Kamis, 12 November 2009

Kiamat 2012; merenung ulang akan keimanan kita

Suatu hari datang pada Nabi S.a.w seseorang yang tiba-tiba bertanya pada beliau, "Wahai Rosul,kapan hari kiamat terjadi?"
"Apa yang kamu siapkan untuk menyongsongnya?" Rosul bertanya pada orang itu
"Aku tidak menyiapkan banyak sholat,atau puasa,atau sedekah,tetapi cukup bagiku cinta Alloh dan cinta pada Rosul-Nya" jawab orang itu.
"Kalau begitu,kamu bersama orang yang kamu cintai" kata Nabi (HR. Bukhari dan Muslim)

Jelas sekali dalam dialog ini Rosululloh tidak menjawab pertanyaan orang tadi yang menanyakan kapan hari H-nya kiamat. Tetapi bahasan beliau alihkan pada hal yang jauh lebih penting daripada sekedar itu kepada si penanya tadi.

Percaya pada hari kiamat adalah salah 1 rukun iman,dan kehadirannya adalah termasuk hal yang Ghoib. Ciri orang yang bertaqwa adalah percaya pada hal yang ghoib (QS.al-baqarah:3). Tak ada 1 pun Nabi yang tahu,termasuk Nabi Muhammad kapan kehadiran hari itu,andai kata beliau tahu,maka beliau tidak akan merahasiakannya pada ummat,pasti beliau sampaikan meski pada sahabat-sahabat tertentu,karena tugas utama Nabi adalah tabligh. Namun pada kenyataan,beliau tidak menyampaikan kapan hari kiamat terjadi,tetapi yang gencar beliau sampaikan dan peringatkan pada ummatnya adalah tanda-tanda kedatangannya.

Seyogyanya yang harus kita fokuskan,adalah tanda-tanda ini. Entah apa yang ada di benak sebagian saudara kita yang meributkan hal ini hanya karena membaca spekulasi dan prediksi semu dari sebuah buku yang sengaja ditulis hanya untuk membuat sensasi. Lebih mentrenyuhkan lagi,meributkannya setelah melihat cuplikan film. Ya ! Film ! Sejak kapan orang yang mengklaim dirinya berfikir percaya pada film? Logis tidak?kiamatnya belum datang tapi filmnya udah muncul? Saatnya kembali meraba diri,apakah kita udah benar-benar manusia? Wallohu a'lam

Umar bin Al-khatthab bertutur,bahwa pada suatu hari majlis Nabi kedatangan seseorang berambut hitam legam, berbaju putih bersih,tak nampak darinya bahwa dia baru saja dari perjalanan jauh. Dia duduk langsung di hadapan Nabi,keduanya berdiskusi soal Islam,Iman dan Ihsan...

Hingga orang tersebut bertanya: "beritahu aku, kapan hari kiamat terjadi". Nabi pun balik menjawab: "yang ditanya tak lebih tahu daripada yang bertanya".. Setelah itu orang tersebut bertanya tentang tanda-tanda hari kiamat pada beliau.

Selang beberapa waktu,Nabi memberi tahu pada Umar,bahwa seseorang yang datang itu adalah malaikat Jibril. Dia datang untuk mengajarkan tentang agama pada para sahabat.

Salah satu poin penting dari diskusi Nabi dengan Jibril di atas adalah tentang kapan terjadinya hari kiamat. Keduanya pun tidak ada yang tahu pasti kapan hari itu terjadi. Sebuah pembelajaran besar pada umat bahwa hari itu benar-benar dirahasiakan. Tugas kita sepenuhnya adalah iman dan percaya bahwa hari itu akan terjadi. Andai kata Allah memberitahukan pada orang tertentu kapan hari itu terjadi,maka yang pertama kali diberi tahu adalah Nabi Muhammad. Pada kenyataannya,beliau sama sekali tidak tahu,dan tak ada satupun riwayat yang menerangkan bahwa beliau tahu.

Pengklaiman akan terjadinya kiamat pada tahun 2012 tentu adalah suatu kelancangan tersendiri. Tugas kita adalah bukan meributkan dan merisaukan hari itu kapan terjadi,apalagi jika sudah ditentukan. Tetapi yang dituntut dari kita adalah mengimaninya dan apa yang sudah kita siapkan untuk menyongsong hari itu?sudahkah ibadah kita cukup? Walau bukan hal mustahil bahwa bisa saja kiamat jatuh pada tahun itu,namun siapa yang tahu bahwa kiamat memang jatuh pada tahun itu?

Bukanlah sebuah hal yang bijak jika kita turut gundah dan khawatir kiamat akan jatuh pada 2012,tapi siapkan dirimu,tingkatkan ibadahmu,pertebal imanmu. Jika kejadian 1 jam mendatang saja kita tidak tahu apa yang bakal terjadi,apalagi ini hari kiamat?

Akhir catatan,tidak usah latah meributkan hal yang tidak jelas,yang tidak tertulis dalam nash-nash suci kita. Bukankah sebelumnya juga sering ada isu begini dan kenyataannya tidak ada apa-apa kan?

kata penduduk asli Mekkah, 'Khollik aqil', jadilah kamu orang berakal yang mau menggunakan akalnya. Wallohu a'lam (*)

Tidak ada komentar:

Followers