Selasa, 10 November 2009

SEBUAH KARYA SUNAN KALIJAGA

Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa.
Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi.
Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban
(keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe). Masa itu, Arya
Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam.
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said.
Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan
seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden
Abdurrahman.


Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat
dekatnya, Sunan Bonang.
Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis
salaf” (bukan sufi panteistik (pemujaan semata).
Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal.
Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi.

Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai
sarana dakwah.
Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja.

Metode dakwah tersebut sangat efektif.
Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga.

Salah satu karya yang akan saya kupas adalah tembang ilir, ilir...
Tentunya tenbang ini tidak asing bagi kita semua terutama yang hidup di tanah jawa. Berikut adalah pengulasannya..

Lir-ilir, Lir-ilir,
Tandure wus sumilir,
Tak ijo royo-royo,
Tak sengguh penganten anyar

Cah angon - cah angon,
Peneken blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu yo penek'en,
Kanggo mbasuh dodotira

Dodotira - dodotira
Kumitir bedahing pinggir,
Dondomono, Jlumatono
Kanggo seba mengko sore

Mumpung jembar kalangane,
Mumpung padhang rembulane
Yo surak'o surak hore....
____

Walaupun hanya bersifat tembang 'dolanan', Tembang "Lir - ilir" secara global tiap bait menurut pandangan Islam dapat di jabarkan sebagai:


* • Bait Pertama, mulai bangkitnya umat Islam

* • Bait Kedua, Merupakan perintah untuk melaksanakan Rukun Islam

* • Bait Ketiga, Bertobat - memperbaiki kesalahan - kesalahan yang pernah dilakukan. Sebagai bekal kelak saat menghadapi kematian

* • Bait Keempat, mempunyai arti "mumpung" masih ada kesempatan


A. ILIR - ILIR TANDURE WIS SUMILIR
Berasal dari kata "nglilir" yang berarti terjaga dari tidur (belum tersadar).
Bisa di definisikan adalah orang yang belum beriman (Islam).
Pada tembang tersebut kata Ilir - ilir terjadi pengulangan dua kali,
maksudnya adalah seruan "Bangun - Bangun" menuju arah pemikiran baru...

"Tandure wus sumilir" artinya benih yang ditanam telah tumbuh.
maksudnya adalah benih iman.
Manusia terlahir dimuka bumi ini sadar ataupun tidak,
telah di beri karunia berupa Iman dari yang maha kuasa.

Bila tersadarkan oleh hal tersebut dan mau merawatnya,
maka niscaya akan tumbuh subur dalam kehidupan ini
dan akan menghasilkan 'buah' kehidupan yang baik pula.
Jadi hendaknya pupuk yang dipakai adalah pupuk 'Ikhlas'

B. TAK IJO ROYO - ROYO, TAK SENGGUH PENGANTEN ANYAR
Mengandung makna dibuat tumbuh subur, daunnya hijau segar.

Menekankan penampilan tentang pribadi manusia yang sehat jasmani dan rohani,
karena benih iman (Islam) tadi selalu dirawat dengan baik
maka akan tumbuh "Ijo royo-royo",
akan berbahagia karena akan menjadi umat yang baik,
karena kelak akan tersedia surga baginya.

"Tak sengguh penganten anyar",
Pengantin baru adalah orang yang sangat berbahagia hidupnya.
Demikian juga dengan orang yang telah bersanding dengan keyakinan Iman.
Iman yang baik seperti tergambar sebagai "tak ijo royo-royo"
tadi harus selalu di jaga dan dirawat , laksana tumbuhan yang hijau dan subur.
kebal terhadap hama-hama yang mengganggunya.

Guna menjaga iman agar selalu baik dan tumbuh subur
maka manusia wajib menghalau tindak Kemunkaran.
Berjudi, mabuk itu semua adalah contoh hama iman yang ada pada diri manusia.

Wajiblah hukumnya untuk bersegera memberantasnya agar Iman kita tetap
"tak Ijo royo-royo" sehingga kita mampu menjadi seorang manusia yang berbahagia
"Tak sengguh pengantin anyar"

C. CAH ANGON - CAH ANGON PENEKEN BLIMBING KUWI
Cah angon mempunyai arti "anak gembala"
Disana kata "Cah angon" disebut berulang dua kali.
Berarti mengandung arti kata perintah yang sangat penting.

Ya, Perintah "Penek'en blimbing kuwi" dan yang di perintah adalah 'cah angon' (gembala).
Karena sifatnya perintah maka yang biasa diperintah adalah bawahan,
atau setidaknya kedudukannya lebih rendah dibanding yang memerintah.
"Penek'en blimbing kuwi", Panjatlah belimbing itu.

Di sebut gembala berarti ada yang di gembalakannya
Tak lain yang digembalakannya adalah Nafsu-nafsunya.
Karena bila nafsu tak digembalakan maka akan dapat merusak aturan,
sekehendak hatinya sendiri.
Sebebas- bebasnya bertindak, karena tak ada yang "angon" tak ada yang menggembala. Jadi pribadi manusia sendiri harus mampu menjadi gembala yang baik.
Agar nantinya nafsu-nafsu itu dapat diarahkan sesuai perintah ajaran agama.

"Penek'en blimbing kuwi"
Yang diperintah adalah agar memanjat pohon belimbing.
Dengan alasan bahwa buah belimbing mempunyai lima sisi.
Dapat di definisikan dengan bermacam hal.

Sebagi umat Islam cocok dengan ajaran Rukun Islam Yang jumlahnya ada lima,
Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa, Haji.

Bisa juga di definisikan sebagai mencegah yang lima hal juga,
yaitu 'MoLiMo", Madat, Mabok, Main, Maling, lan Madon.

Bahkan bisa juga untuk jaman Indonesia sekarang ini
sebagai pencerminan Pancasila yan lima sila itu.

D. DODOTTIRO - DODOTIRO KUMITIR BEDAH ING PINGGIR,
DONDOMANA JLUMATANA, KANGGO SEBA MENGKO SORE
Dodot adalah "ageman" (pakaian).
Menggambarkan agama atau kepercayaan yang dianut.
Sedang "kumitir bedahing pingir" artinya adanya
banyak robekan - robekan dibagian tepi menjadikan ageman itu tadi cacat atau rusak,
sehingga tak layak lagi tuk di pakai dan hendaknya sesegera mungkin dapat di perbaiki.

Dari hal tersebut selanjutnya ada perintah "Dondomana, Jlumatana",
jahitlah dan perbaikilah bagian yang robek tadi agar pantes untuk dipakai kembali.

Sama halnya dengan kepercayaan kita yang telah rusak oleh dosa-dosa,
hendaklah sesegera mungkin bertobat dan kembali melakukan ajaran agama dan kepercayaannya dan berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan dosa itu.
Harus setiap hari mengingatNYA.

"Kanggo Seba Mengko Sore" maksudnya adalah
Buat bekal menghadap Yang Maha Kuasa,
"Sore" adalah waktu senja kita didunia ini.

Dan juga sebagai bukti pertanggungjawaban kita sewaktu
ditanyakan mengenai amal ibadah pada pertanyaan Malaikat di alam Kubur nanti.


E. MUMPUNG PADHANG REMBULANE, MUMPUNG JEMBAR KALANGANE

Artinya mumpung terang bulan, jelas pada waktu malam hari.
Malam tanpa sinar bulan adalah gelap gulita,
dimana orang tak dapat melihat apa-apa.

Ini dimaksudkan disaat gelap orang sukar
untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Mana yang Halal dan mana yang haram, semua masih terasa semu.
Untuk itu dengan adanya sinar Iman hendaknya
dapat menghasilkan Cahaya layaknya cahaya "padang rembulan",
sehingga manusia mampu membedakan
mana yang baik dan mana yang kurang baik.

"Mumpung Jembar Kalangane" adalah luasnya area sinar bulan
tadi menerangi kita umat manusia ini.
Jadi arti keseluruhannya adalah Mumpung masih
ada kesempatan bertobat untuk "menek blimbing" itu.

E. YO SURAK'O SURAK HORE
Mari bersorak, adalah ajakan untuk melampiaskan kepuasan.
Mengapa harus bersenang-senang, Berbahagia..?
Ya, tak lain adalah karena telah berhasil melaksanakan
perintah memanjat belimbing tadi.
Kita umat manusia diibaratkan hanya sebagai
"Cah Angon" yang pasti mempunyai juragan
ataupun Bos dari angonan (peliharaan) kita tersebut,
Yang tak lain Bos itu adalah Yang Maha Mempunyai.

Jadi bukan untuk mempengaruhi anda yang telah beragama dan berkeyakinan,
terlepas dari ajaran agama dan keyakinan apapun itu,
marilah kita semua saling menyadari sebagai umatNYA
yang hanya sesosok Gembala ini untuk saling menjaga
'Nafsu' yang kita gembalakan ini.


Dari Sebuah Catatan Mochammad Helmi Widayanto
CERITA DI DUKUNG DARI BERBAGAI SUMBER

0 komentar:

Followers

Mbh