Selasa, 28 Juni 2011

DUA METODE PENJERNIHAN QALBU

Alam semesta seisinya
ini tidak ada artinya
apa-apa dibanding
dengan Allah. Berarti
tidak ada sesuatu pun
yang mampu
menampung adanya
Allah. Segalanya tidak
bisa menjadi tempat
semayamnya Allah,
kecuali hati hambanya
yang beriman. Maka
disanalah Allah
bersinggasana.
Hati orang yang
beriman adalah rumah
Allah. Dan karena itu
hati merupakan
amanah Ilahi untuk kita
jaga jangan sampai
terkena kotoran dunia.
Oleh sebab itu hati
harus kita jaga,
dirawat, dirias biar
menjadi elok. Hati kita
adalah ruang dimana
pertemuan dialogis
(munajad) antara
hamba dan Rabb
berlangsung.
Dalam menjaga dan
merawat rumah Allah
ada dua cara menurut
tradisi keagamaan kita
yang agung.
Pertama tradisi
Tazkiyatun Nafs, yaitu
tradisi membersihkan
kotoran jiwa yang
dimulai dengan tobat.
Dalam jiwa kita ada sisi
gelap yang dipenuhi
oleh virus-virus paling
menjijikkan. Dimulai
dengan virus iri
dengki, lalu
berkembang menjadi
takabur, riya’, ujub,
mencintai dunia,
kedzaliman, kefasikan,
kemunafikan, dan
kemudian menjurus
pada kekufuran.
Semua virus itu harus
dibersihkan melalui
taubat dan dzikrullah.
Dari sinilah muncul
paradigma kedua
melalui Tathirul Qulub.
Yaitu menyucikan hati
melalui riasan etika
atau akhlak hamba
dengan Allah Ta’ala.
Penyucian hati berbeda
dengan pembersihan
jiwa. Kalo penucian hati
lebih menekankan pada
riasan pasca
pertobatan, lalu
memasuki wilayah
spiritual dengan
riasan-riasan maqamat
demi maqamat.
Sedangkan
pembersihan jiwa
adalah upaya untuk
melakukan asketisme
secara total, baik lewat
tobat, zuhud, wara’,
dan sebagaianya.
Dua proses tadi tidak
tergantung dengan
lifestyle dan
penampilan orang per
orang. Orang yang
berjenggot panjang
dan berjubah serta
tasbih di tangannya
belum tentu orang suci
atau sufi. Siapa tahu
dia dengan jubah dan
jenggo malah tumbuh
riya’, dan takabur atas
nama syiar. Siapa tau
mereka yang
bernampilan necis dan
perlente malah lebih
dekat dengan Allah,
ketimbang Anda yang
memakai baju-baju
relegius.
Dalam wilyah ruhani
spiritual, baju dan
bendera haruslah
dilepaskan. Bahkan
prestasi amaliyah
sebagai tempat
gantungan masa depan
dan akhirat harus
dikubur habis. Hanya
Allah lah tempat
bergantung kita, bukan
amal perbuatan,
prestasi ibadah, dan
bukan pula hasrat-
hasrat luhur. Bahwa
kita sedang beramal itu
bagus, itulah indicator
bahwa kita berada
dalam lindungan Ilahi.
Tetapi sebaliknya
ketika kita sedang
berbuat maksian dan
hina, itu pertanda
bahwasanya kita
sedang dihina oleh
Allah, na’ubillahi min
dzalik. Kelak jika dua
cara pembersiahan dan
penyucian itu
berlangsung, kita akan
memasuki ruang zinatul
asrar. Yaitu ruang
rahasia yang menjadi
manifestasi
kemahaindahan Ilahi.
Maka disana rumah
Tuhan, bukan saja
menjadi bersih, tetapi
telah menjadi arasy
yang haqiqi.

0 komentar:

Followers

Mbh