Rabu, 29 Juni 2011

Sebuah Cara untuk Menenangkan Hati

Secara etimologi zikir
berasal dari bahasa
Arab yang berarti
‘menyebut’ atau
‘mengingat’. Dalam
bahasa agama (Islam)
zikir acap kali
didefinisikan dengan
menyebut atau
mengingat Allah dengan
lisan melalui kalimat-
kalimat thayyibah.
Kendatipun zikir sering
disebut-sebut sebagai
upaya mengingat Allah
melalui lisan, namun
sesungguhnya esensi
zikir ada pada
kesadaran penuh akan
pengawasan Allah
dalam segala aspek
kehidupan manusia.
Kesadaran akan
kehadiran dan
pengawasan Allah
inilah yang akan
membuat hidup menjadi
tenang dan tenteram.
Sebab, hidup dalam
pengawasan Allah pasti
mengarahkan
seseorang untuk tampil
humanis, amanah,
disiplin, dan taat
hukum.
Allah berfirman:
“(yaitu) orang-orang
yang beriman lagi hati
mereka menjadi
tenteram dengan
mengingat Allah.
Ingatlah, hanya dengan
mengingat Allah hati
akan menjadi
tenteram.” (QS Ar-
Ra’du : 28). Maka, zikir
seharusnya tidak
hanya di forum-forum
tertentu, seperti
masjid atau mushala,
tetapi juga harus
melekat saat berbisnis,
bekerja, mengajar,
rapat tertutup maupun
terbuka, dan dalam
semua kesempatan.
Seringkali kita
menemukan dan
bahkan dirasakan
sebagian orang, masih
ada orang yang
gelisah dan gamang
dalam hidupnya,
kendati sudah berzikir.
Imam al-Ghjazali dalam
kitabnya Ihya
‘Ulumuddin
menjelaskan tentang
keajaiban hati (aja’ib
al-qalb).
Ia mengilustrasikan,
jika seseorang sedang
berjalan, lalu ada
anjing yang hendak
mengganggu dan ia
menghardiknya, maka
anjing itu akan segera
pergi. Namun, bila di
sekitarnya banyak
tulang dan daging yang
menjadi makanannya,
maka anjing tersebut
tidak akan pergi
meskipun dihardik
dengan keras.
Kalaupun dia pergi,
paling hanya sebentar
untuk kemudian
mengintai lagi,
menunggu kita lengah
lalu segera kembali.
Melalui ilustrasi
tersebut, al-Ghazali
ingin menjelaskan
bahwa zikir itu ibarat
sebuah hardikan
terhadap setan. Zikir
baru akan efektif,
kalau hati kita bersih
dari makanan setan.
Kalau hati sudah
bersih, maka zikir
akan mampu
menghardik setan.
Sebaliknya, bila hati
dipenuhi dengan
makanan setan, maka
zikir sebanyak apa
pun tidak akan
sanggup mengusir
setan. Bahkan, setan
akan ikut berzikir pula
dalam hati kita. Oleh
sebab itu, tidak ada
pilihan lain, bila ingin
zikir efektif dan
mempunyai kekuatan,
maka kita harus
membersihkan hati dari
segala macam makanan
setan.
Al-Ghazali
menambahkan,
makanan setan menjadi
peluang dan pintu
masuk (madkhal) setan.
Pintu masuknya adalah
segala bentuk penyakit
hati. Dan di antara
akses masuknya setan
yang merupakan
penyakit hati yang
kerap menyerang
manusia adalah al-
hirts. Al-hirts adalah
ambisi atau keinginan
yang sangat rakus,
dan selalu ingin lebih.
Akibatnya, ia menjadi
tuli dan buta mata
hatinya. Dan ia pun
rela melakukan apa
saja.
Oleh: Ahmad Yani
[republika]

0 komentar:

Followers

Mbh