Kamis, 30 Juni 2011

Puncak Iman

Kamu takkan pernah
sanggup mendaki
sampai ke puncak
gunung iman, kecuali
dengan satu kata:
cinta. Imanmu hanyalah
kumpulan keyakinan
semu dan beku, tanpa
nyawa tanpa gerak,
tanpa daya hidup
tanpa daya cipta.
Kecuali ketika ruh cinta
menyentuhnya.
Seketika ia hidup,
bergeliat, bergerak
tanpa henti, penuh
vitalitas, penuh daya
cipta, bertarung dan
mengalahkan diri
sendiri, angkara murka
atau syahwat.
Iman itu laut, cintalah
ombaknya.
Iman itu api, cintalah
panasnya.
Iman itu angin, cintalah
badainya.
Iman itu salju, cintalah
dinginnya.
Iman itu sungai,
cintalah arusnya.
Seperti itulah cinta
bekerja ketika kamu
harus memenangkan
Allah atas dirimu
sendiri, atau bekerja
dalam diri pemuda ahli
ibadah itu. Kejadiaanya
diriwayatkan Al
Mubarrid dari Abu
Kamil, dari Ishak bin
Ibrahim dari Raja' bin
Amr Al Nakha'i.
Seorang pemuda Kufa
yang terkenal ahli
ibadah suatu saat
jatuh cinta dan tergila-
gila pada seorang
gadis. Cintanya
berbalas. Gadis iru
sama gilanya. Bahkan
ketika lamaran sang
pemuda ditolak karena
sang gadis telah
dijodohkan dengan
saudara sepupunya,
mereka tetap nekat,
ternyata. Gadis itu
bahkan menggoda
kekasihnya, "Aku
datang padamu, atau
kuantar cara supaya
kamu bisa menyelinap
ke rumahku". Itu jelas
jalan sahwat.
"Tidak! Aku menolak
kedua pilihan itu. Aku
takut pada neraka
yang nyalanya tak
pernah padam!" Itu
jawaban sang pemuda
yang menghentak sang
gadis. Pemuda itu
memenangkan iman
atas syahwatnya
dengan kekuatan cinta.
"Jadi dia masih takut
pada Allah?" Gumam
sang gadis. Seketika ia
tersadar, dan dunia
tiba-tiba jadi kerdil di
matanya. Ia pun
bertaubat dan
kemudian mewakafkan
dirinya untuk ibadah.
Tapi cintanya pada
sang pemuda tidak
mati. Cintanya berubah
jadi rindu yang
menggelora dalam jiwa
dan doa-doanya.
Tubuhnya luluh lantak
didera rindu. Ia mati,
akhirnya.
Sang pemuda
terhenyak. Itu mimpi
buruk. Gadisnya telah
pergi membawa semua
cintanya. Maka
kuburan sang gadislah
tempat ia mencurahkan
rindu dan doa-doanya.
Sampai suatu saat ia
tertidur di atas
kuburan gadisnya.
Tiba-tiba sang gadis
hadir dalam tidurnya.
Cantik. Sangat cantik.
"Apa kabar?
Bagaimana keadaanmu
setelah kepergianku,"
tanya sang gadis.
"Baik-baik saja. Kamu
sendiri disana
bagaimana," jawabnya
sambil balik bertanya.
"Aku disini, dalam
surga abadi, dalam
nikmat dan hidup tanpa
akhir," jawab
gadisnya. "Doakan aku.
Jangan pernah lupa
padaku. Aku selalu
ingat padamu. Kapan
aku bisa bertemu
denganmu," tanya
sang pemuda lagi. "Aku
juga tidak pernah lupa
padamu. Aku selalu
berdoa kepada Allah
menyatukan kita di
surga. Teruslah
beribadah. Sebentar
lagi kamu akan
menyusulku," jawab
sang gadis. Hanya
tujuh malam setelah
mimpi itu, sang pemuda
pun menemui ajalnya.
Atas nama cinta ia
memenangkan Allah
atas dirinya sendiri,
memenangkan iman
atas syahwatnya
sendiri. Atas nama
cinta pula Allah
mempertemukan
mereka. Cinta selalu
bekerja dengan cara
itu.

0 komentar:

Followers

Mbh