Sabtu, 21 November 2009

Titik Nol

Di negeri ku


Halimi Zuhdy

------------ kegilaanmu dipenghujung cinta dan harapan
1/
seuntai mutiara harapan, kau rajut
di altara cinta dan kasih sayang
kau cari kebahagiaan dengan tangan menengadah
dengan mulut komat-kamet, tubuh penuh keringat, napas tersengal
kau tembus panas keganasan metropolitan
kau tidur beralas koran dengan berbantal pualam.
yang keluar dari mulutmu “berat rasanya hidup ini”
2/
kau tak mengerti mengapa kau jadi begini. kau tak paham
mengapa kau terseok-terseok dengan harapan hampa.
kau tak mengerti kau telah dihianati di kerajaanmu sendiri.
kau sebenarnya yang berkuasa
tapi kini kau dikuasai
kau sebenarnya yang berhak mengatur, tapi kau kini diatur
suaramu tak lagi didengar, BBM tetap merangsung
kini kau diajak untuk berperang “ambalat”
3/
sekelilingmu menatap tanpa dosa
renai-renai mentari semakin susut
kelam tiba dalam rayuan
raja-raja dan bandit kekuasaan
menuai dadar dan roti hangat
sedangkan kau penuhi tubuhmu
racun-racun tikus, membinasakan.
karena kau lagi haus
kau jilat-jilat sepatu busuk di kerajaan yang katanya
“bertuhan”
kau tidak salah karena hidup di kerajaan para pengecut
jeritan terakhirmu kudengar, kau terhampar kaku
dengan perut tak berbutir
mulut tak berair
kau tebus keserakahan penguasa dengan titik nol
garis-garis hidupmu tak jelas, karena titik-titik itu
tak pernah bertinta


(to sebuah keserekahan dan penghianatan)

TAK ADA KEGAGALAN

______________________________tuk para pejuang

HALIMI ZUHDY


tak ada kata gagal dalam perjuangan, angan
mengawali kesuksesan. menyerah
adalah kehancuran, masa akan tenggelam.

kota bisu. tak ada suara di jalanan.
pejalan tertunduk malu. lampu merah itu, tak lagi
mengatur. kuning hanya tersenyum.
hijau seperti hiasan dinding rumahku. ia tak
lagi menyeringai, sepi, senyap, hampa.
tak ada ucap kecuali penyesalan. Toko-toko
bak batu nisan, tak berpenghuni. Sepi, senyap, hampa.

mereka anggap aku tertelan di kota bisu itu, tak lagi
ada panggilan untukku. surat-surat yang kutulis
tak pernah terbalas. katanya aku mati, mati dalam kehidupan.
ia, benar aku mati karena aku gagal. tapi, aku masih
mau hidup 1000 tahun lagi, menuju keindahan
dan kesuksesan.

roda Tuhan selamanya berputar,
selagi ada nafas di ruang-ruang, selagi ada detak pada jantung,
selagi ada detik pada jam.
aku belum gagal, aku belum gagal, dan tak akan
pernah gagal. hanya Tuhan belum berkenan
karena Ia sutradara handal dalam pentas kesuksesan
aku hidup dengan-Nya
maka gagal adalah cobaan-Nya
dan Ia lebih tahu arti kegagalanku
maka aku tidak sedih dengan itu
kegagalanku bukti dari cinta-Nya padaku
karena Ia lebih tahu apa yang akan terjadi padaku
“Gagal hari ini sukses besok pagi”

0 komentar:

Followers

Mbh