Rabu, 29 Juni 2011

Jauhilah Sifat Hasud

Sabda Nabi SAW : Hati-
hati kalian dari sifat
hasud, sungguh hasud
itu dapat `memakan`
(pahala) kebaikan
seperti api yang
melahap kayu bakar.
Sifat hasud adalah
keinginan buruk
terhadap orang lain
yang sedang mendapat
kenikmatan, agar
kenikmatan orang lain
itu menjadi luntur,
hancur atau hilang,
dan dapat beralih
kepada dirinya.
Sifat hasud sering kali
mendorong pemiliknya
untuk berbuat apa
saja, bahkan
menghalalkan segala
cara, demi kehancuran
orang yang dihasudi.
Sering terdengar ada
seorang yang hasud
kepada tetangganya,
entah itu di
perkampungan,
pertokohan,
perkantoran maupun di
pasar dan sebagainya,
yang mana si hasud ini
dalam melancarkan
aksinya sampai
menggunakan bantuan
dukun atau ilmu sihir.
Hal itu dilakukan demi
terpenuhi ambisinya
dalam menjatuhkan
`lawan` yang dihasudi.
Biasanya, cara yang
sering digunakan
dalam memulai aksinya,
adalah menjadikan
sang `lawan` sebagai
bahan pergunjingan,
misalnya dengan cara
mencari-cari
kesalahannya, bahkan
terkadang mengada-
ada serta memberi
bumbu penyedap
omongan.
Jika cara itu dirasa
belum cukup, maka
mulailah melancarkan
serangan fisik sedikit
demi sedikit, hingga
melakukan hal-hal
yang dapat
membahayakan
keselamatan jiwa
`lawannya`, namun
umumnya, dilakukan
secara sembunyi-
sembunyg hingga
susah dilacak
sumbernya.
Jika cara licik ini masih
dianggap kurang
memadai, maka si
hasud tidak segan-
segan menggunakan
ilmu sihir atau meminta
bantuan dukun.
Biasanya, si pelaku
berusaha
menampakkan
kebaikan kepada
orang lain termasuk
kepada `lawannya`,
dengan tujuan agar
kelakuannya tidak
terdeteksi.
Sifat hasud seringkali
bergandengan dengan
sifat dengki.
Sedangkan dengki
adalah perilaku
permusuhan terhadap
orang lain, baik yang
dilakukan secara
sembunyi-sembunyi
maupun terang-
terangan, dengan
tanpa alasan yang
dibenarkan oleh
syariat.
Jadi orang yang
memiliki sifat dengki
dan hasud ini,
termasuk orang yang
berakhlaq buruk.
Menurut Nabi SAW
keburukan sifat dengki
dan hasud, dapat
mengurangi perolehan
pahala dari kebaikan
yang pernah dilakukan
sebelumnya.
Dalam kata mutiara
juga diungkapkan
Alhasuud la yasuud,
orang yang bersifat
hasud itu tidak layak
memimpin. Karena sifat
buruk hasud tersebut
akan menjadi
penyebab perpecahan
dan kehancuran dalam
tubuh anggotanya.
Betapa nistanya sifat
hasud ini. Karena itu
alangkah keliru jika
ada seorang muslim
yang sengaja
`memelihara` dan
`melestarikan` sifat
hasud pada dirinya.
Ada cara bagi seorang
muslim yang ingin
belajar mengendalikan
diri tatkala dirinya
akan diterpa penyakit
hasud. Yaitu
mengamalkan ajaran
Nabi SAW yang
bernama Ghibthah.
Sedangkan maksud
ghibthah adalah
seperti berikut :
Seseorang yang
melihat pihak lain
mendapat kenikmatan,
misalnya mendapat
pekerjaan yang
mapan, lantas orang
tersebut mengatakan
dalam dirinya : Saya
ingin seperti dia, bisa
sukses dalam
pekerjaannya, dan
semoga dia tetap
berjaya bahkan
mendapatkan tambahan
rejeki lebih, dan
mudah-mudahan saya
bisa mendapatkan pula
rejeki seperti yang dia
dapatkan.
Pemilik sifat ghibthah
tidak menginginkan
orang lain yang
dighibthahi menjadi
hancur, bahkan
sebaliknya bisa saja
menjadika mitra kerja
dalam menggapai
kesuksesan bersama,
terlebih jika dinilai
dapat saling mengisi
dan melengkapi serta
menguntungkan.
Source : http://
www.pejuangislam.com/
main.php?
prm=karya&var=detail&id=231

0 komentar:

Followers

Mbh