Senin, 09 November 2009

Madu tak semanis Syurga

Malaikat berkata; “Menegakan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik; menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu; dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari pada meniti sehelai rambut’
Hidup adalah perjuangan… dimanapun, kapanpun, dan siapapun pasti akan mengalami masa tersulit dalam kehidupannya. Terkadang kita menjadi sangat rapuh, serapuh keroposnya kayu yang lapuk dimakan usia. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana lemahnya hati ini ketika Tuhan melimpahkan musibah pada saudara-saudara kita si Sumatra Barat. Apakah itu kita? Selemah itukah kita? Musibah adalah sarana dari sekian banyak sarana yang Tuhan berikan pada hambanya. Sebuah belaian kasih dan sayang Tuhan dalam rangka mencapai tingkatan hamba yang lebih mulia. Manusia yang baik adalah manusia yang bisa mengambil sari pati hikmah dalam setiap kejadian yang dialaminya. Hakekat hidup sebenarnya seperti kita berada dalam perahu kecil di tengah-tengah samudera luas yang setiap saat dapat terombang-ambing oleh ombak, tersapu badai yang besar, dan beradu dengan paus-paus yang lapar. Siapa yang mampu melawan dan berpegang teguh pada kedua sisi perahu maka dia adalah pemenang kehidupan ini. Eeit..belum tentu sahabatku…
Ternyata yang terpenting dalam kehidupan ini adalah kita menemukan jati diri kita searah dengan tuntunan agama. Agar hati ini senantiasa tenang dan tidak tertipu oleh keindahan fatamorgana dunia. Karena fitrah jiwa kita merindukan syurga yang menawarkan keindahan. Bahkan tidak ada kata-katapun di dunia ini yang bisa menggambarkan kenikmatan syurga. Sehingga pantaslah seorang Mas Udik Abdullah dalam bukunya Madrasah Jiwa Perindu syurga menuliskan;
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas dan lagi di ridhoiNya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaKu dan masuklah kedalam syurgaKu”
Setidaknya ada 3 urusan yang bisa mengantarkan kita ke syurgaNya. Pertama, menyerahkan diri dan jiwa di jalanNya. Kedua, menafkahkan harta kita untuk mencari ridhoNya. Dan ketiga, menghabiskan waktu kita di dunia untuk kebermanfaatan sesama. Memaknai hidup memang sulit dan sempit. Ketika akal kita yang bodoh ini menyempitkan pikiran kita maka sebenarnya kita tengah berada dalam kerugian. Dan saat akal yang bodoh ini berpikir luas maka tunggulah waktunya dimana Tuhan akan menambah nikmat kepada hambanya yang berakal dan mensyukuri nikmat ini. Kenikmatan di dunia ini sungguh sangat indah, bagaimana jika kita juga mendapatkan syurga di akherat nanti. Renungkan!

Tidak ada komentar:

Followers