Kamis, 19 November 2009

KESALAHAN-KESALAHAN MANUSIA DALAM SHALAT

BERJALAN TERGESA-GESA KE MASJID MENGEJAR RUKU’

Diantara kesalahan- kesalahan yang paling nyata dan sering dilakukan orang yang melakukan Shalat adalah, berjalan tergesa2 menuju Masjid. Khususnya setelah terdengar bacaan imam dalam rakaat peratma dari pengeras suara. Mereka ini sebenarnya tergesa-gesa karena ingin mendapatkan rakaat peratma sebelum Imam mengangkat kepalanya bagkit dari ruku, sehingga ia tak ketinggalan satu rakaat pun.

Berjalan yang tergesa2 menuju masjid adalah dsalah satu perbuatan yang di larang Rasulullah SAW. Beliau SAW. Bersabda : Apabila shalat telah di mulai maka janganlah kamu mendatanginya dengan tergesa-gesa. Namun datangilah dengan berjalan, dan kamu harus tenang. Lalu apapun yang kalian dapatkan (bersama Imam), maka shalatlah dan apa yang kalian tertinggal, maka sempurnakanlah.” (HR. Al-Bukhari 636, Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)


MENGUCAPKAN NIAT

Mengucapkan niat dalam shalat adalah Bid’ah yang di ada-adakan, Karena tidak terdapat satu dalilpun dalam Al-Qur’an dan sunannah yang menganjurkan mengucapkannya.

Menurut Sayikh ali Mahfuzh; Diantara Bid’ah bid’ah dalam shalat adalah, melafadzkan niat dengan keras. Ibnu al-Haj dalam kitab Al-Madkhal mengatakan; Baik Imam ataupun makmum, tidak boleh mengeraskan bacaan niat. Mengingat tidak ada satupun riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW. Khulafaur rasyidin, atau para sahabat RA. melafadzkannya dengan keras. Jadi mengucapkan niat dengan keras termasuk Bid’ah. (Al-Ibda’fi madharri Al-Ibtida; hlm. 227)

“yang di sunahkan adalah membaca niat dalam hati, sebab Allah SWT. Mengetahui apa pun yang tersembunyi. Dialah Allah yang berfirman, “katakanlah, apakah kalian memberitahukan Allah tentang agamamu, sedangkan Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi.?”


IMAM YANG SELALU MEMBACA BASMALAH DENGAN KERAS

Membaca Basmalah dengan suara keras dalam melaksanakan shalat jahriyah (subuh, magrib, isya) bukanlah petunjuk dari Rasulullah SAW. Karena Rasul membacanya dengan suara pelan. Demikian yang disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Anas RA. Bahwa Abu Bakar dan Umar mengawali shalatnya dengan membaca Alhamdulillahi rabbil alamin.

Menurut Al-Baghawi; Mayoritas ulama dari sahabat dan tabi’in mengatakan bahwa basmalah dibaca denga suara pelan (sir), tidak dikeraskan. Mereka yang berpendapat demikian adalah; Abu Bakar, Utsman, Ali dan lain-lain.. Demikian juga dengan; Ibrahim An-Nakha’I, Malik, Ats-Tsauri, Ibnu Al-Mubarak, Ahmad, Ishaq, dan lain-lain.


MEMFASIH-FASIHKAN BACAAN

Kesalahan yang lain adalah dalam membaca ayat Al-Qur’an dengan memfasih-fasihkannya dari makhraj (tempat keluarnya huruf)-nya. Ibnul Jauzi Rahimullah berkata. “Iblis mengganggu orang yang shalat dalam mengucapkan huruf dari makhrajnya. Terkadang mereka mengucapkan alhamdu berulang-ulang, agar terdengan kefasihan huruf ha yang dibacanya.

Sebenarnya dia berniat agar ayat yang dibacanya dapat tepat keluar dari makhrajnya, namun karena terlalu berlebihan bacaannya justru salah. Itu semua adalah gangguan Iblis (Ighasatul Lahfan hlmn. 167-168)


TERLALU PANJANG MENGUCAPKAN AMIN

Sebagian orang shalat memanjangkan huruf hamzah pada “amin” lebih dari dua harakat. Sehingga mereka memanjangkannya sampai lebih dari enam harakat. Dan ini adalah salah. Yang benar dan seharusnya, yaitu memanjangkannya tidak lebih dari dua harakat saja. Dan terkadang, ada juga jamaah yang keliru membaca mim dengan mentasjidkan huruf mim.

Kesalahan Lain Dalam mengucapkan Amin

Tidak membaca amin dengna suara keras, adalah salah, karena Rasulullah SAW. Bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah; “Apabila Rasulullah selesai membaca Al-Qur’an, maka beliau mengucapkan amin.” (hadist hasan, riwayat Ad-Daruquthni jilid I hal. 335)

Tidak Berbarengan Dengan Imam Ketika Mengucapkan Amin

Rasulullah Bersabda: “Jika Imam membaca amin, maka bacalah amin olehmu. Karena siapa yang mengikuti bacaan amin sang imam, Maka para malikat juga mengucapkan amin. Dan Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu” (HR. Al-Bukhari).

Menurut Ar-Rafi’I; Yang lebih utama adalah apabila ucapan amin ini diucapkan bersamaan antara makmum dan imam, tidak sebelum dan juga tidak sesudahnya. Dan dalam mengucapkan amin, tidak boleh menambahkan do’a atau kata-kata lainnya (Tharh Ay-Tatsrib, jilid 2 halm. 268)


TIDAK MERAPAT DAN MELURUSKAN BARISAN.

Rapat dan lurusnya barisan merupakan salah satu syarat sempurnanya shalat (berjamaah). Karena barisan (shaf) yang tidak tertib akan menyebabkan permusuhan dan kedengkian serta selisih pendapat di hati kaum Muslim. Berdasarkan hadist yang di riwyatkan oleh Ibnu Mas’ud RA. Ia berkata : Rasulullah SAW. Meluruskan bahu-bahu kami ketika shalat, dan Rasulullah SAW. bersabda : “Luruskanlah shaf mu jangan berantakan, karena jika kalian tidak kompak dalam barisan, niscaya hati kalian akan saling berselisih, kemudian hendaklah di antara kalian mengiringiku (dalam barisan shaf) orang yang bijaksana dan cerdas, kemudian barulah yang setelahnya dan begitu seterusnya.”

Dalam hadist shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari diriwayatkan dari Anas, ia berkata: “Salah seoarang dari kami menempelkan bahunya ke bahu temannya serta kakinya ke kaki temannya.” (Diriwaytkan oleh Al-Bukhari ). Wahai saudaraku, setelah engkau mengetahui pentingnya meluruskan shaf dalam shalat, maka waspadalah jangan sampai engkau menyepelekannya dan tidak mengindahkannya.


TIDAK MERATAKAN PUNGGUNG KETIKA RUKU’

Mushalli harus meratakan punggung ketika ruku’, karena Rasulullah SAW. Ketika ruku’ meluruskan dan meratkan pungggungnya.(Hadist shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari). Sampai jika dituangkan air, maka akan menggenang dan tenang (karena saking ratanya). (Shahih diriwaytkan oleh Aht-thabarani, Abdullah bin Ahmad dan Ibnu Majah.)

Dari Rasulullah SAW. Bersabda : “Apabila kamu ruku’, maka letakkan kedua telapak tanganmu di atas kedua lututmu, dan luruskan punggungmu da sempurnakan ruku’mu.” (Shahih riwayat Ahmad dan Abu Daud)
Tidak Memperhatikan Kerapian dan Kelurusan Shof

Para pembaca yang semoga dirahmati Alloh, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam telah bersabda yang artinya, “Sebaik-baik shof bagi laki-laki adalah yang paling depan, sedangkan shof yang paling buruk adalah yang paling akhir. Sedangkan shof yang terbaik bagi wanita adalah paling belakang dan yang paling buruk adalah yang paling depan.” (HR. Muslim). Tapi sungguh sangat disayangkan sebagian kaum muslimin tidak berlomba-lomba untuk mendapatkan kebaikan ini, bahkan mereka malah menghindari dan enggan untuk memposisikan diri pada shof yang pertama, dengan mereka mempersilahkan orang lain untuk berada di shaf depan. Kaidah Fiqhiyah mengatakan: “Mengutamakan orang lain dalam masalah ibadah adalah terlarang”.

Kesalahan lain yang banyak muncul adalah tidak meluruskan ataupun merapatkan shof. Rosululloh bersabda yang artinya, “Luruskan shof-shof kalian, karena lurusnya shof termasuk kesempurnaan sholat.” (HR. Bukhori Muslim)

Mendahului Maupun Menyertai Gerakan Imam

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Tidakkah orang yang mengangkat kepalanya mendahului imam merasa takut kalau Alloh merubah kepalanya menjadi kepala keledai.” (HR. Bukhori, Muslim)

“Sesungguhnya ubun-ubun orang yang merunduk dan mengangkat kepalanya mendahului imam berada di dalam genggaman setan.” (HR. Thobroni dengan status hasan)

Adapun larangan membarengi gerakan imam maka dasarnya adalah sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Jika imam telah ruku’ maka ruku’-lah kalian dan jika imam bangkit maka bangkitlah kalian.” (HR. Al Bukhori). Dari hadits ini diambil kesimpulan terlarangnya mengakhirkan atau melambatkan gerakan dari imam. Adapun yang diperintahkan adalah mengikuti atau mengiringi gerakan imam.

Sibuk Dengan Berbagai Macam Doa Sebelum Takbirotul Ihrom

Sering kali kita lihat sebagian kaum muslimin sebelum sholat menyibukkan melafalkan niat. Sebagian mereka membaca surat An Naas dengan dalih untuk menghilangkan was-was setan. Begitu juga ada makmum yang mengatakan: Sami’na wa ‘Atho’na ketika mendengar perintah untuk meluruskan shof dari imam: Sawwuu shufuufakum! Padahal perintah dari imam tadi butuh pelaksanaan, bukan butuh jawaban. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Hendaklah kaum muslimin bersegera meninggalkan segala macam tatacara ibadah yang tidak bersumber dari beliau.

Sibuk Dengan Sholat Sunah Padahal Telah Iqomah

Terkadang kita jumpai seseorang yang malah sibuk dengan sholat nafilah/sunnah ketika iqomat telah dikumandangkan atau yang lebih parah malah memulai sholat sunnah baru dan tidak bergabung dengan sholat wajib. Hal ini menyelisihi sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang artinya: “Apabila iqomah sudah dikumandangkan, maka tidak ada sholat kecuali sholat wajib.” (HR. Muslim)

Menarik Orang Lain di Shof Depannya Untuk Membuat Shof Baru

Hadits-hadits yang menjelaskan masalah ini bukan termasuk hadits yang yang shohih, maka perbuatan ini tidak boleh dilakukan bahkan dia wajib bergabung dengan shof yang ada jika memungkinkan. Jika tidak maka boleh dia sholat sendiri di shof yang baru, dan sholatnya dianggap sah karena Alloh tidaklah membebani seorang kecuali sesuai kemampuannya (Lihat Silsilah Al Hadits Ash Shohihah wal Maudu’at).
Dan masih banyak lagi kesalahan2 dalam shalat yang karena keterbatasan halaman tidak bisa dimsaukkan.Afwan jiddan.Mari kita buat shalat kita berkualitas
(Sumber:www.muslim.or.id)

0 komentar:

Followers

Mbh