Selasa, 28 Juni 2011

Adab Bertetangga Dan Berteman

Rasulullah saw
bersabda:
“Tahukah kalian, apa
saja hak tetangga?
Hak tetangga di
antaranya adalah jika
dia meminta
pertolonganmu, maka
kau harus
membantunya, jika ia
meminjam (berhutang)
kepadamu, maka kau
meminjaminya, jika ia
miskin, maka kau
berderma kepadanya,
jika ia sakit, maka kau
menjenguknya, jika ia
meninggal dunia, maka
kau melayat
jenazahnya, jika ia
memperoleh kebaikan,
maka kau ucapkan
selamat kepadanya,
jika ia memperoleh
musibah, maka kau ikut
berduka atasnya.
Janganlah kau
mendirikan bangunan
yang lebih tinggi dari
rumahnya sehingga
menghalangi udara
memasuki rumahnya,
kecuali atas seizinnya.
Jika kau membeli buah-
buahan, maka berilah
dia dan jika kau tidak
memberinya, maka
bawalah buah-buahan
itu ke dalam rumahmu
secara sembunyi-
sembunyi dan jangan
sampai anakmu
membawanya ke luar
rumah agar anak
tetanggamu tidak
marah. Jangan kau
ganggu dia dengan
asap masakanmu,
kecuali jika kau
memberinya juga.
Tahukah kalian apa
saja hak tetangga?
Demi Dia yang jiwaku
berada dalam
genggamannya, tidak
mungkin seseorang
mampu memenuhi
semua hak tetangga,
kecuali dia yang
dirahmati oleh Allâh
Ta’âlâ .” (HR ‘Umar Bin
Syu’aib)
Duhai saudaraku yang
dirahmati Allâh, coba
renungkan sabda Nabi
di atas yang berbunyi,
“dan jangan sampai
anakmu membawa
buah-buahan tersebut
ke luar rumah agar
anak tetanggamu tidak
marah.” Mengapa,
sebab bisa jadi ketika
melihat si anak sedih
dan menangis, hati
orang tuanya akan
terganggu. Dia akan
sibuk memikirkan
bagaimana caranya
agar dapat membeli
buah-buahan yang
sama. Jika demikian
dalam masalah buah-
buahan, lalu bagaimana
jika istri dan anak
para tetangga yang
hidup sederhana dan
dalam kesempitan
melihat perhiasan dan
pakaian indah yang
dikenakan oleh
tetangga atau kerabat
mereka? Bagaimana
kiranya perasaan
suami yang mengetahui
kesedihan anak dan
istrinya, padahal dia
tahu tidak mungkin
menghibur hati
anaknya dengan
ucapan, “Ketahuilah,
sesungguhnya
kefakiran itu lebih
utama dan lebih baik
daripada kekayaan.”
Oleh karena itu,
seseorang yang tidak
mampu menyenangkan
mereka (para tetangga
yang berada dalam
kesusahan), janganlah
membuat mereka sedih
dan marah. Hendaknya
dia menyembunyikan
perhiasan dan
sejenisnya, bukan
justru
menampakkannya.
Jika tidak mampu
berbuat baik kepada
orang lain, maka
berusahalah untuk
tidak mengganggu
mereka. Seorang suami
yang ingin istrinya
mengenakan perhiasan
indah hendaknya
memerintahkan istrinya
untuk memakainya
secara tersembunyi,
sehingga hanya orang
yang berada di
dekatnya saja yang
tahu. Berapa banyak
rumah tangga yang
hancur, kerusakan,
kesedihan, kesusahan,
duka, kehinaan, rasa
takut, hutang, saling
membenci, iri dengki,
fitnah, bencana hanya
karena permasalahan
seperti ini. Berapa
banyak kebaikan yang
terlewatkan
karenanya, seperti
ilmu berbobot, perilaku
mulia, amal yang
berguna, keadaan
yang diridhai,
kebahaiaan, kehidupan
yang menyenangkan,
qanaah, sikap ridha
pada ketentuan Allâh
dan zuhud.
Diceritakan seorang
bapak ingin
menikahkan putrinya
dengan seorang pria
yang barusan datang
dari berpergian. Pria
ini menitipkan kepada
calon mertuanya
beberapa perhiasan
untuk tunangannya.
Ketika melihat
perhiasan itu, sang
mertua menyimpannya.
Tetapi, keesokan
harinya ia hancurkan
perhiasan tersebut.
Melihat perhiasannya
hancur berkeping-
keping, sang putri
merasa sedih.
Menyaksikan
kesedihan putrinya
sang ayah berkata,
“Tindakanku hanya
menyebabkan
kesedihan hatimu saja,
tetapi akan
menyelamatkan hati
orang lain. Besok akan
berdatangan tamu
wanita mengunjungimu.
Jika mereka melihat
perhiasan itu, maka
hati mereka akan
sedih, sebab mereka
tidak memiliki
perhiasan yang sama.”
Coba perhatikan jalan
berpikir yang sangat
bijaksana ini, jika
engkau termasuk
orang-orang yang mau
mendengarkan.Semoga
Bermanfa'at,amin :)

0 komentar:

Followers

Mbh