Kamis, 19 November 2009

Terlalu sibuk dengan pekerjaan

Terkadang pekerjaan memang sulit didapat, tapi bila sudah mendapatkannya jangan sampai kita melupakan keluarga, suami/istri dan anak-anak kita, orang tua dan saudara kita, sahabat dan tetangga kita. Di bawah ini adalah sebuah contoh tragis. Seringkali kita terlalu sibuk dengan pekerjaan dan tidak pandai membagi waktu sampai akhirnya...
Rani sebut saja begitu namanya. Berotak cemerlang dan memiliki idealitas tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan prinsip hidupnya sudah jelas. Meraih yang terbaik, dibidang akademis maupun profesi yang digelutinya. “why not the best” katanya selalu mengutip kata-kata mantan seorang presiden amerika.
Ketika universitas mengirimkan mahasiswanya untuk belajar Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satu mahasiswa yang terpilih. Selanjutnya Rani mendapatkan pendamping yang “selevel’, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staff diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suaminya meraih gelar PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putra mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah’alif’ dan huruf terakhir ‘ya’, maka jadilah nama yang enak didengar : Alifya. Tidak sempat terpikir oleh siapapun, kenapa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir dalam artian nama.
Ketika Alif, panggilan putranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris setiap hari dia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Seseorang pernah bertanya, “ Tidakkah Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal?” Dengan sigap Rani menjawab, “Oh saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is oke!” Dan ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya ditangani secara profesional oleh baby sitter berkelas dan mahal. Rani tinggal mengontrol jadwal alif lewat telepon. Alif pun tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas, dan gampang mengerti. Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
“Contohlah ayah bunda Alif, kalau Alif besar nanti.”begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan diakhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, ia meminta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk mrnghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ‘memahami’ orang tuanya. Buktinya, menurut Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orang tuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatanganya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ‘malaikat kecilku. Sengguh keluarga yang bahagia, kelihatanya. Meski kedua orang tuanya super sibuk, Alif tetep tumbuh penuh cinta. Siapa pun pasti iri melihat keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. “Alif ingin bunda yang mandikan,”pintanya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detikawktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif dengan tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan tante Mien, baby setter-nya.
Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut. Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. “Bunda, mandikan aku!” kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berfikir. Mungkin ini Alif sedang masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.
Sampai suatu sore, Rani dikejutkan telponya tante Mien, sang baby setter.”Bu, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.” Rani ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Tapi sesaat berikutnya tante Mien memberi kabar bahwa anaknya sudah meninggal. Benar-benar pukulan hebat buat Rani.
Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan Dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menurut, Rani memang mentimpan komitmen untuk suatu saat memenadikan anaknya sendiri. Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ”Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,”ucapnya lirih, ditengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, Rani dan beberapa jamaah masih berdiri mematung disisi pusara. Berkali-kali Rani yang tegar itu, berkata, “Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku disebelahnya ataupun diseberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan ?”
Suaminya hanya mematung sperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapanya kosong.”Ini konsekuensi dari sebuah pilihan,”lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja. Tiba-tiba Rani berlutut.”Aku Ibunyaaa...!”serunya histeris, lantas teruggu hebat, “Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri Bunda kesempatan sekali saja Lif, sekali saja, Aliiiff...”Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, Ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
Nasi sudah menjadi bubur, sesal tak lagi menolong. Segala sesuatunya telah terjadi, dan waktu tidak mungkin kembali...
Ini adalah sebuah kisah – yang sepertinya nyata – yang ditilis oleh seorang dokter. Sebuah kisah yang tragis memang. Dan Ini bisa menjadi salah satu maslah berarti bagi orang-orang dewasa yang super sibuk dengan karirnya. Saking sibuknya sampai tidak punya waktu sedikit saja untuk bercanda dengan buah hatinya, atau juga dengan pasangan hidupnya, dengan tetangganya, dengan para sahabatnya, dengan orang tuanya. Hidup mereka untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup.
Mereka lupa bahwa di dunia yang lain masih ada sinar mata lembut yang mengharapkan kehadiran mereka. Ya, buah hati mereka sangat merindukan senyum dan kata-kata mereka. Mereka lupa bahwa di dunia ini karir dan uang bukanlah segala-galanya. Mereka berpikir bahwa uang bisa membahagiakan anak mereka. Mereka lupa, bahwa anak mereka juga punya hati dan perasaan. Dan mereka lupa, makanan hati dan perasaan adalah kasih sayang dan perhatian, bukan uang.
Sahabat, mulai saat ini sesibuk apapun pekerjaan yang anda lakukan, mulailah untuk membagi waktu secara proporsional. Jangan sampai hak suami / istri, hak anak-anak anda, hak orang tua anda, hak saudara anda, hak tetangga anda, hak sahabat anda, dan hak siapapun itu tercuri oleh kesibukan anda dalam bekerja. Tak perlu menjadi orang sibuk. Atau tak perlu pula berpura-pura sibuk. Seseorang itu dinilai dari karya yang dituntaskan dan bagaimana ia mengerjakannya. Bukan dari seberapa lama ia duduk dibalik meja kerja, atau seberapa banyak pertemuan yang didikutinya, atau seberapa padat jadwal waktunya. Sungguh jauh berbeda pengertian sibuk dengan bekerja. Pekerjaan terkadang menuntut anda untuk sibuk. Namun, sibuk tidak selalu berarti bekerja. Berperilaku sibuk lebih mudah dilakukan ketimbang bekerja. Apakah anda sibuk agar tampak bekerja?.
Bekerja bukan untuk mencari kesibukan, namun untuk menciptakan sebuah karya. Ayam betina mengerami telur-telurnya dengan sikap tenang dan waspada. Karena itulah yang terbaik bagi telur-telurnya agar menetas dengan selamat. Ada orang yang mengerjakan banyak hal tanpa harus menjadi sibuk, apalagi berpura-pura sibuk.
Mereka memiliki ketenangan dalam dirinya serta memberikan kepercayaan penuh waspada pada orang lain. Berjalan terburu-buru atau bersikap tergopoh-gopoh seolah tak punya waktu, mungkin mencerminkan kesibukan, namun juga sebuah ketegangan.
Lihatlah, ketenangan pun memberikan hasil yang tak kalah sempurna. Sesibuk apapun diri anda, berikanlah kasih sayang yang lebih pada keluarga anda, pada suami / istri anda, pada anak-anak anda dan pada kedua orang tua anda.

0 komentar:

Followers

Mbh