Rabu, 29 Juni 2011

Langkah-Langkah Tazkiyatun Nafs

Allah Azza wa Jalla
berfirman,
"Sungguh beruntunglah
orang-orang
mensucikannya (hati),
dan merugilah orang-
orang yang
mengotorinya" (Asy-
Syams: 9-10).
"Dan apabila disebut
asma Allah bergetarlah
hati mereka, dan
apabila dibacakan
kepada mereka ayat-
ayat-Nya
bertambahlah imannya,
dan kepada Rabbnya
mereka
bertawakal" (an-
Anfaal: 2-4).
Adapun langkah-
langkah yang dapat
ditempuh dalam
mensucikan jiwa adalah
dengan:
1. Bersegera pada
kebenaran
Yakni dengan
senantiasa menyambut
berbagai syiar dan
seruan kebenaran
dengan sambutan
sami'na wa atha'na..
kami dengar dan kami
taati (Allah) (Az-Zumar:
18; Al-Ahzab: 36; An-
Nisaa': 65). Sebagai
contoh adalah
kesigapan para
sahabat Rasul dalam
menyambut larangan
minum khamr. Mereka
segera menghancurkan
gentong-gentong
minuman keras
mereka, sehingga
Madinah banjr khamr.
Bahkan ada di antara
sahabat yang baru
saja minum khamr,
segera memasukkan
jarinya ke mulut untuk
memuntahkan khamr
yang baru diminumnya.
Juga kesigapan para
muslimah sahabat
Rasul dalam menerima
perintah hijab (jilbab),
segera mereka ambil
dan sobek kain yang
dimilikinya untuk
menutup auratnya,
dada dan seluruh
tubuhnya dengan jilbab
untuk menunjukkan
ketaatannya kepada
Allah dan Rasul-Nya.
2. Cinta kebenaran dan
berlapang dada untuk
Islam (Al-An'am: 125)
Artinya ia siap
mengorbankan segala
kesenangan pribadi
dan egonya untuk
mengamalkan Islam,
tanpa ada tawar-
menawar.
3. Menyambut seruan
keimanan
Yakni digunakan
segala waktu dan
kesempatan untuk
mengabdi kepada Allah
(Al-Ashr: 1-3; Ali-
Imran: 193).
Rasulullah SAW
bersabda,"min husnil
islaamil mar'i tarkuhu
maa laa ya'niih...
rawahu muslim...
diantara kebaikan
Islamnya seseorang
adalah meninggalkan
perkara yang tidak
berguna baginya" (HR.
Muslim). "Khairunnaasi
man thaala 'umruhu wa
hasuna 'amaluhu...
sebaik-baik manusia
adalah yang panjang
umurnya dan baik
amalnya" (HR. Tirmidzi).
4. Banyak berdzikir
Yakni mewarnai
kehidupannya dengan
banyak mengingat
Allah, diawali dengan
asma Allah, beramal
merasa diawasi Allah
mengakhiri amal
perbuatan dengan
menyebut asma Allah.
Mengadakan koreksi
diri untuk semata-mata
menggapai ridha Allah,
bekerja semaksimal
mungkin, sungguh-
sungguh, efektif dan
efisien untuk mencari
kecintaan Allah.
Manfaat dzikir adalah
akan menjauhkan dari
syetan, menyingkirkan
kesusahan,
mendatangkan
ketentraman,
mendatangkan rizki,
membuka pintu ma'rifat
kepada Allah,
mengeyahkan
perkataan kotor dan
perbuatan sia-sia,
hiburan orang susah
dan miskin karena
amal-amal banyak
"diborong" orang-
orang kaya, dan masih
banyak lagi yang
lainnya.
5. Yakin yang diikuti
dengan pembenaran
berupa amal shalih
Yakni keyakinan yang
tiada henti pada
konsep tetapi
membuahkan amal
nyata. Syahadat diikuti
dengan shalat, nilai-
nilai shalat diwujudkan
dengan meninggalkan
perbuatan keji dan
munkar, menegakkan
jiwa disiplin. Puasa
mendidik jiwa sabar
dan istiqamah direalisir
di dalam kehidupan.
Zakat diwujudkan
dalam kepedulian
sosial terhadap
kerabat, tetangga,
masyarakat maupun
umat secara
menyeluruh, karena
masih banyak belahan
dunia Islam yang miskin
dan kelaparan. Nilai
haji diwujudkan
dengan meningkatkan
pengorbanan untuk
tegaknya masyarakat
Islam, yakni selalu
mendermakan apa
yang dimilikinya di
jalan Allah, baik waktu,
harta, jiwa, maupun
raganya untuk Islam
(At-Taubah: 111) untuk
ditukar dengan surga.
Karena ibadah
bukanlah sekedar
"wisata ruhani" untuk
mencari kepuasan
batin semata.
6. Melembutkan hati
dengan mengingat Allah
Artinya pribadi mukmin
tidak layak ditaburi
butir-butir maksiat,
dosa, kedengkian,
hasad, prasangka,
yang justru akan
mengotori dan
merusaknya (Az-
Zummar: 22; Al-Anfaal:
2). Maka ia terus-
menerus berinteraksi
dengan Al-Qur'an,
banyak bersujud, dan
amal-amal shalih yang
membebaskan jiwa.
Seorang ulama salaf
berkata, "telitilah
hatimu dalam tiga hal,
ketika membaca Al-
Qur'an, berdzikir, dan
shalat. Jika dalam
saat-saat tersebut
tidak dapat khusyu',
maka mohonlah kepada
Allah agar diri anda
diberi "hati". Sebab
ketika diri anda tidak
menggapai
kekhusyu'an,
sebenarnya anda tidak
"berhati".
7. Ittiba' terhadap Al-
Qur'an dan Sunah
Yakni mengembalikan
segala cara kehidupan
dengan Al-Qur'an dan
Sunah. Al-Qur'an dan
Sunah yang menyatu
dalam kepribadian,
dalam ibadah, akhlaqul
karimah, dan
muamalah.
Bila langkah-langkah
ini ditempuh, insya
Allah jiwa kita akan
bertambah bersih dan
suci. Allahu a'lam.
dikutip dari:
Materi Ceramah
Ramadhan dan Umum
Abu Izzuddin

0 komentar:

Followers

Mbh