Minggu, 29 November 2009

Nilai Sebuah Keikhlasan

Ada seorang shalih, ahli ibadah, aktif berdakwah di lingkungannya sehingga banyak membawa perubahan. Dia beramal dengan penuh keiklasan, tanpa mengharap balasan apapun selain dari Allah. Tidak mengharapkan kenikmatan dunia, popularitas, pujian, dan segala bentuk publikasi mengenai dirinya. Dia sangat mahir berceramah. Setiap orang yang mengikuti pengajiannya selalu larut dalam pembahasannya. Tidak lama berselang namanya telah begitu dikenal luas sebagai ustadz muda yang disenangi. Namun ketenaran dan keberhasilannya tidak membuat dirinya besar kepala, dia tetap tawadhu’ dan mengembalikan semua keberhasilannya semata-mata karena Allah. Dilingkungannya dia dikenal sebagai orang yang santun dan berakhlak mulia. Setiap bertemu orang dia selalu tersenyum dan menyapa. Tidak ada orang di komplek yang tidak mengenalnya.

Ustadz muda tersebut bernama Abid. Dia masih muda dan ganteng. Dia juga telah memiliki usaha dengan penghasilan cukup sehingga telah memiliki rumah di kompleks tersebut dan sebuah motor, walaupun belum menikah. Abid merupakan sosok muslim teladan.

Sebagaimana biasa setiap jam 4 pagi Abid selalu ke masjid. Sebelum subuh dia menunaikan qiyamullail terlebih dahulu. Pada suatu pagi, ketika Abid hendak menuju masjid, tiba-tiba didengarnya suara jeritan dari sebuah rumah. Demi mendengar suara tersebut, Abid mengurungkan langkahnya ke masjid dan segera mendatangi suara tersebut. Dia masuk ke dalam rumah dan matanya terbelalak, ternyata dilihatnya seorang wanita tanpa sehelai benangpun dengan berlumuran darah, ada di hadapannya. Begitu melihat Abid, wanita tersebut langsung memeluk Abid. “Tolonglah aku Abid, Aku habis diperkosa dan dianiaya oleh tiga orang penjahat. Mereka telah kabur, Tolong Aku!….Tolonglah Aku!” suara wanita itu dengan rintihan penuh iba. Si Abid segera memeluk wanita itu, sehingga bajunya yang putih bersih penuh dengan lumuran darah. Begitu sadar melihat wanita itu dalam keadaan telanjang bulat Abid segera membuka bajunya dan ditutupkan pada badan wanita itu. Namun Abid terhenyak, “Astahfirullahal Adhiim” Abid segera melepaskan pelukan wanita itu, “Aku telah berbuat dosa. Aku telah memeluk wanita yang bukan muhrim” Abid segera berbalik dan ingin meninggalkan wanita itu. Maksudnya dia ingin memanggil orang lain dan menolong bersama-sama. Namun wanita itu karena kondisinya sangat kritis, dia menarik tangan Abid. “Jangan lepaskan aku, Tolonglah Aku!” wanita itu merengek.

Abid tetap melepaskan pegangan wanita itu dan lari ke arah pintu. Wanita itu mengejar sehingga baju Abid yang menutupi badannya terlepas dan berserak di lantai. Wanita itu meraih sarung Abid dan karena eratnya pegangan wanita itu, sarung Abid terlepas. Pada saat yang bersamaan, pintu terbuka dan muncullah para tetangga tepat di depan Abid. Para tetangga, sempat melihat sedikit adegan tarik menarik tersebut. Begitu dilihatnya Abid dalam kondisi hanya mengenakan celana dalam dengan seorang wanita telanjang bulat, mereka langsung menyimpulkan bahwa abid baru saja melakukan hubungan intim. Maka bogem mentahpun diarahkan ke Abid. Para warga pun berdatangan. Melihat kejadian itu mereka marah dan menggelandang Abid menuju masjid dalam keadaan hanya mengenakan celana dalam. Sementara itu, si wanita dalam keadaan pingsan dilarikan ke rumah sakit. Namun karena luka yang cukup parah tidak lama setelah itu dalam perjalanan wanita itu menghembuskan nafas terakhir.

Tersiarlah berita heboh di koran-koran “Seorang Ustadz membunuh janda teman selingkuh karena meminta pertanggungjawaban” Masyarakatpun heboh. Orang-orang hampir tidak percaya Abid yang begitu alim bisa melakukan perbuatan seperti itu. Berita itu tersiar ke mana-mana. Tidak mau ketinggalan stasiun TV-pun berduyun-duyun menurunkan liputan ‘Abid’ untuk tayangan semacam Investigasi, Jejak Kasus, dan sejenisnya. Berita itupun tersebar secara nasional. Masyarakat yang marah telah menjarah dan merusak rumah Abid beserta semua harta benda miliknya. Abid tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi. Bahkan teman-teman dan saudara-saudaranyapun menjauhinya. Abid telah divonis sebagai orang yang paling jahat. Kalau dulu banyak muslimah mendambakannya dan bapak-bapak mengharapkan untuk menjadikannya menantu, sekarang boro-boro, mendengar namanyapun sudah segudang sumpah serapah ditujukan kepadanya. Abid telah kehilangan seluruh masa depannya.

Abid tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Masyarakat tidak mau mendengar pembelaan Abid. Bahkan polisipun tidak mau mendengar. Di hadapan polisi Abid menghadapi perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Dia disiksa habis-habisan fisik dan mental karena tidak mau mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Abid tetap bersikukuh tidak mau mengakui perbuatan itu. Abid telah mencoba menghubungi temannya yang pengacara, namun tidak mampu menolongnya karena bukti-bukti dan kesaksian telah kuat. Walaupun sebenarnya jika polisi mau mengembangkan penyelidikannya misalnya dengan melakukan pengecekan bekas sperma, dapat meringankan Abid. Namun semua itu tidak dipedulikan polisi. Maka rekonstruksipun dilakukan. Dihadapan tatapan orang-orang yang dicintainya dan di bawah sorotan kamera TV, Abid dipaksa untuk merekonstruksi perbuatan yang tidak pernah dikerjakannya. BAP segera dibuat dan perkara disidangkan. Hakim memutus 7 tahun penjara atas perkara pembunuhan dan pemerkosaan. Sejak saat itu Abid meringkuk di Rumah Tahanan (rutan).

Namun apakah dengan kondisi ini Abid lantas putus asa? Ternyata tidak. Abid memang benar-benar seorang abid mukhlis (ahli ibadah yang ikhlas). Dengan penuh keikhlasan dijalaninya semua kekejian tersebut. Dia tidak pernah menyesali nasib, tidak pernah protes, tidak pernah mengeluh. Abid tetap tegar. Keikhlasan dan keyakinan akan balasan Allah telah berhasil mengatasi ujian yang menimpanya. Di penjara dia memulai episode baru. Lahan dakwah tidak hanya di masyarakat saja. Abid menjadi da’i di penjara. Di depan para narapidana Abid mengingatkan bahwa masa lalu tidak boleh menghalangi kita untuk memperbaiki diri. Tidak beselang begitu lama banyak narapidana telah menjadi binaannya. Abid menjadi ustadz di Masjid LP. Setiap ceramahnya selalu dipenuhi para narapidana. Banyak narapidana yang akhirnya bertobat dan menjadi shalih semenjak kedatangan Abid. Sampai-sampai penjara seolah telah berubah menjadi pesantren.

Tiga tahun telah berlalu, karena perilaku Abid yang baik di penjara, setiap tanggal 17 Agustus Abid mendapat remisi. Dan pada tanggal 17 Agustus tahun ini Abid mendapat pembebasan hukuman. Hukuman yang seharusnya dijalani 7 tahun hanya dijalani 3 tahun. Seisi LP bersedih mendengar Abid akan meninggalkan mereka. Abid pun berat, dia ingin tetap berada di samping para binaannya yang jumlahnya nyaris satu LP. Sedangkan di luar mungkin tidak ada lagi orang yang masih mempercayainya. Namun apa boleh buat. Keputusan mesti ditaatinya. Abidpun mempersiapkan diri untuk menjalani pembebasannya. Isak tangis dan haru menghiasi perpisahan Abid. Akhirnya Abid dengan langkah berat meninggalkan penjara, dia bingung mau kemana. Tepat tanggal 17 Agustus pagi-pagi Abid telah bersiap melangkahkan kaki meninggalkan LP yang meninggalkan kenangan manis dalam hidupnya. Ketika dia hendak menyeberang jalan di depan LP sebuah truk dengan kecepatan tinggi menyeruduknya. Abid pun terkapar tak sadarkan diri. Abid menghembuskan nafas terakhir dengan iringan ucapan “Laa ilaha illallah” Sang bidadari sudah tidak sabar menunggu kehadiran Abid. Wallahu a’lam.

sumber : eramuslim

0 komentar:

Followers

Mbh