Senin, 02 November 2009

Penyesalan yang hanya berbuah penyesalan.

Suatu ketika ada seorang teman yang bertanya mengapa dia harus menerima semua ujian dan cobaan yang menurutnya sudah terlalu berat. Dia mengeluhkan keadaan karena dia menjadi korban atas semua kejadian yang menimpanya. Selalu saja dia bertanya mengapa hal itu bisa terjadi dan mengapa Allah kejam kepadanya. Dan puncaknya, dia merasa menyesal sudah mengenal orang-orang yang membawanya kedalam sebuah permasalahan.

Kejadian seperti ini sering kita dapati dalam lingkungan sekitar, baik itu dalam lingkungan harokah ataupun dalam lingkungan social rumah tangga. Penyelasan yang selalu datang belakangan menjadi alasan untuk bisa memaki keadaan diri. Atau, penyesalan juga yang akan menjadi alasan untuk bisa membenarkan sebuah kefuturan. Pernahkah kita melihat lebih lanjut mengapa kita tidak pernah lepas dari sebuah penyesalan. Dan seringnya kita mengutuk nasib dan keadaan membuat kita menjadi pribadi yang protektif yang tidak jelas. Entah harus berapa kali kita menghakimi diri sendiri atas apa yang telah terjadi. Seringnya kita mengeluh dan selalu mempertanyakan keadaan membuat kita lupa bahwa kita hadir dimuka bumi bukan hanya untuk bertanya dan mengeluh melainkan untuk mengurusi keadaan diri dan mempersiapkan diri untuk mati. Ada sebuah pepatah mengatakan bahwa kita hidup untuk mati. Jika memang adanya demikian mungkin sudah sepantasnyalah kita berpikir lebih jauh dan mengoreksi mind set kita.

Jika kita bisa sedikit saja menilik kebelakang, maka kita akan menjumpai pelajaran yang sangat berharga dimana pada masa Rasulullah, hampir semua sahabatnya yang mempunyai masa lalu yang kelam tidak menyesali keadaan tersebut. Sebut saja umar bin khatab, dan bilal bin rabbah. Kedua sahabat ini tidak pernah menyesali keadaannya dahulu sebelum menjadi seorang muslim. Umar bin khatab mengelola kesalahannya menjadi sebuah pelecut amal makrufnya yang pada akhirnya Allah mengangkat derajatnya sebagai salah satu penghuni syurga. Bilal bin rabbah pun demikian, ia yang bertubuh hitam legam dan mendapat predikat sebagai seorang budak tidak pernah menyesali mengapa ia harus terlahir sebagai budak yang hina. Justru ia malah mensyukurinya tatkala dirinya menjadi salah satu dari sahabat yang dicintai oleh rasulullah. Timbul pertanyaan dalam benak kita, mengapa mereka bisa?

Hal yang mungkin terlintas dan paling mudah untuk ditemukan jawabannya adalah karena mereka ridha dengan apapun keadaan yang telah ditetapkan oleh Allah. Ada sebuah scenario Allah yang terkadang manusia tidak patut bertanya tentangnya. Kita hanya dituntut untuk ikhlas, membuat perencanaan lalu bertawakal kepada Allah. Dalam ilmu management financial juga diajarkan bila kita ingin mendapatkan return yang tinggi maka kita tidak akan bisa membuang jauh-jauh risk yang tinggi pula. Untuk itu, kita dituntut untuk siap dan ridha akan apapun yang menjadi sebuah keputusan.

Saat kita tenggelam dalam penyesalan dan pengutukan diri, biasanya kita akan menjadi pribadi yang bodoh dan lupa diri. Lupa akan siapa sebenarnya yang berkuasa, kita ataukah Allah. Lupa bahwa sebenarnya siapa yang menggariskan kehidupan, kita ataukah Allah. Lupa bahwa kita sendirilah yang menerjunkan diri kedalam masalah yang sebenarnya bisa kita hindari. Bukankah dalam pepatah bahasa arab dikatakan bila kita tidak mau salah maka janganlah melakukan apa-apa, duduk dan diam saja. Saat kita terlena kedalam penyesalan, secara tidak langsung kita sudah mengajak orang lain kedalam kesusahan kita.

Percaya atau tidak tapi itulah sebuah realita yang harus kita hadapi. Hidup seseorang manusia didalam dunia ini ibarat sebuah system jaringan listrik pararel atau dalam ilmu Management information system digambarkan seperti jaringan internet dalam dunia maya. Satu jaringan berhubungan dengan jaringan yang lain baik itu secara langsung ataupun tidak. Mudahnya, bila ada seorang kakak/ adik lalu anda membiarkan diri anda tenggelam dalam penyesalan yang tiada akhir sampai akhirnya seperti orang tidak waras. Siapa yang akan disibukkan oleh anda? Hampir satu keluarga anda akan disibukkan oleh anda bukan? Atau bilanglah anda bukan orang baik-baik lalu mengambil sebuah keputusan untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Apa anda bisa mengubur diri anda sendiri. Atau anda menjawabnya bahwa anda akan menceburkan diri ketengah samudra. Memang siapa yang bisa menguraikan tubuh busuk dan bau anda jika buka bakteri dan hewan-hewan kecil? Bukankah itu anda hanya menyusahkan makhluk yang lain? Baik itu manusia ataupun binatang. Pantas jika Rasulullah bersabda bahwa sebaik-baiknya kita adalah yang berguna bagi umat.

Ada juga hal lain yang menyebabkan kita selalu terlena dengan penyesalan yaitu tidak adanya sebuah persiapan untuk menerima akan sebuah konsekuensi. Padahal, Islam itu adalah sebuah konsekunsi, hidup itu adalah sebuah konsekuensi. Pun jatuh cinta adalah sebuah konsekuensi. Saat kita jatuh cinta kepada makhluk maka siap-siaplah untuk patah hati. Saat anda mengatakan bahwa anda mencintai Allah diatas segala-galanya bukan berarti Allah akan membiarkan anda begitu saja. Anda akan diuji lebih hebat lagi untuk membuktikan cinta anda kepadaNYA. Jika anda menyerah dan menyesal maka bisa dikatakan anda hanyalah orang yang bermulut besar. Pengecut dan bukan bermental pejuang. Dalam Islam pun demikian, Allah sudah mengatakan bahwa semua orang yang mengatakan dirinya sudah beriman akan diuji seperti kaum terdahulu sehingga terlihat mana yang imannya benar mana yang hanya sekedar dimulut saja. Dan saat anda membandingkan bahwa mereka yang diluar Islam jauh lebih senang, mengapa anda tidak mengikuti langkah mereka sedepa demi sedepa sampai mereka masuk ke lubang biawakpun anda akan mengikutinya.

Seharusnya, jika kita sering membaca al quran kita malu setelah Allah menegur kita dengan sifat jelek kita. Dan hal ini terdapat dalam surah ke 70 ayat 19 sampai ayat 21. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,” akan tetapi Allah memberikan sebuah jalan keluarnya biar kita tidak tenggelam dalam penyesalan dan keluh kesah yang berkepanjangan dalam ayat selanjutnya. “kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya, Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela…” ayat 22 sampai dengan selesai. Ah malu rasanya jika terus menerus ayat Allah akan tetapi tidak pernah kita maknai dan kita jalankan. Mungkin ini, karena kita selalu saja mengeluh dan tenggelam dalam penyesalan yang tiada arti. Ampuni kami ya Allah, begitu bodoh kami yang lupa dan jauh dari PetunjukMU.


SALAM CINTA

0 komentar:

Followers

Mbh