dijalan-Nya.

Dari Abu Mas’ud Ra, ia berkata : “ Rasulullah SAW bersabda, “ Sesungguhnya termasuk bagian dari yang dipahami manusia dari sabda kenabian yang pertama adalah “ Jika engkau tidak malu, silakan berbuat apa saja “ ( HR Bukhari )

Sahabat facebook fillah rahimakumullah, hadist Nabi SAW diatas mengajarkan kepada kita beberapa hal, diantaranya :

01. Sifat malu ( ( AL HAYA’ ) adalah sifat yang sesuai dengan fitrah manusia. Artinya bahwa sebetulnya jika manusia tidak dalam keadaan dikuasai hawa nafsunya, maka sifat malu itu akan menempel erat dalam dirinya. Malu kepada Allah SWT karena telah dilimpahkan-Nya nikmat dan rakhmat-Nya yang tiada bisa dihitung, malu jika kita kita justeru tidak bersyukur tapi malah banyak berbuat durhaka kepada Allah SWT. Jadi sifat malu pada diri kita kadang terkubur oleh hawa nafsu kita, tapi tidak sampai terhapus. Sebab jika ada suatu peringatan dari Allah SWT maka sifat itu akan muncul kembali, sebagaimana iman dalam diri kita, kadang terkubur oleh hawa nafsu kita, tapi ketika Allah SWT memberikan peringatan dengan suatu peristiwa maka iman kadang muncul kembali. Dan bersyukurlah ukita jika Allah SWT masih berkenan mengingatkan kita dari kelalaian kita.

02. Semua Nabi dan Rasul dan semua agama termasuk Islam mengajarkan perlunya menjaga, memelihara, dan memupuk sifat malu ini. Sebab sifat malu ini adalah bagian dr sifat kemanusiaan. Jadi apabila sifat malu ini hilang, maka akan hilang pulalah sifat kemanusiaan kita. Jika sdh demikian maka jadilah ia seperti binatang bahkan lebih sesat lagi. Sehingga kita sering mendengar bahkan melihat, orang yang kelakuannya seperti binatang, bahkan lebih sesat lagi, seperti sebuah video yang saya posting ulang di facebook, tentang orang – orang yg biadab yang membunuh para bayi, kemudian dibedah perutnya, dikeluarkan isi perutnya, lalu diisi dengan Narkoba, kemudian bayi itu dikirim ke wilayah tertentu agar dikira bayi itu sedang tidur…sungguh biadab bayi dijadikan sarana untuk menyelundupkan narkoba. Atau sebuah tayangan video yg menggambarkan seorang pembantu rumah tangga yg menganiaya dan menginjak – injak seorang anak kecil / balita yg tdk berdosa..sungguh biadap pula. Dan masih banyak contoh perilaku orang – orang yg hilang rasa malunya, sehingga kelakuannya seperti binatang bahkan lebih parah lagi.

03. Sahabat fillah, hadist diatas mengajarkan kepada kita, bisa sajkarena factor waktu dan jaman, suatu ajaran agama menjadi luntur atau hilang sedikit demi sedikit. Namun ada satu ajaran didalam agama yg sulit hilang yaitu menjaga dan memelihara sifat malu. Malu adalah sisa terakhir dari sifat kemanusiaan. Jika malu sudah hilang, bearti manusia telah kehilangan agamanya dan bearti pula telah kehilangan fitrahnya, bearti pula akan kehilangan kemanusiaannya dan akan beralih pada sifat kebinatangan, na’udzubillahi min dzalik.Terkait dengan hal itu, sahabat Umar bi Kahttab Ra, berkata : “ Rasa malu dan keimanan itu dua – duanya beriringan, jika salah satu dari keduanya dihilangkan, maka yang lainnya pun hilang pula “


04. Malu adalah keseluruhan agama.
Dari Quurah bin Iyas Ra ia berkata : Kami sedang berada disisi Nabi SAW, beliau menerangkan tentang malu, lalu para sahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, apakah malu bagian dari agama ? Maka Rasulullah SAW bersabda, “ Bahkan malu adalah agama seluruhnya “ ( HR Thabrani )

05. Malu selalu mendatangkan kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda, “ Malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan “ ( HR Mutafqun alaihi )

06. Malu adalah sebagian dari keimanan.
Rasulullah SAW bersabda : “ Malu adalah sebagian dari keimanan “ ( HR Mutafaqun alaihi )

07. Malu adalah Penyebab seseorang masuk surga dan jorok adalah penyebab seseorang masuk neraka.
Rasulullah SAW bersabda : “ Malu itu sebagian dari iman, dan keimanan itu disurga, sedangkan jorok itu bagian dari kekerasan hati, dan kekerasan hati itu di neraka “ ( silsilah hadist shahih, no 495 )

Sahabat fillah, berikut ini ada beberapa kisah, yang memberikan contoh dari penerapan sifat malu yang barangkali bisa kita teladani.

01. Kisah Nabi Musa AS. Yang menjelaskan bahwa setiap kali ia mandi, ia mengambil tempat yang paling jauh dari keramaian manusia dan tersembunyi, sebagai wujud dari rasa malu yang dimiliknya, dan agar auratnya tdk terlihat oleh manusia lain.

02. Kisah seorang wanita yang menemui Nabi Musa AS ( QS Al Qashash ayat 25 ). Dalam kisah ini digambarkan betapa sang wanita saat menemui Nabi Musa AS dan berjalan dal;am keadaan tertunduk malu.

03. Kisah Aiasyah Radhiyallahu anha, setelah Rasulullah SAW wafat begitu pula setelah abu Bakar Ash shiddiq wafat dan dikuburkan disebelah Rasulullah saw, setiap kali memasuki kuburan itu ia buka penutup kepalanya, sebab yang dikubur disitu adalah suami dan ayahnya.Akan tetapi setelah Umar bin Khattab Ra wafat dan dikubur disebelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash shiddiq Ra, maka setiap memasuki kuburan tersebut, Aisyah Radhiyallahu anha tetap menutup seluruh tubuhnya, sebab Umar adalah orang lain baginya…Shubhanallah.

Ikhwan wa akhwati fillah, sungguh luar biasa kisah para sahabat dan sahabiyyah dalam mengekspresikan sifat malu ini, kalau kita melihat fenomena sekarang ini sungguh seharusnya kita memperbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah SWT. Bagaimana kita melihat seorang wanita tidak merasa malu ketika memakai pakaian yang tidak menutup aurat, bahkan cenderung senang / bangga jika dipuji akan kecantikannya, apalagi yang memakai pakaian “ U can see “ sehingga terlihat lekuk tuibuhnya yg bisa membangkitkan syahwat lelaki, bahkan mereka tidak malu sedikitpun, bagaimana kita melihat muda – mudi yang berpacaran, bermesraan ditempat – tempat umum, bahkan mereka tidak merasa risih / malu, dihadapan Allah SWT saja mereka tidak malu apalagi dihadapan manusia. Bagaimana kita melihat para selebritis mengumbar aurat dan aibnya dimedia massa, bahkan mereka merasa bangga dan tidak malu,tentunya masih banyak contoh disekitar kita, bagaiman orang sudah banyak yang sifat malunya tertutup oleh hawa nafsunya, na’udzubillahimin dzalik.

Dan lebih khusus bagi sahabat facebook, seperti nasihat sebelumnya ( baca SEBUAH PELAJARAN BERHARGA DARI FENOMENA FACEBOOK ), harusnya ketika kita menulis status di facebook selalu dengan menggunakan sifat malu, sehingga kita akan lebih berhati – hati dan terhindar dari hal yg negative.

Sahabat fillah betapa agama Islam itu memandang penting dan mengajarkan sifat malu ini, adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri juga. Maka hendaklah kita menjadi orang – orang yang pandai menjaga dan memelihara sifat malu ini pada diri kita, terutama dalam hal berpakaian, berpenampilan, berbicara, berperilaku, dan juga dalam beribadah kepada Allah SWT.

Khusus buat ukhti Muslimah, JikaHendaklah ukhti fillah sayang dan cinta kepada Allah SWT, dengan mengedepankan rasa malu, hendaklah ukhti mengekspresikan rasa malu itu, dengan cara menutup aurat ( berjilbab dan berbusana rapi dan sopan yang tidak terlalu ketat dan tdk membentuk tubuh serta tdk transparan ) dan tidak menampakan aurat di tempat umum. Jika rasa malu kepada Allah itu ada dan lebih besar dari hawa nafsu kita insyaa Allah, ukhti akan diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk segera memenuhi kewajiban ini, Semoga diantara ukhti muslimah yang membaca tulisan ini diberikan hidayah oleh Allah SWT aamiin.

Demikian ukhti wa akhi fillah catatan dan tushiah saya pada kali ini, semoga bermanfaat dan menjadi pencerahan bagi kita semua.

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. 3:31)

*(ikutilah aku), ikutilah apa saja yang telah dicontohkan dan diperintahkan oleh RASUL mu ( Nabi MUHAMMAD SAW )

Wallahu a’lamu bish shawab.


Mohon maaf bila ada kesalahan dan kekhilafan atau kesalahan ketik
Wabillahi taufiq wal hidayah
Wa Shubhanaka wabihamdika Asyhadu alla ilaha illa Anta astaghfiruka watubuu ilaihi
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Disadur dan diedit dari majalah UMMI edisi 121 tahun 2006
Jum’at 16 Oktober 2009 pukul 07.00 – 09.00

NUR YULIANTO
( Abu Fathan Ayyasy Al Ghozi )

Tidak ada komentar:

Followers