Sabtu, 10 Oktober 2009

Puisi tak ubahnya makhluq hidup yang kekal

Puisi tak ubahnya makhluq hidup yang kekal. Dia memiliki roh dan taqdir sendiri, kalau penyair suatu waktu meninggalkan dunia. Maka puisinya akan hidup terus sampai sejarah mengubur, dan nasib penyair menjadi tragis ketika tak sempat tahu bagaimana nasib puisinya, karena puisi belum tentu menjadi bagian dari darah dagingnya. Para penyair boleh mati, akan tetapi puisi melampaui usia penyair itu sendiri.
Muhammad Sobary, seorang kolumnis pernah meneriakkan dalam kolomnya “Sastra, Ideologi, dan Dunia Nilai”, puisi membikin lembut cita rasa hidup kita. Puisi menawarkan pilihan dan membuka peluang memperbesar watak humanis kita, dan menghargai manusia dengan harga kemanusiaannya. Saya kira puisi membantu manusia menjadi manusia.
Tapi mengapa puisi dijauhkan dari hidup kita, seolah puisi penyakit menular dalam sekali sentuh “kusta”? siapa yang menjauhkan kita dari puisi? Mengapa Menteri Pendidikan membiarkan pendidikan buruk ini berlangsung di depan kita, dan tak ada yang berteriak mengenai perlunya pendidikan kesusastraan yang memadai agar anak-anak mengerti puisi.
Mengapa penerbit-penerbit tak mau menyumbang bangsanya dengan menerbitkan puisi gratis, atau menjualnya dengan harga murah supaya warga Negara menjadi lebih pintar, lebih sensitive, lebih manusiawi?. Mengapa para banker kikirnya luar biasa terhadap warga negara baik-baik, tapi luar biasa pemurah hatinya kepada pembobol bank dan para penipu yang biasa mereka bangkrut.
Puisi bukan hanya untuk memuaskan nafsu, menikmati kata, bernostalgia dengan paragraf-paragraf, menentramkan hati dan pikiran, namun lebih dari itu puisi dipergunakan sebagai alat revolusi, kemerdekaan dan perubahan. Puisi sebagai ekspresi kemerdekaan, tidak hanya cuma buat hal-hal yang menentramkan, sebab ia juga bisa muncul menggelisahkan. Gunawa Muhamamd pernah berkata, Saya tidak bisa cuma memilih hidup kreatif, tapi sementara itu tidak bersedia untuk, seperti Adam, dilemparkan dari sorga yang menentramkan ke dunia penciptaan yang resah”.
Puisi akan selalu menyisakan seribu pemaknaan dan penafsiran, ia tidak akan pernah utuh ditafsirkan karena pesona yang selalu melekat dalam kata-katanya. larik-lariknya tak tersekat oleh kebakuan bahasa, dia bebas menerbangkan sayap-sayap maknanya .[ ].

0 komentar:

Followers

Mbh