Selasa, 27 Oktober 2009

Uh...melarat trZ....kPn kayany...???

Bagaimana dengan orang miskin yang notabene hanya memiliki sedikit harta ? “Lalu bagaimana dengan orang yang miskin secara duniawi, secara materi?”, lanjutku menanyakan. “Ketahuilah, dimata Rabb-mu, kekayaan dan kemiskinan tidak dapat dijadikan ala...san dari lalai terhadap-Nya”, Izrail berkata sebelum melanjutkan ceritanya. Orang miskin, sebenarnya memiliki peluang besar untuk merasakan nikmatnya kasih sayang Allah. Tapi, kemiskinan tidak jarang juga menyebabkan kekufuran. Di zamanmu ini, kemiskinan sudah seperti kekayaan, mereka yang merasa miskin kebanyakan jatuh ke dalam kekufuran karena kemiskinannya tidak identik dengan kezuhudan dan kejujuran, tidak identik dengan ridha terhadap semua ketentuan Allah SWT. Bila kekufuran menimpa si miskin, maka ini tak ubahnya si orang kaya yang mencari kekayaan dengan cara-cara yang tidak halal. Disinilah pentingnya mereka yang miskin mengetahui. Jangan sampai sudah miskin di dunia, di akhirat jauh lebih miskin lagi. Nabi Muhammad Yang Ummi mengatakannya sebagai “orang yang bangkrut total”. Ini ibarat merubuhkan rumah di dunia dan rumah diakhirat. Dunia tak dapat, akhirat tak selamat. Sangat merugi, sangat merugi, benar-benar sangat merugi. Maka, jangan jadikan kemiskinan menjadi alasan dan tameng kekufuran dan kemungkaran. Ia yang miskin dan terikat dengan kemiskinannya, akan cenderung tergelincir dalam jerat-jerat nafsu si bodoh Iblis.

Jadi, gunakankah kemiskinamu pada materi untuk memupuk kekayaanmu disisi-Nya. Engkau boleh jadi si fakir dunia, tapi disisi-Nya semua itu tidak berarti apa-apa. Maka dekatilah Dia dengan kehambaanmu, jangan dekati Dia dengan kesombonganmu atau keluh kesahmu. Jangan jadikan kemiskinan menjadikan dirimu lalai atas semua perintah Allah, larangan-larangan-Nya, sunnatullah-Nya, dan petunjuk dari Nabi Muhammad SAW. Jangan dikira bahwa kemiskinan manusia itu menjadi belenggu sehingga ia harus bertahan hidup dengan melupakan Allah. Jangan dikira bahwa kemiskinan menjadi alasan yang bagus untuk menghadapi murka Allah. Percayalah, kalau mau dibandingkan dengan kehidupan Nabi SAW dan sebagian sahabat yang berbaju bulu domba, yang hidup di emperan masjid Nabi dahulu (Asy Shufa), menggelandang di padang pasir nan panas, maka kemiskinan yang dialami oleh masyarakat di zamanmu saat ini tidak seberapa. Galilah hikmah dari kehidupan Nabi SAW yang bersahaja. Ia yang pernah mengganjal perutnya dengan batu selama tiga hari dua malam, tidak pernah mengeluh atas kelaparannya. Lha, manusia di zaman ini memang aneh. Kendati peradaban mampu memberikan kemudahan-kemudahan, namun seringkali ini malah menjadi godaan kesenangan. Maunya serba instan, sehingga ketika Allah uji dengan kepapaan, kemiskinan, kemelaratan, dan kekurangan lainnya, sebagian besar manusia semakin jatuh ke dalam kemiskinan dan kekufuran. Sebagian lagi malah benar-benar jadi seperti binatang, menghalalkan segala cara, demi isi perut belaka. Sungguh ini sangat bodoh, seolah hidup sekedar untuk makan saja. Padahal, kalimat bijak sering mampir di telinga bahwa makanlah secukupnya hanya untuk menegakkan tubuh dan meneruskan kehidupan. Aku yang mencabut nyawa si miskin, kadangkala tidak habis mengerti. Kenapa manusia bisa begitu bodoh. Padahal, kemampuannya melebihi kemampuan kaumku (malaikat). Yah, akhirnya sering sekali aku mencabut nyawa si miskin dalam kebusukan dunia dan kebusukan akhirat. Benar-benar orang yang merugi. Cintailah siapa saja yang ingin engkau cintai, namun ingatlah bahwa pasti engkau akan berpisah dengannya; hiduplah dengan gaya kehidupan yang engkau inginkan, namun ingatlah bahwa engkau akan mati; dan berbuatlah apa saja yang engkau kehendaki, namun ingatlah bahwa engkau pasti dibalas [Sabda rasullullah SAW; HR Hakim, Thabrani]

0 komentar:

Followers

Mbh