Senin, 02 November 2009

♪♥”CeMbuRu”♪♥

●Cemburu adalah gejala-fitrah, wajar & alamiah dari seseorang sebagai ungkapan cinta, sayang & saling-memiliki, melindungi (proteksi) serta peduli. Namun pd kenyataan di keseharian, rasa cemburu mndapatkan konotasi yg slalu negatif sbagai bentuk ekspresi & refleksi yang tdk pd tmpatnya, egois, curiga,dsb. Memang; akan terasa menyesakkan dan penuh penderitaan bila seorang sllu dibayangi cemburu.

●Kondisi pikiran & kejiwaan yg demikian timbul oleh berbagai faktor; internal maupun eksternal. Secara internal mungkin karena ia tidak mampu mengendalikan kecemburuan dan potensi kewaspadaannya dengan bijaksana sehingga kehilangan kepercayaan pada suaminya dengan merugikan dirinya sendiri, hanyaberdasarkan pada suatu indikasi samar yang belum jelas permasalahnya.
Adapun secara eksternal memang tidak menutup kemungkinan ada banyak indikasi yang mengarah kepada kelayakan suami/istri untuk dicemburui, dicurigai ataupun diwaspadai seperti penampilan genit, maupun istilah mata-keranjang, dll.

●Rasa cemburu sering mengganggu keleluasaan ruang gerak pasangannya, cemburu melihat kemajuan yang positif ataupun terhadap perangai yang selalu mencurigakan. Idealnya_ditepis dengan mencegah rasa cemburu agar tidak berubah menjadi duri dalam daging; dpt dengan cara klarifikasi (tabayyun), koreksi (tanashuh), maupun introspeksi (muhasabah) secara lapang dada, kepala dingin dan pikiran jernih sebelum segalanya terjadi. jg prlu di tanamkan kejiwaan yang bersih dari perasaan cemburu yang tidak pada tempatnya, sikap-kepribadian yang menyakiti hati suami/istri, dan menjauhkan dari benak untuk memikirkan org lain selain suami/istri sndri.

●Namun, tidak semua cemburu membawa kesengsaraan atau tidak terpuji. Sebab rasa cemburu merupakan suatu potensi-kejiwaan yang bila dipakai dan dikelola sesuai pada tempatnya secara wajar justru dapat menjadi kontrol positif dan bukan menjadi sikap negatif yang kontra produktif. Imam Al Munawi dalam kitab Al-Faidh_menyatakan bahwa wanita yang paling mulia dan yang paling luhur cita-citanya adalah mereka yang paling pencemburu pada tempatnya. Maka sifat seorang beriman yang cemburu (ghoyyur) pada tempatnya adalah sesuai dengan sifat yang dimiliki oleh Rabbnya. Siapa yang mempunyai sifat menyerupai sifat-sifat Allah, maka sifat tersebut berada dalam perlindungan-Nya dan mendekatkan diri seorang hamba kepada rahmat-Nya. Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu memiliki sifat cemburu dan orang-orang beriman juga memilikinya. Adapun rasa cemburu Allah ialah ketika melihat seorang hamba yang mengaku dirinya beriman kepada-Nya namun melakukan sesuatu yang diharamkan-Nya.”
(HR. Bukhari dan Nasa’i).

●Kehilangan rasa cemburu dan tumbuhnya sikap ketidak-pedulian pada pasangan hidup dan keluarga baik para istri maupun suami dengan membiarkan penampilan, perilaku dan aktivitas keluarga mereka tanpa kontrol (muraqabah) dengan dalih saling percaya meskipun realitas di depan mata mengundang fitnah dan membawa indikasi negatif yang akan membuka peluang bagi penodaan kehormatan dan citra keluarga, hal ini sangat dibenci dalam Islam yang manaRasulullah melaknat perangai dayyuts yakni kehilangan rasa cemburu pada keluarga agar tidak jatuh kepada kemaksiatan. Beliau juga bersabda:

“Orang-orang mukmin itu pencemburu dan Allah lebih pencemburu.”
(HR. Muslim).

●Cemburu dalam arti yang positif di sini harus didasari cinta (mahabbah) karena Allah, bukan karena emosi hawa nafsu dan egoisme_dgn maksud agar keluarga terselamatkan dari api neraka. Saad bin ‘Ubadah berkata:
“Dengan cinta itu pula sebuah kebahagiaan hidup seseorang akan terasa semakin sempurna (abadi).”

●Abu Faraj menjelaskan dalam An-Nira bahwa menurut Mu’awiyah terdapat tiga macam kemuliaan, yaitu sifat Pemaaf, mampu menahan lapar dan tidak berlebihan dalam memiliki rasa cemburu (yang tidak pada tempatnya). karena berlebihan itu merupakan hal melampaui batas dan merupakan suatu kezhaliman terhadap pasangannya.

●Cemburu demi kebenaran dan ketaatan merupakan dasar perjuangan amar ma’ruf nahi munkar. Untuk itu, apabila tidak terdapat kecemburuan dalam hati seorang yang beriman, maka sudah dapat dipastikan tidak ada dorongan untuk berjuang dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar padanya yang dimulai dari diri dan keluarganya. (QS.AT-Tahrim:6)

●Kecemburuan yang pada tempatnya akan bernilai ibadah dan dicintai Allah yakni cemburu terhadap sesuatu pelanggaran nilai syariah secara pasti dan jelas. Namun kebalikannya, kecemburuan akan bernilai maksiat dan dibenci Allah yang justru akan merenggangkan tali cinta kasih suami-istri, mengganggu ketenteraman keluarga dan menyengsarakan hidup bersama jika hal itu sekedar mengada-ada, su’udzon (negative thinking), syak wasangka, curiga terhadap sesuatu yang belum jelas dan pasti, serta cemburu-buta secara bodoh_karena rasa was-was yang tidak pada tempatnya itu berasal dari setan (QS. An-Naas:3-6). Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya kecemburuan itu ada yang disukai oleh Allah dan ada yang dibenci oleh-Nya. Adapun kecemburuan yang disukai adalah kecemburuan pada hal-hal yang pasti, sedangkan yang dibenci oleh-Nya adalah kecemburuan pada hal-hal yang tidak pasti.”
(HR. Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Hibban).

●Rasa cemburu_ada dua macam;
Pertama;
adalah cemburu yang merupakan fitrah manusia, yaitu cemburu netral yang dapat menjaga dan melindungi harga diri dan keluarga dari tindakan pencemaran citra dan atau sikap melampaui batas. Cemburu seperti itu dianggap akhlaq mulia yang patut dimiliki oleh setiap orang beriman.
Kedua;
adalah cemburu yang merugikan, dibenci dan terlarang, yaitu rasa cemburu tanpa alasan yang selalu menyiksa jiwa. Ketika pikiran sedang dikuasai prasangka buruk, dapat saja kita menuduh orang yang mungkin tidak bersalah. Di atas itu semua, rasa cemburu yang tidak beralasan dapat merusak dinamika dan ketenteraman kehidupan rumah tangga. Rasulullah bersabda:

●Cemburu-buta yang tidak pada tempatnya dapat menghanguskan kebenaran dan melahirkan tindakan gegabah, ketidak-adilan ataupun aniaya. Kondisi demikiankah yang menjadi ‘asbabun nuzul’(sebab turunnya) surat At-Tahrim di atas yang memberikan pelajaran tentang arti cinta dan cemburu sehingga cinta kepada Allah harus diposisikan yang paling tinggi sehingga cemburu tidak akan keluar dari rel kesucian cinta kepada Allah, meskipun semula semua berangkat dari fitrah alamiah dari rasa cemburu. Rasulullah pernah bertanya pada istrinya, Aisyah Ummul Mukminin RA.:

“Apakah engkau pernah merasa cemburu?” Aisyah menjawab, “Bagaimana mungkin orang seperti diriku ini tidak merasa cemburu jika memiliki seorang suami seperti dirimu.”
(HR. Ahmad).

●Kecemburuan fitrah yang demikian juga dimiliki oleh kalangan sahabat Nabi yang laki-laki. Sebagian sahabat Rasulullah pernah mempunyai rasa cemburu yang agak berlebihan, seperti Umar bin Khatab dan Zubair bin Awwam. Mengenai kecemburuan Umar, dikisahkan sebuah hadits dimana Rasulullah menceritakan:

“Ketika aku tidur, aku bermimpi bahwa diriku ada di surga. Tiba-tiba ada seorang wanita sedang berwudhu di dekat sebuah istana surga. Aku bertanya, ‘milik siapa istana itu?’ mereka mengatakan, ‘milik Umar’, lalu aku teringat pada kecemburuan Umar, segera saja aku pergi berlalu. Umar lantas menangis mendengar cerita beliau seraya berkata, ‘Apakah kepadamu aku akan cemburu wahai Rasulullah?’”
(HR. Bukhari dan Muslim).

●Bahkan Sa’ad bin Ubadah pernah berkata:
“Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama isteriku, niscaya aku pukul ia dengan pedang pada bagian yang tajam (untuk membunuhnya).” Maka Rasulullah berkata, ‘apakah kalian heran akan kecemburuan Sa’ad, sungguh aku lebih cemburu daripadanya dan Allah lebih cemburu daripadaku.’”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Qais bin Zuhair juga pernah berkata:
“Aku ini adalah tipe orang yang memiliki sifat pencemburu, orang yang cepat merasa bangga dan memiliki perangai yang kasar. Akan tetapi, aku tidak akan merasa cemburu, sampai aku melihat sendiri dengan mata kepalaku. Aku juga tidak merasa bangga sampai aku berbuat sesuatu yang patut untuk dibanggakan. Aku juga tidak akan berlaku bengis sampai diriku benar-benar dizhalimi.”

Rahmat Allah, shingga aturan syariat menentramkkan dan mengendalikan kecemburuan para sahabat trsbt.

●Keadaan yang beragam dalam menyikapi kecemburuan memang sangat dipengaruhi oleh pemahaman terhadap makna kecemburuan di samping juga oleh pembawaan pribadi, karakter atau temperamen individu. Namun, terdapat titik temu yang menjadi pegangan dalam hal kecemburuan yakni dalam rangka amar ma’ruf dan nahi mungkar, melindungi harga diri dan keluarga serta mencegah kemungkinan terjadinya ‘fitnah’ yang mencemarkan dan menodai kesucian keluarga berdasarkan indikasi kuat, bukti yang nyata serta gejala yang pasti dalam bingkai berbaik-sangka ((husnuudzdzan / positive thinking)) yang lebih mengedepankan syariat-Nya demi keutuhan keluarga shalihah agar senantiasa dalam Ridha ALLAH.,

●Wallahu a’lam,.

●Sumber :
*disunting dari “Manajemen Cemburu”
(Dr.Setiawan Budi Utomo)
*dakwatuna.com

Tidak ada komentar:

Followers