Sabtu, 24 Oktober 2009

Anak Ayam Saja Tidak Langsung Berlari

Setiap kali datangnya hujan, kita pasti akan berharap datangnya panas. Ketika panas menyengat, kita berharap datangnya mendung. Begitulah selalu. Berharap dan berharap. Memberi tapi tak berani menerima. Ataukah sebaliknya. Semua selalu ada ditangan setiap anak manusia. Lalu, ada jalan-jalan yang terkadang tidak bisa terbaca jelas. Tidak ter-eja. Hanya bisa dijalani, lalu dirasakan.

Begitulah. Ketika ada yang tidak ingin kita nikmati maka kita akan memintanya untuk berubah. Tanpa pernah kita jelaskan mengapa dia harus berubah. Ketika sesuatu itu berubah, lalu kitapun akan menghujatnya. Atau paling tidak kita akan meng-complain. Lagi, lagi, dan lagi.

Suatu ketika, aku, pernah duduk dengan seseorang. Dipelataran masjid. Aku tidak begitu mengenalnya. Akan tetapi dia menyapaku lebih dulu. Percakapan hangatpun mengalir. Seperti seorang saudara yang hilang. Dia bercerita mengenai hari-harinya. Sepertinya, dia jujur akan apa adanya. Melihat dari penampilannya yang urakan. Khas gaya anak Band. Sepatu kets yang cukup keren. Jeans mahal dengan rombe-rombe. Aku hanya tersenyum. Dalam hati, dia seperti diriku.

“mas, aku ingin berubah. Menjadi lebih baik” sesaat dia mengambil helaan.

“ya silahkan saja. Cari saja jalannya” aku menimpali

“Aku ingin berubah, bila akhirnya ada wanita yang seperti itu mencintaiku, Mas.” Ia menunjuk seorang wanita yang baru saja masuk kepelataran masjid. Berjilbab.

Sore yang menengahi semua cerita. Membawanya kedalam alam yang mungkin saja, selalu penuh dengan harap dan tanda tanya. Tapi tentu saja, perjalanan tidak akan semudah dan semulus diinginkan.

“antum kok ngijinin dia berubah karena akhwat, Akh?” seorang teman tiba-tiba terkejut ketika tahu bahwa aku mengiyakan keinginan pemuda urakan tersebut.

“apa salahnya?”

“seharusnya dia itu berubah karena Allah, Akh! Bukan karena akhwat atau embel-embel lainnya!” suara temanku semakin meninggi. Aku tak ingin meneruskannya. Hanya sebuah senyuman. Hingga akhirnya aku mengakhirinya dengan tidur lelap.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

“mas, apa mas tidak menerimaku karena aku begitu hina?” suara jauh dari genggaman teleponku. Aku tak bisa berkata apapun. Tidak ada sesuatu yang harus bisa memastikan. Aku sendiri bingung. Apa salahnya? Bukankah dia tidak pernah meminta menjadi seperti itu. Terlahir lalu besar dengan penuh kehinaan. Tidak ada seseorang yang mau. Bila akhirnya ia terlahir menjadi penuh kehinaan. Batinku sesak. Bergumpal asa dan marah ingin menyeruak memecahkan keheningan malam. Tapi pada siapa aku harus mengutuk? Takdir? Ini bukan salah takdir. Lalu siapa? Ayahnya? Ibunya? Siapa?

“tidak. Bukan karena itu.” sanggahnya.

“Mas, insya Allah besok aku sudah mulai belajar ngaji, shalat, dan berjilbab. Aku mohon mas..” suara diujung sana semakin serak. Inikah sebuah perjuangan mencari kebahagian? Dengan menanggalkan dunia yang satu demi dunia yang lain. Aku tak begitu mengerti dan memahami. Mungkin, selalu ada jalan bagi manusia yang ingin menjadi lebih baik. Kecil besar, itu hanya masalah ukuran. Tua mua itu hanya masalah waktu.

“baiklah” tercekat.

Malam yang hanya ditemani bintang. Sepi dan pengap. Seperti berongga dengan semuanya penuh sesak. Aku membiarkannya lagi, lagi dan lagi. Seperti yang sudah-sudah.

“akh, antum ini bagaimana sih? Apa pantas seorang ikhwan melakukan hal demikian? Membuat seseorang menutup auratnya karena hanya ingin mendapatkan antum? Bagaimana bila nanti dia tidak bisa mendapatkan antum lalu kembali ke masa lalunya “ sebuah tepukan dipundak mengagetkanku. Ah, mereka pasti akan berkomentar lagi.

Malam itu, aku membiarkannya menjadi begitu panjang. Sangat panjang. Aku menghabiskan malam itu dengan senyuman. Terpuruk dalam sisi ruang kamar. Menunggu detik-detik penjemputan. Pergi untuk menanggung jawabkan semua yang aku putuskan.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Semuanya kini telah berjalan. Manusia selalu mengerti akan derap langkah kakinya. Sejauh mana ia akan berjalan. Sejauh itu pula dia akan menggambarkan keinginannya. Bukankah selalu ada kesempatan dengan bilik-bilik kepercayaan.

Mengapa selalu saja, ketika keburukan terlihat malah dihina. Dicaci. Difitnah. Bagaimana bila itu terjadi kepada diri ini. Saat diharapkan menjadi baik lalu ia baik. Lagi dan lagi, setitik nila merusak susu sebelanga. Tak pernahkah berpikir bahwa rasa susu itu belum rusak? Bahwa masih ada susu didalam kuali yang besar itu. Perubahan seseorang tidak akan selalu sesuai keinginan orang yang lain. Jikalau sama, maka allah tidak akan menurunkan keindahan atas bumi ini. Bukankah demikian? Sampai helaan nafas terakhir, sampai sana pula kesempatan itu selalu terbuka. Berikanlah mereka sedikit kesempatan. Memulainya. Pelan, pelan, dan pelan.

Aku ingat pesan ayahku. “ anak ayam saja lahir tidak langsung bisa lari.” Lalu mengapa memaksa mereka berlari?

0 komentar:

Followers

Mbh