Sabtu, 24 Oktober 2009

HOW SHOULD OUR LEADERS BECOME “ PEMIMPIN YANG SEJATI “

HOW SHOULD OUR LEADERS BECOME “ PEMIMPIN YANG SEJATI “
( Bagaimana seharusnya Pemimpin kita menjadi Pemimpin yang sejati / amanah / )

CIRI - CIRI PEMIMPIN SEJATI

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

B i s m i l l a h i r r a h m a a n i r r a h i i m,

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin, segala pujian kita panjatkan kehadirat Allah SWT, sholawat serta salam semoga tercurah atas junjungan kita Rasulullah SAW, beserta keluarganya, para shahabatnya dan orang2 yang istiqomah dijalan-Nya.

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin”. (Mutafaq ‘alaih)

Dari hadits ini kita tahu, bahwa setiap kita adalah seorang pemimpin, minimal untuk diri-diri kita sendiri. Dan dalam sisi pandang syariat segala tindakan akan dimintai pertanggungjawaban

Sahabat fillah, Kelar sudah agenda – agenda besar Bangsa kita, dengan berbagai bentuk pesta demokrasi, mulai dari PEMILU utk memilih wakil rakyat, sampai PILPRES yang telah menghasilkan bapak Susilo Bambang Yudhoyono dengan Wapres Boediyono yang sudah dilantik 2 hari yg lalu, PLUS para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II yang juga sudah dilantik kemarin. Akhirnya kita punya pemimpin – pemimpin baru dan mayoritas masih muda. Dan harapan kita tentunya mereka yang menjadi para pemimpin negeri dan bangsa ini betul – betul bisa bertanggung jawab atas amanah kepemimpinan mereka dan betul – betul berusaha memajukan dan memakmurkan rakyatnya.

Nah sahabat fillah, berbicara masalah pemimpin dan tanggung jawabnya, akhirnya kita teringat salah satu hadist Rasul SAW, seperti yang sy nukilkan diatas.
“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin”. (Mutafaq ‘alaih)

Juga didalam sebuah riwayat disebutkan, pada suatu hari, Abu Dzar al-Ghifari meminta Rasulullah SAW melantik dirinya menjadi pegawai, tetapi Rasulullah menolaknya.
Sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu, Baginda bersabda: ”Tidak, Abu Dzar, engkau orang lemah. Ketahuilah, jabatan itu amanah. Ia kelak di hari kiamat merupakan kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkannya dengan betul dan melaksanakan tugas serta kewajipannya dengan betul pula.”

Imam Nawawi menyebut hadis di atas merupakan pedoman dasar dalam berpolitik. Politik mampu menjadi sumber petaka bagi orang yang tidak bertanggungjawab.
Namun kata Nawawi, politik juga boleh menjadi ladang pengabdian dan amal soleh yang subur bagi orang yang mampu dan bertanggung jawab. Politik (kekuasaan) bukan sesuatu yang buruk. Ia ibarat pisau bermata dua; ada baik dan buruknya.

Ia menjadi baik dengan tiga syarat - seperti dalam hadis di atas - yaitu berada di tangan orang yang punya kemampuan ( ahlinya ), diperoleh dengan cara yang betul dan dipergunakan untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Nah Sahabat fillah, tapi pada kenyataannya, dalam percaturan politik kini, orang sering hanya mementingkan satu perkara, yaitu bagaimana merebut kekuasaan. Bukan bagaimana mempergunakan kekuasaan itu serta melaksanakan tanggungjawab kepada rakyat dan lebih daripada itu kepada Allah SWT.

Seperti yang sudah dipahami banyak orang, bahwa kekuasaan adalah sesuatu yang menggiurkan kerana dengan kekuasaan, seseorang membayangkan dia bisa mendapatkan / mencapai segala impiannya. Menurut Imam Ghazali, dibandingkan dengan harta, kekuasaan jauh lebih menggoda ( menipu daya ).
Hal itu berdasarkan kepada tiga alasan yaitu,

Pertama, kekuasaan mampu menjadi alat untuk memperbanyakkan harta. Dengan kekuasaan, seseorang bisa memperkaya dirinya.

Keduanya, pengaruh kekuasaan lebih kuat dan lebih lama. Harta, kata Imam Ghazali, boleh hilang karena dicuri atau musnah, namun itu tidak berlaku kepada kekuasaan kerana ia bearti pengaruh seseorang pemimpin di kalangan pengikut dan pendukungnya.

Ketiga, kekuasaan menimbulkan kesan popularitas yang sangat luas.

Maka yang harus difahami adalah menjadi pemimpin tidak hanya menerima amanah rakyat, tetapi juga menerima amanah Allah SWT. Pemimpin adalah ‘hamba’ kepada rakyat, artinya menjadi pemimpin seharusnya siap berkorban dan melayani rakyat, bukan minta dilayani, harus siap dan tanggap memfasilitasi kebuthan rakyat, Bukan minta difasiltasi, yang serba wah, dengan menganggarkan puluhan bahkan ratusan Milyard uang rakyat, dihambur – hamburkan hanya untuk memfasilitasi wakil rakyat atau orang yang dikatakan pejabat. Sementara rakyatnya dibiarkan dan trus pusing dengan berbagai maslah harga yang terus melambung, kebijakan yang terus memihak orang besar dan menginjak – injak serta mencekik rakyat kecil. Apalagi rakyat yang sedang menderita dengan ditimpa berbagai macam musibah dinegeri ini, banjir, tanah longsor, gempa bumi dsb. Maka Pemimpin yang mengkhianati dan menodai hak rakyatnya, bererti menodai dan mengabaikan amanah Allah. Dan sungguh tanggung jawabnya sangat berat. Bisa – bisa masuk neraka gara – gara tdk bisa menjadi pemimpin yang amanah.

Hakikatnya, menjadi pemimpin bukan mencari kekayaan, tetapi pengabdian. Menjadi pemimpin bererti melaksanakan ibadah yang paling berat untuk melunaskan amanah rakyat dan Allah.
Seorang pemimpin yang baik senantiasa membersihkan hatinya, kerana dia sadar niat yang tidak baik boleh menjadikan kekuasaan yang dimiliki sebagai sesuatu yang dia anggap boleh diperjual belikan..
Akibatnya, dia mungkin akan tergoda untuk menipu dan membohongi rakyat. Maka pemimpin seperti ini akan terjerembab ke dasar jurang neraka Rasulullah bersabda: ”Tiada seorang hamba yang diberi amanah Allah untuk memimpin rakyat kemudian menipu mereka, melainkan Allah mengharamkan syurga baginya.” ( Al Hadist )

Apabila masyarakat lebih mementingkan materi, sehingga segalanya harus dibayar dan kemuliaan seseorang hanya diukur oleh berapa banyak harta yang dimilikinya dan diberikannya, maka godaan yang paling besar bagi para pemimpin, birokrat dan mereka yang berada dalam lingkaran kekuasaan ialah harta.

Para pemimpin atau wakil rakyat yang lemah imannya, nescaya akan mudah terperangkap dalam penjara hawa nafsu yang dibungkus dengan kata-kata indah, yaitu korupsi, kolusi dan nepotisme.
Akhi wa ukhti fillah, oleh itu seorang pemimpin tidak harus terpengaruh dengan kekuasaan yang dimiliki, sebaliknya berusaha menjadi pemimpin yang dihormati dan melaksanakan amanah dengan sebaik-baik.
Dalam soal ini apa yang dilakukan ialah Khalifah Umar Al Khattab seperti mana yang dipaparkan dalam cerita berikut boleh dijadikan teladan.

Satu hari, selepas selesai mengimamkan solat Asar, Khalifah Umar bertanyakan mengenai seorang sahabatnya yang tidak dating shalat berjama’ah.
Dia diberitahu bahawa sahabat tersebut sedang sakit. Umar segera meluangkan masa menziarah sahabatnya itu.

Sampai di rumah sahabat yang sakit tersebut, Umar mengetuk pintu memberi salam. Dari dalam sahabat berkenaan menjawab salam dan bertanya: ”Siapa di luar?” Umar menjawab: “Umar bin Khattab.” Mendengar yang datang adalah Amirul Mukminin, sahabat tersebut terus bangun dan segera membuka pintu.

Melihat keadaan sahabatnya itu, Umar bertanya: ”Kenapa engkau tidak bergegas solat berjamaah bersama kami? Sedangkan Allah telah memanggilmu dari langit yang ketujuh, tetapi engkau tidak menyambutnya! Sedangkan panggilan Umar bin Khattab membuatkan kau bergegas gelisah dan ketakutan?” Shubhanallah…

HIKMAH DIBALIK PERISTIWA INI

Pertama, seorang pemimpin yang baik bukan semata-mata berasa cukup dengan kesolehan dan ketakwaan dirinya, tetapi dia juga berasa bertanggungjawab untuk mengajak mereka di bawah tanggung jawabnya untuk menjadi soleh. Mentaati hukum Allah SWT dan Rasul-Nya SAW.

Kedua, pemimpin yang soleh tidak akan pernah berasa bangga dengan penghormatan yang diberikan oleh orang bawahannya. Dia tidak mau mereka hanya mengikuti apa saja yang dikatakannya biar pun apa yang dikatakan dan dilakukan adalah salah.

Jika itu terjadi maka terjadilah apa yang disumpahkan Allah dalam surat Al-Ashr bahawa mereka semua akan berada dalam kerugian. Itulah sebabnya ketika seorang sahabat melarang sahabat lainnya kerana terlalu sering menegur Khalifah Umar dengan ucapannya: ”Takutlah kepada Allah, hai Umar”. Ternyata teguran itu justeru disokong Umar sendiri. Umar berkata: ”Biarkan dia mengatakannya. Kalau orang-orang ini tidak menegurku sedemikian, maka mereka menjadi tidak berguna dan jika aku tidak mendengarkannya, maka aku bersalah.”

Oleh itu kepada mereka yang bergelar pemimpin, sadarilah tanggungjawab yang ada di bahu mereka. Janganlah bila kita berkuasa dan berpengaruh kita boleh melakukan apa saja yang kita inginkan.
Janganlah membohongi dan menghianati / memperdayakan rakyat dengan mainan politik kita kerana akhirnya kebenaran pasti akan muncul dan menghancurkan kebatilan. Mungkin demi kepentingan politik dan berebut kekuasaan, kita rela melakukan apa saja, tetapi percayalah nafsu dan hasrat untuk berkuasa dengan menggunakan segala cara dan kepalsuan sebagai senjata tidak akan bertahan lama dan pasti akan dihancurkan oleh Allah SWT.

Pada akhirnya, pemimpin yg seperti itu pasti akan kecundang dan terkena batunya, pada akhirnya pula dia bukan saja akan mengalami kerugian di dunia tetapi juga akhirat.
Sahabat fillah, begitulah juga dengan keluarga mereka para pemimpin, janganlah kerana ada ahli keluarga kita menjadi pemimpin / orang yang berkuasa, kita beranggapan boleh melakukan apa saja dengan menuruti hawa nafsu kita berbangga diri dan bersombong diri dihadapan orang lain yang dianggapnya kecil atau dibawahnya.

Ingatlah seseorang pemimpin itu berada di tampuk kekuasaan karena dukungan dan amanah dari rakyatnya dan dukungan tersebut diberikan demi kesejahteraan rakyat bukan untuk kesejahteraan dan kekayaan diri pemimpin atau keluarga pemimpin mereka.

Rasulullah SAW bersabda: ”Sebaik-baik pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka mencintai kamu dan kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakan kamu. Dan, seburuk-buruknya pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, dan kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknat kamu.”

" Dan sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang mereka perbuat " ( QS Al A’Raaf ayat 96 )

Wallahu a’lamu bish shawab.

0 komentar:

Followers

Mbh