Selasa, 28 Juni 2011

Dosa- Dosa-mu Jangan Memutus Istiqomah-mu

Syeikh Ibnu ‘Athaillah
As-Sakandary
"Manakala anda
terjerumus dalam
dosa, janganlah
kenyataan itu
membuatmu putus asa
dalam meraih
Istiqomahmu dengan
Tuhanmu. Kadang-
kadang, – siapa tahu
– itulah akhir dosa
yang ditakdirkan oleh
Allah padamu.”
Jadikan
keterjerumusan itu
sebagai pintu taubat
dan inabah demi
beharap kepada Allah
Ta’ala, sekaligus
sebagai pintu khauf
(rasa takut)
kepadaNya. Sebab
putus asa terhadap
rahmat Allah itu bentuk
tipudaya yang gelap,
bahkan syetan harus
berputus asa karena
tidak mampu
memperdayai anda
dibalik tindakan dosa
itu.
Imam Al-Ghazaly ra,
menegaskan,
“Sebagaimana dosa
merebut anda, dan
kembali kepada dosa
sebagai aktivitas
anda, maka jadikanlah
taubat dan kembali
kepadaNya sebagai
aktivitas. Karena
orang yang
beristighfar tidak akan
mengulang-ulang
dosanya, walau ia
mengulang tujuhpuluh
kali setiap harinya.”
Kita bisa mengambil
pelajaran dari Fir’aun,
yang dosanya benar-
benar memuncak dan
paling besar, toh Allah
Ta’ala masih
memerintahkan kepada
Nabi Musa as dan Nabi
Harun as, “Katakan
padanya dengan kata-
kata yang lembut,
siapa tahu ia bisa
tersadarkan atau ia
memiliki rasa gentar
dan takut (Kepada
Allah Swt).” (Thaha 44)
Betapa banyak orang
yang kembali bertobat
dan menjadi Istiqomah
gara-gara perbuatan
dosanya, dan
sebaliknya betapa
banyak orang yang
akhirnya malah maksiat
gara-gara ibadahnya,
dimana ia bangga
dengan prestasi amal
ibadah, lalu takjub
pada diri sendiri,
kemudian riya’ dan
takabur.
Optimisme pada rahmat
dan anugerah Allah
Ta’ala harus menjadi
titik utama ke depan.
Karena bila manusia
bertaubat dengan
taubatan Nasuha,
malah seluruh dosanya
diampuni.
Tetapi jangan sampai
manusia meremehkan
perbuatan dosa
dengan beralibi, “Allah
Maha Ampun, atau
ampunan Allah lebih
besar dibanding
dosanya, atau apa
artinya dosaku kalau
dibanding rahmat
Allah….” dst. Yang
menggiring seseorang
terbelit dosa terus
menerus.
Pandangan Ibnu
Athaillah untuk
mengingatkan kita agar
kita tidak putus asa
pada RahmatNya,
bahkan dalam kondisi
terpuruk oleh dosa
sekali pun.
Allah Swt, justru
menghampiri kepada
para pendosa agar
kembali kepadaNya,
karena dibalik
“kembali” itu ada
“cinta” yang begitu
agung dariNya. Cinta
itu sangat luhur dan
besar nilainya
dibanding apa pun.
“Sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang
yang taubat.” Begitu
ditegaskan dalam
Al-Qur’an.
Bahkan di awal kitab
Al-Hikam ini
disebutkan, “Tanda-
tanda manusia
bergantung dan
mengandalkan
amalnya, adalah
kehilangan harapan
(terhadap rahmat Allah)
ketika berbuat dosa.”
Rasa kehilangan akan
harapan ampunan dan
rahmat adalah bentuk
pesimisme yang
berbahaya, karena
pada saat yang sama
seseorang tidak
menggantungkan diri
pada Sang Pencipta
Amal, malah
menggantungkan pada
amal itu sendiri yang
diklaim sebagai
perbuatannya.
Padahal amal baik tidak
menjamin seseorang
masuk syurga, dan
amal buruk tidak
otomatis seseorang
pasti masuk neraka.
Masuk neraka itu
semata karena
keadilan Allah, dan
masuk syurga karena
rahmat dan ridhoNya.
Bila anda meraih
rahmat dan ridhoNya,
maka taat dan
kepatuhan anda
sebagai tanda memang
anda ditakdirkan
masuk syurga.
Sedangkan bagi
mereka yang mendapat
keadilan Allah Swt,
(na’udzubillahi min
dzaalik) seseorang
ditandai dengan
berbuat maksiat dan
menuruti nafsunya
belaka di dunia.

0 komentar:

Followers

Mbh