Selasa, 10 November 2009

KONSEP MABRUR DI DALAM AL-QURAN

Lafaz do'a yang kerap kita dengar pada musim haji adalah, Ya Allah, Jadikanlah Haji mereka menjadi Haji yang mabrur. Ungkapan yang sama juga terdengar ketika kita memberi ucapan selamat kepada calon haji. "Selamat menunaikan ibadah haji, semoga menjadi haji yang mabrur." Do'a ini sangat tepat dan cukup beralasan karena di dalam sebuah hadis yang masyhur disebutkan, Haji mabrur tidak ada balasannya selain surga. Agaknya yang menjadi pertanyaan kita adalah, apa makna mabrur pada ungkapan haji mabrur itu?

Kata mabrur terambil dari kata al-birr. Kata ini berasal dari kata barrayabarrubarran wa birran. Menurut Ibn Faris di dalam Mu'jam Maqayisnya, kata al-birr yang terdiri dari dua huruf, "bab" dan "ra" ini setidaknya memiliki empat arti. Pertama, ash-shiddiq yang berarti benar dan jujur. Kedua, hikayat shautin yaitu ihwal suara dan pembicaraan. Ketiga, khilafu bahri yang berarti lawan dari laut (al-bahr). Keempat, nabtun atau tumbuh-tumbuhan. Di dalam bahasa Arab terdapat kata al-burru yang berarti biji gandum. Jika ditulis tanpa baris, sama bentuknya dengan al-birr. (Ensiklopedi Al-Qur'an: 145).

Adapun komitmen kepada kebenaran sebagai cirri haji mabrur dapat kita temukan pada surah Al-Mujadalah ayat 9 yang isinya berkaitan dengan seruan kepada orang-orang yang beriman untuk tidak saling berpesan di dalam hal dosa dan permusuhan. Sebaliknya mereka diperintahkan untuk saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan. Mengapa hal ini penting? Jawaban Al-Qur'an sendiri cukup meyakinkan kita bahwa semua kita akan kembali kepada Allah. tidak ada yang layak kita persembahkan kepada Allah, kecuali, al-birra (kebaikan) dan ketakwaan itu sendiri.

Merujuk Al-Qur'an, kita dapat berkata, haji mabrur adalah haji yang paripurna. Alasannya, seluruh kebaikan; formal dan susbtantif berkumpul pada diri sang haji. Wajarlah jika balasan orang yang memperoleh haji mabrur hanya surga.

Hadanallâh wa iyyâkum ajma‘în.

Tidak ada komentar:

Followers