Sabtu, 10 Oktober 2009

SEBUAH BINCANG dengan Sahabat M. Imaduddin

Jahiliyah Modern
Halimi Zuhdy

Arah angin merambat
kearah timur
lembaran ayat lenyap ditelan detik
dzikir,tasbih,tahmid jarang bersua

muadzin terlelap dalam
mimpi keindahan dunia

ulama’ umaro’ berpestaria
menyambut kemegahan dunia fana
Muhammad sang Nabi
jadi dongen dan cerita

Islam pun hanya diskursus belaka
Barat pun jadi kiblat
leberal, sekuler, sosialis, demokratis
jadi wacana kebanggaan

Karl Max, Netzhe, Hegel, Lenin
jadi idiologi kemapanan.

Tanggapan Atas Puisi JAHILIYAH MODERN

Tgp : Muhammad Imaduddin

dan semua akan fana
terlelap dan membisu dalam suku fatamorgana
ini bukan jejak yang di jamah
bukan juga suara bermelodi sutra
seharusnya di pasung oleh genggaman suram kelopak mata
itu saja.


Jwb: Halimi Zuhdy

Fana dalam sutera
fana dalam kebiadaban
dan fana dalam rajutan kasih sayang

kefanaan akan berakhir dalam keabadiaan
dan keabadiaan adalah kejutan-kejutan dari Maha Abadi

Tgp : Muhammad Imaduddin

abadi ini bukan sembarang
dimana setiap yang di rajut
meletakkan arti terdalam
di sembahyangnnya
hingga ter untai dalam butiran-butirannya

semua akan surut

Jwb: Halimi Zuhdy

abadi adalah keabadian
KHOLIDIINA FIHA
kefanaan adalah fatamorgana, yang suatu saat berpesta dalam keabadiaan, dalam dua piliha
JAHANNAM atau FIRDAUS

semua akan mersakan
keindahan
atau
kepedihan
kefanaan adalah keabadiaan
yang tak bisa terurai oleh kata
tapi dapat terasa oleh rasa

Tgp : Muhammad Imaduddin
lalu kapan kan terlapuk....

Jwb: Halimi Zuhdy
Semuanya adalah gelombang menuju dermaga

Tgp : Muhammad Imaduddin
demaga yang belum pernah lolos dari jeratnya.

Jwb: Halimi Zuhdy
Dermaga
tempat terakhir untuk bernostalgia
atau berpesta nista
dan tak akan lolos dari jeratnya

Tidak ada komentar:

Followers