Minggu, 15 November 2009

Menarik dan Cantik; mitos?

Ada orang bilang kalo urusan wajah cantik memang bisa sepakat. Boleh dibilang kesepakatan umum. Banyak orang mengatakan bahwa ”settingan” wajah Siti Nurhaliza itu cantik. Dian sastro itu cantik. Tapi kalo menarik, nati dulu. Karena apa? Karena ini bicara soal selera. Selera setiap orang bisa berbeda. Meski bisa bilang kepada orang yang benar-benar cantik, tapi apakah doi menarik juga? Bisa iya bisa tidak jawabannya. Tergantung yang ngelihat sisi mana yang membuatnya tertarik.
Itu sebabnya, saya jadi mikir lagi nih kalo memang tergantung kepada orangnya yang melihat, berarti bisa dimanipulasi dong? Boleh dibilang sebenarnya kita itu mengikuti kebiasaan penilaian masyarakat yang sudah dipengaruhi oleh beragam persepsi atau jusru dari dalam kita sendiri? Jangan-jangan persepsi tentang cantik or ganteng itu kita cuma termakan isu. Betul ndak/ sebab, dari waktu ke waktu kriteria cantik bisa berubah-ubah lho. Selain tren yang sedang berjalan, juga kriteria itu bergantung kultur masing-masing masyarakat. Nggak percaya?
Di jaman kolonial, di kalangan etnik Maori, cantik adalah besar dan gemuk. Waduh? Kok bisa sih? Hehehe... itu soal persepsi sobat. Kita nggak bisa memprotes keputusan definisi cantik menurut suku Maori bahwa wanita yang cantik itu seperti di telenovela Mi Gorda Bella. Mungkin kalo kita bisa bilang bahwa model begitu mah ”Gajah Bengkak”, ”Karung Beras” atau bahkan sebutan menyakitkan hati dan menyayat jiwa: mesin giling! Gejlig!
Itu suku Maori. Lain lagi di masyarakat Jawa. Menurut mereka, perempuan yang cantik adalah mereka yang memiliki tubuh di bagian belakang-bawahnya yang besar dan bulat. Perempuan seperti itu akan dikagumi para pria. Karena apa? Karena dianggap perempuan dengan model tubuh seperti itu menandakan mudah melahirkan dan banyak anak.
Wanita Dayak yang kalo kita saksikan di acara semacam Jejak Petualang dan Potret, mereka suka memelihara kebiasaannya untuk melubangi telinga mereka dengan semacam anting-anting ya? (tapi itu gede banget dan kayak gelang besi!). akibatnya, tuh telingan jadi menjulur ku bawah kayak kupingnya Snoopy. Tapi dalam masyarakat Dayak, justru di situlah esensi kecantikan seorang perempuan dan sekaligus menandakan tingginya kelas sosial perempuan dalam masyarakat.
Menurut Dana Iswara, dalam sejarah manusia, ternyata tercatat bahwa definisi cantik terus-menerus berubah. Di Eropa pada abad pertengahan kecantikan perempuan berkait erat dengan fertilitasnya, dengan kemampuan reproduksinya. Pada abad ke-15 sampai ke-17, perempuan cantik dan seksi adalah mereka yang punya perut dan panggul yang besar serta dada yang montok, yakni bagian tubuh yang berkait dengan fungsi reproduksi.
Pada awal abad ke-19 kecantikan didefinisikan dengan wajah dan bahu yang bundar serta tubuh montok. Sementara itu, memasuki abad ke-20 kecantikan identik dengan perempuan dengan bokong dan paha besar. Di Afrika dan India umumnya perempuan dianggap cantik jika ia berubah montok, terutama ketika ia telah menikah, sebab kemontokannya menjadi lambang kemakmuran hidupnya.
Tahun 1950-an, kecantikan perempuan dirujuk pada gitar spanyol: payudara padat berisi, pinggang sekecil mungkin dan membesar lagi di bagian pinggul. Era 60-an muncul kualitas cantik ala Twiggy yang super ramping dari atas ke bawah. Siapa Twiggy? Dialah model Inggris yang kurus kerempeng yang sanggup menghentak dunia dengan tubuhnya yang tipis dan ringkih. Ia lalu digandrungi hampir seluruh perempuan seantero jagat dan menjadi ikon bagi representasi perempuan modern saat itu (tahun 1965). Menurut feminis Naomi Wolf, apa yang dilakukan dunia mode lewat Twiggy saat itu merupakan upaya dekonstruksi citra montok dan sintal sebelumnya. Twiggy yang kerempeng adalah representasi gerakan pembebasan perempuan dari mitos kecantikan yang sebelumnya dikaitkan dengan fungsi reproduktif.
Celakanya lagi, definisi cantik terus berubah sesuai jamannya. Bila tahun 60-an cantik itu diwakili Twiggy dengan kurus kerempengnya. Ternyata tahun 80-an bukan tubuh setipis papan yang dijadikan simbol kecantikan melainkan tubuh layaknya model Cindy Crawford. Bergeser ke tahun 90-an cantik diidentikkan dengan tubuh yang cukup berisi dan agak berotot seperti yang dimiliki Jennifer Lopez alias J Lo.
Bagaimana dengan wanita Asia-khususnya lagi Indonesia? Gambaran Siti Nurhaliza dan Dian Sastro cukup mewakili. Perempuan cantik dalam masyarakat Indonesia saat ini diidentikkan dengan kulit putih, rambut lurus hitam legam, hidung mancung, dan berbadan langsing. Itu sebabnya, jika ada perempuan Indonesia yang kulitnya gelap suka dapetin pelecehan. Lihat saja di salah satu iklan pemutih kulit digambarkan sangat berbeda antara kulit Santi dan Sinta. Label jelek adalah kulit yang gelap. Akibatnya, pemirsa cewek yang kebawa isu dan mitos ini mati-matian memutihkan kulitnya (asal jangan pake pemutih pakaian aja ya! Bisa iritasi!). padahal, dalam waktu yang bersamaan, saudaranya di Papua atau di Afrika nyantai aja meski kulitnya gelap. Tul nggak? Apa pernah ada program khusus yang disponsori produsen kosmetika untuk memutihkan seluruh kulit penduduk Afrika?
Selain kulit putih, wanita cantik itu digambarkan memiliki rambut lurus yang hitam dan legam. Kalo keriting, selain diledekin hobi dangdut karena bagian dari ABRI alias Anak Buah Rhoma Irama (Maklum, Bang Rhoma dan penyanyi dangdut rata-rata keriting rambutnya!), juga dianggap tidak cantik. Untuk menyuntikkan penilaian bahwa wanita cantik itu adalah yang punya rambut lurus yang hitam dan legam, iklan-iklan di media massa, baik cetak maupun elektronik pasti menampilkan bentuk idealnya. Nah, bagi yang keriting rambutnya, karena takut dianggap jelek dan itu artinya nggak cantik, akhirnya ia bela-belain nge-rebonding rambut keritingnya biar lurus sesuai kriteria masyarakat saat ini.
Ketika dikampanyekan bahwa hidung mancung itu cantik, maka gelagapanlah para cewek yang kebetulan ditakdirkan oleh Allah Swt. punya hidung berjenis ”balukang nangkub” alias mirip pelepah pohon kelapa yang ditaro terbalik (baca: pesek abis!). Kalo nggak rela disebut jelek dengan penampilannya itu, terus punya dana, bukan mustahil kalo akhirnya menjalani operasi bedah plastik biar hidungnya jadi mancung kayak hidung Madhuri Dixit. Tujuannya apa? Biar cantik. Syukur-syukur kalo sampe nandingin kecantikan artis-artis Bollywood dan Hollywod.
Sobat muda muslim, tubuh langsing juga jadi idaman kaum wanita dan imipian kaum pria. Dan itu artinya cantik dan menarik menurut ukuran masyarakat saat ini. Maka, upaya menurunkan berat badan bagi mereka yang bertubuh subur jadi pilihan. Niar nggak disebut mesin giling atau kulkas delapan pintu, si pemilik tubuh subur rela diet, minum ramuan tertentu (awas jangan ketuker ama ramuan yang membuat Obelix jadi bertubuh gendut! Hihihi...), dan juga olahraga. Pokoknya, harus langsing kalo nggak ingin disebut jelek. Lihat deh para model, pasti tubuhnya bukan saja langsing tapi juga ceking. Karena tubuh gembrot sangat tidak elok dipandang di mata para desainer dan juga masyarakat pada umumnya. Emangnya pernah ada peragaan busana dengan modelnya yang gendut? Kalo pun ada biasanya juga cuma sebatas hiburan dan parodi, gitu. Kasihan sekali.
Ya, inilah kejamnya masyarakat kapitalis. Urusan penampilan fisik semata yang dijadikan indikator yang bagus-bagus itu. Buat kita-kita yang kebetulan jelek menurut definisi masyarakat kapitalis, seperti disuruh minggir dari arena kehidupan karena out of rule yang berlaku. Sampe-sampe Kathy Saelan, seorang jurnalis yang kebetulan memiliki penampilan kurang fotogenik menulis, ”Nggak ada perempuan yang mau mendapat predikat ’jelek’, atau ’kurang manis’, atau ’biasa-biasa saja’. Predikat ’jelek’ bisa membuat seorang perempuan merasa rendah diri, tidak berharga, malu akan dirinya sendiri, dan amit-amit, bahkan bisa membuat seorang perempuan bunuh diri saking sedihnya.”
Hmm.. betapa sangat berbeda-bedanya kriteria dan definisi cantik itu ya? Di sinilah, perlunya kita berhati-hati dan tentunya bijak agar tak termakan mitos murah dan murahan ini. Jangan sampe terpengaruh mitos alias cerita yang dibuat-buat. Lha, kalo mitos kan tergantung siapa yang mengarang cerita itu kan? Suka-suka namanya. Kalo yang menciptakan nitos kecantikan itu adalah produsen kosmetika dengan memanfaatkan media massa untuk mengkampanyekannya, maka perlu diwaspadai. Kamu jangan mudah tergoda, Non.
Menurut psikolog Jacinta F Rini, menuliskan bahwa masyarakat dan media berperan dalam mendorong seseorang untuk begitu peduli pada penampilan dan image tubuhnya. Media telah melumatkan kepribadian dan jati-diri kaum perempuan maupun laki-laki. Tidak ada lain seolah harus menelan mentah-mentah definisi jati-diri ala media massa. Jika tidak silakan minder!
Benar sobat, kalo ngelihat faktanya emang begitu rupa kok. Perempuan yang cantik adalah mereka yang bisa memamerkan rambutnya yang hitam, lurus, dan berkilau seperti di iklan-iklan shampo. Meski Mbak Ineke Koesherawati tampil dalam sebuah iklan shampo untuk rambut berkerudung, ternyata popularitasnya belum mampu menghapus mitos sebelumnya. Karena apa? Karena rambut yang bagus dan indah itu harus diperlihatkan di depan umum. Bukan untuk ditutupi pake kain kerudung. Jadi deh, iklan itu cuma tayang paling sering di bulan Ramadhan. Benar-benar menyedihkan.

0 komentar:

Followers

Mbh