Rabu, 29 Juni 2011

Aku Miskin

Suatu hari, seorang
ayah dari keluarga
yang sangat kaya
membawa anaknya
bepergian ke suatu
daerah yang sebagian
besar penduduknya
hidup dari hasil
pertanian. Ia
bermaksud untuk
mengajarkan
bagaimana kehidupan
yang selama ini mereka
kenyam dengan
membandingkan
kehidupan orang-
orang yang miskin.
Mereka menghabiskan
waktu berhari-hari di
sebuah tanah
pertanian milik
keluarga yang terlihat
sangat miskin.
Sepulang dari
perjalanan tersebut,
sang Ayah bertanya
kepada anaknya,
"Bagaimana perjalanan
tadi?"
"Sungguh luar biasa,
Pa." Jawab si Anak
yang masih terkesan.
"Kamu lihat kan
bagaimana kehidupan
mereka yang miskin?"
tanya sang
Ayah.
"Iya Pa," jawabnya.
"Jadi, apa yang dapat
kamu pelajari dari
perjalanan ini?" tanya
Ayahnya lagi.
Si Anak menjawab,
"Saya melihat
kenyataan bahwa kita
mempunyai seekor
anjing, sedangkan
mereka memiliki empat
ekor. Kita punya
sebuah kolam yang
panjangnya hanya
sampai ke tengah-
tengah taman,
sedangkan mereka
memiliki sungai yang
tak terhingga
panjangnya. Kita
memasang lampu taman
yang dibeli dari luar
negeri, sedangkan
mereka memiliki
bintang-bintang di
langit untuk menerangi
taman mereka. Beranda
rumah kita lebarnya
hanya mencapai
halaman depan,
sedangkan milik
mereka seluas horison.
Kita tinggal dan hidup
di tanah yang sempit,
sedangkan mereka
mempunyai tanah
sejauh mata
memandang. Setiap
kebutuhan kita hanya
mampu dilayani pelayan
yang kita miliki, tetapi
mereka mampu
melayani diri mereka
sendiri. Kita membeli
makanan yang akan
kita makan, tetapi
mereka bisa menanam
sendiri. Kita mempunyai
dinding indah yang
melindungi diri kita dan
mereka memiliki teman-
teman untuk menjaga
kehidupan mereka."
Mendengar cerita
tersebut, sang Ayah
tersenyum dan
memandang wajah
anaknya.
Kemudian si Anak
melanjutkan, "Terima
kasih Pa, akhirnya aku
tahu betapa miskinnya
diri kita."
Sahabat, terkadang
kekurangan yang
dimiliki seseorang
merupakan anugrah
bagi orang lain. Terlalu
sering kita melupakan
apa yang kita miliki dan
hanya berkonsentrasi
terhadap apa yang
tidak kita miliki. Semua
kembali pada
perspektif secara
pribadi.
Pikirkanlah apa yang
akan terjadi jika kita
semua bersyukur
kepada Tuhan atas
anugrah yang telah
disediakan oleh-Nya
bagi kita daripada
kuatir untuk meminta
lebih lagi.
(Author : Agustian
Husin)

0 komentar:

Followers

Mbh