Sabtu, 10 Oktober 2009

MERDEKA ATAWA PETAKA ‘64

Halimi Zuhdy

Erangan kepedihan itu
Selalu terngiang dalam gendang telinga
Muncrat darah,
Begitu membekas di kelopak mata

Teriakan histeris begitu keras
Yang muncul dari mulut sang pahlawan bangsa
Badan hancur, entah kemana
Tangan, kepala, kaki betebaran tuk membela bangsa
Tak ada kata yang terus berhembus kecuali MERDEKA
Subhanallah

Teriakan Merdeka
yang dulu kebanggaan
kini berubah permainan

Merdeka
Yang dulu hadiah keistimewaan
Kini sebuah goyangan

Merdeka yang dulu, darah pertaruhan
Merdeka kini jadi proyek uang saku para pejabat

Merdeka...merdeka....merdeka
Yang dulu, teriak histeris demi anak bangsa
Kini sebagai pengembira untuk para penguasa

Merdeka..merdeka
Mereka berteriak, demi sebuah kehormatan
Kini…… tak lagi ada suara
Yang ada adalah penghianatan

Kita tak lagi merdeka
Karena penjajah tetap bersua
Sorga Indonesia, digali menjadi parit
Lahan-lahan subur, ditumbangkan menjadi lahan neraka
Pohon-pohon tumbuh dari tangan kemerdekaan
Kini didera tangan penghianatan

Indonesia subur,
penghasil bubur,
Asing menjadi terhibur
Karena Bapak-bapak kini tak lagi menganggur
Meskipun kehormatan kini tak lagi beranggur
Tapi penuh dengan kasur
Agar penguasa senang, melihat yang syur-syur
Ya..itulah...mudah-mudahan kita tak suka akan kebu
Ya..Rabb
Demi Bangsa
Kutengadahkan hati dan tanganku kehadirat-Mu
Berilah setetes kemerdekaan yang sebenarnya
Untuk menuju kemerdekaan yang abadi
Abadi dalam peluk dan rindu-Mu

17 Agustus 2009

0 komentar:

Followers

Mbh