Minggu, 15 November 2009

Temu Jiwa Sentuh Fisik

Sholatnya panjang dan Khusyuk. Keluh dan resah mengalir dalam doa-doa. Hasrat dan rindu merangkak bersama malam yang kian kelam. Usai shalat akhirnya rebah di pembaringan. Cemasnya belum lunas. Lama sudah suaminya pergi. Untuk jihad, memang . tapi cinta tetaplah cinta. Walau pun untuk jihad, perpisahan selalu membakar jiwa dengan rindu. Maka ia pun rebah dengan doa-doa;

”Ya Allah, Yang memperjalankan unta-unta, menurunkan kitab-kitab, memberi para pemohon, aku memohon kepada-Mu agar Engkau mengembalikan suamiku yang telah pergi lama, agar dengan itu engkau lepaskan resahku. Engkau gembirakan mataku. Ya Allah , tetapkanlah hukum-Mu diantara aku dan khalifah Abdul Malik bin Marwan yang telah memisahkan kami.”

Untungnya malam itu khalifah Abdul Malik bin Marwan memang sedang menyamar di tengah pemukiman warga. Tujuannya, ya tadi; mencari tau opini warga soal pengiriman mujahidin ke medan jihad, khusus istri-istri mereka. Dan suara itulah yang ia dengar.

Ini tabiat ynag membedakan cinta jiwa dengan cinta misi; pertemuan jiwa dalam cinta jiwa hanya akan menjadi semacam penyakit jika tidak berujung dengan sentuhan fisik. Di sini rumus bahwa cinta tidak harus memiliki tidak berlaku.

Cinta jiwa bukan sekedar kecendrungan spritual seperti yang ada dalam cinta misi. Cinta jiwa mengandung kadar syahwat yang besar. Dari situ akar tuntutan sentuhan fisik berasal. Mereka menyebutnya passinate love. Tanpa itu, cinta jiwa akan menjelma menjadi kerinduan yang membawa semua penyakit. Sebagiannya akan berujung kegilaan. Seperti dialami Qais dan Laila.

Ini mengapa kita diperintahkan mengasihi para pecinta; supaya mereka terhindar dari cinta yang seharusnya menjadi energi lantas berubah menjadi penyakit. Maka sentuhan fisik dalam semua bentuknya adalah obat yang mujarab bagi rindu yang tak pernah selesai. Ini penjelasan mengapa hubungan badan antar suami istri merupakan ibadah besar, tradisi kenabian dan kegemaran orang shalih. Sebab, kata Ibnu Qayyim dan Imam Ghazali, ia mewariskan kesehatan jiwa dan raga, mencerahkan pikiran, meremajakan perasaan, menghilangkan pikiran dan perasaan buruk, membuat kita lebih awet muda dan memperkuat hubungan cinta kasih. Makna sakinah dan mawaddah adalah ketenangan jiwa yang tercipta setelah gelora hasrat terpenuhi.

Maka itu yang dipahami Abdul Malik bin Marwan. Maka ia pun bertanya,”Berapa lama wanita bisa bertahan sabar?” “Enam bulam” jawab mereka. Kisah ini sebenarnya mengikut pada temuan yang sama di masa Umar bin Khattab. Dan di kedua kisah itu, kedua perempuan itu sama-sama melantunkan syair rindu hasrat. Dan Abdul Malik bin Marwan mendengar bait ini;

Air mata mengalir bersama larut malam
Sedih mengiris hati dan merampas tidur
Bergulat aku lawan malam
Terawangi bintang
Hasrat rindu mendera-dera
Melukai jiwa

Memang hanya puisi tempat jiwanya berlari. Melepas hasrat yang tak mau lepas. Sebab rindu tetap saja rindu. Puisi tak akan pernah sanggup menyelesaikannya.Sebab memang begitulah hukumnya; hanya sentuhan fisik yang bisa merasa hasrat jiwa.

0 komentar:

Followers

Mbh