Selasa, 28 Juni 2011

Qolbu mengeras karena jauh dari Allah

Penulis: Al-Ustadz
Qomar Suaidi, Lc
Allah subhanahu wa
ta’ala berfirman:
“Maka celakalah bagi
mereka yang keras
qalbunya dari berdzikir
kepada Allah. Mereka
berada dalam
kesesatan yang
nyata.” (Az-Zumar: 22)
Tidaklah Allah
memberikan hukuman
yang lebih besar
kepada seorang hamba
selain dari kerasnya
qalbu dan jauhnya dari
Allah subhanahu wa
ta’ala. An-Naar
(neraka) adalah
diciptakan untuk
melunakkan qalbu yang
keras. Qalbu yang
paling jauh dari Allah
adalah qalbu yang
keras, dan jika qalbu
sudah keras mata pun
terasa gersang. Qalbu
yang keras ditimbulkan
oleh empat hal yang
dilakukan melebihi
kebutuhan: makan,
tidur, bicara, dan
pergaulan.
Sebagaimana jasmani
jika dalam keadaan
sakit tidak akan
bermanfaat baginya
makanan dan minuman,
demikian pula qalbu
jika terjangkiti
penyakit-penyakit
hawa nafsu dan
keinginan-keinginan
jiwa, maka tidak akan
mempan padanya
nasehat.
Barangsiapa hendak
mensucikan qalbunya
maka ia harus
mengutamakan Allah
dibanding keinginan
dan nafsu jiwanya.
Karena qalbu yang
tergantung dengan
hawa nafsu akan
tertutup dari Allah
subhanahu wa ta’ala,
sekadar
tergantungnya jiwa
dengan hawa
nafsunya.
Banyak orang
menyibukkan qalbu
dengan gemerlapnya
dunia. Seandainya
mereka sibukkan
dengan mengingat Allah
subhanahu wa ta’ala
dan negeri akhirat
tentu qalbunya akan
berkelana mengarungi
makna-makna
Kalamullah dan ayat-
ayat-Nya yang nampak
ini, dan ia pun akan
menuai hikmah-hikmah
yang langka dan
faedah-faedah yang
indah. Jika qalbu
disuapi dengan
berdzikir dan disirami
dengan berfikir serta
dibersihkan dari
kerusakan, ia pasti
akan melihat keajaiban
dan diilhami hikmah.
Tidak setiap orang
yang berhias dengan
ilmu dan hikmah serta
memeganginya akan
masuk dalam
golongannya. Kecuali
jika mereka
menghidupkan qalbu
dan mematikan hawa
nafsunya.
Adapun mereka yang
membunuh qalbunya
dengan menghidupkan
hawa nafsunya, maka
tak akan muncul
hikmah dari lisannya.
Rapuhnya qalbu adalah
karena lalai dan
merasa aman, sedang
makmurnya qalbu
karena takut kepada
Allah subhanahu wa
ta’ala dan dzikir. Maka
jika sebuah qalbu
merasa zuhud dari
hidangan-hidangan
dunia, dia akan duduk
menghadap hidangan-
hidangan akhirat.
Sebaliknya jika ia ridha
dengan hidangan-
hidangan dunia, ia
akan terlewatkan dari
hidangan akhirat.
Kerinduan bertemu
Allah subhanahu wa
ta’ala adalah angin
semilir yang menerpa
qalbu, membuatnya
sejuk dengan menjauhi
gemerlapnya dunia.
Siapapun yang
menempatkan qalbunya
disisi Rabb-nya, ia
akan merasa tenang
dan tentram. Dan
siapapun yang
melepaskan qalbunya
di antara manusia, ia
akan semakin gundah
gulana.
Ingatlah! Kecintaan
terhadap Allah tidaklah
akan masuk ke dalam
qalbu yang mencintai
dunia kecuali seperti
masuknya unta ke
lubang jarum (sesuatu
yang sangat mustahil).
Jika Allah subhanahu
wa ta’ala cinta kepada
seorang hamba, maka
Allah subhanahu wa
ta’ala akan memilih dia
untuk diri-Nya sebagai
tempat pemberian
nikmat-nikmat-Nya,
dan Ia akan memilihnya
di antara hamba-
hamba-Nya, sehingga
hamba itu pun akan
menyibukkan
harapannya hanya
kepada Allah. Lisannya
senantiasa basah
dengan berdzikir
kepada-Nya, anggota
badannya selalu
dipakai untuk
berkhidmat kepada-
Nya.
Qalbu bisa sakit
sebagaimana sakitnya
jasmani, dan
kesembuhannya adalah
dengan bertaubat.
Qalbu pun bisa
berkarat sebagaimana
cermin, dan
cemerlangnya adalah
dengan berdzikir.
Qalbu bisa pula
telanjang sebagaimana
badan, dan pakaian
keindahannya adalah
taqwa. Qalbu pun bisa
lapar dan dahaga
sebagaimana badan,
maka makanan dan
minumannya adalah
mengenal Allah
subhanahu wa ta’ala,
cinta, tawakkal,
bertaubat dan
berkhidmat untuk-Nya.
(diterjemahkan dan
diringkas dari kitab Al-
Fawaid karya Ibnul
Qayyim rahimahullah
hal 111-112)
source:
www.asysyariah.com

0 komentar:

Followers

Mbh